Saturday, December 3, 2011

Pengalaman Terbang dengan Malaysia Airlines


Ada yang nungguin cerita perjalanan saya selama di Eropa? Sabar dulu yah... Skip dulu ke perjalanan pulangnya. Hehe... Tapi saya kasih bocoran deh... Kemarin saya mengunjungi 4 negara. Salah satunya Belanda. Lainnya? Ntar dulu yaa...

Meskipun saya ditawari naik SQ lagi untuk perjalanan pulang ke Singapore, saya memilih untuk tetap naik Malaysia Airlines (MH). Alasannya sederhana. Saya pengen nyobain maskapai lain dan pesawat tipe lain. Kebetulan MH menggunakan pesawat Boeing 747-400 untuk penerbangan dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Boeing 747-400, pesawat legendaris yang pernah menjadi raja di udara ini adalah pesawat penumpang terbesar di zamannya. Meskipun usianya sudah cukup tua, pesawat double deck ini masih dijadikan andalan oleh banyak maskapai untuk terbang jarak jauh. Salah satu di antaranya adalah Malaysia Airlines.

Boeing 747-400 Malaysia Airlines at Schipol Apron


MH 17 AMS-KUL ini menurut jadwal akan diterbangkan pukul 12 siang waktu Amsterdam. Sekitar pukul 10, saya pun sudah berada di dalam antrean check in yang ternyata panjang sekali. Saking panjangnya, antrean penumpang ini bahkan sampai mendekati pintu masuk bandara. Saat itu hanya ada 3 meja yang dibuka. Satu meja khusus untuk penumpang Business Class ke atas. Satu meja untuk penumpang yang sudah melakukan check in online. Dan satu meja untuk penumpang Economy Class. Padahal penumpang Kelas Ekonomi yang belum check in ini jumlahnya lebih dari 300 orang. Kebayang kan betapa panjangnya antrean saat itu?

Schipol Airport

Lagi asyik ngantre, tiba-tiba saya didatengin petugas bandara. Duh, jangan-jangan ada masalah lagi? Tapi dia cuma nanya, “Are you traveling alone? Please follow me!”. Ternyata saya dibolehin check in duluan, ngeduluin penumpang-penumpang lain yang antre di depan saya. Memang sih, mereka rata-rata pergi bersama keluarga. Jadi wajar aja kalo saya yang jalan sendiri ini diduluin. Mungkin petugasnya kesian ngeliat saya yang bengong dari tadi. Jadi dibolehin check in duluan di kounter check in kelas bisnis. Sayangnya kok boarding pass yang tercetak tetep kelas ekonomi ya? :p

Schipol Airport Departure Hall 


Setelah urusan check in kelar (Tahu nggak kalo kelar itu serapan dari bahasa Belanda?), saya langsung ngantre imigrasi. Seperti biasa, si petugas selalu menyapa “Hallo” sebelum meminta paspor. Setelah memeriksa paspor saya, tanpa ampun si petugas menghajar paspor saya denga stamp keluar. Sedih rasanya. Dengan ini saya resmi meninggalkan Belanda, resmi meninggalkan Eropa dan resmi mengakhiri liburan.

Kemudian saya mencari petunjuk arah menuju ruang tunggu keberangkatan pesawat saya. Bandara Schipol ini cukup luas. Saya perlu waktu setidaknya 15 menit untuk berjalan menuju ruang tunggu dimaksud. Dan ketika saya tiba, lagi-lagi saya harus antre masuk X-ray. Bukan hanya barang bawaan saja yang dilewatkan mesin X-Ray. Badan saya pun dipindai. Saya tidak diperbolehkan mengantongi apapun. Bahkan dompet dan boarding pass yang saya kantongi pun harus melewati mesin X-Ray. Beberapa penumpang juga ada yang diminta melepas sepatunya. Berhubung saya cuma pakai sandal, saya tidak perlu melepas alas kaki.

Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang ketat, saya pun duduk di ruang tunggu. Tak sampai 5 menit kemudian, penumpang sudah diminta boarding. Kali ini saya bisa boarding duluan karena saya duduk di kabin bagian belakang. Jadi setelah penumpang kelas bisnis dan kelas utama masuk, saya bisa langsung masuk.

Garbarata atau aerobridge Bandara Schipol ini cukup unik. Jika biasanya garbarata itu ditempatkan di pintu L1 dan L2, kali ini ditempatkan di pintu L2 dan L4. Menurut saya ini efektif karena kepadatan penumpang(terutama kelas ekonomi) bisa terbagi rata. Berhubung saya duduk di bagian belakang, saya masuk melalui pintu L4. Pintu L4 ini kan ada di belakang sayap. Jadi garbaratanya naik dulu melewati sayap, kemudian turun hingga pintu L4.

Begitu saya memasuki pintu pesawat, seorang pramugara menyapa saya “Selamat Datang”. Senang rasanya disapa dalam bahasa Melayu. Selama penerbangan, mereka juga mengajak saya bicara Bahasa Melayu. Rasanya seperti sudah pulang ke rumah meskipun secara fisik saya masih di Eropa. Saya mendapat tempat duduk nomor 52A. Kebetulan yang duduk di sebelah saya seorang remaja putri dan ibunya yang akan melanjutkan penerbangan menuju Melbourne.

Pukul 12 tepat, pesawat Malaysia Airlines ini lepas landas, meninggalkan benua Eropa, meninggalkan mimpi saya. See you again, Europe!

See you again, Europe!!!

Kembali ke interior pesawat, pesawat yang saya tumpangi memiliki konfigurasi tempat duduk 3-4-3 untuk kelas ekonomi. Menu makanan di Malaysia Airlines ini yang saya paling suka. Semua makanannya halal. Saya jadi bebas memilih. Pada saat makan yang pertama, saya memilih nasi dengan lauk ikan. Sementara pada saat makan yang kedua, saya memilih nasi lemak. Setelah belasan hari di Eropa jarang makan nasi, menu nasi ini jadi terasa sangat spesial.

Nasi Ikan

Nasi Lemak

Seperti biasa, untuk membunuh waktu selama 10 jam di pesawat, saya nonton film dan mendengarkan musik. Kebetulan layar monitornya agak lebar (kalau dibandingkan pesawat Boeing 777-200ER Singapore Airlines). Jadi lebih puas nontonnya. Tapi kali ini saya susah tidur. Ini karena saya terbang dari barat ke timur. Meskipun di luar sudah gelap, tapi jam biologis saya masih mengikuti waktu Belanda yang masih terang.

Monitornya lumayan lebar
First Class. Kapan ya bisa duduk di sini?

Pesawat MH 17 ini akhirnya mendarat di KLIA pukul setengah 6 pagi. Lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Begitu keluar pesawat, saya langsung menuju surau untuk menunaikan sholat Subuh. Setelah itu saya menuju ruang tunggu keberangkatan penerbangan lanjutan saya ke Singapore.

Sayang sekali, penerbangan MH untuk jarak pendek berbeda jauh dengan penerbangan jarak jauhnya. Pesawatnya Boeing 737-400 classic yang sudah tua. Mereka memang juga memesan Boeing 737-800 untuk menggantikan Boeing 737-400 ini, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Mengenai pelayanan awak kabin sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja para penumpang hanya diberi sekotak kacang dan segelas minum untuk penerbangan selama 50 menit ke Singapore. Pilihan minumnya pun hanya orange, guava dan air putih. Sama sekali tidak cukup untuk sekadar mengganjal perut. Mendingan naik Air Asia ya?

Akhirnya saya pun mendarat di Singapore. Berat rasanya menerima kenyataan bahwa esok hari saya sudah harus kembali bekerja. Kembali menjalani rutinitas. Kembali mengumpulkan uang dan kemudian???

Catatan:

Saat ini armada Boeing 747-400 sudah dipensiunkan oleh Malaysia Airlines dan diganti dengan Boeing 777-200ER maupun Airbus A330-300. Demikian halnya dengan pesawat lorong tunggal Boeing 737-400 classic telah digantikan Boeing 737-800.

ARTIKEL TERKAIT:

29 comments:

  1. waaaah.. ceritanya jadi buat gue pengen ke europe pake MH nih.. sapa tau juga bisa dioper ke SQ.. hhe..

    ditunggu cerita di europenya nih bang..

    ReplyDelete
  2. Kayak naik angkot aja pake dioper2 sgala? Hehe.. Namanya rejeki nggak kemana.

    ReplyDelete
  3. ga sabar nungguin cerita di eropa nyaaaaah...

    ReplyDelete
  4. Hehe... Gw juga nggak sabar pengen nulisnya :)

    ReplyDelete
  5. Salam kenal Zilla... Nak ke NZ juga someday. Nice blog :)

    ReplyDelete
  6. Salam kenal juga Indra.kalau awak ingin ke NZ, saya pula ingin ke Amsterdam hehehe.oh ye, berapa hari awak di amsterdam ye?

    ReplyDelete
  7. KL-Amsterdam dan KL-NZ masa penerbangannya sama-sama 10 jam. Hehe... Saya 2 hari je di Amsterdam. Kemudian saya keliling Eropah. Jom ke Eropah! :)

    ReplyDelete
  8. 10jam?aduhh!!hehee 2 hari saja?habis pusingnya Indra?Eropah maybe 2013,sedang gigih menabung ini hehehe

    ReplyDelete
  9. Salam kenal! :D

    Pertama kali disini, menarik amat blog kamu!

    kayaknya penat amat penerbangan 10jam ya? Saya belum berpeluang lagi ke luar negeri, bisa backpack di sekitar malaysia sahaja.

    ReplyDelete
  10. @Zilla : Semangat!!!

    @Ryyan : Salam kenal. Kenapa tak ada peluang?

    ReplyDelete
  11. wah,, bagus tulisannya, saya juga demen naik pesawat tapi paling jauh ya 1 jam an perjalanan :D, jadi kepingin ke eropa :), someday, nabung dulu deh :D

    ReplyDelete
  12. Thanks Fahmi... Saya juga nabung berbulan2 supaya bisa ke Eropa kok :)

    ReplyDelete
  13. keren blog nya .... perna naik MH dari KL ke jkt pesawat nya dah tua masih mending naik AA hahaha

    ReplyDelete
  14. Hahaha... Ia. Tapi sekarang mereka lagi order Boeing 737-800NG buat ngegantiin pesawat2 tua ini.

    ReplyDelete
  15. keren banget mas bro pengalamannya. aku dulu baru juga pertama ngalamin naik pesawat lion air ke banjarmasin aku sampai norak gara-gara kegirangan awal first traveling. pelajaran berharga yang gak bisa dilupain seumur hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Bro udah berkenan mampir. Hehehe... Ya kalo saya sih ngaku, masih katrok waktu pertama kali naik pesawat gede. Wkwkwk... :)

      Delete
  16. saya baru aja pulang naik malaysia airlines ke amserdam rute dari jakarta :D
    pelayanannya bagus
    makanannya enak
    top lah
    saya beruntung sudah pakai 777-200ER
    pesawatnya enak
    tidak berisik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya juga suka makanannya. Meskipun lagi ada masalah keuangan, mereka tetap melakukan peremajaan armada. Rute jarak dekat pun udah diganti dengan Boeing 737-800NG.

      Delete
  17. kalau mau naik kelas bisnis/first class?

    stick to one or two airlines, apply to their frequent flyer miles rewards and after two trips most likely they will be able to upgrade you to business class (kasus saya stick dengan Emirates, setelah beberapa penerbangan PP Jakarta-Dubai-London-Dubai-Jakarta, saya cukup nambah $300 sudah bisa upgrade business class tiket untuk penerbangan Jakarta-Dubai-Jakarta berikutnya). bandingkan jika saya kepingin tiket PP business class by Emirates, itu udah $5000/person PP padahal Economy cuma $1000an tapi karena member Skywards saya bisa dapet 2 tiket business class cuma nambah $300/trip).

    Itu trik2 kalau mau ngerasain business class, minimal sekali lah. kecuali kalo ybs memang kelebihan duit, first class nya SQ pun jadi gak berarti kayanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan yaa bisa kelebihan duit? Wkwkwk... :p

      Delete
  18. Replies
    1. Sure. Saya paling suka dengan makanannya :D

      Delete
  19. Saya baru 4x naik MH, Jakarta-KL-Bangkok-KL-Jakarta. Makanannya enak2 ya. Gulai ayamnya dikasih kuah pula. Pulang dari Bangkok Oktober 2 tahun lalu dikasih mooncake yang lezat-yang pernah saya makan. Pramugari/anya ramah dan akrab, seperti teman sendiri, lancar bahasa Inggris dan Melayu/Indonesia. Sayangnya waktu itu 737-800 MH Jakarta-KL-Bangkok belum ada audio video nya, so hiburannya cuma majalah dan surat kabar saja. ga tahu sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun lalu saya 4 kali naik Boeing 737-800 SIN-KUL-SIN, semuanya udah ada monitornya :)

      Delete
  20. Indra pesawat MH17 yang seperti ini yang kena musibah ya. Untung kamu sdh menikmati naik MH17. 😊 kasihan yang berada di dlm pswt. Sudah takdir Ilahi. RIP all cabin crews & passangers MH17.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takdir Tuhan nggak ada yang tahu. Ini perjalanan tahun 2011, MH17 Amsterdam-Kuala Lumpur masih pakai pesawat double deck Boeing 747-400. Tahun lalu naik MH16 Kuala Lumpur-Amsterdam sudah berganti jadi Boeing 777-200. Tipe pesawat yang sama dengan pesawat MH 17 yang jatuh. Tapi bukan pesawat yang tak naiki. Waktu itu nomor registrasinya 9M-MRJ. Sementara yang jatuh ini kalau lihat di foto, 9M-MRC.

      Delete
  21. info ke sg pertama kali
    cocok buat backpacker nih
    thanks infonya

    ReplyDelete
  22. Saya kecewa naik Malaysia Air. Koper saya pegangannya patah, koper peyok, pokoknya hancur gk karuan

    ReplyDelete