Saturday, June 11, 2011

Palembang Heritage Trail - Part 2

Pulau Kemaro
Kelenteng dan Pagoda di Pulau Kemaro

Pulau ini terletak di tengah-tengah Sungai Musi, sekitar 5 kilometer dari Jembatan Ampera. Nama Kemaro berasal dari kata “kemarau” yang artinya, pulau ini tidak pernah tenggelam, bahkan ketika Sungai Musi sedang pasang. Untuk menuju ke Pulau Kemaro, kita bisa mencarter getek, yakni semacam perahu panjang bermesin, dari dermaga di Benteng Kuto Besak (depan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II). Tarifnya antara 100.000-150.000IDR, tergantung kepandaian kita bernegosiasi dengan pengemudi getek. Satu getek ini bisa menampung sampai 8 orang.


Menyusuri Sungai Musi dengan menggunakan getek merupakan suatu tantangan tersendiri. Setelah melewati Jembatan Ampera, getek melaju dengan kencang. Jadi seperti sedang naik speed boat. Yang mengkhawatirkan adalah body getek yang hanya selebar 2 orang dewasa. Jadi tidak stabil dan rawan terbalik. Terutama ketika berpapasan dengan kapal-kapal besar, jetfoil dan tongkang batu bara. Satu hal lagi, tidak ada rompi pelampung. Tapi tenang dulu, pengemudi getek rata-rata sudah mahir mengemudikan geteknya. Mereka sudah tahu kapan harus menambah/mengurangi kecepatan dan berbelok untuk menghindari arus yang besar. Tapi jika tidak mau ambil risiko, ada kapal yang lebih besar yang bisa dicarter. Tarifnya sekitar 400.000-500.000IDR untuk kapal dengan kapasitas 15-20 orang.


Beberapa getek berjajar menanti penumpang di Dermaga BKB
Perjalanan menuju Pulau Kemaro hanya memakan waktu 15 menit. Dari Jembatan Ampera, kita akan melewati Pasar 16 Ilir, Pelabuhan Bom Baru dan Pabrik Pupuk Sriwijaya. Setelah sampai di dermaga Pulau Kemaro, kita akan disambut sebuah gapura kecil bergaya China dengan 2 ekor naga di atasnya.
Gerbang masuk Pulau Kemaro

Setelah memasuki gapura, kita akan melihat suasana yang asri karena hampir semua bagian Pulau Kemaro ditumbuhi pepohonan yang tinggi. Ada 3 hal menarik yang bisa dilihat di pulau ini, yakni kelenteng Budha, Pagoda dan makam yang dipercaya sebagai makam Putri Palembang. Kelenteng Budha ini ramai dikunjungi masyarakat Tiong Hoa, baik dari dalam maupun luar negeri, terutama pada saat perayaan Cap Go Meh. Sementara makam Putri Palembang memiliki legenda yang cukup menarik.
Pagoda di Pulau Kemaro

Pada zaman Kerajaan Palembang, konon ada seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang disunting oleh seorang saudagar Tionghoa bernama Tan Bun An. Siti Fatimah diajak ke daratan Tiongkok untuk bertemu dengan orang tua Tan Bun An. Setelah beberapa lama, Tan Bun An dan Siti Fatimah kembali ke Palembang dan dihadiahi 7 buah guci berisi emas. Sesampainya di perairan Musi, dekat dengan Pulau Kemaro, Tan Bun An melihat isi guci dan dia kaget sekali karena isi guci yang dilihatnya hanya berupa sawi-sawi asin. Tanpa berpikir panjang, Tan Bun An membuang guci-guci itu ke Sungai Musi. Namun guci terakhir yang akan dibuang terjatuh dan pecah di atas dek perahu. Ternyata isinya adalah emas. Sawi-sawi itu hanya sebagai tipuan agar tidak dirompak oleh bajak laut saat di perjalanan. Tan Bun An pun langsung melompat ke sungai untuk mencari guci-guci tadi. Seorang pengawalnya juga ikut terjun mencari. Tapi mereka berdua tidak pernah muncul lagi. Akhirnya Siti Fatimah ikut terjun dan tidak pernah muncul juga. Penduduk sekitar sering mengunjungi Pulau Kemaro untuk mengenang 3 orang tersebut. (Dikutip dari tulisan Disbudpar Kota Palembang dengan beberapa perubahan)

Rumah Kapiten Cina


Rumah Kapitan Cina
Adalah Coa Ham Hin pemilik rumah ini. Dia adalah seorang etnis Cina yang diangkat menjadi Kapten/Kapiten Cina pada tahun 1855. Posisi rumah ini sangat strategis, yakni di pinggiran Sungai Musi, tepat di seberang Benteng Kuto Besak. Saat ini, rumah sang Kapiten ditinggali oleh keturunannya yang bernama Kohar atau Pak Ci. Selain berfungsi sebagai rumah tinggal, rumah ini juga berfungsi sebagai kelenteng.

Bukit Siguntang


Bukit Siguntang
Bukit dengan ketinggian 27 meter dari permukaan laut ini terletak di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I atau sekitar 4 kilometer dari pusat kota. Jika kita datang ke tempat ini tanpa melihat sejarahnya, sungguh, tempat ini jauh dari kata menarik. Tidak ada prasasti, arca ataupun museum. Hanya semacam bukit yang ditumbuhi pepohonan dengan kursi-kursi yang banyak digunakan untuk pacaran.

Namun jika kita mempelajari sejarahnya, Bukit Siguntang merupakan salah satu situs penting di Palembang. Dulunya Bukit Siguntang merupakan salah satu pusat ziarah umat Budha. Tempat ini juga menjadi pusat belajar agama bagi para pendeta Budha. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya arca Budha bergaya Amarawati yang saat ini disimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Pada salah satu sisi bukit, terdapat beberapa makam yang dikeramatkan. Salah satunya adalah makam Sigentar Alam yang merupakan raja Kerajaan Sriwijaya.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS)


Museum Sriwijaya di TPKS
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya terletak di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, yakni sekitar 5 kilometer dari pusat kota. Taman ini sering juga disebut Situs Karanganyar. Yang menarik dari taman ini adalah keberadaan kanal-kanal yang konon sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Daratan yang dikelilingi kanal-kanal inilah yang menjadi situs bersejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan berupa sisa-sisa bangunan bata, keramik, sisa perahu dan temuan-temuan lainnya.

Untuk memasuki TPKS, kita akan dikenai tiket masuk sebesar 2.000IDR dan ditambah 2.000IDR lagi jika kita memasuki museum yang terdapat di dalamnya. Selain replika prasasti, koleksi museum ini sebagian besar adalah barang-barang rumah tangga seperti guci, kendi, manik-manik dan sejenisnya yang berasal dari abad 5-13. Koleksi yang paling menarik di museum ini adalah rudder/kemudi kapal dari zaman Sriwijaya.


Guci Cina
Ship Rudder

Sebenarnya masih banyak tempat-tempat bersejarah di Palembang yang belum sempat saya eksplore. Palembang memang surganya tempat-tempat bersejarah mengingat kota ini telah menjadi pusat peradaban sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang Darussalam hingga era penjajahan Belanda. Dan sekarang, kota ini sedang berbenah karena akan menjadi tuan rumah Sea Games 2011.

The end

#TamasyaTelusuRI #IndonesiaOnly

ARTIKEL TERKAIT:

2 comments:

  1. kamu rajin sekali ya nulisnya, 3 minggu ini gak nulis blas. gak pernah di rumah juga hehehe

    ReplyDelete
  2. mumpung ada wktu n mood nulis lg tinggi mas.. ;)

    ReplyDelete