Sunday, May 22, 2011

Dari KL Mampir ke Putrajaya

Walaupun semalam kami baru tiba di hostel pukul 3 dini hari, paginya kami langsung check out. Pagi itu kami memang ada janji dengan teman semasa kuliah dulu. Dia menginap di hostel yang sama. Tapi berhubung kami baru check in menjelang tengah malam, kami baru bisa berjumpa dengannya di pagi hari. Kami pun meminta kepada Liz, sang manajer hostel, untuk mengambil gambar kami di depan hostelnya.
Foto-foto dulu setelah check out ;)
Tadinya kami semua berencana ke Batu Caves bersama-sama. Tapi ternyata teman kami lebih memilih untuk berjalan-jalan di downtown KL. Kami pun berpisah di stasiun monorel Imbi. Saya juga berpisah sejenak dari mereka karena ada janji dengan Aie Sha, rekan blogger dari Malaysia. Jadi pagi itu, saya menuju Stasiun Universiti untuk berjumpa Aie Sha, teman saya bertiga langsung menuju Batu Caves, dan teman satunya masih di Bukit Bintang.

Notes : Batu Caves saat ini sudah bisa dijangkau dengan KTM dari KL Sentral, jalur Port Klang-Sentul-Batu Caves. Sementara untuk menuju Stasiun Universiti, saya naik monorel dari Imbi ke Bukit Nanas, kemudian pindah ke Stasiun Dang Wangi dan naik LRT menuju Univesiti.


Sebelumnya saya tidak pernah berjumpa dengan Aie Sha. Saya hanya mengenal mereka dari blog. Tapi pagi itu kami berjumpa seperti sudah kenal lama saja. Setelah minum kopi dan berbincang sejenak di McD, mereka mengantar saya ke Batu Caves. Dan kami pun berpisah di sana.
Bersama Aie dan Sha di Batu Caves
Kemudian saya kembali bergabung dengan rekan saya. Ternyata mereka baru saja turun dari atas. Setelah beristirahat sejenak, kami kembali ke KL Sentral dengan naik KTM Komuter. Sesampainya di KL Sentral, kami makan siang terlebih dahulu di KFC. Ternyata di KFC ada menu Egg Tart yang jadi makanan favorit saya ketika di Macau. Saya pun memesannya. Walaupun rasanya tidak seenak yang saya beli di Macau, tapi cukup mengobati kerinduan saya akan negara tersebut. Hehe.. ;)
Yummy...!!!
Dari KL Sentral, kami kembali ke Hentian Bandar Tasik Selatan dan memesan tiket bus menuju Singapore. Tapi ternyata hari itu bertepatan dengan akhir cuti anak sekolah. Jadi semua tiket tujuan Singapore dan Johor Bahru untuk keberangkatan siang sudah habis. Yang ada hanya untuk keberangkatan malam. Waktu itu kami belum tahu mengenai adanya pemisahan terminal bus berdasarkan tujuannya. Jadi kami berharap masih ada tiket di Hentian Bukit Jalil. Saat kami bertanya mengenai kemungkinan tersebut kepada  petugas loket dan informasi, yang satu mengatakan tidak bisa, satu lagi mengatakan bisa. Daripada bingung, kami pun mencoba ke Hentian Bukit Jalil yang hanya berjarak dua stasiun LRT.

Saat kami sampai di Hentian Bukit Jalil, kami baru tahu bahwa Hentian Bukit Jalil (Saat ini sudah dikembalikan ke Pudu Raya) khusus untuk bus-bus tujuan utara. Sementara bus-bus tujuan selatan berangkat dari Hentian Bandar Tasik Selatan. Kami pun mencoba mencari alternatif transportasi lain menuju Singapore. Pilihannya hanya pesawat dan taksi. Karena saat itu peak season, harga tiket pesawat menuju Singapore di atas 300MYR. Sementara taksi 500MYR. Kami jelas tidak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk ke Singapore. Akhirnya kami kembali ke Hentian Bandar Tasik Selatan dan memesan tiket bus terakhir menuju Singapore.

Intermezo : Saat akan kembali ke Hentian Bandar Tasik Selatan, hujan turun sangat deras sehingga memaksa kami naik taksi. Kami pun dikenai 22MYR untuk jarak sedekat itu.

Setelah memesan tiket, kami sempat bingung mau menghabiskan waktu dimana. Tadinya kami berencana ke KLCC (lagi). Tapi salah satu rekan mengusulkan ke Putrajaya. Kebetulan kami berempat belum ada yang pernah ke sana. Kami pun tidak tahu apa yang dapat dilihat di sana. Kami hanya ingat, ada masjid bagus di sana. Akhirnya kami sepakat menuju Putrajaya.

Untuk menuju Putrajaya, kami hanya perlu menaiki KLIA Transit dari Bandar Tasik Selatan langsung menuju Putrajaya. Perjalanan hanya memakan waktu 10 menit dengan kereta listrik berkecepatan tinggi. Setelah sampai di stasiun Putrajaya, kami menuju Tourist Information Centre yang terdapat di lantai 2. Yang bertugas saat itu adalah seorang bapak yang sudah cukup tua. Kepada beliau, kami bertanya mengenai tempat-tempat yang layak dikunjungi di Putrajaya. Kami pun disarankan menuju Komplek ABCD. Untuk menuju ke Masjid Putra, kami bisa turun di Komplek A. Sebenarnya hampir semua bus melewati Komplek ABCD. Tapi kami disarankan naik Bus Nadi Putra nomor 100, 101 atau 300 karena bus-bus tersebut yang rutenya paling pendek. Tarifnya flat 0,50MYR saja.
KLIA Transit
Setelah merasa cukup memperoleh informasi, kami segera turun ke terminal bus yang memang terhubung dengan stasiun Putrajaya. Kami pun naik bus nomor 101. Saat membayar, kami berpesan kepada sopir bus untuk menurunkan kami di Masjid Putra, Komplek A.

Di atas bus, kami dapat melihat suasana Putrajaya yang rapi. Bangunan-bangunan yang menjadi kantor pemerintah masih terlihat baru. Tempat tinggal penduduk setempat kebanyakan berupa flat-flat. Dan di tengah perjalanan, kami melihat balon udara yang terbang rendah di atas kami.
Balon udara di Putrajaya
Oleh sopir bus, kami diturunkan di sebuah halte yang masih berjarak beberapa ratus meter dari Masjid Putra. Untuk menuju Masjid Putra, kami masih harus melewati taman yang memanjang hingga Dataran Perdana. Masjid Putra ada di salah satu sisi dataran ini, berseberangan dengan Perdana Putra yang menjadi kantor Perdana Menteri Malaysia.
Perdana Putra
Masjid Putra
Begitu memasuki masjid, kami sangat terkesan dengan arsitekturnya. Arsitektur masjid yang selesai dibangun pada tahun 1999 ini merupakan perpaduan Timur Tengah dan Melayu. Luas kompleknya lebih dari satu hektar. Dan di salah satu sisi masjid, kami dapat melihat pemandangan Tasik Putra.
Tasik Putra
Setelah adzan maghrib berkumandang, kami segera mengambil air wudhu dan sholat berjamaah. Seusai sholat, kami kembali ke halte dan menunggu bus yang akan membawa kami ke Stasiun Putrajaya. Kemudian kami naik KLIA Transit kembali ke Hentian Bandar Tasik Selatan.

Kami tiba di Hentian Bandar Tasik Selatan sekitar pukul 21.00. Dan lagi-lagi kami makan malam di KFC. Hehe... Tepat pukul 22.20, kami pun berangkat menuju Singapore.
Ruang tunggu keberangkatan Hentian Bandar Tasik Selatan
Pengeluaran (Berdasarkan kurs 22 Mei 2011 dibulatkan ke atas) :
Day 1
Makan siang di KFC Terminal Larkin            12MYR = Rp 35.000
Bus KKKL Johor Bahru-Melaka        19MYR = Rp 54.000
Bus KKKL Melaka-Kuala Lumpur    12,2MYR = Rp 35.000
Taksi dari Melaka Sentral ke Jonker Street     20MYR = Rp 57.000
Tiket masuk Museum Samudera         3MYR = Rp 9.000
Tiket River Cruise       10MYR = Rp 29.000
Taksi dari Stadhuys ke Melaka Sentral           20MYR = Rp 57.000
Beli Nescafe kaleng    2,1MYR = Rp 6.000
LRT Bandar Tasik Selatan-Hang Tuah           1,7MYR = Rp 5.000
Monorel Hang Tuah-Imbi       1MYR = Rp 3.000
Hostel di Kuala Lumpur         27MYR = Rp 77.000
Makan malam di McD Bukit Bintang                        13MYR = Rp 37.000
Taksi dari KLCC ke Bukit Bintang    20MYR = Rp 57.000
Day 2
Monorel Imbi-Bukit Nanas     1,6MYR = Rp 5.000
LRT Dang Wangi-Universiti  2MYR = Rp 6.000
KTM Komuter Batu Caves-KL Sentral          2MYR = Rp 6.000
Makan siang di KFC   16MYR = Rp 46.000
KTM Komuter KL Sentral-Bandar Tasik Selatan      1MYR = Rp 3.000
LRT Bandar Tasik Selatan-Bukit Jalil            0,7MYR = Rp 2.000
Taksi dari Bukit Jalil ke Bandar Tasik Selatan           22MYR = Rp 63.000
Bus KKKL Kuala Lumpur-Singapore            39MYR = Rp 111.000
KLIA Transit Bandar Tasik Selatan-Putrajaya           5,3MYR = Rp 16.000
Bus Nadi Putra ke Komplek A           0,5MYR = Rp 2.000
Bus Nadi Putra ke Stasiun Putrajaya              0,5MYR = Rp 2.000
KLIA Putrajaya-Bandar Tasik Selatan           5,3MYR = Rp 16.000
Makan malam di KFC                        12MYR = Rp 35.000

Total Pengeluaran       Rp 774.000

The End

ARTIKEL TERKAIT:

13 comments:

  1. sayang nggak bisa mampir ke putrajaya...nice post Indra..

    ReplyDelete
  2. wah, sayang skali. knapa nggak jd mampir? ngomong2, Hongkong kpn brgkt? gudluck bwt india tripnya yaa... ;)

    ReplyDelete
  3. lumayan banyak yang dikunjungi kemaren dra
    klo ada waktu lebih banyak mungkin lebih seru
    tp thx berat udah jd guide kemana2

    ReplyDelete
  4. Ia. Yg slalu saya sesali dari perjalanan2 saya memang soal wktu. Waktu yg singkat jelas mengurangi kualitas traveling. Sementara saya bukan tipe traveler yg sanggup menunggu setahun lamanya utk traveling demi memaksimalkan waktu.

    Cuti setahun hanya 12. Itu pun masih dikurangi dengan kebijakan "lucu" pemerintah bernama cuti bersama yg totalnya sampai 6 hari. Kita dipaksa mengambil cuti bersama meskipun pada kenyataannya kita tidak cuti.

    Jadi saya mengakalinya dengan mengambil weekend trip. Meskipun singkat, tapi saya berusaha menjadikannya berkualitas. Haha... thnx ya udh mampir ke blog saya... ;)

    ReplyDelete
  5. Wew..lumayan yah..dengan ongkos segitu bisa jalan-jalan kesana... ;)

    ReplyDelete
  6. cukup menyenangkan buat weekend trip yah...jalan2 bisa jadi agenda rutin bulanan y ndra,,,

    ReplyDelete
  7. @Maya : yupz... tp itu baru ongkos akomodasi dan transportasi di sana aja ;)

    ReplyDelete
  8. wah, kalo bulanan, saya bisa bangkrut donk? Hehe.. ;) Nggak tiap bulan kq. Kalo pas lagi ada dana aja.

    ReplyDelete
  9. Wah, ada Hartoyo, Hanto, ma Ali. Kapan2 janjian Ndra!

    ReplyDelete
  10. Plus Defi Lim dan adik2ny, Fendi dan Vina. ;)

    ReplyDelete
  11. mas, mau nambahin dikit boleh ya

    ada alternatif lain untuk bagian ini :
    Taksi dari Melaka Sentral ke Jonker Street 20MYR = Rp 57.000

    waktu itu saya naik bus ke jonker street, cuma 1 MYR.
    saya lupa bus nya nomor berapa, bisa tanya orang-orang di terminal malaka (banyak orang Jawa nya malahan).

    saya yakin sih mas nya juga udah tau ^^
    cuma berbagi pengalaman, lumayan ngerasain naik bus Malaysia rasa bus Indonesia

    ReplyDelete
  12. boleh tau ini hostelnya dimana ya?

    ReplyDelete