Saturday, May 14, 2011

UNESCO World Heritage City (2) - Malacca

Setelah mengunjungi George Town pada kesempatan sebelumnya, akhirnya saya berkesempatan juga mengunjungi Melaka. Melaka juga merupakan kota warisan budaya dunia. Kali ini saya tidak melakukan perjalanan solo, melainkan bersama 3 orang rekan saya. Kami sampai di Johor Bahru pada tengah hari. Dan baru berangkat ke Melaka pukul 1 siang dengan menumpang bus KKKL. Harga tiket bus dari Johor Bahru ke Melaka sebesar 19 MYR dan perjalanan memakan waktu 3 jam. Rencananya, kami hanya beberapa jam saja di Melaka karena malamnya kami menginap di Kuala Lumpur.

Tampaknya saat itu cuaca sedang tidak bersahabat dengan kami. Sepanjang perjalanan, hujan turun tiada henti. Begitu pula saat bus kami memasuki Melaka Sentral. Hujan masih turun dengan derasnya. Setelah membeli tiket bus ke Kuala Lumpur seharga 12,2 MYR, kami pun hanya bisa menunggu di terminal sambil berharap hujan lekas reda.

Setelah 2 jam menunggu, akhirnya hujan pun reda. Tapi saat itu sudah pukul setengah 5 sore. Jadi kami bergegas menuju kounter taksi dan memesan taksi ke Jonker Street. Tarif taksi dari Melaka Sentral memang agak mahal, yakni 20 MYR. Tapi ini tarif resmi di kounter taksi. Kalau kita berjalan keluar komplek terminal, kita bisa dapat tarif yang lebih murah. Mungkin sekitar 15 MYR atau lebih murah lagi. Tergantung pandai-pandainya kita menawar. Alternatif lain, bisa menggunakan Panorama Bus dari platform 1A. Tapi interval keberangkatannya sangat lama. Selama 2 jam kami menunggu di Melaka Sentral, tidak satu pun Panorama Bus yang datang.



Perjalanan dari Melaka Sentral ke Jonker Street hanya memakan waktu 15 menit saja. Oleh sopir taksi, kami diturunkan di ujung Jonker Street. Saat itu sudah pukul 5 sore dan bus kami menuju Kuala Lumpur berangkat pukul setengah 9 malam. Jadi paling lambat pukul 8 malam kami harus sudah meninggalkan old town. Ini artinya, kami hanya memiliki waktu 3 jam di old town ini. Jadi kami benar-benar harus mengefektifkan waktu.
Welcome to Jonker Street
Jonker Street atau Jalan Hang Jebat merupakan salah satu daya tarik utama Melaka. Bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan ini masih dipertahankan keasliannya. Berada satu blok di sebelah barat Jonker Street, terdapat Heeren Street atau Jalan Tun Tan Cheng Lock. Di jalan ini terdapat Baba and Nyonya Peranakan Museum. Sayangnya, kami tidak bisa mengunjungi museum ini karena sudah terlalu sore. Jam buka museum ini pukul 10am-12.30pm dan 2pm-4.30pm. Harga tiket masuknya 10 MYR.
Suasana Jonker Street yang tidak pernah sepi
Kami menyusuri Jonker Street hingga ke ujung. Di ujung Jonker Street, dekat dengan persimpangan Jalan Tokong, terdapat Hang Kasturi Mausoleum. Setelah menyusuri Jonker Street, kami berbelok ke Jalan Tokong. Bangunan bersejarah yang pertama kami temui adalah Cheng Hoon Teng Temple. Kuil yang dibangun pada tahun 1673 ini didedikasikan untuk Dewi Kwan Yin. Kuil ini menjadi kuil tertua di Malaysia yang masih digunakan hingga saat ini.
Cheng Hoon Teng Temple
Berada satu blok dari Cheng Hoon Teng Temple, terdapat Masjid Kampung Kling. Masjid ini dibangun pada tahun 1748. Yang unik dari masjid ini adalah menaranya yang menyerupai pagoda. Beberapa meter dari Masjid Kampung Kling, masih di blok yang sama, terdapat Sri Poyyatha Vinayaga Moorthy Temple yang dibangun pada tahun 1781.
Masjid Kampung Kling
Di persimpangan jalan dengan Lorong Hang Jebat, kami berbelok ke kiri dan menyeberangi Jembatan Chan Koon Cheng. Dari jembatan ini akan terlihat tulisan raksasa “Welcome to Melaka” pada dinding salah satu bangunan. Setelah menyeberangi jembatan, kami belok kanan menuju Jalan Laksamana. Di sini terdapat St. Francis Xavier’s Church.
St Francis Xavier's Church
Kami terus menyusuri Jalan Laksamana untuk menuju Stadthuys. Bangunan tua di sepanjang Jalan Laksamana ini cukup unik karena semuanya bercat seragam, yakni warna merah tua. Setelah berjalan beberapa puluh meter, kami pun tiba di Stadthuys. Stadhuys ini dibangun pada tahun 1650 dan saat ini berfungsi sebagai museum.

Di dekat Stadhuys, terdapat Christ Church yang merupakan salah satu ikon Melaka. Gereja protestan ini dibangun pada tahun 1741 dan menjadi yang tertua di Malaysia. Di sekitar gereja terdapat taman yang ditumbuhi bunga berwarna-warni.
Christ Church
Oh iya, area di sekitar Stadhuys dan Christ Church ini dinamakan Dutch Square. Selain terdapat taman, di tempat ini juga terdapat Tang Beng Swee Clock Tower yang dibangun pada tahun 1886.
Dutch Square
Dari Stadhuys dan sekitarnya, kami menuju ke Ruins of St. Paul’s Church. Reruntuhan gereja Katholik peninggalan Portugis ini berada di atas bukit. Jadi perlu sedikit tenaga untuk bisa mencapainya. Di atas bukit, selain bisa melihat reruntuhan gereja dari dekat, kita juga bisa melihat pemandangan Melaka dari ketinggian.
Ruins of St. Paul's Church
Setelah melepas lelah sejenak sambil menikmati semilir angin di atas bukit, kami pun turun ke bawah menuju A’Famosa. Benteng ini dulunya dibangun Portugis untuk menghadapi invasi Belanda. Tapi saat ini hanya tersisa gerbang dan sebuah meriamnya saja. Lokasinya tepat berada di belakang Ruins of St. Paul’s Church.
A'Famosa
Kami kembali ke Stadhuys melalui Jalan Kota. Tujuan kami berikutnya adalah Maritime Museum. Museum ini berada tepat di samping Malacca River dan bangunannya berbentuk replika kapal. Untuk memasuki museum ini, kami dikenakan tiket masuk sebesar 3 MYR per orang. Di museum ini, kami dapat melihat sejarah maritim Melaka mulai dari zaman Kesultanan Malaysia pada abad 14, era Portugis, era Belanda hingga era Inggris. Di dalam museum juga terdapat replika-replika kapal di Melaka dari masa ke masa.
Maritime Museum
Notes : Informasi mengenai tempat-tempat bersejarah di atas, selain saya peroleh dari tempat tersebut, saya peroleh juga dari Wikitravel.

Dari Maritime Museum, kami menuju loket river cruise. Lokasinya tidak jauh dari Maritime Museum. Harga tiketnya sebesar 10 MYR saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.15 pm saat kami mendapat giliran naik boat. Rasanya ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengikuti river cruise. Ini karena pada saat berangkat, langit masih terang. Sementara saat di perjalanan, langit berangsur-angsur berubah menjadi gelap dan lampu-lampu mulai dinyalakan.

Perjalanan menyusuri Malacca River ini berlangsung selama lebih kurang 45 menit. Di sepanjang perjalanan, kami dapat melihat bangunan-bangunan rumah tua yang sebagian besar masih dipertahankan keasliannya. Yang paling menarik, tentu saja Kampung Morten yang terdapat di west bank. Kami jadi seperti berada di masa lampau.

Jembatan-jembatan di atas sungai yang kami lewati juga tak kalah indah dengan lampu-lampu yang menambah keksotisan Melaka di malam hari. Bahkan ada satu jembatan yang sekilas mirip dengan Rialto Bridge di Venice. Kami jadi seperti sedang menaiki Gondola menyusuri kanal-kanal di Venice. Haha...
Salah Satu Jembatan Eksotik di Sungai Melaka

Pemandangan Lampu di sepanjang cruise
Di sisi sungai juga terdapat jalur monorel. Jadi kita juga bisa menyusuri sungai dengan monorel. Tapi saat itu, monorel masih belum beroperasi. Perjalanan menyusuri sungai ini berakhir tepat pukul 8 malam. Kami pun berlari dari dermaga ke Stadhuys untuk mencari taksi yang akan membawa kami kembali ke Melaka Sentral. Bus kami menuju Kuala Lumpur akan berangkat pukul 8.30 malam. Jadi kami hanya mempunyai waktu kurang dari 30 menit untuk menuju Melaka Sentral. Untungnya, saat itu kami langsung menemukan taksi.

Intermezo : Ada hal bodoh yang masih saya sesali hingga saat ini. Mungkin ini karena suasana malam itu yang serba terburu-buru. Saat saya menanyakan tarif menuju Melaka Sentral kepada sopir taksi, sang sopir balas bertanya, “Tadi ke sini berapa?”. Dengan polosnya saya menjawab, “20 Ringgit”. Sepersekian detik kemudian, saya pun tersadar bahwa seharusnya saya tidak menyebut nominal 20 Ringgit, melainkan 12 atau 15 Ringgit. Tapi ya sudahlah, anggap saja ini tip untuk sang sopir karena berhasil membawa kami ke Melaka Sentral dalam waktu kurang dari 15 menit.

Setelah sampai di Melaka Sentral, kami pun bergegas mencari platform  bus kami. Untungnya kami tidak sampai tertinggal bus. Tepat pukul 8.30 pm, bus KKKL yang kami naiki pun berangkat menuju Kuala Lumpur.

To be continued...

ARTIKEL TERKAIT:

4 comments:

  1. keren banget ya klo malem, sayang bgt wkt ke melaka kmrn aku cm pny 3 jam disana, jd cm sempet ke stadtuy :(

    ReplyDelete
  2. ia keren. saya di old town juga cuma 3 jam kq. Tapi start-nya dari jam 5 sore. jadi masih sempet nyusurin sungai malem-malem meskipun sempet deg-degan takut ketinggalan bus. hehe... ;)

    ReplyDelete
  3. Mas Indra, aku mau tanya boleh yah. Kira2 kalau dr KL sentral menuju malaka baiknya kita naik kereta menuju Bandar Tasik Selatan atau dari Seremban. Mohon pencerahannya ya mas. Terima kasih utk tulisan di blognya bermanfaat buat newbie macam saya.. :)

    ReplyDelete
  4. Hello Nien, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Tapi saya agak kurang paham dgn pertanyaannya. Klo posisi di KL Sentral mau menuju Hentian Bandar Tasik Selatan, bisa naik KTM Komuter tujuan Seremban ataupun KLIA Transit. Keduanya sama2 berhenti di Hentian Bandar Tasik Selatan.

    ReplyDelete