Sunday, December 18, 2011

Suatu Sore di La Rambla


Sore itu saya sedang duduk-duduk di salah satu sudut Plaza Catalunya. Sekadar mengistirahatkan kaki yang terasa pegal setelah berjalan kaki dari Parc Guell hingga La Sagrada Familia. Siapa yang tidak kenal Plaza Catalunya? Sebuah alun-alun yang seolah menjadi jantung kota Barcelona. Di tengahnya terdapat air mancur besar. Kawanan burung merpati terlihat bergerombol menanti orang-orang yang berbaik hati membagikan remahan roti dan jagung.

Plaza Catalunya


Kawanan Merpati di Plaza Catalunya

Saturday, December 3, 2011

Pengalaman Terbang dengan Malaysia Airlines


Ada yang nungguin cerita perjalanan saya selama di Eropa? Sabar dulu yah... Skip dulu ke perjalanan pulangnya. Hehe... Tapi saya kasih bocoran deh... Kemarin saya mengunjungi 4 negara. Salah satunya Belanda. Lainnya? Ntar dulu yaa...

Meskipun saya ditawari naik SQ lagi untuk perjalanan pulang ke Singapore, saya memilih untuk tetap naik Malaysia Airlines (MH). Alasannya sederhana. Saya pengen nyobain maskapai lain dan pesawat tipe lain. Kebetulan MH menggunakan pesawat Boeing 747-400 untuk penerbangan dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Boeing 747-400, pesawat legendaris yang pernah menjadi raja di udara ini adalah pesawat penumpang terbesar di zamannya. Meskipun usianya sudah cukup tua, pesawat double deck ini masih dijadikan andalan oleh banyak maskapai untuk terbang jarak jauh. Salah satu di antaranya adalah Malaysia Airlines.

Boeing 747-400 Malaysia Airlines at Schipol Apron

Thursday, November 10, 2011

First Time Flying with Singapore Airlines

Tak terasa sudah hampir 3 bulan saya tidak menyentuh blog ini. Saya jadi bingung mau nulis apa. Bukan karena tidak ada bahan, tapi karena banyak sekali yang ingin saya tulis. Berhubung saya adalah pecinta pesawat terbang, kali ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya terbang long haul.

Bulan lalu saya berkesempatan pergi ke Amsterdam. Perjalanan ini sungguh luar biasa berkesan. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Salah satu di antaranya adalah terbang long haul atau terbang jarak jauh. Penerbangan Singapore-Amsterdam memakan waktu sekitar 12 jam non stop. Tentunya pesawat yang digunakan adalah pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747, Boeing 777, Airbus 330, Airbus 380, MD-11 dan lain sebagainya.

Malam itu saya akan terbang dengan maskapai Singapore Airlines (SQ), salah satu maskapai premium bintang 5. Sungguh, saya tidak bisa mendeskripsikan betapa excited-nya saya malam itu. Udah terbang jarak jauh untuk pertama kalinya, pake SQ pula. Penerbangan Singapore Airlines dari Changi Airport dilayani di Terminal 2 dan 3. Kebetulan flight saya, SQ 324 tujuan Amsterdam, akan diterbangkan dari Terminal 3, terminal termewah di Changi.

My Boarding Pass


Tuesday, August 30, 2011

Cerita Mudik Saya

Mudik atau pulang ke kampung halaman merupakan tradisi masyarakat Indonesia ketika Hari Raya Idul Fitri tiba. Saya pun selalu mengusahakan untuk bisa mudik setiap tahunnya. Tarif moda transportasi yang meningkat hingga lebih dari 100% tak membuat saya mengurungkan niat  untuk merayakan hari kemenangan bersama keluarga tercinta. Pokoknya selama saya masih mampu, saya akan mengusahakan untuk pulang.

Nah, tahun ini adalah lebaran ketiga saya semenjak bekerja di Pulau Batam. Untuk mencapai kampung halaman saya di Semarang, yang paling praktis adalah dengan menggunakan pesawat. Jika sedang promo, saya hanya perlu membayar 1 juta rupiah saja untuk tiket pesawat pulang pergi. Namun ketika mendekati hari raya, harganya bisa melonjak hingga mendekati angka 4 juta rupiah. Saya pun harus putar otak untuk bisa mengakali mahalnya tiket pesawat ini.

Enaknya tinggal di Pulau Batam, pulau ini sangat dekat dengan negara tetangga Singapore. Untuk mencapai ke sana hanya diperlukan waktu 40 menit saja dengan menggunakan ferry. Tarifnya pun tidak mahal. Hanya 300ribuan untuk perjalanan pulang pergi. Dan dalam sehari ada puluhan jadwal keberangkatan dari pagi hingga malam. Saya pun mengambil rute Batam-Singapore-Jakarta-Semarang untuk mudik tahun ini. Bukannya sombong, tapi sungguh, harga tiket maskapai domestik sangat tidak masuk akal.

Friday, August 12, 2011

Singapore Lagi - Orchard Road dan Sentosa Island

Kali ini saya ke Singapore bukan untuk transit seperti biasanya, melainkan untuk membeli sesuatu. Saya juga sekalian mau menukar kartu EZ Link saya yang tidak dapat dipergunakan lagi. Setelah memperoleh barang yang saya butuhkan di Vivo City, saya turun ke stasiun MRT Harbourfront. Saya langsung menuju ticket office untuk menukar kartu EZ Link saya dengan yang baru. Ternyata ada prosedurnya. Tidak bisa langsung tukar begitu saja.

Begini prosedurnya.... Petugas di ticket office membuatkan surat klaim dengan mencatat nomor seri kartu EZ Link saya, nomor paspor dan tentunya nama saya. Kartu EZ Link saya yang rusak itu mereka tahan untuk diperiksa berapa saldo tersisa. Seingat saya, saldonya masih lumayan banyak. Jadi ya apes juga kalau dianggap hangus. Saya diminta kembali lagi ke ticket office tersebut sebulan lagi dengan membawa bukti klaim (berupa struk) dan paspor (ya iyalah,,,, masak ke Singapore nggak bawa paspor?). Saya juga diberi kartu EZ Link baru secara gratis sebagai pengganti kartu lama saya. Tapi kartu tersebut tidak ada saldonya. Jadi saya musti ngisi dulu sebanyak 10SGD.

Setelah urusan kartu EZ Link kelar, saya sempet bingung mau ngapain. Mau pulang apa jalan ya? Soalnya saya memang tidak merencanakan perjalanan ini. Ya mendadak berangkat gitu. Akhirnya saya memilih untuk muter-muter Singapore. Melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan di Singapore. Lagian kalau diingat-ingat, saya terakhir kali jalan-jalan keliling Singapore itu setahun yang lalu. Beberapa bulan yang lalu saya memang sempat ke Singapore, tapi hanya untuk transit karena waktu itu tujuan utama saya adalah Malacca, Malaysia. Jadilah saya memantapkan hati untuk sejenak berkeliling negara kota ini.

Monday, July 18, 2011

Universal Studio Singapore

Jika kamu sedang berada di Singapore, tak ada salahnya menyempatkan diri mengunjungi Universal Studio yang berada di Sentosa Island. Memang harga tiketnya tergolong mahal, tapi cukup worth it lah dengan apa yang kamu dapat di dalam. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang wahana-wahana yang ada di Universal Studio Singapore.

Begitu kamu tiba di area Universal Studio Singapore (selanjutnya saya sebut USS aja yah...), kamu akan disambut oleh bola dunia dengan tulisan “Universal Studio”. Inilah maskot Universal Studio. Banyak sekali pengunjung yang berfoto dengan background bola dunia ini, baik yang memang memiliki tiket masuk USS maupun tidak. Kalau kamu ingin berfoto dengan background bola dunia ini, datanglah pagi-pagi. Kalau baru datang pukul 9 atau lebih, jangan harap bisa berfoto tanpa ada “cameo”nya. Hehe... ;)

Universal Studio's Globe

Saturday, July 9, 2011

Berburu Pantai di Pulau Bangka - Part 2

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami pun memasuki Kota Sungailiat. Tujuan utama kami tentu saja Pantai Parai yang merupakan pantai andalan Pulau Bangka. Setelah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dari pusat kota(nggak tau berapa kilo, pokoknya udah jauh banget), kami tak juga menemukan pantai. Jalanan yang dilalui mulai sepi dan berbukit-bukit. Kami pun bertanya  arah menuju Pantai Parai kepada penduduk yang kami temui di pinggir jalan. Dan ternyata,,, kami tersesat cukup jauh. Rupanya belokan menuju Pantai Parai tidak jauh dari pusat Kota Sungailiat. Kami pun berbalik arah menuju pusat kota.

Sesampainya di pusat kota, kami kembali berbalik arah, menyusuri lagi petunjuk arah menuju Pantai Parai. Ternyata, papan petunjuk arah untuk menuju pantai ini berada di sebelah kanan. Tapi entah kenapa, tadi tidak ada seorang pun dari kami yang melihatnya. Mungkin karena konsentrasi kami hanya tertuju pada papan petunjuk arah di sebelah kiri jalan. Akhirnya kami pun belok kanan dan menuju ke jalan yang benar, bukan jalan yang menyesatkan ;)

Ketika sampai di gerbang Parai Beach Resort yang terletak di ujung jalan, kami tidak langsung masuk. Kami belok kiri dulu menuju Pantai Matras. Sengaja kami ke Pantai Matras dulu agar bisa lebih lama di Pantai Parai. Letak Pantai Matras tidak jauh dari Pantai Parai. Di pintu masuk, kami membayar 5.000IDR kepada warga setempat.

Wednesday, June 29, 2011

Berburu Pantai di Pulau Bangka - Part 1

Yah, walaupun trip kali ini judulnya hanya sekadar pelarian karena saya gagal ke Belitung, tapi ternyata apa yang saya lihat di pulau ini jauh melebihi ekspektasi saya. Pulau Bangka tidak kalah indah dari Pulau Belitung. Kedua pulau ini sama-sama memiliki banyak pantai indah. Dan pantai-pantai tersebut memiliki karakteristik yang hampir sama, yakni adanya bebatuan granit di pinggirnya.

Saya memulai  perjalanan pada hari Jumat pagi. Saat itu saya pergi bertiga dengan teman kuliah saya. Kebetulan hari itu adalah hari libur nasional. Kami sudah  berada di Pelabuhan Bom Baru, Palembang, sekitar pukul 6 pagi. Kami naik ferry dengan keberangkatan yang paling pagi, yakni pukul 6.50. Harapannya tentu saja agar cepat sampai di Bangka. O iya, kami menaiki ferry jenis jetfoil alias kapal ferry cepat. Yah, walaupun kenyataannya tidak cepat-cepat amat, tapi minimal tidak selambat kapal ferry roro. Perjalanan Palembang-Mentok memakan waktu sekitar 3 jam dengan jetfoil dan 8 jam dengan roro. Jauh sekali kan perbedaannya? Hehe...

Saat itu kami naik ferry Express Bahari. Tiket kelas eksekutifnya seharga 330.000IDR. Tiket tersebut adalah tiket pulang pergi dan sudah termasuk pas masuk Pelabuhan Bom Baru. Kapal ferry yang kami naiki memiliki tiga kelas tempat duduk. Yang pertama adalah kelas ekonomi yang terletak di dek atas. Harga tiketnya sekitar 50.000IDR lebih murah daripada kelas eksekutif. Tempat duduk kelas ekonomi ini terbuat dari plastik. Enaknya duduk di kelas ekonomi, selain harga tiketnya lebih murah, kita juga bisa melihat pemandangan tanpa terhalang kaca. Sementara kejelekan duduk di kelas ini adalah ketika hujan turun. Penumpang akan berebut masuk ke dalam agar tidak terpercik air hujan.

Friday, June 24, 2011

Destination is Changed to Bangka Island

Bulan Maret lalu, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki ini ke Pulau Sumatera, tepatnya di Kota Palembang, yang pertama kali ada di benak saya adalah, “Saya harus ke Belitung”. Yupz, benar sekali. Saya juga terpesona dengan keindahan panorama Pulau Belitung sejak menonton film Laskar Pelangi. Dan Palembang sudah cukup dekat dengan pulau impian saya itu. Saya pun segera mencari jadwal yang pas dan melakukan sedikit riset tentang Belitung.

Jadwal yang pas sudah ketemu. Di bulan April ada long weekend. Tapi yang jadi kendala adalah transportasi. Transportasi udara jelas bukan pilihan karena harus transit di Jakarta. Atau bisa juga via Pangkal Pinang, Pulau Bangka, kemudian menyambung dengan ferry. Tapi tetap saja mahal. Akhirnya pilihan saya jatuh pada transportasi laut. Setelah saya mencari informasi di internet, bertanya kepada rekan-rekan di milis backpacker, dan bahkan bertanya langsung kepada petugas di pelabuhan, ternyata tidak ada ferry/kapal langsung dari Palembang ke Tanjung Pandan, Belitung. Transportasi yang ada hanyalah kombinasi dari ferry dan bus dengan harga tiket all in pulang pergi sebesar 770.000IDR. Rincian perjalanannya begini,,,,

Dari Palembang berangkat pagi naik jetfoil ke Mentok (bagian selatan Pulau Bangka) selama 3 jam. Kemudian menuju Pangkal Pinang dengan minibus selama 3 jam. Dari Pangkal Pinang naik ferry lagi ke Tanjung Pandan selama 4 jam. Jadi kira-kira sampai di Belitung sore hari. Jadwal berangkat ini sebenarnya tidak masalah bagi saya. Yang jadi masalah adalah jadwal pulang ke Palembang. Begini,,,

Saturday, June 11, 2011

Palembang Heritage Trail - Part 2

Pulau Kemaro
Kelenteng dan Pagoda di Pulau Kemaro

Pulau ini terletak di tengah-tengah Sungai Musi, sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera. Nama Kemaro berasal dari kata “kemarau” yang artinya, pulau ini tidak pernah tenggelam, bahkan ketika Sungai Musi sedang pasang. Untuk menuju ke Pulau Kemaro, kita bisa mencarter getek, yakni semacam perahu panjang bermesin, dari dermaga di Benteng Kuto Besak (depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II). Tarifnya antara 100.000-150.000IDR, tergantung kepandaian kita bernegosiasi dengan pengemudi getek. Satu getek ini bisa menampung sampai 8 orang.


Menyusuri Sungai Musi dengan menggunakan getek merupakan suatu tantangan tersendiri. Setelah melewati Jembatan Ampera, getek melaju dengan kencang. Jadi seperti sedang naik speed boat. Yang mengkhawatirkan adalah body getek yang hanya selebar 2 orang dewasa. Jadi tidak stabil dan rawan terbalik. Terutama ketika berpapasan dengan kapal-kapal besar, jetfoil dan tongkang batu bara. Satu hal lagi, tidak ada rompi pelampung. Tapi tenang dulu, pengemudi getek rata-rata sudah mahir mengemudikan geteknya. Mereka sudah tahu kapan harus menambah/mengurangi kecepatan dan berbelok untuk menghindari arus yang besar. Tapi jika tidak mau ambil risiko, ada kapal yang lebih besar yang bisa dicarter. Tarifnya sekitar 400.000-500.000IDR untuk kapal dengan kapasitas 15-20 orang.

Saturday, June 4, 2011

Palembang Heritage Trail - Part 1

Setiap kali saya bertanya kepada rekan-rekan yang asli Palembang mengenai tempat-tempat menarik di kotanya, sering kali dijawab tidak ada. Kalau pun ada, paling hanya Jembatan Ampera yang terkenal itu. Selain Jembatan Ampera, biasanya saya hanya dianjurkan untuk mencicipi kuliner di Palembang. Ya, Palembang memang terkenal sebagai surganya wisata kuliner. Pempek Palembang dan Mie Celor hanya sebagian kecil dari wisata kuliner itu sendiri.

Hmm... Pernyataan tersebut memang benar. Kota Palembang memang tidak memiliki banyak tempat yang menarik bagi turis. Tempat-tempat yang ada pada brosur pariwisata kebanyakan memang berada di luar Kota Palembang. Contohnya Gunung Dempo, Bukit Tunjuk, Air terjun Lematang, Danau Ranau, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, yang sedikit itu bukan berarti tidak menarik kan? Tempat menarik di Palembang sebagian besar berada tidak jauh dari Jembatan Ampera dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Kita bisa mendatangi tempat-tempat tersebut dengan berjalan kaki. Sementara sebagian kecil lainnya terletak agak jauh dari Jembatan Ampera.


Jembatan Ampera
Ampera Bridge

Saturday, May 28, 2011

Suatu Saat di Kuta Bali

Terasa familiar dengan judul di atas? Haha... Benar sekali. Judul postingan saya kali ini memang sama dengan judul lagu yang dibawakan oleh Andre Hehanusa. Lagu ini menjadi OST trip saya kali ini.

Bali atau Pulau Dewata sebagai destinasi wisata nomor satu di Indonesia memang menawarkan keindahan alam seperti pantai, gunung dan danau. Pantai-pantai di Bali memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada pantai yang berombak tenang seperti Pantai Nusa Dua, berombak sedang seperti Pantai Tuban, Pantai Kuta dan Pantai Legian, hingga berombak besar seperti pantai-pantai di selatan Bali. Selain terkenal akan keindahan alamnya, Bali juga terkenal akan seni dan kebudayaannya. Masyarakat setempat banyak yang berprofesi sebagai artis seni. Dan mereka juga masih menjalankan tradisi keagamaan mereka.

Untuk menikmati setiap unsur keindahan di Bali, sepertinya kita membutuhkan waktu sebulan penuh. Namun jika hanya sekadar ingin mengenal Bali, kunjungan selama 3 atau 4 hari sepertinya sudah cukup. Sayangnya, saya hanya punya waktu sehari saja pada kunjungan saya yang terakhir ke Pulau Dewata. Hehe... ;)

Sunday, May 22, 2011

Dari KL Mampir ke Putrajaya

Walaupun semalam kami baru tiba di hostel pukul 3 dini hari, paginya kami langsung check out. Pagi itu kami memang ada janji dengan teman semasa kuliah dulu. Dia menginap di hostel yang sama. Tapi berhubung kami baru check in menjelang tengah malam, kami baru bisa berjumpa dengannya di pagi hari. Kami pun meminta kepada Liz, sang manajer hostel, untuk mengambil gambar kami di depan hostelnya.
Foto-foto dulu setelah check out ;)
Tadinya kami semua berencana ke Batu Caves bersama-sama. Tapi ternyata teman kami lebih memilih untuk berjalan-jalan di downtown KL. Kami pun berpisah di stasiun monorel Imbi. Saya juga berpisah sejenak dari mereka karena ada janji dengan Aie Sha, rekan blogger dari Malaysia. Jadi pagi itu, saya menuju Stasiun Universiti untuk berjumpa Aie Sha, teman saya bertiga langsung menuju Batu Caves, dan teman satunya masih di Bukit Bintang.

Notes : Batu Caves saat ini sudah bisa dijangkau dengan KTM dari KL Sentral, jalur Port Klang-Sentul-Batu Caves. Sementara untuk menuju Stasiun Universiti, saya naik monorel dari Imbi ke Bukit Nanas, kemudian pindah ke Stasiun Dang Wangi dan naik LRT menuju Univesiti.

Sunday, May 15, 2011

Enjoying Midnight at Bukit Bintang and KLCC

Perjalanan dari Melaka ke Kuala Lumpur memakan waktu 2 jam saja. Di Kuala Lumpur, kami diturunkan di Terminal Bandar Tasik Selatan. Bangunannya masih tergolong baru dan lebih menyerupai airport daripada terminal bus. Terminal ini menjadi tempat pemberhentian akhir bagi bus-bus dari selatan Kuala Lumpur seperti Singapore, Johor Bahru, Melaka, Mersing, dan lain sebagainya. Bandar Tasik Selatan juga menjadi stasiun KLIA Transit, KTM Komuter Rawang Seremban dan LRT Sri Petaling Sentul Timur.
Loket Penjualan Tiket di Terminal Bandar Tasik Selatan
Notes : Untuk bus-bus tujuan utara seperti Penang, Hat Yai, dan lainnya, terminalnya ada di Pudu Raya. Kedua terminal besar ini, Bandar Tasik Selatan dan Pudu Raya, terhubung dengan LRT Sri Petaling Sentul Timur. Stasiun terdekat dari Pudu Raya adalah Plaza Rakyat.

Dari terminal bus, kami menuju stasiun LRT dan membeli tiket tujuan Hang Tuah. Malam itu kami menginap di Equator Hostel di daerah Bukit Bintang. Jadi dari Hang Tuah, kami naik monorel dan turun di Stasiun Imbi. Keluar Stasiun Imbi, kami berjalan memutari Berjaya Times Square yang sudah tutup. Hostel kami terletak tepat di belakang Berjaya Times Square. Tarif kamar dorm (4 beds) with fan sebesar 27 MYR per orang sudah termasuk sarapan.

Saturday, May 14, 2011

UNESCO World Heritage City (2) - Malacca

Setelah mengunjungi George Town pada kesempatan sebelumnya, akhirnya saya berkesempatan juga mengunjungi Melaka. Melaka juga merupakan kota warisan budaya dunia. Kali ini saya tidak melakukan perjalanan solo, melainkan bersama 3 orang rekan saya. Kami sampai di Johor Bahru pada tengah hari. Dan baru berangkat ke Melaka pukul 1 siang dengan menumpang bus KKKL. Harga tiket bus dari Johor Bahru ke Melaka sebesar 19 MYR dan perjalanan memakan waktu 3 jam. Rencananya, kami hanya beberapa jam saja di Melaka karena malamnya kami menginap di Kuala Lumpur.

Tampaknya saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami. Sepanjang perjalanan, hujan turun tiada henti. Begitu pula saat bus kami memasuki Melaka Sentral. Hujan masih turun dengan derasnya. Setelah membeli tiket bus ke Kuala Lumpur seharga 12,2 MYR, kami pun hanya bisa menunggu di terminal sambil berharap hujan lekas reda.

Setelah 2 jam menunggu, akhirnya hujan pun reda. Tapi saat itu sudah pukul setengah 5 sore. Jadi kami bergegas menuju kounter taksi dan memesan taksi ke Jonker Street. Tarif taksi dari Melaka Sentral memang agak mahal, yakni 20 MYR. Tapi ini tarif resmi di kounter taksi. Kalau kita berjalan keluar komplek terminal, kita bisa dapat tarif yang lebih murah. Mungkin sekitar 15 MYR atau lebih murah lagi. Tergantung pandai-pandainya kita menawar. Alternatif lain, bisa menggunakan Panorama Bus dari platform 1A. Tapi interval keberangkatannya sangat lama. Selama 2 jam kami menunggu di Melaka Sentral, tidak satu pun Panorama Bus yang datang.


Sunday, May 8, 2011

UNESCO World Heritage City (1) - George Town

Malaysia memiliki dua kota yang menjadi warisan budaya dunia, yakni George Town dan Melaka. Kedua kota ini ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site pada 7 Juli 2008 di Quebec, Kanada. Kebetulan saya diberi kesempatan untuk mengunjungi salah satu di antaranya, George Town.

Dari pemberhentian Free CAT Bus nomor 15, saya memulai perjalanan saya menyusuri jantung kota George Town. Tujuan pertama saya adalah Masjid Kapitan Keling yang berada tidak jauh dari pemberhentian nomor 15. Masjid ini mulai dibangun pada abad 19 atas permintaan seorang Kapitan Keling (Kepala kaum India Muslim) bernama Caudeer Mohudeen. Hingga kini, Masjid Kapitan Keling telah menjadi pusat peribadatan muslim India yang menetap di sekitar masjid sejak 200 tahun yang lalu.
Masjid Kapitan Keling

Penang

Langit masih gelap ketika saya sudah berada di dalam kabin Airbus A320 Air Asia. Pagi itu saya terbang menuju Penang. Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Penang memakan waktu lebih kurang 50 menit.

Sekitar pukul 7.45 pagi, pesawat saya mendarat di Bayan Lepas International Airport, Penang. Suasana airport pagi itu masih tampak lengang. Toko-toko di dalam bangunan terminal pun masih banyak yang tutup. Saya segera menuju tempat pemberhentian bus Rapid Penang yang ada di area parkir bandara, dekat dengan terminal kedatangan. Sebelumnya, saya sempat mengambil free map yang disediakan di dekat pintu keluar terminal kedatangan.
Terminal Building





Friday, January 28, 2011

A Short Trip to Langkawi

Saya terbangun karena suasana airport yang mulai ramai. Saat itu masih pukul 6 pagi. Saya langsung menuju surau untuk sholat subuh. Pesawat saya baru akan take off pukul 10 pagi sehingga counter check in baru dibuka pukul 8. Jeda waktu yang cukup lama ini saya manfaatkan untuk tidur lagi. Tapi pindah ke dalam dekat counter check in. Hehe...

Pukul 8 saya menuju kounter pemeriksaan dokumen. Di LCCT, kounter ini terletak di pintu masuk dekat pemeriksaan X-Ray. Para penumpang yang sudah melakukan web check in dan hanya membawa bagasi kabin, bisa langsung menuju kounter ini. Setelah melewati X-Ray, saya menunggu boarding di ruang tunggu keberangkatan.
Ruang Tunggu Keberangkatan LCCT

Friday, January 21, 2011

Exploring Malaysia by Air Asia

Tujuan saya ke Malaysia kali ini adalah Langkawi dan Penang. Kebetulan saya memperoleh tiket promo seharga 15 MYR per flight. Tiket ini saya beli satu bulan sebelum keberangkatan. Lama perjalanan saya 2 hari 3 malam. Sementara rute flight saya adalah Johor Bahru-Kuala Lumpur-Langkawi-Kuala Lumpur-Penang-Johor Bahru. Untuk menuju Johor Bahru, seperti biasa saya menggunakan bus.


Pukul 7 malam saya sudah berada di dalam bus menuju Johor Bahru. Perjalanan lumayan lancar walaupun saat itu weekend. Saya sampai di Terminal Larkin pukul 8 malam dan segera mencari bus tujuan Senai Airport. Berdasarkan informasi yang saya peroleh sebelumnya, untuk menuju Senai Airport kita bisa naik bus berikut : Causeway Link Bus no.333 ; Maju Bus no.207 ; GML Line Bus no.G1 ; Senai Airport Line no.A1


Akan tetapi tidak satu pun bus di atas saya temukan di Terminal Larkin. Setelah saya bertanya kepada salah seorang petugas di sana, beliau mengatakan bahwa saat itu sudah terlalu malam. Bus-bus tersebut mungkin sudah berhenti beroperasi. Tapi saya tidak percaya begitu saja karena berdasarkan riset yang saya lakukan sebelum berangkat, jam operasional bus-bus tersebut sampai pukul sepuluh malam.

Wednesday, January 19, 2011

Overland from Krabi to Singapore

Bangunan Terminal Krabi sangat kecil. Bangunan ini hanya terdiri dari 2 loket utama dan beberapa loket kecil. Loket kecil ini hanya menempati meja dan berada di sekitar loket utama. Di dalam bangunan terminal ini juga terdapat warung makan. Saya segera mencari loket yang menjual tiket bus menuju Hat Yai. Ternyata hanya ada satu loket yang menjual tiket tersebut. Saya pun membeli tiket untuk keberangkatan pukul 10.35. Harga tiketnya hanya 169 THB.
Krabi Bus Station
Sambil menunggu bus saya datang, saya berjalan-jalan mengelilingi area terminal. Di luar bangunan terminal, saya menemukan beberapa penjual ayam goreng. Penjualnya kebanyakan muslimah berjilbab. Jadi saya tidak ragu akan kehalalannya. Akan tetapi, lokasi berjualan mereka berada di area parkir bus. Jadi saya menyangsikan kebersihannya.

Tuesday, January 18, 2011

Ao Nang Beach, Krabi

Saya masih memiliki waktu setengah hari sebelum bergerak menuju Singapore. Waktu setengah hari ini saya manfaatkan untuk mengunjungi Ao Nang Beach. Setelah check out, saya menuju Seven Eleven untuk membeli sarapan. Kemudian saya berjalan menuju Maharaj Soi 8 untuk naik songthaew menuju Ao Nang Beach. Songthaew berwarna putih ini beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore dengan interval sekitar 15 menit. Tarif sekali jalan dari Krabi Town menuju Ao Nang Beach adalah 50 THB. Perjalanan akan memakan waktu sekitar 20 menit.

Karena masih pagi, penumpang di dalam songthaew itu hanya saya seorang. Tapi songthaew tidak berputar-putar dan berhenti lama mencari penumpang. Songthaew tersebut hanya berputar di sekitar Chao Fa Pier, kemudian langsung menuju Ao Nang. Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan perbukitan kapur yang sangat indah.
Pemandangan Bukit Kapur di Sepanjang Perjalanan