Friday, June 29, 2012

Romantisme Porto


Langkah saya terhenti di depan sebuah bangunan putih dengan menara pada bagian tengahnya. Saya masih nggak percaya sekaligus khawatir berada di sini. Dua hari yang lalu saya masih di Batam. Kemarin saya udah di Belanda, tapi masih ditemani abang dan tante. Dan siang itu, saya baru saja mendarat di Porto. Mulai hari ini dan dua minggu ke depan, saya harus jalan sendiri. Nggak ada lagi yang nemenin jalan. Bisa nggak ya saya jalan sendiri? Gimana kalo saya kecopetan? Gimana kalo saya kehabisan duit? Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepala. Hmm... Sebenernya saya udah beberapa kali jalan sendiri, atau sering disebut solo backpacking. Tapi itu kan cuman di sekitaran Asia aja. Kali ini saya ada di salah satu negara yang terletak di bagian paling barat benua Eropa. Apa saya bisa?

Porto! Sejujurnya saya masih sedikit asing dengan kota ini. Saya tahu London, Barcelona, Paris, Amsterdam, Rome, hingga Athens. Tapi Porto? Seperti apa rupa kota ini? Hal ini semakin menambah kegalauan saya. Apa kota ini bener-bener layak dikunjungi sampai-sampai banyak situs traveling meletakkan kota ini sebagai kota yang wajib dikunjungi? Syukurlah, saya nggak perlu waktu lama untuk membuktikannya. Ketika saya membalikkan badan membelakangi bangunan putih yang merupakan City Hall tadi, tampaklah sebuah kolam kecil dan pedestrian lebar yang diapit jalan utama bernama Avenida dos Aliados, juga bangunan-bangunan klasik yang berdiri megah di kanan-kirinya, membuat saya melupakan kekhawatiran saya. Rasa galau pun sirna. Saya telah siap menelusuri keindahan kota tua nan eksotis ini.

City Hall

Friday, June 22, 2012

New Boeing 737 Sky Interior

Ada pengalaman yang sedikit berbeda ketika saya naik pesawat Garuda Indonesia dan Lion Air beberapa waktu yang lalu. Pesawatnya masih tipe yang sama, yakni Boeing 737-800NG untuk Garuda Indonesia dan Boeing 737-900ER untuk Lion Air. Yang membedakan itu interiornya. Keren abiisss... Sayangnya, interior model baru ini ada di pesawat-pesawat yang baru dikirim. Jadi jumlahya masih terbatas. Sementara di pesawat lamanya ya masih gitu-gitu aja.

Kayak apa sih interiornya? Pertama waktu kita masuk pintu pesawat, kita disambut sama pencahayaan yang teduh banget. Begitu pula waktu masuk kabin. Tampilan langit-langitnya berbentuk oval dan dikelilingi oleh lampu-lampu yang menyejukkan mata. Trus overhead bin-nya juga lebih lega. Peletakan AC, reading light, flight attendant call light juga sedikit berbeda. Mungkin masih ada lagi perbedaan lainnya. Saya juga baru 3 kali naik pesawat boeing dengan interior kayak gini. Jadi masih newbie lah... Belum banyak tahu. Hehehe...

Boeing Sky Interior - Garuda Indonesia

Friday, June 15, 2012

Resensi Buku Portugal, Spanyol, Maroko di Koran Jakarta


ZIARAH ARSITEKTUR DAN SITUS SEJARAH TIGA NEGARA
OLEH :
UNTUNG WAHYUDI

Keunikan dan kemegahan arsitektur menjadi daya tarik tersendiri bagi traveler untuk mengunjungi dan mengabadikannya lewat bidikan kamera dan catatan perjalanan, apalagi ke negara yang memiliki nilai sejarah di mata dunia. Portugal, Spanyol, dan Maroko adalah tiga negara yang dibahas dalam buku Portugal, Spanyol, Maroko: Traveling Aman, Hemat, & Nikmat karya Indra P Nugraha ini. 

Ketiga negara tersebut, menurut penulis, memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang cukup tinggi sehingga menjadi destinasi utama dalam perjalanannya ke Eropa. Portugal dikenal dengan nilai sejarahnya dan terkenal akan armada lautnya yang telah menjelajah dunia hingga ke Indonesia.


Portugal juga terkenal dengan bangunan-bangunan tuanya yang terawat baik. Di pusat Kota Porto, terdapat jalanan tua berlapiskan cobblestone yang diapit bangunan-bangunan tua yang umumnya berasal dari abad pertengahan (hlm 2). Sementara Spanyol, tak perlu diragukan lagi karena pernah menjadi pusat peradaban Islam dan memang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan dari seluruh dunia. 

Friday, June 8, 2012

West Java Scenic Railway Trip


Dulu waktu saya masih kuliah, saya seneng banget naik kereta api. Tiap kali pulang ke Semarang, kereta api selalu jadi andalan. Nggak sekalipun saya naik bus ataupun pesawat. Waktu itu saya dikasih uang sama ortu buat pulang ke Semarang sebulan sekali dengan kereta api kelas bisnis. Tapi saya bela-belain naik kereta kelas ekonomi biar bisa sering pulang. Kadang 2 minggu sekali. Bahkan pernah seminggu sekali. Emang enak sih jadwalnya. Berangkat hari Jumat malam, balik lagi hari Minggu malam. Senin pagi langsung kuliah.

Tapi itu duluuuu banget waktu saya masih kuliah di Jakarta. Sekarang saya udah kerja. Di luar Jawa pula. Demi efisiensi waktu, saya lebih sering naik pesawat ke Semarang. Secara ongkos tiket Batam-Jakarta-Semarang tergolong mahal buat saya sementara waktu libur terbatas. Lagian harga tiket pesawat dari Jakarta ke Semarang sering nggak beda jauh sama tiket kereta. Ya kecuali kalo duit lagi super mefeeet sementara tiket pesawat lagi jual mahal yaa.... Jadi intinya saya jarang banget naik kereta. Nah, sekalinya ada waktu, saya bela-belain lhooo naik kereta api tanpa tujuan yang jelas. Cuman kepengen nikmatin pemandangan dari balik jendela kereta aja. Pulau Jawa punya beberapa rute kereta api yang pemandangannya bagus banget. Pertama, rute Jakarta-Bandung. Rute ini dulu udah sering saya lewatin waktu kuliah. Kalo weekend dan nggak pulang, kadang-kadang saya suka kelayapan sampe ke Bandung. Kedua, rute Bandung-Yogyakarta. Nah, ini dia target saya.

Pagi itu saya udah ada di Stasiun Bandung setelah malamnya berangkat dari Semarang naik kereta api ekspres Harina. Setelah sholat Subuh, saya keluar buat beli tiket kereta ke Yogyakarta. Pagi itu ada dua pilihan kereta, yakni Argo Wilis dengan tujuan akhir Stasiun Surabaya Gubeng dan Lodaya dengan tujuan akhir Stasiun Solo Balapan. Berhubung harganya nggak beda jauh, saya pilih kereta yang agak bagusan dikit, yakni Argo Wilis. Lagian kereta ini juga berangkatnya lebih awal.

Stasiun Bandung

Friday, June 1, 2012

Pantai Suluban, Pura Uluwatu dan Pantai Dreamland


Ke pantai lagi nyook... Ke Bali lagi. Pantai yang saya datengin ini letaknya nggak jauh dari Pantai Padang Padang. Namanya Pantai Suluban. Tapi kadang-kadang pantai ini disebut Blue Point Beach. Soalnya di deket pantai ada Blue Point Bay Villas & Spa. Untuk menuju pantai ini, dari Pantai Padang Padang tinggal ngikutin jalan ke arah selatan sampe ketemu pertigaan. Trus belok kanan. Ntar jalanan itu mentok di tempat parkir Pantai Suluban. Kalo dari Pura Uluwatu, begitu keluar gerbang langsung belok kiri dan ngikutin jalan sampe mentok.

Dari parkiran, saya musti nurunin anak tangga untuk menuju pantai. Sempet males juga sih.. Takutnya kayak waktu ke Pantai Gunung Payung yang turun tangganya jauh banget. Turunnya sih gampang, tapi ntar baliknya yang agak rempong (rempong artinya apaan sih?). Tapi ternyata turun tangganya nggak jauh2 amat kok. Jadi nggak perlu kuatir pulangnya.

Di ujung anak tangga, mulai tampak rumah-rumah penduduk yang disewain. Ada juga kafe-kafe dengan view langsung ke laut lepas. Cakep banget dah pokoknya. Tapi saya bingung, gimana cara menuju pantai? Soalnya kafe-kafe itu jaraknya masih sekitar 20 meter dari bibir pantai. Setelah nanya mas bule yang ngebawa papan surfing, baru deh saya tahu dimana letak tangga menuju pantai. Agak ngumpet emang posisinya.
  
Pantai Suluban