Sunday, May 8, 2011

UNESCO World Heritage City (1) - George Town

Malaysia memiliki dua kota yang menjadi warisan budaya dunia, yakni George Town dan Melaka. Kedua kota ini ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site pada 7 Juli 2008 di Quebec, Kanada. Kebetulan saya diberi kesempatan untuk mengunjungi salah satu di antaranya, George Town.

Dari pemberhentian Free CAT Bus nomor 15, saya memulai perjalanan saya menyusuri jantung kota George Town. Tujuan pertama saya adalah Masjid Kapitan Keling yang berada tidak jauh dari pemberhentian nomor 15. Masjid ini mulai dibangun pada abad 19 atas permintaan seorang Kapitan Keling (Kepala kaum India Muslim) bernama Caudeer Mohudeen. Hingga kini, Masjid Kapitan Keling telah menjadi pusat peribadatan muslim India yang menetap di sekitar masjid sejak 200 tahun yang lalu.
Masjid Kapitan Keling


Dari masjid, saya kembali menyusuri Jalan Masjid Kapitan Keling menuju Mahamariamman Temple. Mahamariamman Temple juga terletak di Jalan Masjid Kapitan Keling. Jaraknya hanya satu blok dari Masjid Kapitan Keling. Temple Hindu ini juga dibangun pada abad 19 dan merupakan salah satu temple tertua di Penang.
Mahamariamman Temple
Berada dua blok dari Mahamariamman Temple terdapat Goddess of Mercy Temple. Temple yang didedikasikan untuk Dewi Kwan Yin dan Ma Chor Poh ini merupakan temple pertama yang dibangun oleh komunitas Chinese yang menetap di Penang.
Goddess of Mercy Temple
Hanya berjarak beberapa meter dari Goddess of Mercy Temple, masih berada di blok yang sama, terdapat St George’s Church. Gereja Anglican ini selesai dibangun pada tahun 1818.
St George's Church
Hmm... Menyusuri Jalan Masjid Kapitan Keling ini membuat saya kagum. Bukan hanya karena bangunan bersejarah yang masih terawat dengan baik, tapi karena di jalan ini terdapat empat tempat peribadatan berbeda yang saling berdekatan. Rata-rata tempat peribadatan ini dibangun pada abad 19 atau sekitar 200 tahun yang lalu. Jadi sejak 200 tahun yang lalu, masyarakat Penang yang terdiri dari berbagai suku, agama dan kepercayaan yang berbeda, telah hidup berdampingan dan membina kerukunan satu sama lain.

Selepas perempatan di depan St George’s Church, masih di Jalan Masjid Kapitan Keling, terdapat Court Building yang juga dibangun pada abad 19. Di pertigaan Jalan Lebuh Light, saya belok kanan dan menyeberang jalan menuju ke Taman Kota Lama. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan taman ini. Yang istimewa adalah taman ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah.

Saya mulai mengelilingi sisi kiri taman, yakni di Jalan Padang Kota Lama. Bangunan pertama yang saya temui adalah Town Hall. Bangunan bergaya Victoria ini dibangun pada abad 19. Pertama kali dibuka oleh Gubernur Sir Frederick Weld pada tahun 1880. Pada saat itu gedung ini berfungsi untuk tempat pertunjukan teater dan perpustakaan nasional. Tepat di samping Town Hall, terdapat City Hall. Di antara bangunan-bangunan lainnya, City Hall ini tergolong baru karena baru dibangun pada awal abad 20.
Town Hall
City Hall
Di ujung Jalan Padang Kota Lama, saya menyeberangi Jalan Tun Syed Sheh Barakbah menuju War Memorial. Monumen yang didedikasikan untuk para pahlawan yang gugur saat perang dunia ini dibangun tepat dipinggir laut pada tahun 1922.
War Memorial
Dari War Memorial, saya kembali menyeberang ke Taman Kota Lama, untuk menuju Fort Cornwallis. Letak benteng ini tepat di seberang Town Hall dan City Hall. Jam operasi benteng ini dari pukul 9am-7pm dan tiket masuk sebesar 2MYR. Begitu memasuki benteng, kita akan disambut oleh patung Francis Light. Benteng ini dibangun oleh beliau pada abad 19. Di sebelah kanan terdapat ruangan-ruangan yang berisi riwayat benteng ini. Di salah satu ujung juga terdapat gereja kecil yang dibangun pada akhir abad 18. Gereja ini merupakan gereja anglican pertama yang dibangun di kota ini. Di sebelah kiri terdapat gudang senjata dan mesiu serta meriam yang mengarah ke laut lepas.
Fort Cornwallis
Setelah puas mengelilingi Fort Cornwallis, saya menuju Clock Tower. Dari gerbang benteng, saya belok kiri menyusuri Taman Kota Lama. Setelah sampai ke Jalan Lebuh Light, saya berbelok ke arah kiri. Dari sini sudah terlihat Clock Tower yang selesai dibangun pada tahun 1902.
Clock Tower
Saya berbelok ke kanan ke arah Jalan Lebuh Pantai. Di sepanjang jalan ini terdapat bangunan-bangunan klasik eropa yang masih dipergunakan hingga saat ini. Sekilas, saya jadi merasa sedang berada di salah satu sudut Kota London. Hehe...
Salah Satu Lorong di Lebuh Pantai
Setelah melewati dua blok, saya belok kiri ke Gat Lebuh Gereja. Berada di ujung Gat Lebuh Gereja ini, terdapat Church Street Pier yang mulai dibangun pada tahun 1880. Satu hal yang sangat disayangkan dari bangunan ini adalah keberadaan papan reklame yang mengganggu estetika bangunan ini. Di Jalan Pangkalan Weld, saya belok kanan menuju ke terminal bus. Di kanan jalan, saya melewati Malayan Railway Building yang mungkin merupakan satu-satunya stasiun kereta api tanpa rel kereta.
Church Street Pier
Akhirnya berakhir sudah perjalanan saya mengelilingi kota tua George Town. Meskipun hanya 2 jam, tapi saya sangat puas. Idealnya jika ingin lebih mengeksplorasi kota ini, dibutuhkan minimal 2 hari.

Notes : Penjelasan mengenai bangunan-bangunan bersejarah di atas saya peroleh dari keterangan yang terdapat di lokasi dan free map yang dikeluarkan oleh Penang State Tourism Development & Culture.

Dari Pangkalan Jetty, saya naik bus nomor 203 menuju Gurney Plaza. Di dekat Gurney Plaza terdapat Sleeping Budha dan Dharmikarama Burmese Temple. Tapi sayang sekali pada saat saya melewatinya, kedua tempat itu sudah tutup. Di bagian belakang Gurney Plaza langsung berbatasan dengan laut. Tempat ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya para turis ketika sore hingga malam hari. Di salah satu sisinya terdapat hotel dan juga apartemen. Saya belok kiri ke arah New Gurney Drive (Seafront Promenade). Tempat ini semacam pujasera terbuka atau tanpa atap. Makanan yang dijual pun beraneka ragam. Jika ingin makan di sini, jangan lupa memastikan lagi kehalalannya. Saya tidak makan malam di sini, melainkan di McD yang ada di sampingnya.
Persiaran Gurney
Setelah makan malam, saya menuju Jalan Tanjong Tokong dan menunggu bus nomor 102 yang akan membawa saya kembali ke airport. Malam itu saya menginap di airport karena saya pulang dengan penerbangan pagi.

Perjalanan yang sangat singkat dan melelahkan. 2 hari 2 pulau dan 5 flight. Tapi saya sangat menikmatinya.

Rincian Anggaran (Kurs 8 Mei 2011) :
Pre Departure
Tiket pesawat (5 Flight @ 15 MYR)  75 MYR = Rp 213.427
Pre booked meal (3 kali @ 12 MYR) 36 MYR = Rp 102.445
Day 1 KL-Langkawi-KL
Dinner at McD LCCT KL      13 MYR = Rp 36.994
Nasi Lemak at LCCT KL       4,9 MYR = Rp 13.944
Taxi LGK Airport-Cable Car  24 MYR = Rp 68.297
Taxi  Cable Car-Cenang Beach           26 MYR = Rp 73.988
Milo 1 Litre     5 MYR = Rp 14.229
Ice Cream + Orange Juice       18 MYR = Rp 51.223
Taxi Cenang Beach-LGK Airport      18 MYR = Rp 51.223
Corn    4,5 MYR = Rp 12.806
Mineral Water 1,2 MYR = Rp 3.415
Day 2
Rapid PG 401E PEN Airport-Jetty    2,7 MYR = Rp 7.684
Rapid PG 204 Jetty-Kek Lok Si Temple        2 MYR = Rp 5.692
Kek Lok Si Temple Entrance Fee       2 MYR = Rp 5.692
Kwan Yin Statue        4 MYR = 11.383
Rapid PG 204 Kek Lok Si Temple-Jetty        2 MYR = Rp 5.692
Rapid PG 101 Jetty-Teluk Bahang     2,7 MYR = Rp 7.684
Rapid PG 101 Teluk Bahang-Batu Ferringhi 1,3 MYR = Rp 3.700
Rapid PG 101 Batu Ferringhi-Komtar           2,7 MYR = Rp 7.684
Lunch at McD Prangin Mall   12 MYR = Rp 34.149
Rapid PG 103 Jetty-Gurney Plaza      1,4 MYR = Rp 3.984
Dinner at McD Gurney Drive 8 MYR = Rp 22.766
Rapid PG 102 Gurney Drive-PEN Airport    2,7 MYR = Rp 7.684
Total Pengeluaran       = Rp 765.785


The End

ARTIKEL TERKAIT:

8 comments:

  1. seperti mengelilingi kota Medan saja. Bangunannya mirip-mirip semua. Mulai masjid, vihara, klenteng, dan (bekas) kantor pemerintahan (dulu). Baru sadar, itulah yang dinamakan akulturasi, sama seperti kemiripan benua Afrika dengan kepulauan di NTT jika dilihat dari kontur tanah dan sebaran satwanya, Medan dan Penang bisa jelas dikatakan pernah memiliki kesamaan historis sebagai wilayah 'satu rumpun'. Kata "keling" yang dikonotasikan dengan etnis India pun ada di Medan. Fyi, saya sempet ketakutan menyebut kata 'keling' karena itu berkonotasi rasis untuk etnis India. Sebagai gantinya, saya menyebutkan kampung Madras. OK happy traveling, ditunggu cerita selanjutnya ... dan bukunya hehehe ;=)

    ReplyDelete
  2. Akulturasi sangat mungkin terjadi karena Medan dan Penang memang dekat secara geografis. Sebenarnya tidak hanya di Medan. Di Kepulauan Riau (Batam, Bintan dan sekitarnya), akulturasi kebudayaan juga sangat terasa. Bukan hanya dari bentuk tempat ibadah, tapi juga bahasa dan makanan.

    Mengenai penggunaan kata "Keling", saya kurang tahu secara pasti. Tapi di Malaysia, kata ini dipergunakan secara luas. Bahkan di Penang dijadikan nama masjid dan jalan.

    Yupz... Ditunggu juga bukunya. Dan doakan saya segera menyusul. Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat berkenalan Mas.

      Ya, banyak bangunan di Penang yang mempunyai sejarah peradaban dan kesenian yang hampir sama dengan yang di Medan atau Acheh kerana dahulunya kedua-dua rumpun bangsa ini berkeluarga -misalnya raja Acheh atau Medan mempunyai darah keturuan diraja dari Tanah Melayu seperti Pahang dan Perak. Maka pertembungan budaya telah berlaku. Di Penang misalnya, ada Masjid Acheh, Lebuh Acheh dan Pantai Acheh. Komuniti Acheh juga ramai di sini. Saya pernah menceritakan tentang ini di dalam blog saya. Saya mempersilakan Mas Indra membacanya:
      http://nota-kembara.blogspot.com/2013/11/jejak-seni-jalanan-di-kota-warisan.html

      Delete
    2. Salam berkenalan Mbak :)

      Iya, saya suka sekali dengan Penang. Terutama Georgetown karena keragaman budayanya.

      Delete
  3. Ini bulan January, waktu tram ke Penang Hill masih diperbaiki. Setelah dari KL kemarin, saya belum ke Malaysia lagi.

    ReplyDelete
  4. Mas kalau jalan kaki dari Masjid Kapitan Keling ke Kwan Yim Temple itu jauh gak yah?
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya Goddess of Mercy Temple kan? Kalo itu mah sepelemparan batu aja. Deket banget :D

      Delete