Monday, November 8, 2010

First Time to Hongkong and Macau-Day 1

Perjalanan ke Hongkong dan Macau ini merupakan perjalanan pertama saya keluar negara-negara ASEAN. Jadi walaupun saya sudah melakukan persiapan dengan matang, tetap saja ada perasaan takut dan was-was. Rasanya seperti baru pertama kali ke luar negeri.

Saya terbang dari Jakarta menuju Hongkong dengan salah satu maskapai budget Indonesia. Kebetulan saya mendapatkan tiket promo. Pesawat take off tepat pukul 16.50WIB. Pesawatnya kecil sekali, yakni Airbus A-319. Tapi Cabin Crew-nya 5 orang. Selama perjalanan kurang lebih 4 jam 50 menit ini, para cabin crew dua kali menawari saya makan. Saya sempat memesan green tea dan sandwich.


Mandala Air to Hongkong


Pukul 11 malam waktu Hongkong(1jam lebih cepat dari waktu Jakarta) saya mendarat di Runway 07 Left Hongkong International Airport. Saya langsung mencari tempat untuk tidur. Setelah berkeliling sejenak, akhirnya saya menemukan tempat yang setengah nyaman untuk tidur di dekat Immigration Clearence. Kenapa setengah nyaman? Karena bangku tempat saya tidur ada pegangan tangannya. Jadi selama tidur kaki saya nekuk. Di bangku tersebut ada colokan listrik kaki 3. Jadi selama tidur bisa sambil nge-charge. Bisa juga kalau mau tidur di lantai yang beralaskan karpet. Oh ya, sebelumnya saya sholat Maghrib dan Isya dulu di salah satu sudut airport. Sebenarnya ada Prayer Room di Gate 40 keberangkatan. Tapi berhubung Airport Hongkong tidak mencampur penumpang berangkat dan datang, maka saya tidak bisa mengakses Prayer Room tersebut.

Day 1
Saya terbangun pukul 5 pagi. Usai cuci muka dan Sholat Subuh, saya langsung ke loket imigrasi. Sebelumnya saya mengisi Immigration Card dulu. Immigration Card di Hongkong terdiri dari 3 lembar. Lembar pertama adalah Arrival Card, Lembar kedua Departure Card dan Lembar ketiga merupakan petunjuk pengisian. Di balik Arrival Card ada karbonnya. Jadi secara otomatis kita bisa mengisi Departure Card juga(kecuali kolom tujuan, sarana pengangkut dan tanda tangan yang harus ditulis ulang). Di Hongkong, kalau Departure Card kita hilang pun tidak masalah karena kita bisa mengisi lagi. Di setiap imigrasi keberangkatan pasti disediakan Departure Card yang hanya terdiri dari 2 lembar, yakni Departure Card itu sendiri dan petunjuk pengisian.

Ternyata pagi itu sudah banyak yang mengantre. Saya membutuhkan waktu tidak kurang dari 30 menit untuk proses imigrasi ini. Proses Immigration Clearence saya sangat lancar. Petugas imigrasi hanya menanyai saya "Are you traveling alone?". Setelah saya jawab, iya, dia langsung tanpa ampun menghajar paspor saya dengan stamp Hongkong. Horeee.... ada penghuni baru di paspor saya. hehe...

Setelah immigration clearence, masih di area bandara, saya mencari money changer. Tapi betapa terkejutnya saya ketika mengetahui nilai tukar USD terhadap HKD cuma 7HKD untuk 1USD. Berdasarkan riset yang saya lakukan sebelumnya, nilai tukar harusnya antara HKD7,4-HKD7,6 untuk 1USD. Di sini saya salah perhitungan. Seharusnya saya menukar sebagian USD saya ke HKD saat di Jakarta. Saya memang tidak menukar uang saya ke HKD karena money changer di dekat rumah saya tidak menyediakan HKD. Akhirnya dengan sangat terpaksa saya mengambil uang di mesin ATM. Saya mengambil HKD200.

Saya langsung menuju Seven Eleven untuk membeli sandwich dan menuju kounter Airport Express untuk membeli tiket dengan tujuan Tsing Yi. My 1st Destination is Ngong Ping360. Airport Express ini keretanya sangat nyaman dan cepat(pantas saja harganya mahal). Begitu keluar area airport, hujan deras menyambut saya. Tapi untungnya begitu sampai di Tsing Yi, hujan sudah reda. Dari Tsing Yi saya naik MTR menuju Tung Chung. Saya masih membeli single ticket karena uang saya tidak cukup untuk membeli kartu Octopus(EZ-Link-nya Hongkong). Sampai di Tung Chung, saya jalan-jalan dulu di Citygate Factory Outlets. Cuma sightseeing saja karena saya memang tidak berniat belanja. Tapi bagi yang ingin belanja barang bermerk dengan harga murah, di sinilah tempatnya. Saya lihat diskon bisa mencapai 70%.

Di basement, saya menemukan money changer dengan nilai tukar HKD7,4 untuk USD1. Cukup masuk akal. Akhirnya saya menukar uang saya dan langsung menuju Ngong Ping360. Dari Stasiun Tung Chung maupun Factory Outlets cukup mudah menemukan arah menuju Cable Car Station yang akan membawa kita ke Ngong Ping. Sampai di stasiun Cable Car, saya langsung naik ke atas. O iya, di bawah ada juga yang menjual pass tertentu untuk memasuki tempat tertentu di area Ngong Ping. Tapi saya kurang tertarik. 

Akhirnya saya membeli return ticket Cable Car dengan kabin yang standar. Cable Car ini beroperasi mulai pukul 10 pagi. Tapi saat saya datang pukul 11, antreannya sudah mengular. Jalur Cable Car ini dimulai dari Lantau Island, menyeberang laut menuju area airport, lalu menyeberang lagi menuju Lantau Island di sisi yang berbeda, kemudian menanjak sampai ke Ngong Ping. Sepanjang perjalanan, kita disuguhi pemandangan laut, airport, lembah dan bukit. Pada satu tempat, Cable Car saya diselimuti kabut sehingga jalurnya tidak kelihatan.
Antrean naik Cable Car

Pemandangan dari kabin Cable Car
Setelah sampai di stasiun Ngong Ping, saya langsung menuju ke tempat patung Budha raksasa berada. Sepanjang perjalanan menuju patung Budha berada, saya melewati jalan yang di-setting seperti perkampungan China. Bangunan-bangunan di sisi jalan tersebut adalah kafe, museum dan tempat jual souvenir. Tapi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk mampir. Begitu sampai gerbang tempat patung Budha berada, saya terkaget-kaget. Gilee,,, tinggi amat...??!!! Untuk mencapai ke tempat patung Budha berada, saya harus menaiki ratusan anak tangga. Saya pun mulai menapaki tangga tersebut. Baru setengah jalan, nafas saya sudah terengah-engah. Maklum, saya masih menggendong backpack saya. hehe... Tapi akhirnya bisa juga sampai ke atas.
Big Budha

Say cheese!!! :')
Setelah sampai di atas, saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Saya bisa melihat hamparan "permadani hijau" yang menyejukkan mata. Patung Budha di tempat tersebut juga ternyata memang besar sekali. Hawa dingin di area tersebut membuat rasa lelah saya lekas hilang. Setelah puas mengunjungi Ngong Ping, saya kembali ke Tung Chung Station dengan naik cable car lagi.

Sampai di Tung Chung, saya menuju MTR Station dan membeli Kartu Octopus. Tujuan saya selanjutnya adalah The Peak di Hongkong Island. The Peak adalah bukit yang terdapat di tengah Hongkong Island. Di atasnya terdapat sebuah bangunan bertingkat bernama Sky Terrace dimana kita bisa melihat pemandangan Hongkong Island dari ketinggian. Dari Tung Chung, saya naik MTR menuju Central di Hongkong Island. Di tempat tersebut ada kounter penjualan tiket Disneyland. Saya langsung membeli tiket Disneyland tersebut seharga HKD350. Setelah itu, saya mencari direction menuju Peak Tram lower station. Peak Tram inilah yang akan membawa saya ke The Peak. Di sini saya harus bolak-balik buka peta dan kompas karena tidak ada direction di Central Station(atau saya yg nggak baca ya? hehe...).

Peak Tram
Tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menemukan lower station. Saya tidak perlu membeli tiket karena saya sudah mempunyai kartu Octopus. Setelah beberapa menit menunggu, kereta merah itu datang juga. Kereta ini terus menanjak sampai ke The Peak. Di atas The Peak, saya naik ke Sky Terrace. Ternyata posisi The Peak lebih tinggi daripada gedung-gedung pencakar langit di Hongkong Island.  Dari tempat tersebut, saya bisa leluasa melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit dan perbukitan di Hongkong Island.

Pemandangan Hongkong Island dari Sky Terrace
Saya kembali ke bawah tidak menggunakan Peak Tram tapi menggunakan bus tingkat ke area Wan Chai. Bus menuruni jalan berliku dengan jurang di salah satu sisi. Saya turun di Wan Chai dan langsung menuju Islamic Centre di area tersebut untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar. Kemudian saya naik tram menuju Causeway Bay untuk makan malam. Saya makan malam di Warung Sedap Gurih. Harganya cukup mahal, tapi cukup mengobati kerinduan saya akan sambal. hehe...

Masjid di Wan Chai

Warung Sedap Gurih

Setelah makan, saya sempat mampir ke warung Chandra untuk membeli perlengkapan sehari-hari dan sim card. Kemudian saya naik tram menuju hostel saya di Fortress Hill. Saya menginap di YesInn Hostel. Hostel ini ada di dua building. Pertama di Continental Mansion, kedua di Rialto Mansion yang berada tidak jauh dari Continental Mansion. Saya mendapat kamar di Rialto Mansion lantai 11. Kamar saya berisi 6 orang dengan kamar mandi dalam. Room mate saya hari itu adalah 2 cewek Germany, 2 cowok Belgium dan 1 cewek Australia.

To be continued...

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment