Thursday, November 10, 2011

First Time Flying with Singapore Airlines

Tak terasa sudah hampir 3 bulan saya tidak menyentuh blog ini. Saya jadi bingung mau nulis apa. Bukan karena tidak ada bahan, tapi karena banyak sekali yang ingin saya tulis. Berhubung saya adalah pecinta pesawat terbang, kali ini saya akan berbagi pengalaman pertama saya terbang long haul.

Bulan lalu saya berkesempatan pergi ke Amsterdam. Perjalanan ini sungguh luar biasa berkesan. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Salah satu di antaranya adalah terbang long haul atau terbang jarak jauh. Penerbangan Singapore-Amsterdam memakan waktu sekitar 12 jam non stop. Tentunya pesawat yang digunakan adalah pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747, Boeing 777, Airbus 330, Airbus 380, MD-11 dan lain sebagainya.

Malam itu saya akan terbang dengan maskapai Singapore Airlines (SQ), salah satu maskapai premium bintang 5. Sungguh, saya tidak bisa mendeskripsikan betapa excited-nya saya malam itu. Udah terbang jarak jauh untuk pertama kalinya, pake SQ pula. Penerbangan Singapore Airlines dari Changi Airport dilayani di Terminal 2 dan 3. Kebetulan flight saya, SQ 324 tujuan Amsterdam, akan diterbangkan dari Terminal 3, terminal termewah di Changi.

My Boarding Pass


Setelah urusan check in selesai, saya segera menuju ruang tunggu keberangkatan A20. Tapi ternyata masih tutup. Ya memang saat itu masih pukul 9 malam dan jadwal keberangkatan pesawat saya masih 3 jam lagi. Akhirnya saya naik ke lantai atas mencari tempat makan. Kebetulan saya memang belum sempat makan malam. Pilihan saya jatuh ke Burger King. Tahu sendiri kan alasannya? Di antara restoran lainnya, Burger King tampaknya yang paling bersahabat dengan kantong. Setelah menghabiskan burger, french fries dan pepsi ukuran jumbo, saya bergegas kembali ke ruang tunggu keberangkatan.
SQ 324 Heading to Amsterdam

Pukul 11 malam para penumpang tujuan Amsterdam diminta boarding. Saya yang sudah tak sabar ingin naik pesawat, masih harus bersabar lagi. Pertama-tama yang dipanggil boarding adalah penumpang kelas bisnis dan pemegang kartu Kris Flyer Gold ke atas. Kemudian penumpang kelas ekonomi yang duduk di bagian belakang. Dan terakhir barulah penumpang kelas ekonomi yang duduk di bagian tengah ke depan. Apesnya, saya dapat giliran yang terakhir karena tempat duduk saya ada di bagian tengah.

Akhirnya, saya pun dipanggil boarding. Setelah menyerahkan boarding pass, saya segera melangkahkan kaki menuju garbarata. Maksud hati ingin segera naik pesawat, tapi apa daya antrean di depan saya masih panjang. Musti sabar lagi nih...

Begitu memasuki pintu pesawat, saya langsung disambut senyuman oleh pramugari Singapore Airlines yang body-nya tipis banget kayak papan setrikaan. Sepertinya ini syarat mutlak jadi pramugari SQ ya? Kesan pertama yang saya dapat, mereka melayani dengan hati. Sebuah pelayanan khas dari flight attendant maskapai-maskapai di Asia.

Pesawat yang saya tumpangi adalah Boeing 777-200ER. Pesawat ini hanya memiliki sepasang engine, tapi mampu terbang jauh non stop. Inilah keunggulan pesawat tipe ini. Dengan sepasang engine, tentunya lebih irit bahan bakar dibandingkan Boeing 747 yang memiliki 4 engine. Singapore Airlines sendiri, saat ini mengoperasikan banyak Boeing 777 berbagai tipe sebagai tulang punggung armadanya bersama Airbus A380 dan Airbus A330.

Konfigurasi tempat duduk kelas ekonomi Singapore Airlines dengan pesawat tipe ini adalah 3-3-3. Kursinya agak tipis tapi jarak antar tempat duduknya lumayan longgar. Bahkan ada sandaran kaki yang terletak di kursi bagian depan. Di masing-masing kursi juga terdapat personal TV meskipun ukurannya mini.


Economy Class Singapore Airlines Boeing 777-200


Economy Class Singapore Airlines Boeing 777-200


TV-nya kecil amat ya?

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pesawat saya mulai taxi menuju runway dan take off.

Setelah take off, pramugari mulai membagikan minuman. Pilot juga memberikan informasi mengenai kecepatan, suhu, waktu tempuh, dan juga rute. Rutenya adalah Singapore-Malaysia-Thailand-Laut Andaman-India-Pakistan-Ukraina-Polandia-Germany-Netherlands.

Selama 12 jam terbang, saya diberi makan dua kali. Tapi sayangnya, pilihan makanannya terbatas. Dua kali makan dan saya cuma makan mie karena pilihan makanan yang satunya tidak halal. Ya mungkin ini satu-satunya hal yang membuat saya sedikit tidak nyaman terbang dengan maskapai ini. Selebihnya saya sangat puas. Oia, sebenarnya kita bisa request makanan halal lhoo... Pada saat kita memesan tiket, ada pilihan makanannya kok. 

Setelah acara makan selesai, lampu kabin segera dimatikan.


Mie lagi mie lagi...

Selama penerbangan, tidak banyak yang bisa saya lakukan selain tidur, nonton film, tidur, ke toilet, tidur lagi. Bagaimanapun juga, tidur dalam posisi duduk itu memang tidak nyaman. Kapan ya tempat duduk kelas ekonomi bisa direbahkan 180 derajat? Saya jadi iri dengan para pilot dan cabin crew. Untuk penerbangan jarak jauh, mereka selalu terdiri dari 2 shift. Dan mereka memiliki tempat istirahat yang tidak kalah nyaman dengan penumpang kelas utama. Tempat istirahat para awak kabin ini biasanya terletak di lantai bagasi. Tapi ada juga yang terletak di atas kabin penumpang kelas ekonomi.

Malam itu terasa sangat panjang. Tentu saja karena saya terbang dari timur ke barat. Ketika subuh tiba, posisi pesawat ada di atas Ukraina. Dan saat matahari terbit, posisi pesawat sudah di Polandia. Saya beruntung dapat tempat duduk di sebelah kanan karena saya jadi bisa lihat proses matahari terbit. Indah sekali. Sayangnya, saya gagal memperoleh gambar yang bagus.

Sunrise

Pukul 6 pagi waktu setempat, pesawat mulai menurunkan ketinggian. Perlahan-lahan mulai tampak pemandangan di bawah. Saat itulah pertama kalinya saya melihat Eropa. Pagi itu di Belanda masih gelap.

Pukul setengah 7, pesawat saya mendarat dengan mulus di Schipol Airport, Amsterdam. Dan sebuah petualangan besar ada di depan mata.
MH and CX at Schipol Apron


SQ at Schipol Apron

ARTIKEL TERKAIT:

18 comments:

  1. ditunggu mas perjalanan eropanya !!
    salam kenal...

    ReplyDelete
  2. :( tambah 3 juta bisa umroh yah..Eropa..eropa..mesti puasa traveling 3 tahun nih untuk bisa kesana..mana tahan..jadi all berapa ndra? sesuai proposal nggak?

    ReplyDelete
  3. Wah, belum ngitung. Tapi di sana cuma ngabisin skitar 400EUR bwt makan, hostel en tiket kereta antar kota. Totalnya 18 hari dan pengeluaran terbesar ada di hostel. Disusul tiket kereta.

    ReplyDelete
  4. Oia, itu udh trmasuk beli souvenir. Real-nya cuma skitar 300-an. Detailnya belum ngitung.

    ReplyDelete
  5. wkt ke shanghai aku juga naik SQ, pesawatnya besaaaaarrrr banget yah. trus aku rada norak gitu maenin tipi nya yg touch screen. Wkt itu pesawat GIA blm punya. kmrn pas naik GIA tnyt udah ada tuh tipi, noraknya kambuh lagi deh... aku mainin sampe nge-hang hehehee...

    Ga sabar pengen baca cerita nya pas di amsterdam... pasti seru yaaah... pengen...

    ReplyDelete
  6. Haha... Ternyata setiap orang memiliki pengalaman katroknya sendiri2 ya? :p

    ReplyDelete
  7. Jadi kepengen ke China nieh... Baru pernah ke border di Shenzen. Belum sempet masuk, udah dipulangin ke Hongkong. Hehe... :)

    ReplyDelete
  8. Keren dra..

    Ntar aja ah,tahun depan ke sana pas cewekku udah di Paris :)

    Eh,iya,cara ngurus visa schengennya gimana ndra?

    ReplyDelete
  9. Dia ambil master di sana? Ngurus visa gampang Ru... Selama dokumen lengkap, kayaknya bakal lancar2 aja meskipun kata beberapa temen, Kedutaan Prancis agak susah. Ya yang penting dokumen jangan sampe ada yang kurang aja.

    Btw, sebelum ngurus Visa Schengen, ada baiknya pergi ke negara tetangga dulu Ru..

    ReplyDelete
  10. S2-nya double degree ndra,tahun keduanya di paris..
    dokumen apa aja ndra? kalo misal ngajuin ke negara UE yang lain dulu semisal Itali sebelum ke Prancis nanti dari sana aja gimana?

    Kalo negara tetangga udah ndra, tengah tahun aku ke Genting

    ReplyDelete
  11. Wah,, mantap. Bikin ngeper aja. Hehe...

    Sebenernya mau masuk dari mana pun nggak masalah Ru.

    ReplyDelete
  12. kalau mau naik kelas bisnis/first class?

    stick to one or two airlines, apply to their frequent flyer miles rewards and after two trips most likely they will be able to upgrade you to business class (kasus saya stick dengan Emirates, setelah beberapa penerbangan PP Jakarta-Dubai-London-Dubai-Jakarta, saya cukup nambah $300 sudah bisa upgrade business class tiket untuk penerbangan Jakarta-Dubai-Jakarta berikutnya). bandingkan jika saya kepingin tiket PP business class by Emirates, itu udah $5000/person PP padahal Economy cuma $1000an tapi karena member Skywards saya bisa dapet 2 tiket business class cuma nambah $300/trip).

    Itu trik2 kalau mau ngerasain business class, minimal sekali lah. kecuali kalo ybs memang kelebihan duit, first class nya SQ pun jadi gak berarti kayanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, saya dapat pengetahuan baru yang bermanfaat. Terima kasih Mas :D

      Delete