Friday, May 11, 2012

Naik Propeller Aircraft ke Pekanbaru

Dunia penerbangan kita sedang berduka setelah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100. Seperti biasa, berita dipenuhi oleh orang-orang yang sok tahu mengenai penyebab kecelakaan. Daripada kita menduga-duga penyebab kecelakaan, lebih baik kita mendoakan para korban dan menunggu hasil investigasi. Sambil menunggu, saya mau nge-post pengalaman saya naik pesawat baling-baling nih...

Beberapa minggu yang lalu saya dapet tugas dari kantor untuk ke Pekanbaru. Saya seneng banget tuh... Bukan karena saya belum pernah ke Pekanbaru. Tapi karena rute Batam-Pekanbaru hanya dilayani oleh maskapai Lion Air dan Wings Air. Lion Air menggunakan pesawat tipe Boeing 737-400. Pesawat tipe itu mah dulu lumayan sering saya naikin. Yang saya belum pernah itu naik pesawat baling-baling. Jadi dengan semangat 45, saya pilih penerbangan Wings Air.

Eh, ini keluar tema blog nggak sih? Nggak kan ya? Lanjut deh... Seperti yang udah saya bilang, Maskapai Wings Air menggunakan pesawat tipe ATR72-500 untuk rute Batam-Pekanbaru. Pesawat baling-baling tuh... Bodinya kecil banget. Pintunya ngebukanya nggak kesamping, tapi ke bawah. Pintu itu sekaligus merangkap sebagai tangga. 

ATR72-500 Wings Air at PKU

  
Pagi itu saya udah nongkrong (baca : numpang sarapan gratis) di Bintan Lounge, Bandara Hang Nadim Batam. Lagi asyik makan, tiba-tiba udah dipanggil boarding. Saya langsung buru-buru ke ruang tunggu deh... Kalo biasanya proses boarding itu kan lama, jadi kalo ada panggilan boarding saya baru ke ruang tunggu. Itu pun antrean masih panjang. Nah, berhubung pesawatnya kecil, begitu sampe ruang tunggu, semua penumpang udah masuk. Duh, saya nggak enak banget euy... Kirain saya udah yang paling telat masuk pesawat, eh taunya ada yang lebih telat lagi. Jangan ditiru yah...

Memasuki kabin pesawat, langsung terasa sekali perbedaannya. Konfigurasi tempat duduknya Cuma 2-2. Mengenai penomoran, yang dihilangkan itu nomor tempat duduk tengah. Jadi cuma ada tempat duduk nomor A, C untuk sebelah kiri lorong dan D, F untuk sebelah kanan lorong. Saya duduk di kursi favorit saya, yakni di dekat jendela pas di belakang sayap. Nggak lama kemudian, terdengar suara pilot meminta pintu pesawat ditutup. Kali ini nggak pake perintah “slide bars armed and cross checked”. Soalnya pesawat ini nggak punya slide bar, alias perosotan di pintu yang akan mengembang dalam keadaan darurat. Mungkin karena pesawatnya nggak terlalu tinggi. Selanjutnya standar aja, push back, start engine, taxi dan takeoff.

Interior ATR72-500 Wings Air

Nah, waktu di atas, baru terasa perbedaannya dengan pesawat bermesin jet. Ketinggian jelajahnya cuma 16 ribu kaki atau sekitar 5 ribu meter. Sementara ketinggian jelajah maksimumnya 25 ribu kaki. Jadi dari jendela, saya masih bisa ngelihat daratan dengan jelas dan di atas pesawat masih ada awan. Kalo biasanya saya terbang pake pesawat jet kan ketinggiannya sekitar sekitar 30-35 ribu kaki. Alhamdulillah selama penerbangan cuaca cerah sehingga nyaris nggak ada guncangan berarti. Setelah terbang selama 40 menit, pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru (PKU). Ya, sedikit lebih lambat daripada pesawat bermesin jet karena kecepatan maksimal pesawat tipe ini hanya 555 km/h.


Di atas masih ada awan

Suasana terminal Bandara Pekanbaru sempit dan agak sumpek. Tapi tampaknya keadaan ini nggak akan berlangsung lama. Soalnya begitu saya keluar, tampak bangunan terminal baru lengkap dengan tiga buah aerobridge-nya. Bangunan terminal ini akan menggantikan terminal lama.


Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru


Dari bandara, saya naik taksi menuju hotel. Saya ngerasa ditipu nih... Kan saya dateng ke kounter taksi resmi. Di situ tertulis “menggunakan argo meter”. Jadi saya nggak tanya2 lagi deh... Langsung daftar trus dianterin ke salah satu taksi. Pas taksi udah jalan, baru deh saya nyadar, “Loh, argonya mana?”. Ternyata tarifnya dipatok Rp 50 ribu untuk jarak dekat. Sial!!! Di kemudian hari, setelah ngobrol-ngobrol sama kernet bus Trans Pekanbaru, ternyata ada alternatif transportasi yang lebih murah dari bandara. Pertama naik ojek sampe ke jalan raya, itu tarifnya sekitar Rp 2 ribu. Habis itu bisa naik Bus Trans Pekanbaru yang tarifnya Rp 3 ribu.

Ya begitulah perkenalan saya dengan pesawat baling-baling tipe ATR72-500. Juga perkenalan saya dengan Pekanbaru. Dengan sangat menyesal, saya nggak banyak meng-explore kota ini. Soalnya acara kantor lumayan padat. Saya juga nggak sempet ke Bukittinggi, Sumatera Barat karena keterbatasan waktu. Tapi pada beberapa kesempatan, saya nyempetin puter-puter Kota Pekanbaru walau hanya sebentar.

Business Trip with Backpacker Style :')


Kesan saya terhadap Pekanbaru, kota ini sedang membangun. Banyak bangunan kantor ataupun instansi pemerintah yang baru saja direnovasi. Juga banyak bangunan berarsitektur indah, salah satunya bangunan Perpustakaan Daerah. Kemudian, Pekanbaru juga tampak mempercantik diri karena tahun ini Pekan Olahraga Nasional (PON) akan diselenggarakan di sini. Mengenai transportasi, Pekanbaru memiliki jaringan bus Trans Metro Pekanbaru. Bentuk dan sistemnya sama dengan Busway di Jakarta. Saya sempet beberapa kali naik bus ini. Trus di Pekanbaru saya juga ngelihat bajaj. Ternyata nggak cuma di Jakarta aja yah yang ada bajaj? Angkot juga ada. Tapi di sini disebut opelet.

Gedung Perpustakaan Daerah

Mall SKA(Baca : Es Ka A), salah satu mall terbesar di Pekanbaru

Bus Trans Metro Pekanbaru

Bajaj ala Pekanbaru


Nah, di depan Kantor Gubernur, ada patung yang masih kontroversi sampai saat ini. Jadi ada sepasang penari dan penari wanitanya jika dilihat dari belakang dianggap agak gimanaaa gitu... Jadi masyarakat adat setempat tidak setuju dengan pembangunan patung karena tidak sesuai dengan adat-istiadat mereka. Masalahnya, patung itu sudah terlanjur dibangun. Terlepas dari kontroversinya, pemandangan patung jika dilihat dari depan, dengan background Kantor Gubernur, menurut saya tampak anggun.

Kantor Gubernur

ARTIKEL TERKAIT:

12 comments:

  1. abis baca jd pengen jalan ke kota2 di sumatera lageeh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke Bukittinggi yuk Gan!!! Hehehe... Kemarin nggak sempet euy... Sabtu masuk juga soalnya. Jadi liburnya cuma Minggu.

      Delete
  2. pekanbaru memang sangat menyenangkan.. aku sudah beberapa kali kesana dan masih pengen terus kesana... Rencananya pengen nonton pembukaan PON langsung dari stadion utama yg baru itu.. hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. O iya, kemarin sempet ngelewatin stadionnya waktu di perjalanan ke bandara. Tapi nggak sempet ngambil foto.

      Delete
  3. gw pernah naik yang lebih kecil dari itu, dari makassar ke soroako,ngeri abis -_____-"

    ReplyDelete
  4. Gua pernah naik yang lebih kecil dari ini, soroako ke makassar, pake pesawat yang lebih kecil dari itu, hehehehe. Maskapainya apa yah? saya lupa. Pokoknya deg degan bgt pas di pesawat, apalagi makassar ujan deras pas saya akan mendarat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sama kayak Mila donk? Kalian satu kampung yak?

      Delete
  5. Dasar backpacker ya, perjalanan bisnis malah bawa backpack :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Soalnya emang nggak punya tas yang ada rodanya itu :p

      Delete