Saturday, July 9, 2011

Berburu Pantai di Pulau Bangka - Part 2

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami pun memasuki Kota Sungailiat. Tujuan utama kami tentu saja Pantai Parai yang merupakan pantai andalan Pulau Bangka. Setelah menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dari pusat kota(nggak tau berapa kilo, pokoknya udah jauh banget), kami tak juga menemukan pantai. Jalanan yang dilalui mulai sepi dan berbukit-bukit. Kami pun bertanya  arah menuju Pantai Parai kepada penduduk yang kami temui di pinggir jalan. Dan ternyata,,, kami tersesat cukup jauh. Rupanya belokan menuju Pantai Parai tidak jauh dari pusat Kota Sungailiat. Kami pun berbalik arah menuju pusat kota.

Sesampainya di pusat kota, kami kembali berbalik arah, menyusuri lagi petunjuk arah menuju Pantai Parai. Ternyata, papan petunjuk arah untuk menuju pantai ini berada di sebelah kanan. Tapi entah kenapa, tadi tidak ada seorang pun dari kami yang melihatnya. Mungkin karena konsentrasi kami hanya tertuju pada papan petunjuk arah di sebelah kiri jalan. Akhirnya kami pun belok kanan dan menuju ke jalan yang benar, bukan jalan yang menyesatkan ;)

Ketika sampai di gerbang Parai Beach Resort yang terletak di ujung jalan, kami tidak langsung masuk. Kami belok kiri dulu menuju Pantai Matras. Sengaja kami ke Pantai Matras dulu agar bisa lebih lama di Pantai Parai. Letak Pantai Matras tidak jauh dari Pantai Parai. Di pintu masuk, kami membayar 5.000IDR kepada warga setempat.


Pantai Matras memiliki hamparan pasir putih yang cukup luas dan ombaknya relatif tenang. Jika kamu menghadap ke arah pantai, di sisi kanan terdapat bebatuan yang menjorok hingga ke bibir pantai. Ya, pantai ini memiliki bebatuan yang menjadi ciri khas banyak pantai di Kepulauan Bangka Belitung. Kami berjalan menyusuri Pantai Matras ke arah bebatuan itu. Sesampainya kami di sana, ternyata puncak bebatuan itu cukup tinggi. Kami pun mencoba menaikinya.

Pantai Matras


Bebatuan di salah satu sisi Pantai Matras

Tips : Kalau kamu juga ingin menaiki batu-batuan ini, saran saya cuma satu, Hati-hati!!! Beberapa bagian batu cukup curam dan licin untuk dinaiki. Sekali kamu kehilangan konsentrasi dan terpeleset, ya minimal kamu bakalan nyium batu yang ada di bawah. Hehe... ;)

Kami tidak naik hingga ke puncak tertinggi. Batuan yang kami naiki mungkin hanya sekitar 6 meter tingginya. Tapi dari tempat itu kami sudah bisa melihat hamparan laut lepas. Indah sekali. Apalagi sambil ditemani semilir angin. Rasanya jadi ingin berlama-lama ada di sana. Tapi kami tidak bisa berlama-lama di tempat itu karena kami harus segera ke Pantai Parai. Masak udah ke Bangka tapi nggak mampir ke Pantai Parai? Apa kata dunia??!!!

Ini batunya kalo dilihat dari deket
Memandang ke Arah Laut Lepas

Akhirnya dengan berat hati kami meninggalkan Pantai Matras, menuju Pantai Parai.

Tips : Naik batu hati-hati, turunnya musti lebih hati-hati.

Pantai Parai katanya merupakan pantai terindah di Pulau Bangka. Oleh karena itu, di pantai ini berdiri sebuah resort kelas atas. Resort itu pula yang mengelola pantai. Kami yang tidak menginap di resort itu dikenai tarif 25.000IDR untuk memasuki area pantai. Kami sempat menggerutu, “Mau menikmati keindahan negeri sendiri kok disuruh bayar mahal?”. Tapi,,,

Ternyata keindahan pantai ini membuat kami lupa akan mahalnya tiket masuk. Pantai ini berada di sebuah teluk kecil sehingga arusnya sangat tenang. Kebersihannya sangat terjaga. Tampaknya pihak resort benar-benar mengelola pantai ini dengan baik. Jika dikelola oleh pemerintah setempat, belum tentu bisa sebagus ini. Bukan karena mereka malas, tapi karena jumlah anggaran yang dialokasikan khusus untuk pariwisata sangat memprihatinkan.

Parai Beach

Ini pendapat saya pribadi loh... Menurut saya, pariwisata Indonesia bisa menjadi sumber devisa utama kalau dikelola secara baik dan profesional, seperti yang dilakukan oleh para pengelola resort itu. Caranya? Tentu saja dengan mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk sektor pariwisata. Anggaran ini kan bisa digunakan untuk memperbaiki infrastruktur tempat wisata, membangun fasilitas penunjang, menjaga kebersihan dan tentunya untuk promosi pariwisata.

Ok, mari kita kembali ke Pantai Parai. Di satu sisi pantai juga terdapat bebatuan. Tidak tinggi seperti di Pantai Matras, tapi jumlahnya lebih banyak. Ada satu batu yang bentuknya unik, yakni seperti jari tekunjuk manusia.

Seperti tangan orang sedang menunjuk

Begitu tiba di pinggir pantai, kami tak kuasa menahan keinginan untuk berenang. Kami pun segera berganti kostum dan,,, BYURR!!!! Kami sudah berada di kolam renang maha luas. Hehe... ;)

Setelah puas berenang, kami menuju “The Rock Island Grill&Bar” yang terdapat di semacam pulau tersendiri. Ya sebenarnya bukan pulau tersendiri juga. Mungkin mirip dengan Pura Tanah Lot Bali yang kalau air laut pasang akan terpisah oleh lautan. Untuk menuju ke cafe ini, kami harus melewati jembatan menyeberangi hamparan bebatuan, bukan lautan. Mau tahu apa yang kami lakukan di sana? Ya tentu saja untuk numpang ganti baju di toiletnya. Hehe...

Cafe yang kami tuju ada di ujung jembatan itu

Saat itu hari sudah mulai gelap. Kami pun mengakhiri ekspedisi pantai kami di Pulau Bangka. Dalam sehari dapat 3 pantai berbeda. Lumayan lah... Sesampainya di Pangkal Pinang, kami mampir makan malam di Warung Mie Koba, mie khas Bangka.

So romantic!

Esoknya, kami check out pukul setengah 6 pagi dan langsung menuju terminal bus dengan menggunakan taksi. Eh, bukan taksi. Tapi pemilik mobil yang menyewakan mobilnya. Ongkosnya sangat mahal, yakni 50.000IDR untuk perjalanan kurang dari 15 menit. Tapi apa boleh buat? Tidak ada alternatif transportasi lain. O iya, sebenarnya kami sudah janji dengan sopir bus yang mengantarkan kami dari Pelabuhan Mentok kemarin, untuk menjemput kami di penginapan. Tapi malam hari sebelumnya, kami tidak bisa menghubungi sopir tersebut. Nomor yang dia berikan tidak aktif. Akhirnya, dengan terpaksa kami naik taksi jadi-jadian yang super mahal itu.

Kami tidak diturunkan di terminal, tapi di pinggir jalan raya. Kebetulan ada agen yang menjual tiket bus ke Pelabuhan Mentok. Kami naik bus dengan keberangkatan pukul 6 pagi. Di sepanjang perjalanan, tak ada yang bisa kami lakukan selain tidur. Ngantuk euy... Pukul 9 kami sudah tiba di Pelabuhan Mentok. Berhubung kami sudah membeli tiket pulang pergi dari Palembang, kami hanya perlu melapor ke loket dan membeli pas pelabuhan sebesar 6.000IDR per orang.

Menurut jadwal, jetfoil kami berangkat pukul 10.30. Tapi pagi itu terlambat karena lamanya proses boarding. Penumpangnya membludak. Sambil menunggu giliran naik, kami melihat-lihat pemandangan di sekitar pelabuhan. Ternyata pantainya cukup indah. Dan di sisi yang lain terdapat mercusuar yang sepertinya sudah cukup tua.

Pantai di Pelabuhan Mentok
Mercusuar di Pelabuhan Mentok

Akhirnya, kami pun naik kapal dan harus mengakhiri liburan kami di Pulau Bangka.

The end

ARTIKEL TERKAIT:

4 comments:

  1. aku pernah nginep di parai beach resort duluuuu banget, hampir 3 taun yg lalu deh kyknya. Tapi buat kerja, ga sempet kemana2, ga sempet main2 di pantai, ga sempet foto2 huhuhuu.... menyedihkan bgt ya -_-"

    ReplyDelete
  2. Wah, kebalikan donk? aku udah ke pantainya, tapi belum ngerasain nginep di resornya. Hehe... ;)

    Emang paling nikmat kalo nginep di resor dalam rangka liburan. Jadi bisa main-main di pantai juga.

    ReplyDelete
  3. parai beach resort asik banget deh... :) indah dan nyaman... pantainya juga bagussss...

    ReplyDelete
  4. yupz... moga2 someday kalo ke sana lagi bisa nginep di parai beach resort. ;)

    ReplyDelete