Saturday, June 4, 2011

Palembang Heritage Trail - Part 1

Setiap kali saya bertanya kepada rekan-rekan yang asli Palembang mengenai tempat-tempat menarik di kotanya, sering kali dijawab tidak ada. Kalau pun ada, paling hanya Jembatan Ampera yang terkenal itu. Selain Jembatan Ampera, biasanya saya hanya dianjurkan untuk mencicipi kuliner di Palembang. Ya, Palembang memang terkenal sebagai surganya wisata kuliner. Pempek Palembang dan Mie Celor hanya sebagian kecil dari wisata kuliner itu sendiri.

Hmm... Pernyataan tersebut memang benar. Kota Palembang memang tidak memiliki banyak tempat yang menarik bagi turis. Tempat-tempat yang ada pada brosur pariwisata kebanyakan memang berada di luar Kota Palembang. Contohnya Gunung Dempo, Bukit Tunjuk, Air terjun Lematang, Danau Ranau, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, yang sedikit itu bukan berarti tidak menarik kan? Tempat menarik di Palembang sebagian besar berada tidak jauh dari Jembatan Ampera dan memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Kita bisa mendatangi tempat-tempat tersebut dengan berjalan kaki. Sementara sebagian kecil lainnya terletak agak jauh dari Jembatan Ampera.


Jembatan Ampera
Ampera Bridge

Rencana untuk membangun jembatan ini sebenarnya sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tapi hingga saat kemerdekaan, rencana itu tidak pernah terealisasi. Baru pada tahun 1956, DPRD Peralihan Kota Palembang mengusulkan pembangunan jembatan pada sidang pleno. Saat itu, mereka memberikan nama Jembatan Musi karena jembatan akan dibangun menyeberangi Sungai Musi yang sudah menjadi jalur perdagangan internasional sejak zaman Kerajaan Sriwijaya.

Setahun kemudian, dibentuk panitia pembangunan jembatan. Panitia ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno untuk mendukung rencana pembangunan jembatan. Bung Karno pun menyetujui rencana pembangunan tersebut. Pembangunan jembatan pun dimulai pada tahun 1962 dengan menggunakan tenaga ahli dari Jepang.

Pada tahun 1965, jembatan diresmikan dengan nama Jembatan Bung Karno. Namun setahun kemudian diganti menjadi Jembatan Ampera. Ampera adalah kependekan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Jembatan Ampera memiliki panjang keseluruhan 1.117 meter, lebar 22 meter dan tinggi 11,5 meter dari pemukaan sungai. Sementara tinggi menaranya 63 meter dari permukaan tanah. Pada awal berdirinya, Jembatan Ampera menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
Jembatan Ampera tampak depan

Semula bagian tengah jembatan dapat diangkat sehingga kapal-kapal besar dapat lewat di bawahnya. Akan tetapi seiring dengan semakin padatnya arus lalu lintas yang melewati jembatan, sejak tahun 1970 jembatan tidak pernah diangkat lagi. Sejak saat itu, kapal-kapal yang melewati kolong jembatan dibatasi tingginya maksimal 9 meter saja.

Saat ini Jembatan Ampera menjadi ikon Kota Palembang. Jika sedang berkunjung ke Kota Palembang, semua orang pasti menyempatkan diri mampir untuk melihat ataupun melintasi jembatan ini. Jika berkunjung pada malam hari, jembatan akan terlihat semakin indah dengan adanya lampu-lampu yang meneranginya.
Ampera Bridge at Night

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Museum ini berdiri di atas lahan bekas Benteng Kuto Lamo, menghadap Sungai Musi. Sementara Benteng Kuto Lamo sendiri sudah habis dibakar Belanda. Bangunan museum ini dulunya adalah tempat tinggal Residen Belanda. Pada saat penjajahan Jepang, bangunan ini dijadikan markas tentara Jepang. Kemudian pernah dijadikan Teritorium II Kodam Sriwijaya sebelum akhirnya dijadikan bangunan museum.

Begitu memasuki halaman museum, di sisi sebelah kiri, kita akan menemukan sebuah arca Budha yang sudah tidak lengkap lagi. Arca ini merupakan masterpiece Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Ditemukan pada tahun 1920-an di Bukit Siguntang. Pada awalnya, yang ditemukan adalah bagian kepala yang kemudian dibawa ke Museum Nasional, Jakarta. Namun beberapa bulan kemudian, bagian badannya ditemukan sehingga bagian kepala disatukan kembali dengan badannya.


Cara pembuatan arca ini dengan menggunakan seni Amarawati yang berkembang di India selatan pada Abad 2-5 Masehi. Akan tetapi, arca ini diperkirakan dibuat pada abad 7-8 Masehi. Arca ini terbuat dari batu granit yang banyak terdapat di Pulau Bangka. Oleh karena itu, arca ini diperkirakan dibuat sendiri oleh masyarakat setempat, bukan diimpor dari India.


Arca Budha

Setelah melihat Arca Budha, kita harus menaiki tangga untuk memasuki museum. Tiketnya sebesar 2.000IDR. Di dalam museum, kita akan melihat sejarah pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, mulai dari silsilah Sultan, senjata, replika kapal, Al Qur’an, replika rumah limas, pakaian adat, hingga pelaminan.

Di bagian luar, dekat dengan tempat penjualan tiket, kita akan melihat replika prasasti seperti Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuwo, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti-prasasti aslinya terdapat di Museum Gajah, Jakarta. Berada satu deret dengan replika prasasti, terdapat Arca Awalokiteswara. Arca ini asli, bukan replika dan menjadi salah satu barang paling antik di museum ini.
Arca Awalokiteswara
Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak

Benteng ini dibangun pada tahun 1780 dan berfungsi sebagai pusat Kesultanan Palembang pada masa itu. Lokasinya berada di samping Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, juga menghadap Sungai Musi. Yang patut dibanggakan adalah benteng ini merupakan satu-satunya benteng di Indonesia yang dibuat oleh rakyat Indonesia tanpa campur tangan penjajah. Saat ini Benteng Kuto Besak difungsikan sebagai kantor kesehatan Kodam Sriwijaya dan rumah sakit.


Gerbang Utama Benteng Kuto Besak

Monumen Ampera (Monpera)
Monumen Ampera

Monpera terletak di belakang Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Dan di samping Masjid Agung Palembang. Tujuan didirikannya monumen ini adalah untuk mengenang perjuangan rakyat Palembang dalam pertempuran 5 hari 5 malam melawan Belanda pada 1-5 Januari 1947. Monumen ini baru diresmikan pada 23 Februari 1988 atau sekitar 12 tahun sejak peletakan batu pertamanya.

Bangunan Monpera memiliki makna khusus. Tinggi monumen 17 meter, jalur tampak depan 8 dan jumlah jalur serta bidang 45 melambangkan tanggal, bulan dan tahun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. 5 bagian dinding monumen melambangkan 5 daerah perjuangan rakyat yang meliputi Sumatera Bagian Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Kepulauan Bangka Belitung.


Di pelataran monumen terdapat gading gajah besar. Gading ini melambangkan pepatah “Gajah mati meninggalkan gading”. Artinya adalah perjuangan para pahlawan yang telah gugur tetap meninggalkan darma bakti mereka kepada bangsa ini. Sementara bagian dalam monumen ini adalah museum. Untuk memasuki museum, tiketnya sebesar 2.000IDR dan dibayarkan di pintu masuk yang berada di sisi kanan monumen.
Gading di Pelataran Monumen Ampera
Museum Monpera terdiri atas 5 lantai. Koleksinya adalah lukisan, foto dan barang-barang yang digunakan pada saat pertempuran 5 hari 5 malam. Di museum ini juga terdapat patung perunggu tokoh-tokoh penting dalam perang tersebut. Tapi sayangnya, barang-barang peninggalan tokoh-tokoh tersebut sangat minim, bahkan tidak ada. Pihak pengelola museum bahkan menyiapkan lemari kosong yang bertuliskan "...menunggu sumbangan dari para ahli waris".
Koleksi senjata Museum Monpera
Patung dan Lukisan Kol. H. Barlian (salah satu tokoh pejuang)


Dari lantai 5, masih ada tangga hingga ke lantai 7 yang merupakan bagian atap Monpera. Tapi tangga ini terbuat dari besi dan cukup curam. Kecuraman tangga ini memiliki makna bahwa untuk meraih puncak dibutuhkan usaha yang lebih kuat. Di bagian atap Monpera, kita dapat melihat dengan leluasa pemandangan sekitar monumen seperti Jembatan Ampera, Masjid Agung dan Kantor Walikota.


Pemandangan Jembatan Ampera dari atas Monpera


Masjid Agung Palembang
Masjid Agung Palembang

Masjid ini berdiri megah di bagian ujung Jembatan Ampera. Berada di pertemuan Jalan Merdeka dan Jalan Jenderal Sudirman, masjid ini tampak seperti masjid agung di kota-kota lain. Tapi siapa yang menyangka kalau masjid ini dibangun pada abad 18?

Masjid Agung Palembang mulai dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Proses pembangunan masjid ini memakan waktu 10 tahun. Pada awalnya, luas bangunan masjid hanya dapat menampung 1200 jamaah. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jamaah, masjid ini terus mengalami perluasan sehingga saat ini dapat menampung 15 ribu jamaah(termasuk pelataran masjid).
Interior masjid

Menara masjid yang terletak di sebelah barat bangunan masjid juga memiliki riwayat tersendiri. Menara ini dibangun pada tahun 1758-1774, yakni pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin. Bangunan menara ini berlantai tiga dan pada setiap lantainya terdapat pagar yang mengelilinginya. Keunikan menara masjid ini terletak pada bagian atapnya yang bergaya China, serupa dengan bagian atap masjid.
Bangunan masjid asli beserta menaranya

Pada tahun 1970, dibangun menara kedua yang jauh lebih tinggi dan berfungsi sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan hingga saat ini. Sementara bangunan menara yang lama tetap dipertahankan hingga saat ini karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah masjid. Satu hal lagi, jangan lupakan kotak amal yang berada di sisi kiri dan kanan masjid. Kotak amal ini dibuat pada tahun 1914.
Kotal Amal buatan tahun 1914


Kantor Walikota Palembang
Kantor Ledeng


Gedung Kantor Walikota Palembang terletak di Jalan Merdeka, sekitar 300 meter dari Masjid Agung. Pada awalnya, bangunan yang didirikan pada tahun 1929 ini berfungsi sebagai menara air yang mengalirkan air ke seluruh kota. Oleh karena itu, bangunan ini juga sering disebut kantor ledeng. Satu hal lagi, di bagian atap bangunan ini terdapat lampu sorot yang dinyalakan pada malam hari.


To be continued...

#TamasyaTelusuRI #IndonesiaOnly

ARTIKEL TERKAIT:

13 comments:

  1. different style in writing yah...lebih resmi...

    enak lg nii klo dliatin foto2 mkanan khas palembang.ada kue 8 jm katanya enak n mahal tu mas..

    ngomong2 jmbtn musi agak mirip golden gate san fransisco ya mas?he

    ReplyDelete
  2. Niiii...... Sejak kpn saya dipanggil mas? Hehe... ok thanx atas masukannya. Saya akan memaksimalkan seminggu ini utk explore Palembang.

    Jembatan Ampera emang suka disebut2 sbg golden gate-nya Palembang. ;)

    ReplyDelete
  3. lho,,km lg di palembang ndra?
    kok ndak bilang2.. :D

    ada acara apo disini?

    ReplyDelete
  4. hehe... kan kmarin dulu aq udh bilang lagi di BDK Palembang. ;)

    Tp mnggu depan udh balik.

    ReplyDelete
  5. butuh informasi penginapan murah disana gan....ditunggu yak...

    ReplyDelete
  6. Banyak kok penginapan seharga 200ribuan. Saya nggak ingat nama-namanya. Tapi cukup banyak kok. Tinggal menyusuri jalan-jalan protokol di Palembang aja.

    ReplyDelete
  7. assalamu'alaikum, Mas!

    mohon izin copy foto2 yang ada di artikel ini untuk data penulisan saya?

    ReplyDelete
  8. terima kash banyak Mas Indra Prasetya

    ReplyDelete
  9. Benar2 mencerahkan..saya aja yg warga palembang blm pernah naek ke atas monpera :) kalo ksini lg kita harus ke belitung mas..nanti saya temani,dah ada pswt langsung ke belitung skrg.. :D

    @avaghtar

    ReplyDelete
  10. Hehehe... Terima kasih. Padahal Monpera letaknya strategis banget. Ia nih... Saya kepengen banget ke Belitung. Tapi kemarin belum ada waktu. Jadi harus berpuas diri dengan mengunjungi Bangka.

    ReplyDelete
  11. terima kasih mas indra, byk info saya perolehi utk saya rancang journey saya ke sumatera. tq,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lupa untuk diriset ulang yaa... Karena ini artikel lama. Takutnya Palembang sudah banyak berubah :)

      Delete