Friday, June 22, 2012

New Boeing 737 Sky Interior

Ada pengalaman yang sedikit berbeda ketika saya naik pesawat Garuda Indonesia dan Lion Air beberapa waktu yang lalu. Pesawatnya masih tipe yang sama, yakni Boeing 737-800NG untuk Garuda Indonesia dan Boeing 737-900ER untuk Lion Air. Yang membedakan itu interiornya. Keren abiisss... Sayangnya, interior model baru ini ada di pesawat-pesawat yang baru dikirim. Jadi jumlahya masih terbatas. Sementara di pesawat lamanya ya masih gitu-gitu aja.

Kayak apa sih interiornya? Pertama waktu kita masuk pintu pesawat, kita disambut sama pencahayaan yang teduh banget. Begitu pula waktu masuk kabin. Tampilan langit-langitnya berbentuk oval dan dikelilingi oleh lampu-lampu yang menyejukkan mata. Trus overhead bin-nya juga lebih lega. Peletakan AC, reading light, flight attendant call light juga sedikit berbeda. Mungkin masih ada lagi perbedaan lainnya. Saya juga baru 3 kali naik pesawat boeing dengan interior kayak gini. Jadi masih newbie lah... Belum banyak tahu. Hehehe...

Boeing Sky Interior - Garuda Indonesia


Passenger Service Unit plus speaker

Pas naik Garuda Indonesia, warna lampu di langit-langitnya saya perhatikan ada 3 warna. Standarnya warna biru muda. Pas takeoff dan landing, warnanya berubah jadi biru tua dan intensitasnya sedikit dikurangi. Pas cruising, warna lampunya berubah jadi merah agak kecoklatan gitu, Tapi tetep adem kok.

Ini lighting waktu lagi cruising

Yang keren itu waktu naik Lion Air. Kan saya terbangnya malem tuh... Nah, kalo biasanya lampu pesawat terang benderang, pas kemarin itu terbantu dengan pencahayaan langit-langit yang teduh itu. Jadi nggak terlalu menyilaukan mata. Saya jadi bisa tidur nyenyak. Tau-tau udah dibangunin pramugari aja. Disuruh negakin sandaran kursi karena pesawat mau landing.

Boeing Sky Interior - Lion Air

Tapi sayangnya, modernisasi pesawat-pesawat Lion Air tidak diikuti dengan mental beberapa penumpangnya. Waktu pesawat baru saja touch down di CGK dan masih melaju kencang di runway, dimana flap dan spoiler masih terbuka, di belakang saya terdengar bunyi ringtone HP diikuti dengan suara, “Iya, ini baru aja nyampe. Masih di dalem pesawat nih...”. Ckckck..

Tampaknya suara bapak-bapak yang membahayakan keselamatan penerbangan itu terdengar oleh pramugari. Sewaktu pesawat masih taxi, sang pramugari pun dengan tegas mengingatkan para penumpang untuk tidak menyalakan telepon genggam. Tapi tampaknya sia-sia saja. Pada saat pesawat memasuki apron Terminal 1 C, suara-suara ringtone HP udah bersahut-sahutan. Salah satunya pemegang Blackberry Onyx yang duduk di depan saya. Ternyata bukan cuma pemegang HP monokrom aja yah? Penumpang yang lain juga udah banyak yang berdiri meskipun belum ada suara, “Disarm slides and cross check” dan ”Doors may be opened” dari cockpit. Ya iyalah... Lion Air kan harusnya parkir di Terminal 1 A atau 1 B.

Hmmm...

Nggak lama kemudian, baru deh ada pengumuman kalo tempat parkir di Terminal 1 A dan 1 B penuh, jadi pesawat terpaksa parkir di Terminal 1 C. Jadi pintu belum bisa dibuka karena masih harus menunggu tangga dan bus penjemput. Langsung deh penumpang yang udah pada berdiri marah-marah.

Bertelepon ria padahal pintu pesawat masih tertutup

Haduuuuhhh.... Saya jadi kesian ngeliatin tempelan di bagian belakang kursi tentang peraturan keselamatan penerbangan yang kayaknya cuman jadi pemanis aja. Juga sama pramugari yang udah bolak-balik ngingetin untuk menyalakan HP setelah di bangunan terminal tapi sama sekali nggak digubris. Malah jadi sasaran kemarahan penumpang karena pintu pesawat nggak buru-buru dibuka. Flight attendant, Cabin crew, atau pramugari memang bukanlah pekerjaan yang mudah.

Oh, kursi... Malang nian nasibmu cuma jadi pemanis

Melalui postingan ini, saya ingin menghimbau kepada seluruh pembaca blog ini, mari kita utamakan keselamatan penerbangan. Nggak ada salahnya kan bersabar menunggu barang sekejap buat nyalain HP? Hehehe... Nyalainnya ntar aja yah kalo udah di bangunan terminal. Meskipun pesawat udah berhenti di apron, pilot kan masih melakukan komunikasi dengan menara.

ARTIKEL TERKAIT:

14 comments:

  1. kemarin pas pake Boeing 767, kita malah dibolehin nyalain hape begitu sudah mendarat hehehe. (Kalo gua ga salah dengar)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebijakan airlines kali ya? Temen gw pernah naik United juga dibolehin nyalain HP setelah pesawat landing. Mungkin karena dianggap pesawat udah ngelewatin masa2 kritis(takeoff landing). Kalo di Indonesia sih setahu gw hampir semua airlines meminta penumpang untuk menyalakan HP setelah di terminal building. CMIIW lhoo...

      Delete
  2. maklum aja bang, kebiasaan naik bus sih, jadi memang rada masih susah untuk disuruh tertip, terkadang malahan pesawat belum berhenti sempurna, banyak penumpang yang sudah berburu pengen cepat turun, takut mungkin pesawatnya berangkat lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... Barangkali mereka sudah tak sabar bertemu keluarga tercinta :)

      Delete
  3. yadibaru..ur statement very funny..hehehe

    ReplyDelete
  4. tentu saja keselamatan menjadi prioritas utama.. !

    ReplyDelete
  5. perasaan bagasi kabinnya jadi lebih sempit deh. untung ranselku masih muat masuk kedalamnya waktu naik lion sky interior

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masak sih? Perasaan aja kali? Hehehe... Mungkin nggak beda2 jauh dimensinya. Tapi minimal ruang di langit-langit jadi lebih lapang lah... :D

      Delete
  6. sepertinya tiap maskapai punya beda peraturan untuk masalah telepon genggam (telepon bimbit kalo di malaysia airlines ingatnya hehe). di Malaysia Airlines sama Emirates sudah diperbolehkan pas udah landing, sudah lama tidak naik Garuda Indonesia tapi peraturanya baru membolehkan setelah pesawat berhenti dengan sempurna. begitu juga Singapore Airlines. kalau maskapai domestik Amerika malah cuma di awal2 pemberitahuan sama pas mau landing saja setelah landing cuek2 juga. tapi ya beda negara beda kebiasaan sih, hebohnya orang Indonesia kalau untuk nyalanyalakan HP nomor satu menurut saya karena saya sering pergi dengan Emirates dan SQ, yang namanya orang Indonesia pesawat baru mendarat saja sudah langsung sahut2an HP nya. beda dengan orang warga negara lain, HP mereka dinyalain tapi gak perlu bilang "sudah mendarat nih". entah memang kebiasaan orang kita yang bangga kalau naik pesawat atau bagaimana saya juga kurang ngerti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, tentang kapan boleh nyalainnya, tergantung kebijakan airlines. Tapi yang pasti, semua airlines melarang penggunaan telepon genggam pada saat, taxi, takeoff, landing. Sementara saat di udara, boleh dinyalakan asalkan dalam keadaan flight mode. Tentang flight mode ini, di banyak airlines di luar negeri selalu diingatkan oleh awak kabin sewaktu di darat, agar penumpang mengubah setting-an HP-nya menjadi flight mode dulu sebelum mematikannya.

      Delete
  7. Wah saya nyasar kesini krn besok mo naik 738NG

    Emang om banyak banget penumpang yang masih kampungan... iya kampungan (biar kasar deh sekalian)

    Kebanyakan pada berebut keluar, dia kira yang terakhir turun pesawat kena bagian ngebersihin kabin kali :p

    Kmrn pas naik A320 ke Denpasar bahkan pas kita masih (kira2) 500 udah ada yang nyalain hp (hadeh)

    Mungkin perlu dibikin peraturan : ngelanggar aturan penerbangan tembak ditempat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Yang bawa pistol juga ngelanggar aturan dong :D

      Delete