Wednesday, June 29, 2011

Berburu Pantai di Pulau Bangka - Part 1

Yah, walaupun trip kali ini judulnya hanya sekadar pelarian karena saya gagal ke Belitung, tapi ternyata apa yang saya lihat di pulau ini jauh melebihi ekspektasi saya. Pulau Bangka tidak kalah indah dari Pulau Belitung. Kedua pulau ini sama-sama memiliki banyak pantai indah. Dan pantai-pantai tersebut memiliki karakteristik yang hampir sama, yakni adanya bebatuan granit di pinggirnya.

Saya memulai  perjalanan pada hari Jumat pagi. Saat itu saya pergi bertiga dengan teman kuliah saya. Kebetulan hari itu adalah hari libur nasional. Kami sudah  berada di Pelabuhan Bom Baru, Palembang, sekitar pukul 6 pagi. Kami naik ferry dengan keberangkatan yang paling pagi, yakni pukul 6.50. Harapannya tentu saja agar cepat sampai di Bangka. O iya, kami menaiki ferry jenis jetfoil alias kapal ferry cepat. Yah, walaupun kenyataannya tidak cepat-cepat amat, tapi minimal tidak selambat kapal ferry roro. Perjalanan Palembang-Mentok memakan waktu sekitar 3 jam dengan jetfoil dan 8 jam dengan roro. Jauh sekali kan perbedaannya? Hehe...

Saat itu kami naik ferry Express Bahari. Tiket kelas eksekutifnya seharga 330.000IDR. Tiket tersebut adalah tiket pulang pergi dan sudah termasuk pas masuk Pelabuhan Bom Baru. Kapal ferry yang kami naiki memiliki tiga kelas tempat duduk. Yang pertama adalah kelas ekonomi yang terletak di dek atas. Harga tiketnya sekitar 50.000IDR lebih murah daripada kelas eksekutif. Tempat duduk kelas ekonomi ini terbuat dari plastik. Enaknya duduk di kelas ekonomi, selain harga tiketnya lebih murah, kita juga bisa melihat pemandangan tanpa terhalang kaca. Sementara kejelekan duduk di kelas ini adalah ketika hujan turun. Penumpang akan berebut masuk ke dalam agar tidak terpercik air hujan.


Untuk kelas eksekutif, tempat duduknya terbuat dari busa yang lumayan empuk, tapi sempit seperti bus AC Ekonomi antar kota di Indonesia. Sedangkan kelas VIP, tempat duduknya sangat nyaman. Harga tiketnya pun tidak selisih terlalu jauh dari kelas eksekutif. Jadi saran saya, kalau ingin murah lebih baik naik kelas ekonomi, sementara kalau ada dana berlebih, lebih baik naik kelas VIP karena kelas eksekutif serba tanggung.

Pemandangan di perjalanan cukup membosankan. Hampir 2 jam perjalanan dihabiskan dengan menyusuri Sungai Musi. Karena padatnya arus lalu lintas sungai serta banyaknya perahu-perahu kecil (baca : Getek), ferry harus berjalan perlahan. Setelah lepas Sungai Musi, barulah ferry dapat melaju kencang. Sekitar pukul 10 pagi, ferry kami merapat di pelabuhan Mentok, Pulau Bangka. Ternyata, ferry Sumber Bangka yang jadwal keberangkatannya setelah ferry kami, yakni pukul 8 pagi, malah sudah merapat duluan. Sial!!!

Setelah sampai di pelabuhan Mentok, perjuangan kami masih belum berakhir. Kami masih harus naik bus selama 3 jam ke Pangkal Pinang. Tarif bus dari Mentok ke Pangkal Pinang ini sebesar 25.000IDR. Di tengah perjalanan, bus akan berhenti selama beberapa menit untuk memberikan kesempatan kepada penumpang yang ingin makan siang di warteg.  Yang perlu diperhatikan, bus ini hanya ada saat kedatangan ferry. Jadi sebaiknya setelah turun ferry, kamu langsung naik bus ini.

Suasana terminal dadakan di Pelabuhan Mentok
Sampai di Pangkal Pinang, sopir bus yang kami naiki berbaik hati mengantarkan kami ke Jalan Masjid Jamik, tempat penginapan kami berada. Selama di Bangka, kami menginap di Penginapan Bukit Sofa yang terletak di Jl. Masjid Jamik No. 43. Penginapan ini hanya berjarak 100 meter dari Masjid Jamik. Rate kamarnya sangat murah, yakni mulai 55.000-180.000IDR. Fasilitasnya? Yah, gitu deeh... Namanya juga penginapan kelas melati. Saat check in, kami juga menyewa mobil Toyota Avanza seharga 350.000IDR. Mobil ini akan kami gunakan untuk menjelajah Bangka esok hari.

Keesokan harinya,,,

Kami memulai perjalanan sekitar pukul 8 pagi. Tujuan pertama kami adalah Pantai Pasir Padi. Pantai ini masih terletak di Pangkal Pinang. Jadi kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju pantai ini. Setelah sampai di area pantai, kami memasuki salah satu resort yang terdapat di sana. Suasana pantai saat itu tidak terlalu ramai oleh turis. Hanya saja, saat itu sedang ada acara perayaan kelulusan siswa SMA setempat di salah satu area resort. Jadi lumayan ada yang bisa dilihat. Hehe... ;)

Karakteristik pantai Pasir Padi berbeda dengan pantai-pantai kebanyakan. Kamu tidak akan menemukan pasir halus yang bisa dibentuk istana pasir. Kamu juga tidak bisa berenang. Tidak bisa juga berjemur di pinggir pantai. Hal ini karena garis pantai Pasir Padi cukup jauh dari resort. Sementara pasirnya, meskipun berwarna putih, teksturnya padat. Tapi meskipun demikian,  justru di sinilah letak keunikan Pantai Pasir Padi yang menjadikan pantai ini sebagai tempat yang harus dikunjungi ketika kamu berada di Pangkal Pinang.

Pemandangan Pantai Pasir Padi (Dilihat dari resort)

Setelah puas menikmati keindahan Pantai Pasir Padi, kami keluar resort dan menyusuri pantai, menuju ke sisi lainnya. Saat sedang asyik berkendara, tiba-tiba mata kami tertuju pada sebuah mobil yang parkir di atas pasir pantai nun di sana, cukup dekat dengan garis pantai. Kami pun jadi tertarik untuk ke sana. Awalnya, saya pribadi menyangsikan kekuatan dataran pantai. Saya khawatir, dataran tersebut tergenang air laut ketika pasang, jadi pasirnya masih memiliki kandungan air yang banyak. Apa jadinya kalau mobil sewaan ini terperosok? Tapi akhirnya saya belokkan juga mobil ini menuju pantai. Apesnya, ban belakang mobil kami sempat selip. Hal ini karena pasir yang ada di dekat jalan raya cukup halus. Tapi semakin ke tengah, ternyata tekstur tanahnya sangat padat. Hanya saja, kita harus berhati-hati dengan karang dan genangan air.

Pantai Pasir Padi (Di sisi yang lain)

Kami berhenti sekitar 50 meter dari laut. Pemandangan  di sini sangat indah. Bahkan jauh lebih indah bila dibandingkan dengan saat di resort tadi. Ada hamparan karang yang ternyata permukaannya tertutup oleh semacam cangkang / rumah kerang. Pastikan kamu memakai alas kaki karena batuan ini cukup tajam. Satu hal yang aneh, di area ini juga ditumbuhi pohon. Jadi bila dilihat dari kejauhan, area ini tampak seperti sebuah pulau. Setelah melewati karang ini, barulah kami sampai di garis pantai.
Di sinilah kami parkir

Hamparan Karang

Pasir Padi Beach

Setelah puas memandangi lautan dari atas batu karang, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah Kota Sungailiat, yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Pangkal Pinang. Sebelumnya, kami mampir brunch terlebih dahulu di warung makan seafood Mr. Asui.

To be continued...

ARTIKEL TERKAIT:

8 comments:

  1. di rumah sodara bokap di sulawesi pelosok sana juga model pantai nya mirip. Kalo pagi pas laut nya surut banyak ikan yang terjebak di karang-karang nya itu. Jadi kalo mau sarapan ikan pagi2 ga usah mancing, pungut aja di pinggir pantai nya itu :D

    ReplyDelete
  2. Betuul... kmarin saya jg nemu ikan. kepalanya nancep ke pasir. masih idup. ekornya gerak-gerak. kesian. hehe... ;)

    ReplyDelete
  3. langsung di masak tuh. enaaaak.. msh fresh hahahaaa

    ReplyDelete
  4. syngnya cuma ikan kecil doank. ;)

    ReplyDelete
  5. sayang banget ga ke belitung
    ke pelabuhan pangkal balam
    setiap hari ada jetfoil ke belitung.

    ReplyDelete
  6. Ia, masalahnya bukan di jetfoil ke Belitung. Tapi jetfoil dari Mentok ke Palembang. Nggak ada kberangkatan sore. Jadi kalo brgkt pagi dari Belitung, nggak bisa connecting ke Palembang. musti nginep smalem dulu. Mungkin someday bakalan lngsung ke Tj.Pandan aja dari Jakarta. ;)

    ReplyDelete
  7. Mungkin salah kali Mas...itu Pantai Pasir Padi..
    Kalo pantai tangjung pesona terletak di Sungailiat....

    ReplyDelete
  8. Ia bener. Saya salah nulis nama. Tanjung Pesona itu ada di Sungailiat. Tapi saya nggak sempat mampir ke sana. Thnx atas koreksinya.

    ReplyDelete