Thursday, December 9, 2010

Transit in Hat Yai

Bandara Hat Yai tidak begitu besar. Bandara ini hanya memiliki dua aerobridge. Tapi pesawat yang saya tumpangi tidak memakai fasilitas ini. Jadi saya harus turun tangga dan berjalan menuju loket pemeriksaan imigrasi. Saat itu hanya ada 6 petugas imigrasi yang melayani sekitar 100-an penumpang dari Singapore. Ruangan sempit itu jadi penuh sesak. Saya memilih duduk dulu di tempat duduk yang disediakan untuk mengisi kartu imigrasi.

Pemeriksaan imigrasi saya sangat lancar. Petugas imigrasi hanya mencocokkan paspor, kartu imigrasi, dan boarding pass saya. Kemudian mengambil foto saya dan men-stamp paspor saya. Tidak sepatah kata pun yang terucap. Petugas yang pendiam. Hehe...

Kota-kota di Thailand bagian selatan seperti Hat Yai, Pattani, Krabi, Phi Phi Island, dan Phuket, penduduk muslimnya lumayan banyak. Apalagi di Pattani yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan bisa berbahasa Melayu. Jadi hampir di setiap tempat umum ada musholla-nya. Masjid pun mudah ditemukan. Di Bandara Hat Yai ini, musholla terletak di dekat kounter check in domestik. Setelah pemeriksaan Customs, belok kanan, jalan terus melewati kounter check in domestik. Musholla ada di sisi sebelah kanan bersebelahan dengan kounter Air Asia.

Muslim Praying Area at Hat Yai Airport
Setelah menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar, saya keluar bangunan terminal, jalan melewati area parkir, keluar area bandara dan menyeberang jalan. Saya naik songthaew berwarna biru tujuan Hat Yai City. Sebelum naik, saya memberitahu sopir bahwa saya minta diturunkan di Bus Station. Kebetulan penumpangnya hanya ada satu, seorang wanita berjilbab. Dia asli Pattani, tapi menetap di Hat Yai. Kami pun mengobrol dalam bahasa Melayu. Tidak lama kemudian wanita itu turun.

Setelah melewati police station, sang sopir menepikan songthaew-nya, turun, dan menghampiri saya. Dia mengatakan bahwa saya sebaiknya turun di sini dan melanjutkan perjalanan menuju Bus Station dengan ojek. Songthaew akan berbelok ke kiri menuju Phetkasem Road. Untuk menuju Bus Station, saya harus belok kanan menuju Niphat Uthit 1 Road. Tentunya sang sopir menjelaskannya dengan bahasa tarzan. Hehe... Sungguh ramah sekali sang sopir ini. Dia sampai harus turun dan dengan susah payah menjelaskan kepada saya tentang bagaimana cara menuju Bus Station.

Oia, di Thailand ini saya benar-benar merasakan langsung keramahan penduduknya. Selain cerita tentang sopir songthaew tadi, masih banyak keramahan-keramahan lain yang diberikan oleh penduduk Thailand. Nanti akan saya ceritakan.

Setelah turun songthaew dan membayar 20Baht, saya menyeberang Phetkasem Road dan masuk ke dalam Kim Yong Market. Saya hanya sekadar melihat-lihat saja. Kemudian saya berjalan menuju Niphat Uthit 1 Road.

Walaupun disarankan untuk naik ojek menuju Bus Station, saya memilih untuk
berjalan kaki. Saya menyusuri Niphat Uthit 1 Road hingga ujung, kemudian belok
kiri ke arah Sripoovanart Road. Di jalan ini terdapat Diana Departement Store.
Bus Station berada tidak jauh dari Diana Departement Store.
Sripoovanart Road, Hat Yai
Sebenarnya kalau ada waktu, saya ingin sekali mengunjungi Wat Hat Yai Nai dan
Hat Yai Municipal Park. Sayang sekali, gara-gara pesawat saya delay berjam-jam,
rencana mengunjungi tempat tersebut batal.

Saya sama sekali tidak menyesalkan delay yang saya alami. Saya lebih memilih delay or divert daripada membahayakan keselamatan penerbangan. The aircraft must be perfect. Hal ini yang sering tidak dimengerti beberapa penumpang di Indonesia. Mereka sering marah-marah kalau pesawatnya delay. Terkadang marahnya salah sasaran. Bukannya mengunjungi kantor maskapai yang bersangkutan dan menanyakan alasan delay, tapi malah memarahi ground staff yang tidak ada kaitannya dengan maskapai.

Ok, back to topic.

Pusat keramaian Hat Yai berada di sekitaran Niphat Uthit 3 Road. Di area tersebut terdapat Lee Garden Plaza, Central dan beberapa hotel. Sama halnya dengan Orchard di Singapore dan Bukit Bintang di KL, saya tidak tertarik mengunjungi tempat-tempat tersebut. Aneh memang. Tapi saya memang bukanlah tipikal traveler yang tertarik mengunjungi tempat-tempat tersebut.


Begitu tiba di Bus Station, saya langsung masuk ke dalam dan mencari loket bus menuju Krabi. Saya naik bus jurusan Hat Yai-Krabi-Phuket. Harga tiketnya hanya 169Baht. Tapi waktu perjalanan menjadi 5 jam karena bus berulang kali berhenti untuk menaikturunkan penumpang. Saya baru tiba di Krabi pukul 11 malam.
My Bus to Krabi
Karena sudah malam, saya tidak diturunkan di Bus Station, melainkan di pinggir jalan. Saya tidak ingat nama jalannya. Kesalahan saya, saya tidak menge-print peta Krabi Town. Saya hanya mengingatnya saja. Malam itu saya hanya bermodalkan kompas dan ingatan saya. Saya ingat kalau Bus Station ada di utara agak ke barat. Kalaupun saya tidak diturunkan di Bus Station, pasti saya diturunkan tidak jauh dari Bus Station. Jadi saya mencoba berjalan ke arah timur.

Hanya beberapa meter saya melangkah, saya menemukan pertigaan. Salah satu sisi jalannya bernama Uttarakit Road. Uttarakit Road ini adalah jalan yang memanjang dari utara hingga selatan Krabi Town. Tempat berkumpul para backpacker juga ada di jalan ini. Tapi di sisi selatan yang dekat dengan Chao Fa Pier dan Maharaj Road. Saat itu saya berada di sisi utara. Jarak yang harus ditempuh lebih kurang 4km.

Tadinya saya berniat untuk berjalan kaki. Tapi melihat jalanan yang sudah sepi, saya urung melakukannya. Tidak jauh dari pertigaan, saya melihat rumah sakit. Saya berniat menanyakan kepada petugas jaga mengenai alternatif transportasi menuju Chao Fa Pier. Tentu saja maksud saya adalah cara mencari ojek karena songthaew reguler menuju Chao Fa Pier sudah berhenti beroperasi sejak pukul 6 sore.

Saya kembali menemukan keramahan penduduk Thailland. Pertama, saya bertanya kepada mas-mas yang jaga di luar rumah sakit. Tapi dia tidak bisa bahasa inggris maupun melayu. Kemudian saya diantar masuk ke dalam. Kebetulan ada mbak-mbak berjilbab yang bisa sedikit (sangat sedikit sekali) bahasa melayu. Saya menunjukkan alamat sebuah hostel beserta nomor teleponnya yang saya dapat dari internet. Dia langsung menelepon hostel tersebut dan (mungkin) bertanya cara menuju ke sana dalam bahasa Thai. Tapi sepertinya dia kesulitan menyampaikannya kepada saya. Saya diminta membonceng temannya naik motor. Ternyata saya dibawa ke rumah temannya lagi yang bisa berbahasa inggris. Saya langsung menyampaikan tujuan saya. Saya hanya ingin mencari hostel di sekitar Chao Fa Pier.

Akhirnya temannya tersebut menelepon seorang tukang ojek dan meminta tukang ojek tersebut mencarikan hostel untuk saya. Fiiuuuhhh... Leganyaa...... Tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain berterimakasih kepada mereka. Dalam Bahasa Thai tentunya. Oleh si tukang ojek, saya diantar ke P Guesthouse. Saya langsung memberikan 100Baht kepadanya.
P. Guesthouse

Yang membuat saya terharu, mereka benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menolong saya. Keterbatasan bahasa tidak membuat mereka mencampakkan saya. Tapi mereka berusaha mencarikan temannya yang bisa berkomunikasi dengan saya.

P Guesthouse beralamat di 34-36 Chao Fa Rd, Krabi. Di guesthouse ini tidak terdapat kamar dorm. Hanya ada kamar dengan double bed with fan or AC. Saya memilih kamar dengan kipas angin. Rate-nya cuma 300Baht per malam. Resepsionisnya juga berbahasa inggris. Saya diberi kebebasan untuk membayar ketika check out. Tidak ada bayar deposit sama sekali. Tingkat kepercayaan mereka terhadap turis benar-benar tinggi.

Di guesthouse tersebut, saya menjadi satu-satunya pengunjung dari Asia. Selebihnya dari Australia, Eropa dan Amerika. Kamar saya berada di lantai dua. Di luar dugaan, ternyata kamar saya sangat mewah. Tempat tidur spring bed queen size, private bathroom with hot shower, and TV with international channel. Persis seperti hotel. Bedanya, kamar saya hanya menggunakan kipas angin. Sepanjang pengalaman traveling saya, rasanya ini adalah penginapan termewah yang pernah saya inapi. Tapi tetap bukanlah yang termahal.

My bed room at P. Guesthouse



To be continued...

ARTIKEL TERKAIT:

7 comments:

  1. Hi....great info :) sy berencana ke Krabi via Hatyai overland from SG januari 2011.more story tentang Phi-Phi Island dr Krabi dunk & akhir cerita pulangnya beneran overland lagi via Hatyai atau gmn?sy mo tau kondisi borders Malay-Thai,bus & lama perjalanan dr Krabi ke SG :) is it safe for a female solo backpacker?thanks a lot :)

    ReplyDelete
  2. Hi Dila... Thnx y udh berkenan berkunjung k blog saya. Ia nanti saya post lanjutan critanya ttg Krabi dan Phi Phi. Kbetulan pulangnya overland dari Krabi smpe SG. Overall c safe2 aja. Tp lmyn ngabisin wktu. Total skitar 18jam. Blm trmasuk gnti2 bus. Border Thai di Sadao agak darurat. Smacem terminal bus. Trus ada loket2 imigrasi. Bentuknya kyk loket tiket bus gtu. Klo border Malaysia agak mendingan. Imigrasinya ada d dlm gedung.

    ReplyDelete
  3. wahh...sy tunggu postingan ceritanya :)sekarang sy lagi nyusun2 itinerary & betul2 butuh referensi.dr banyak cerita2 hasil googling,border malay-thai yg rada gak safe jd sy lumayan khawatir.mohon dicantumkan bus yg digunakan & kalau tdk merepotkan informasi biayanya :)thanks a lot :)

    ReplyDelete
  4. keren, minimal udah pernah ke luar negeri hehehe. Saya masih ingin menuntaskan trip Indonesia dulu. Salam kenal ya ;=)

    ReplyDelete
  5. Salam kenal juga Bro Adie... Saya juga belum kelar kq ngetrip ke sluruh Indonesia. Hehe..

    ReplyDelete
  6. mas,, numpang tanya dong.. klo di Hatyai hostel yang oke dmn yah?.. :)

    ReplyDelete
  7. Wah, maaf, saya kurang tau karena nggak nginep di Hat Yai. Tapi untuk lokasi, cari yang di sekitar Niphat Uthit Road atau Sripoovanart Road aja. Karena lokasinya cukup strategis. Hostel dorm mungkin nggak ada. Tapi rate hotel kelas melati di sana cukup murah kok. Sekitar 100ribuan.

    ReplyDelete