Tuesday, December 28, 2010

Amazing Phi Phi Island

Saya terbangun pukul 7 pagi. Bagi saya ini suatu keajaiban mengingat kemarin saya baru sampai guesthouse selepas tengah malam. Saya langsung keluar mencari sarapan. Kebetulan di dekat guesthouse ada Seven Eleven. Saya pun masuk ke dalam dan membeli makanan beku siap saji.

Saya membawa makanan saya ke taman yang berada di dekat Chao Fa Pier. Kemudian saya menikmati sarapan sambil melihat pemandangan. Pemandangan di taman ini cukup indah, yakni Krabi River dan bukit kapur. Taman ini juga menjadi tempat jogging warga setempat dan para turis.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Saya bergegas menyelesaikan sarapan saya dan berjalan pulang ke guesthouse. Di perjalanan pulang, saya mampir ke Krabi Tourist Centre dan membeli tiket ferry pp ke Phi Phi Don. Harga tiketnya 600 Baht sudah termasuk penjemputan gratis menuju dermaga ferry dengan menggunakan songthaew. Ferry saya berangkat pukul 10 pagi dan saya akan dijemput pukul setengah 10. It means, saya cuma punya waktu 30 menit untuk bersiap-siap. Saya pun segera berlari menuju guesthouse.


Thursday, December 9, 2010

Transit in Hat Yai

Bandara Hat Yai tidak begitu besar. Bandara ini hanya memiliki dua aerobridge. Tapi pesawat yang saya tumpangi tidak memakai fasilitas ini. Jadi saya harus turun tangga dan berjalan menuju loket pemeriksaan imigrasi. Saat itu hanya ada 6 petugas imigrasi yang melayani sekitar 100-an penumpang dari Singapore. Ruangan sempit itu jadi penuh sesak. Saya memilih duduk dulu di tempat duduk yang disediakan untuk mengisi kartu imigrasi.

Pemeriksaan imigrasi saya sangat lancar. Petugas imigrasi hanya mencocokkan paspor, kartu imigrasi, dan boarding pass saya. Kemudian mengambil foto saya dan men-stamp paspor saya. Tidak sepatah kata pun yang terucap. Petugas yang pendiam. Hehe...

Kota-kota di Thailand bagian selatan seperti Hat Yai, Pattani, Krabi, Phi Phi Island, dan Phuket, penduduk muslimnya lumayan banyak. Apalagi di Pattani yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan bisa berbahasa Melayu. Jadi hampir di setiap tempat umum ada musholla-nya. Masjid pun mudah ditemukan. Di Bandara Hat Yai ini, musholla terletak di dekat kounter check in domestik. Setelah pemeriksaan Customs, belok kanan, jalan terus melewati kounter check in domestik. Musholla ada di sisi sebelah kanan bersebelahan dengan kounter Air Asia.

Wednesday, December 8, 2010

Thanks to tigerairways.com

Sore itu saya iseng-iseng buka website tigerairways.com. Di halaman home memang sedang ada promo untuk keberangkatan bulan Januari 2011. Entah ada angin dari mana, saya iseng memasukkan jurusan Hat Yai untuk keberangkatan besok di kolom booking. Dan ternyata harga tiketnya SGD 0. Setelah ditambah pajak dan lain-lain, jadi SGD 50. EUREKA!!! Ini tiket promo pertama saya yang saya beli kurang dari 24 jam.
Tiger Airways at Changi Apron
Kemudian saya kembali berburu tiket pulang ke Singapore. Saya sudah otak-atik keberangkatan dari Krabi maupun Hat Yai tujuan Singapore. Tapi tidak ada tiket promo. Saya coba pakai Air Asia dari Krabi maupun Hat Yai tujuan Kuala Lumpur. Lagi-lagi tidak ada yang murah. Ya sudah lah, nekat berangkat saja. Pulangnya kan bisa naik bis sambung-menyambung menuju Singapore.

Monday, November 8, 2010

First Time to Hongkong and Macau-Day 4

Agenda saya hari ini cuma 2. Repulse Bay dan Disneyland.

Pagi-pagi saya sudah check out dan naik tram menuju Central. Kemudian saya naik bis no.260 menuju Repulse Bay. Bus ini melewati terowongan Aberdeen. Terowongan yang membelah bukit di tengah Hongkong Island. Saya turun di Deep Water Beach. Di sini suasananya santai. Turis pun tidak terlalu banyak. Mungkin seperti di Nusa Dua Bali kali ya? hehe... Saya berjalan menyusuri pantai, melewati Promenade View. Di sini tidak ada pantai, melainkan hanya bebatuan. Tapi pemandangan laut lepas di sini tidak kalah indah.

Deep Water Beach

First Time to Hongkong and Macau-Day 3

Hari ini saya rencananya mengeksplorasi Tsim Sha Tsui(TST) di Kowloon. Saya bangun siang karena energi cukup terkuras di Macau kemarin. Siang itu saya naik Star Ferry menuju TST setelah sebelumnya sarapan di McD. Di sana saya berkeliling area Harbour, Avenue of Star, dan Nathan Road. Di Nathan Road ada masjid yang cukup besar. Saya sholat Dzuhur dan Ashar di masjid itu.


Star Ferry

Masjid di Nathan Road, TST

Hari sudah menjelang sore. Saya memutuskan untuk naik MTR menuju Lo Wu, stasiun yang berbatasan dengan Shenzen. Saya sekalian ingin memastikan apakah kita masih bisa apply VOA atau tidak. Saya naik MTR dari stasiun East TST menuju Hung Hom. Kemudian berganti MTR menuju Lo Wu. Perlu diperhatikan bahwa stasiun East TST tidak terkoneksi dengan stasiun TST. Jadi kalau transit di stasiun TST, kita perlu keluar dulu untuk kemudian validasi tiket lagi di Stasiun East TST. Sementara di Stasiun Hung Hom dan stasiun-stasiun transit lainnya, kita bisa langsung pindah platform. Jadi tidak perlu keluar dulu.

First Time to Hongkong and Macau-Day 2

Hari ini agendanya cuma satu, Macau...

Begitu keluar hostel, saya naik tram menuju Central. Kebetulan hostel saya berada tepat di seberang Tram Stop. Kemudian saya mencari direction menuju Hongkong-Macau Ferry Terminal. Di sinilah kecerobohan saya. Saya tidak menyangka kalau Hongkong-Macau Ferry Terminal itu terpisah cukup jauh dari Central Pier. Dengan langkah pasti, saya menuju Central Pier. Dan betapa terkejutnya saya setelah mengetahui bahwa Hongkong-Macau Ferry Terminal berada di sisi yang berlawanan dengan Central Pier. Kalau dari Central Station menuju Central Pier itu belok kanan. Sementara kalau menuju Ferry Terminal belok kiri. Huuhh,,, tapi ini bagian dari pengalaman juga. hehe...

Hongkong Macau Ferry Terminal
Saya naik Turbo Jet kelas ekonomi tujuan Macau. Kapalnya lumayan lebar dengan double aisle. Tempat duduknya juga dilengkapi seatbelt seperti di pesawat. Saya kira bakal kencang larinya... Tapi ternyata tidak ada bedanya sama ferry Batam-Singapore. Di tengah perjalanan, petugas membagikan Macau Immigration Card. Untuk kelas business ke atas juga dibagikan makanan.

First Time to Hongkong and Macau-Day 1

Perjalanan ke Hongkong dan Macau ini merupakan perjalanan pertama saya keluar negara-negara ASEAN. Jadi walaupun saya sudah melakukan persiapan dengan matang, tetap saja ada perasaan takut dan was-was. Rasanya seperti baru pertama kali ke luar negeri.

Saya terbang dari Jakarta menuju Hongkong dengan salah satu maskapai budget Indonesia. Kebetulan saya mendapatkan tiket promo. Pesawat take off tepat pukul 16.50WIB. Pesawatnya kecil sekali, yakni Airbus A-319. Tapi Cabin Crew-nya 5 orang. Selama perjalanan kurang lebih 4 jam 50 menit ini, para cabin crew dua kali menawari saya makan. Saya sempat memesan green tea dan sandwich.


Mandala Air to Hongkong

Genting Highland and Watching Moto GP Sepang

Tiket nonton Moto GP Sepang jauh lebih murah dari Formula 1. Tiket termahal untuk Main Grandstand hanya 100RM yang kalau dikurs ke rupiah menjadi sekitar Rp 280ribu. Tiket ini berlaku untuk qualification dan race day. Di perjalanan kali ini saya tidak sendiri, tapi bersama 4 orang teman saya. Kami berangkat dari Singapore hari Jumat malam dengan menggunakan bus.

Pukul 5 keesokan harinya, kami diturunkan di Hentian sementara Bukit Jalil. Saat itu Hentian Pudu Raya sedang direnovasi. Pagi itu kami berencana menuju Genting Highland yang pada kunjungan sebelumnya belum sempat kami sambangi. Jadi kami sengaja menunggu loket bus buka. Sambil menunggu, kami tidur-tiduran di ruang tunggu penumpang.

Pukul 7 loket dibuka dan kami langsung mengantre. Tapi ternyata tiket untuk keberangkatan pertama sudah habis dijual. Jadi kami hanya mendapatkan tiket untuk keberangkatan kedua pukul 10 pagi. Kami juga membeli tiket kembali ke Bukit Jalil untuk pukul 7 sore.

Watching Singapore Formula1 Night Race

Sebenarnya kunjungan saya ke Singapore kali ini hanya untuk menonton GP Formula 1. Tiket sudah saya beli beberapa bulan sebelumnya seharga SGD131. Tiket itu adalah yang termurah untuk race day. Karena saya sudah merogoh kocek cukup dalam untuk membeli tiket, maka saya harus merencanakan budget yang seirit mungkin. Dan saya berhasil melakukannya.

Saya berangkat dari Batam pukul 4 sore dengan menumpang Wavemaster Ferry dari Harbourbay. Sampai di Harbourfront pukul 6 sore waktu Singapore. Setelah Customs Clearence, saya terkena random check dimana paspor saya kembali diperiksa dan tas saya dibongkar isinya. Untung tidak terjadi apa-apa. Kemudian saya langsung menuju CityHall dengan menggunakan MRT. Saldo EZ-Link saya saat itu masih belasan dolar, jadi saya tidak perlu add value. Sampai di City Hall, ternyata antrean naik eskalator sudah sangat panjang. Dan hampir semua orang mengenakan atribut F1.

Keluar dari stasiun MRT, saya harus menuju ke Raffless Hotel terlebih dahulu untuk menukarkan booking confirmation saya dengan tiket yang ada bar code-nya. Tiketnya berbentuk seperti kartu atm dan ada talinya untuk kita kalungkan. Pemeriksaan di gate masuk sangat ketat. Saya yang hanya membawa tas pinggang pun harus membongkar seluruh isi tas saya.

Mendadak Phuket

Siang itu entah kenapa saya merasa begitu jenuh dengan rutinitas kantor. Wah, ini berarti pertanda bahwa saya harus traveling. Tapi kemana? Saya cuma punya waktu hari Sabtu dan Minggu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Bangkok, Thailand. Saya pun segera berburu tiket. Tapi setelah mengotak-atik jadwal dan maskapai, tidak ada satu pun yang murah. Saya langsung mengubah destinasi ke Phuket. Alhamdulillah ada yg murah. Tapi saya jadi cuma sehari di sana. Berangkat Sabtu pulang Minggu. Nggak masalah.

Saya naik maskapai Tiger Airways dari Singapore langsung menuju Phuket. Pesawat takeoff tepat pukul 8 pagi waktu Singapore. Perjalanan Singapore-Phuket ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Waktu Thailand lebih lambat satu jam dari waktu Singapore. Sekitar pukul 9 waktu Thailand, saya mendarat di Phuket International Airport. Kemudian saya mengantre di imigrasi dan segera menuju pintu keluar.

Tiger Airways at Phuket Int'l Airport


Thursday, November 4, 2010

Unforgettable Malaysia-Day3

Ini hari terakhir kami di Kuala Lumpur. Pukul 10 pagi kami diantar oleh host kami menuju Pasar Seni di China Town. Setelah membeli oleh-oleh, kami pun berpisah dengan host kami dan menuju KL Sentral. Dari KL Sentral, kami naik kereta menuju Stasiun Nilai, kemudian menyambung dengan shuttle bus menuju Sepang Circuit. Harga tiket moda transportasi ini memang lebih murah, tapi sangat tidak nyaman. Terutama saat transit di Nilai dan menyambung dengan bus. Sama sekali tidak praktis. Belum lagi antreannya. Fiiuuuhhhh.....


Pasar Seni
Akhirnya kami tiba juga di Sepang. Pada balapan hari itu Red Bull menguasai dengan menempatkan kedua pebalapnya di tempat satu dua. Secara keseluruhan balapan berlangsung seru. Masalah justru dimulai usai balapan. Karena semua orang serentak meninggalkan sirkuit, antrean bus menjadi sangat panjang. Bahkan cenderung tidak teratur. Kami membutuhkan waktu 2 jam lebih sampai kami mendapat giliran menaiki bus. Saya menyarankan untuk tidak menaiki bus-bus ini.

Unforgettable Malaysia-Day2

Hari ini kami berencana ke Genting Highland. Pukul 9 pagi kami menuju Hentian Pudu Raya untuk naik bus ke Genting. Tapi ternyata tiket keberangkatan untuk pagi itu sudah habis. Tiket yang tersedia saat itu hanya untuk keberangkatan pukul 2 siang. Wah, terlalu lama. Setelah berkoordinasi sejenak, akhirnya kami memutuskan untuk mencoret Genting Highland dari itinerary. Saat itu yang menjadi pertimbangan kami, daripada membuang waktu untuk menunggu keberangkatan ke Genting, lebih baik kami memasukkan itinerary lain. Genting akan kami simpan untuk kunjungan ke Kuala Lumpur yang berikutnya. Hehe...

Dan itinerary baru kami adalah “Qualifying GP Formula 1 Sepang”. Ya, kebetulan saat itu sedang ada gelaran F1 di Sepang. Dari Hentian Pudu Raya kami berjalan menuju Stasiun Monorel Maharajalela dan naik monorel menuju KL Sentral. Dari KL Sentral kami naik bus khusus yang mengantar kami ke Sepang Circuit. Harga tiketnya saat itu RM15. Begitu tiba di Sepang, kami menuju Ticket Counter dan membeli tiket. Kami membeli tiket Area K2 seharga RM100.

Unforgettable Malaysia-Day1

Malaysia adalah negara kedua yang saya kunjungi setelah Singapore. Kota tujuan saya adalah Kuala Lumpur. Kali ini saya backpacking bersama satu rekan saya. Kami berangkat dari Singapore pukul 10 malam setelah sebelumnya menyeberang dari Batam. Kami menumpang bus Causeway Link dari Queen Street Terminal menuju Johor Bahru. Karena saat itu hampir tengah malam, antrean untuk naik bus lumayan panjang. Begitu pula antrean imigrasi di Woodlands dan Bangunan Sultan Iskandar. Jalanan di sekitar perbatasan juga macet. Ternyata banyak orang yang bekerja di Singapore tapi tinggal di Johor Bahru. Jadi setiap hari mereka pulang balik Johor-Singapore-Johor. Kami pun baru tiba di Hentian Larkin pukul 1 dini hari.

Ternyata saat itu bus reguler terakhir menuju Kuala Lumpur sudah berangkat. Jadi terpaksa kami naik bus yang harga tiketnya lebih mahal, yakni RM45. Tarif bus reguler hanya sekitar RM35. Bus yang kami naiki sangat nyaman. Jauh lebih nyaman dari bus antar kota termahal di Indonesia. Komposisi tempat duduknya 2-1.


Perjalanan Johor Bahru-Kuala Lumpur ditempuh dalam waktu lebih kurang 4 jam melalui highway. Pukul 5 pagi kami sudah tiba di Hentian Pudu Raya di Kuala Lumpur. Kami segera berjalan menuju Masjid Jamek yang terletak beberapa blok dari Hentian Pudu Raya. Untuk mencapai Masjid Jamek tidaklah sulit. Tinggal mengikuti jalur layang kereta api yang ada di samping Hentian Pudu Raya. Jalur layang tersebut menuju ke Stasiun Masjid jamek.

Tuesday, November 2, 2010

One Day Trip to Singapore

Ini bukanlah kunjungan pertama saya ke Singapore. Tapi di antara kunjungan-kunjungan sebelumnya, kunjungan inilah yang paling komplit, baik dari segi alat transportasi maupun tempat-tempat yang dikunjungi.

Saya berangkat dari Jakarta pada hari Sabtu pukul 9 malam. Penerbangan dari Jakarta menuju Singapore ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Dan waktu Singapore lebih cepat satu jam dari waktu Jakarta. Sekitar pukul 11.30pm waktu Singapore, pesawat saya mendarat di Changi AirportKarena sudah hampir tengah malam, saya langsung mencari tempat untuk tidur. Untunglah Changi Airport bersahabat untuk turis-turis kere macam saya yang tidak mampu(rela?) mengeluarkan uang untuk menginap di Transit Hotel. Di seluruh sudut Changi Airport, baik Terminal 1, 2 maupun 3(kecuali Budget Terminal), banyak disediakan sofa yang nyaman untuk ditiduri. Lantainya pun beralaskan karpet tebal sehingga kita bisa ngemper dengan nyaman. Hehe... Khusus di Terminal 3, terdapat kursi malas seperti yang di tepi pantai. Saya memilih tidur di lantai saja karena bisa telentang. Sepanjang malam, di bandara diputarkan lagu-lagu berirama lembut sehingga membuat saya lekas terbawa ke alam mimpi.