Tuesday, March 13, 2012

Just a Few Hours in Amsterdam


Balik ke Belanda lagi ah!!! Meskipun secara keseluruhan saya cuma stay selama dua hari, dan acara jalan-jalan cuma beberapa jam saja, Belanda tetap melekat di hati. Wajar aja sih... Belanda kan negara pertama yang saya kunjungi di Eropa. Segala hal yang berbau pertama kali biasanya selalu meninggalkan kesan. Begitu pula Belanda.

Siang itu setelah meletakkan tas dan beristirahat sejenak, kami langsung berangkat menuju Dam Square. Cuaca pada saat itu mendung dengan suhu sekitar 14 derajat Celcius disertai hujan gerimis. Nah, tadinya saya menyepelekan cuaca di Belanda. Dengan pede-nya saya cuma pake sweater tipis. Alhasil, sepanjang perjalanan saya kedinginan. Hehehe...

Untuk menuju Dam Square, kami naik tram nomor 17. Tram di Amsterdam ini tampilannya cukup menawan. Di dalamnya juga ada mesin pemanas. Jadinya saya, untuk sementara waktu, bisa terhindar dari cuaca dingin. Meskipun berbagi jalur dengan mobil, tram ini melaju cukup kencang. Di sepanjang perjalanan, tampaklah pemandangan rumah-rumah khas Belanda yang sempit dan hampir seragam. Rumah-rumah ini menempati blok-blok yang dipisahkan oleh kanal-kanal. Kalo baru pertama kali ke Amsterdam, dijamin bakalan nyasar. Gimana enggak? Rumah dan kanalnya mirip banget satu sama lain gitu.

Tram di Amsterdam

Friday, March 2, 2012

Sentuhan Pertama di Benua Afrika


Pagi itu saya sedang berada di dalam kabin pesawat Ryanair yang akan membawa saya sejenak meninggalkan Benua Eropa menuju Benua Afrika. Afrika? Yupz... Saya mau terbang ke Maroko yang memang terletak di Benua Afrika. Saat itu langit masih terlihat gelap. Tapi kegelapan tak bertahan lama karena matahari lekas menampakkan sinarnya. Wow!!! Sekali lagi saya bisa menyaksikan pemandangan matahari terbit dari atas pesawat. Sayangnya, lagi-lagi saya tidak memperoleh gambar yang bagus. Ya udah deh... Setelah matahari terbit sempurna, saya ngelanjutin tidur lagi.

Nonton Matahari Terbit dari Pesawat

Ketika saya terbangun, ternyata pesawat yang saya tumpangi sudah mendarat di runway Marrakesh Menara Airport. Marrakesh memang kota tujuan pertama saya di Maroko. Setelah pesawat berhenti sempurna, saya sudah tak sabar ingin turun. Tapi saya musti bersabar lagi karena duduk di jendela darurat yang terletak di tengah body pesawat. Kalau pintu depan dan belakang pesawat dibuka, saya bakalan jadi penumpang terakhir yang menuruni pesawat.

Momen yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Saya berjalan perlahan menuju pintu keluar bagian depan, melewati pramugari yang cuek, menuruni tangga, dan dengan mengucap bismillah, saya menjejakkan kaki saya untuk pertama kalinya di Benua Afrika. Waah... Rasanya seneng banget. Saya nggak peduli dibilang katrok atau ndheso. Nggak banyak lhoo orang Indonesia yang udah ke Afrika. Hehehe...