Monday, November 8, 2010

Genting Highland and Watching Moto GP Sepang

Tiket nonton Moto GP Sepang jauh lebih murah dari Formula 1. Tiket termahal untuk Main Grandstand hanya 100RM yang kalau dikurs ke rupiah menjadi sekitar Rp 280ribu. Tiket ini berlaku untuk qualification dan race day. Di perjalanan kali ini saya tidak sendiri, tapi bersama 4 orang teman saya. Kami berangkat dari Singapore hari Jumat malam dengan menggunakan bus.

Pukul 5 keesokan harinya, kami diturunkan di Hentian sementara Bukit Jalil. Saat itu Hentian Pudu Raya sedang direnovasi. Pagi itu kami berencana menuju Genting Highland yang pada kunjungan sebelumnya belum sempat kami sambangi. Jadi kami sengaja menunggu loket bus buka. Sambil menunggu, kami tidur-tiduran di ruang tunggu penumpang.

Pukul 7 loket dibuka dan kami langsung mengantre. Tapi ternyata tiket untuk keberangkatan pertama sudah habis dijual. Jadi kami hanya mendapatkan tiket untuk keberangkatan kedua pukul 10 pagi. Kami juga membeli tiket kembali ke Bukit Jalil untuk pukul 7 sore.

Waktu keberangkatan bus masih 3 jam lagi. Kami pun menuju kedai yang ada di area tersebut untuk sarapan nasi lemak. Harganya tidak mahal. Hanya 2RM per bungkus. Kemudian kami menyeberang jalan menuju komplek stadion Bukit Jalil. Tapi ternyata stadionnya dikunci. Jadi kami hanya berfoto di luar stadion.

Stadion Bukit Jalil
Pukul10 tepat bus kami berangkat menuju Genting Highland. Perjalanan dari Bukit Jalil menuju Genting Highland memakan waktu lebih kurang satu jam. Bus ini mengakhiri perjalanan di Genting Lower Station. Sebenarnya untuk naik ke puncak, kita bisa menggunakan Cable Car yang katanya merupakan salah satu yang tercepat di dunia. Tapi sayangnya Cable Car tersebut sedang di-maintenance. Jadi pilihan satu-satunya untuk naik ke atas hanya dengan menggunakan bus.

Cable Car Lower Station
Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju ke atas ini sangat indah. Bus melewati jalan yang berliku dan terus menanjak. Di satu sisi jalan adalah tebing dan di sisi lainnya jurang. Sangat mendebarkan. Tapi ruas jalan cukup lebar dan aspalnya mulus. Perjalanan menuju ke atas hanya memakan waktu 15 menit. Kami turun di pemberhentian pertama, Outdoor Theme Park.

Jalan menuju Genting Highland

Salah Satu Wahana Outdoor Theme Park
Kami tidak masuk ke dalam, tapi berjalan menyusuri pedestrian menuju First World Hotel. Kami berjalan melewati casino dan makan siang di mall yang terdapat di area tersebut. Usai makan, kami menuju ke Highland Hotel. Ternyata kabut mulai turun. Bahkan sangat pekat sehingga First World Hotel yang berwarna-warni itu tidak tampak lagi.

First World Hotel
Kami berjalan menuju tebing. Dan kabut turun di bawah kami. Jadi serasa ada di negeri di atas awan. Pukul 6 sore, kami turun menuju lower station dan menunggu bus yang akan membawa kami ke Hentian Bukit Jalil.
Bagai di Atas Awan
Dari Bukit Jalil, kami akan menuju hostel kami di Chinatown. Begitu keluar area terminal, kami menyeberang  jalan dan belok kanan menuju stasiun LRT. Kami naik LRT tujuan Masjid Jamek, kemudian menyambung dengan LRT tujuan KL Sentral. Kami turun di Stasiun Pasar Seni(satu stasiun sebelum KL Sentral). Dari Stasiun Pasar Seni, kami berjalan menuju Jalan Sultan, tempat hostel kami berada.

Kami menginap di Travellers Inn hostel. Karena kami berlima, saya memesan 1kamar AC dengan 3 beds dan satu kamar AC dengan 2 beds. Total rate-nya hanya RM90. Jadi kalau dibagi berlima hanya RM18 per orang alias cuma Rp50ribuan. Saya sempat menanyakan harga kamar dorm di hostel tersebut. Ternyata rete-nya hanya RM11. Kualitas hostel ini, jika dibandingkan dengan harga dan lokasi, menurut saya sangat bagus. Dengan harga kamar yang murah, kami dapat tempat yang berada di pusat Chinatown.

Kejelekan hostel ini, lantainya tidak keramik, toilet paper dan wifi harus bayar. Tapi untuk harga semurah ini, saya maklum dengan fasilitas seperti itu. Sampai di hostel, saya langsung tidur. Sementara teman-teman saya yang lain keluar mencari makan.

My Bed in Travellers Inn Hostel
Hari Minggu pagi kami sudah check out dari hostel. Lagi-lagi kami sarapan nasi lemak di sekitar hostel. Kemudian kami menuju Stasiun LRT Pasar Seni dan naik LRT menuju KL Sentral. Dari KL Sentral, kami naik skybus menuju Sepang Circuit. Harga tiketnya RM15.

Ketika kami tiba di Sepang, waktu masih menunjukkan pukul 11 pagi. Tapi sirkuit sudah ramai. Kami sempat melihat-lihat motor-motor balap yang dipamerkan di luar pintu masuk. Kemudian kami masuk ke dalam. Dan lagi-lagi tas saya tidak diperiksa. Jadi air mineral dan sandwich yang saya bawa masih tetap aman. Hehe...

Pengennn...
Kami nonton di tribun atas sebelah kiri. Tepatnya di garis start. Sebelumnya kami nonton di tribun bawah, tapi tidak ada yang bisa dilihat kecuali umbrella girl-nya. Hehe... Akhirnya kami pindah ke tribun atas. View-nya lumayan bagus dan banyak tikungan yang bisa dilihat. Balapan dimulai dengan kelas 125 dan 250cc. Setelah itu ada jeda untuk ekshibisi motor dan safety car. Ada beberapa penonton yang dibonceng motor dan dibawa melaju dengan kecepatan tinggi. Dan sebagian lagi dibawa melintasi sirkuit dengan menggunakan Safety Car.

Akhirnya balapan yang ditunggu-tunggu dimulai juga. Balapan berlangsung seru. Terutama aksi kejar-kejaran antara Rossi, Lorenzo dan Dovizioso. Race juga sempat diwarnai kecelakaan Casey Stoner. Pada akhirnya, race dimenangi oleh Rossi dan Lorenzo mengunci gelar juara dunianya karena finish di tempat ketiga.

Rossi After Celebration Lap

Penyerahan Medali
Usai balapan, saya menunggu hingga maghrib untuk menghindari antrean naik bus. Pukul 7, kami baru berjalan meninggalkan area sirkuit menuju tempat pemberhentian bus. Tapi ternyata antrean masih sangat panjang. Akhirnya kami menyeberang jalan dan menunggu bus dari LCCT. Saya berpisah dengan keempat rekan saya di sini. Mereka naik bus menuju KL Sentral, kemudian kembali ke Singapore dengan bus. Dan saya masih harus menunggu bus menuju KLIA. Saya dapat tiket promo Jetstar Airways untuk penerbangan ke Singapore keesokan harinya. Jadi saya berencana menginap di airport.

Bus yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya saya menyeberang kembali ke area sirkuit dan naik skybus menuju LCCT. Antreannya sudah tidak begitu panjang. Dari LCCT, saya naik airport bus menuju KLIA. Begitu tiba di KLIA, saya mencari sudut yang sepi untuk tidur. Dan saya menemukannya di dekat anjungan pengantar. Saya tidur di bangku panjang yang empuk dan tidak ada pegangan tangannya. Jadi saya bisa tidur telentang. Saya pun lekas terlelap.
Kuala Lumpur International Airport

My Bed in KLIA
Saya terbangun pukul 6 pagi dan segera menunaikan sholat Subuh. Kemudian saya mengantre untuk check in. Petugas yang melayani saya check in saat itu menyebalkan sekali. Dia menanyai saya macam-macam tentang alasan kunjungan ke Singapore. Nada pertanyaannya seperti menginterogasi. Memangnya dia siapa? Petugas imigrasi bukan. Polisi bukan. Selain itu dia juga menanyai saya dalam bahasa inggris, bukannya melayu. Padahal jelas-jelas saya pemegang paspor Indonesia. Karena kesal, saya jawab saja pertanyaan-pertanyaan dia dengan ala kadarnya dan dengan jawaban yang pendek-pendek.


Setelah memperoleh boarding pass, saya segera turun dan mengantre di loket imigrasi. Petugas imigrasinya kalem-kalem aja tuh. Tidak seperti si petugas check in. Setelah urusan imigrasi selesai, saya segera mencari gate pesawat saya. Ternyata gate pesawat saya terpisah dari Main Building. Untuk menuju ke sana, saya harus naik skytrain terlebih dahulu.


Tepat pukul 8 pesawat saya takeoff dan mendarat dengan mulus di Changi Airport satu jam kemudian. Kebetulan saat di Changi, pesawat saya bersebelahan dengan Qantas QF32 tujuan Sydney. Tapi saya kurang tahu apakah pesawat tersebut adalah pesawat yang sama dengan pesawat yang beberapa waktu lalu mesinnya meledak di atas Batam.

Skytrain in KLIA
Qantas QF32 London-Singapore-Sydney
The End

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment