Monday, November 8, 2010

Mendadak Phuket

Siang itu entah kenapa saya merasa begitu jenuh dengan rutinitas kantor. Wah, ini berarti pertanda bahwa saya harus traveling. Tapi kemana? Saya cuma punya waktu hari Sabtu dan Minggu. Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Bangkok, Thailand. Saya pun segera berburu tiket. Tapi setelah mengotak-atik jadwal dan maskapai, tidak ada satu pun yang murah. Saya langsung mengubah destinasi ke Phuket. Alhamdulillah ada yg murah. Tapi saya jadi cuma sehari di sana. Berangkat Sabtu pulang Minggu. Nggak masalah.

Saya naik maskapai Tiger Airways dari Singapore langsung menuju Phuket. Pesawat takeoff tepat pukul 8 pagi waktu Singapore. Perjalanan Singapore-Phuket ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Waktu Thailand lebih lambat satu jam dari waktu Singapore. Sekitar pukul 9 waktu Thailand, saya mendarat di Phuket International Airport. Kemudian saya mengantre di imigrasi dan segera menuju pintu keluar.

Tiger Airways at Phuket Int'l Airport


Keluar pintu kedatangan, saya belok kiri dan menuju tempat pemberhentian Airport Bus. Airport Bus ini melayani jurusan Phuket Airport-Phuket Town dengan tarif 85THB. Tiket dapat dibeli di atas bus. Dalam satu bus ada 3 awak bus. 1 orang sebagai sopir, 1 orang bagian jual tiket(di atas bus) dan 1 orang lagi bagian inspeksi tiket(penyobek tiket). Sungguh tidak efisien menurut saya.

Perjalanan dari airport menuju kota ditempuh selama kurang lebih satu jam. Sepanjang perjalanan, bus berkali-kali berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Pemandangan di sepanjang perjalanan juga tidak begitu menarik. Kurang lebih sama seperti perjalanan antar kota di Pulau Jawa.

Perjalanan dengan menggunakan Airport Bus ini berakhir di Phuket Town Terminal. Di terminal ini banyak terdapat bus double deck jarak jauh seperti tujuan Hatyai dan Bangkok. Saya segera berjalan keluar terminal dan mencari hostel. Setelah melewati satu blok, saya menemukan hostel yang menarik perhatian saya, namanya Lub Sbuy Guesthouse.

Tadinya saya sempat ragu karena bangunan hostel ini modern minimalis dan terlihat high class untuk ukuran traveler seperti saya. Tapi saya beranikan diri masuk dan menanyakan rate kamar. Dan ternyata, rate untuk kamar mixed dorm 4beds with fan plus ada balkonnya cuma 250THB. Artinya kalau dikurskan ke rupiah masih di bawah Rp 100.000. Wow...

My room at Lub Sbuy Guesthouse
Saya segera cek in dan membayar 1000THB dengan perincian, 250THB untuk kamar, 250THB untuk deposit kunci dan 500THB untuk taksi. Hah?! Taksi?!!! Iya benar. Saya berencana naik taksi untuk kembali ke airport karena keesokan harinya saya harus kembali ke Singapore dengan flight pagi. Dan saya bersyukur telah memilih opsi taksi untuk kembali ke airport.

Saya segera naik ke lantai 4 tempat kamar saya berada. O iya, saat itu masih pukul 11, tapi saya sudah diperbolehkan menempati kamar. Hal ini karena hostel ini sepi pengunjung. Saya menempati kamar seorang diri. Dan di lantai 4 hanya ada 1 tamu lain. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin hostel dengan kualitas bagus dan harga murah bisa sepi pengunjung? Belakangan saya baru sadar bahwa yang sepi itu bukan hanya hostel saya, tapi Phuket secara keseluruhan. Ini karena saya berpegian ke Phuket saat Bangkok sedang hangat-hangatnya demonstrasi. Banyak negara, termasuk Indonesia, yang memberikan travel warning untuk berpergian ke Thailand. Padahal Phuket terletak begitu jauh dari Bangkok dan suasananya menurut saya tetap kondusif untuk pariwisata.

Anyway, begitu sampai kamar, saya langsung mandi dan berganti kostum pantai. Saya berencana langsung ke pantai. Ada tiga pantai yang cukup terkenal di Phuket, yakni Pantai Patong, Kata dan Karon. Selain itu kita bisa juga ikut tour ke Phi Phi Islands dan Phang Nga Bay. Tapi karena saya cuma punya waktu sehari di Phuket, maka dengan berat hati saya harus memilih salah satu di antaranya. Saya memilih Pantai Patong. Seandainya saja saya punya waktu 3 hari(plus fulus tentunya) di Phuket, saya pasti ke Phi Phi Islands dan Phang Nga Bay. Someday I’ll be back!!! Hehe...

Untuk menuju Pantai Patong, kita bisa naik Songthaew dari Jalan Ranong. Songthaew adalah sejenis truk yang bagian belakangnya didesain seperti angkot. Keluar hostel, saya belok kanan dan menyusuri jalan Phang-Nga. Di perjalanan, saya sempat mampir ke Seven Eleven untuk membeli sandwich. Kemudian saya berhenti sejenak di On On Hotel yang terkenal itu. Sebenarnya hotel ini tampak biasa saja, bergaya klasik dan agak seram. Tapi karena sempat masuk dalam film The Beach-nya Leonardo Di Caprio, hotel ini jadi begitu terkenal dan menjadi salah satu ikon Phuket.

On On Hotel
Saya terus menyusuri Phang-Nga Road hingga ujung, lalu belok kiri menuju Fountain Circle. Kemudian saya belok kanan dan tibalah saya di Ranong Road. Saat itu kebetulan ada songthaew yang mau berangkat. Saya pun segera melompat naik. Tarif songthaew menuju Patong Beach adalah sebesar 10THB. Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju Patong Beach ini sangat menarik. Jalannya berkelok-kelok dan naik turun bukit. Kurang lebih seperti perjalanan ke puncak, Bogor.

Fountain Circle

Songthaew
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 30menit, sampailah saya di Patong Beach. Pantainya begitu indah dan berpasir putih. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa pantai ini pernah diterjang tsunami. Di pantai ini juga banyak terdapat persewaan papan surfing. Kemudian kita bisa juga naik jetski, banana boat dan parasailing. Dan seperti yang telah saya sebutkan di atas, pantai ini sangat sepi. Hanya ada segelintir turis asing yang terlihat berjemur di pantai.

Patong Beach yang sepi
Saya manghabiskan waktu 2 jam lebih di Pantai Patong ini. Kemudian saya berjalan menyusuri BangLa Road. BangLa Road katanya merupakan tempat paling happening di Patong Beach. Dan pada malam hari, jalan ini ditutup dari lalu-lalang kendaraan bermotor. Saya terus menyusuri BangLa Road hingga ujung, kemudian belok kanan menuju Jungceylon Mall.

Jungceylon Mall? Hmm... Nama yang unik, entah apa artinya. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari mall ini. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di area mall terdapat kolam, yang di tengahnya ada replika kapal layar yang terbuat dari kayu. Dan di sekeliling kapal ini ada permainan water fountain-nya. 

Jungceylon Mall
Dari Jungceylon Mall, saya kembali ke pantai dan naik songthaew menuju Phuket Town. Di tengah perjalanan, songthaew yang saya naiki melewati Central Festival Phuket, salah satu mall terbesar di Phuket. Saya segera turun dan sightseeing di mall tersebut. Kemudian saya berencana naik songthaew lagi menuju Ranong Road. Di sini saya baru sadar bahwa songthaew ini ternyata bermacam-macam jurusannya. Dan sebagian besar jurusannya bertuliskan aksara Thai. Saya pun segera menghentikan salah satu songthaew dan bertanya apakah songthaew ini menuju Ranong Road. Oleh kernetnya hanya dijawab dengan anggukan. Entah dia mengerti atau tidak maksud pertanyaan saya. Saya pun nekat saja naik songthaew ini.

Central Festival Phuket
Dan ternyata,,,, saya salah jurusan. Songthaew ini memang melewati Ranong Road, tapi saya diajak berputar-putar Phuket Town bagian utara. Kecewa? Sama sekali tidak. Karena sepanjang perjalanan saya jadi bisa melihat daerah-daerah non turistik. Saya melihat perkampungan penduduk, wat-wat, taman-taman dan aktivitas warga setempat. Setelah lebih kurang 40 menit, kernet songthaew tersebut memanggil saya dan meminta saya turun. Ternyata saya sudah sampai Fountain Circle di ujung Ranong Road. Oooohhh,,, ternyata dia mengerti juga pertanyaan saya tadi saat akan naik songthaew. Hehe...

Kali ini saya tidak menuju Ranong Road, tapi berjalan ke sisi yang berlawanan menuju Ratsada. Di sini banyak terdapat bangunan kuno yang masih terawat. Bahkan semuanya masih digunakan hingga sekarang baik untuk kantor, bank maupun hotel. Saya terus berjalan hingga ujung, kemudian belok kanan dan sampailah saya di Clock Tower. Dari Clock Tower, saya berjalan menuju Tilok Uthit Road. Jalan ini merupakan tempat penjualan oleh-oleh. Harganya cukup terjangkau dan bisa ditawar. Jika ingin membeli di mall, di ujung jalan ini juga terdapat Ocean Plaza.

Old Town
Clock Tower
Hari sudah mulai gelap. Saya pun mampir ke McD untuk makan malam. Kemudian saya kembali ke Clock Tower dan menuju masjid yang ada di dekatnya. Namanya Mosjed Yameay. Masjid ini cukup besar untuk ukuran kota dimana Muslim menjadi minoritas. Setelah sholat, saya kembali berjalan menuju Phang-Nga Road dan pulang ke hostel. Kemudian saya packing dan tidur pulas.

Mosjed Yameay

Keesokan harinya...
Hujan turun dengan derasnya. Saya pun masih tertidur pulas karena kelelahan. Sayup-sayup saya mendengar suara pintu diketuk. Saya pun membuka mata dan,,, Oh My God!!!! Sudah pukul 7. Padahal flight saya pukul 9. Kemarin saya minta dijemput taksi pukul 6. Dan karena sampai pukul 7 saya masih belum turun, mbak resepsionis itu inisiatif untuk membangunkan saya. Untung saya sudah packing. Jadi saya langsung sholat subuh(sedikit terlambat ya? Hehe...), ganti pakaian, turun ke bawah dan check out.

Perjalanan menuju airport dengan menggunakan taksi hanya 30menit. Jadi saya bisa sampai airport sebelum meja check in ditutup. Saya segera masuk terminal keberangkatan, kemudian mencari meja check in Tiger Airways tapi tidak ketemu. Setelah saya tanya bagian informasi, ternyata meja check in Tiger Airways ada di Terminal 2. Saat itu saya di Terminal 1. Saya pun segera berlari menuju Terminal 2 dan untungnya masih keburu.

Notes : Phuket International Airport terdiri dari 2 Terminal, yakni Terminal 1 dan 2. Tapi pemeriksaan imigrasinya jadi satu. Kurang lebih seperti di Terminal 2D dan 2E SHIA. Bedanya, selepas pemeriksaan imigrasi, boarding room bercampur antara penumpang Terminal 1, Terminal 2 dan bahkan penumpang domestik. Jadi pemisahan terminal ini hanya sekadar pemisahan loket check in saja.

Check in Desk di Terminal 1 Phuket Int'l Airport
Setelah mendapat boarding pass, saya mampir ke Dunkin Donuts untuk sarapan. Kemudian saya masuk ke Boarding Room. Ternyata pesawat saya delay. Pukul 10 saya baru take off. Penerbangan kali ini merupakan penerbangan pertama saya yang dipiloti seorang wanita. Pukul 13.00 saya mendarat di Singapore. Phuket, I'll be back!!!

The End

ARTIKEL TERKAIT:

2 comments:

  1. Sayang cuman sehari saja. Tapi bisa menjadi pengalaman dan sebagai mata rantai perjalanan traveling berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih... Waktu itu lagi sakau kepengen jalan2 soalnya. Kesempatan berikutnya juga cuma sehari di Phi Phi Island. Masih penasaran kepengen ke sana lagi euy!!!

      Delete