Friday, November 8, 2013

Balada Nuker Uang

Europe Honeymoon Series
Sesampainya kami di Bandara Changi Singapura, kami langsung menuju pemeriksaan imigrasi. Tidak seperti biasanya, hari itu clearance kami agak sedikit terhambat. Di kolom alamat pada kartu imigrasi, kami nulis bahwa kami cuman transit aja sebelum melanjutkan perjalanan ke Amsterdam. Pengalaman saya sebelumnya, hampir pasti selalu langsung dikasih lewat. Baik itu cuman transit menuju Batam, ataupun transit menuju negara lainnya. Tapi hari itu, petugas imigrasinya minta diperlihatkan tiket lanjutan kami menuju Amsterdam.

Kami sedikit kelabakan karena lupa naruh tiketnya dimana. Seingat saya, tiketnya ada di tasnya Sinta. Maka saya minta Sinta buat ngebongkar isi tasnya. Dan tiket itu nggak ditemukan. Wah, gimana nih?! Barangkali saat itu petugas imigrasinya mau menggiring kami ke ruangan pemeriksaan sebelum saya teringat kalo sesaat sebelum berangkat tadi pagi, saya mindahin tiket dari tasnya Sinta ke tas saya. Buru-buru langsung saya buka deh tas saya dan tiket itu masih ada di tempatnya. Huh!!! Dasar pelupa!!! Kelar urusan imigrasi, kami musti mengambil dan menitipkan bagasi. Setelahnya, kami naik MRT menuju Harbourfront.

Nah, di atas MRT menuju Harbourfront ini kami terlibat perdebatan seru. Perdebatan tentang sesuatu yang sangat penting dalam sebuah trip. Apalagi kalo bukan soal duit. Jujur aja, perjalanan kami diawali dengan berbagai ketidakberuntungan. Berawal dengan tiket yang mahal, kemudian berlanjut ke persoalan uang. Apes banget. Karena terlalu sibuk memikirkan urusan pernikahan, kami lupa untuk menukarkan uang. Sebenernya bukan lupa sih, tapi lalai. Kami selalu menunda-nunda waktu untuk nukerin uang kami ke Euro. Begitu ada kesempatan untuk nukerin uang, itu udah sore di hari kerja terakhir sebelum kami berangkat. Money changer-nya udah tutup. Jadilah kami ke Singapura hanya membawa mata uang Rupiah dan USD. Rencananya, akan kami tukar di Singapura saja.
 
Urusan nuker mata uang asing juga bisa jadi ribet

Thursday, November 7, 2013

Terbang dengan A330-200 Garuda Indonesia



Perjalanan ke Singapura ini merupakan titik awal dimulainya honeymoon trip saya dan istri. Singapura menjadi destinasi pertama kami sebelum terbang lagi ke Eropa. Bagi saya dan Syani, istri saya, negara kota ini memang sudah tak asing lagi karena tiga tahun lalu kami pernah bersama-sama mengunjunginya. Namun perjalanan kali ini tetap terasa spesial karena kini kami sudah menikah. Hehehe... Dan juga lebih spesial lagi karena kali ini kami terbang dengan maskapai kebanggaan kita, Garuda Indonesia

Sebelum berangkat, kami baru selesai packing pukul 3 dini hari. Kali ini bukan karena sifat malas saya. Kali ini, kami baru benar-benar bisa mulai packing pukul 12 malam. Dari pagi hingga siang, kami ada acara Ngunduh Mantu di rumah saya. Sementara tamu-tamu masih terus berdatangan sampai petang. Setelahnya, kami masih harus mengambil barang-barangnya Syani di rumahnya, kemudian kembali lagi ke rumah saya. Dan semuanya baru selesai pukul 12 malam. Tanpa sempat beristirahat, kami langsung mulai packing.

Pukul 4 pagi, kami sudah berangkat ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Kami akan naik penerbangan pertama Garuda Indonesia ke Jakarta yang akan berangkat pukul 6 pagi. Di Jakarta, kami akan transit sebentar sebelum melanjutkan penerbangan ke Singapura. Hampir seluruh keluarga mengantar kami, baik dari keluarga saya maupun Syani. Ini karena sekembalinya kami dari Eropa, Syani akan mengikuti saya tinggal di Batam. Jadi ini seperti perpisahan kecil Syani dengan keluarganya. Saya masuk terlebih dahulu untuk check in dan meletakkan bagasi. Ternyata, untuk penerbangan connecting ke rute luar negeri dengan Garuda Indonesia, bagasinya sudah di-tag langsung ke kota tujuan akhir. Jadi di Jakarta kami tidak perlu disibukkan dengan urusan bagasi. Hal yang sama pun berlaku juga untuk penerbangan dari luar negeri yang connecting dengan penerbangan domestik Garuda di Indonesia.

A330-200 Garuda Indonesia at SHIA

Wednesday, November 6, 2013

Europe Honeymoon Series-Visa Visa Visa



Sebagai pemegang paspor Indonesia, kami harus menerima kenyataan bahwa kami perlu visa untuk ke Eropa. Demi selembar stiker itu, kami harus menyerahkan berlembar-lembar dokumen ke kedutaan. Selama dokumen lengkap, sebenernya ngurus visa ini nggak susah. Hanya saja, prosesnya agak ribet dan makan waktu. Mungkin juga makan biaya karena beberapa Kedutaan mensyaratkan kehadiran untuk wawancara. Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin pengorbanan biaya ini nggak terlalu terasa. Tinggal naik angkot atau busway aja. Tapi bagi saya yang tinggal di luar Jawa, untuk ke Jakarta ini saya harus keluar ongkos lumayan besar.


Ilustrasi Visa Schengen dari Kedutaan Belanda

Untuk sementara, lupakan dululah soal ongkos. Dalam beberapa minggu ke depan, kami  bakal dibuat kerepotan soal urusan visa. Tentang memilih kedutaan, kami sedari awal emang mau apply di Kedutaan Belanda. Wajar aja sih kami pilih Belanda. Pertama karena pesawat kami akan mendarat di Belanda. Negara ini akan jadi negara pertama dan terakhir yang kami kunjungi di Eropa. Kedua, kami punya keluarga yang mengundang kami ke sana. Jadi kami bisa apply visa kunjungan. Ketiga, kalo bagi saya pribadi sebagai frequent traveler, Kedutaan Belanda pada saat itu memberikan fasilitas tidak perlu hadir untuk wawancara. Itu artinya, saya bisa hemat tiket pesawat ke Jakarta. Dokumen saya tinggal nitip ke Sinta aja. Sinta juga tetep perlu ongkos ke Jakarta. Tapi nggak terlalu mahal karena saat itu dia tinggal di Semarang.

Tapi masalahnya, untuk apply visa di Kedutaan Belanda itu kami harus membuat janji via internet. Sementara saat itu, situs web kedutaan sedang diperbaiki. Mengingat waktu yang semakin mendesak, kami harus memikirkan alternatif kedutaan untuk apply visa. Sempat terpikir untuk apply di Kedutaan Hongaria yang juga tetanggaan sama Kedutaan Belanda. Tapi itu berarti, kami harus merevisi ulang itinerary karena kunjungan ke Hongaria hanya sebentar dan pesawat kami pun dari Asia nggak mendarat di Budapest, melainkan di Amsterdam. Akan jadi tanda tanya besar bagi Kedutaan Hongaria kalo kami apply di sana. Sebenernya emang yang paling cocok untuk kami apply tetep Kedutaan Belanda.

Monday, November 4, 2013

Europe Honeymoon Series-Dua Kepala Satu Itinerary



Setelah urusan tiket beres, bukan berarti pekerjaan selesai. Kami masih harus menyusun itinerary. Sekilas terlihat simpel. Tapi nyatanya, bagian ini memerlukan perhatian ekstra. Ini bukan hanya soal milih negara atau kota mana yang akan dikunjungi. Tapi juga soal menyatukan dua kepala. Yang namanya dua orang, tentu memiliki dua keinginan yang beragam. Bisa sama, bisa juga beda. Dan perbedaannya ini biasanya jauh lebih banyak daripada persamaannya. Timbul konflik di antara kami.
 
Urusan nyusun itinerary, termasuk di dalamnya nyari tiket antar kota/negara, bisa jadi ribet.

Saya kepengennya sih ke Yunani, Hongaria, Kroasia dan Slovenia. Prioritas saya lebih ke Eropa timur karena hampir seluruh negara di Eropa barat udah saya kunjungi. Yups, alasan yang cukup masuk akal memang. Negara-negara Eropa kan totalnya mencapai puluhan negara. Mengingat ongkos ke sana yang mahal, tentunya saya memprioritaskan kunjungan ke negara yang belum pernah saya kunjungi. Sementara Sinta kepengen ke Turki, Italia, Swiss dan Prancis. Jreng!!! Negara-negara yang mau kami kunjungi nggak ada satu pun yang irisan. Gimana nih??!!!

Di sini saya mulai merasakan perbedaan mencolok antara traveling sendiri dan dengan orang lain. Waktu saya masih sendiri, urusan itinerary ini hampir selalu sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi kali ini saya nggak sendiri lagi. Saya harus mulai belajar menerima perbedaan. Saya udah nggak boleh egois nurutin kemauan saya sendiri. Harus ada sinergi dengan partner perjalanan yang juga partner hidup saya. Soalnya kalo saya keukeuh ngikutin kemauan saya, tentu partner saya jadi nggak bahagia. Kalo dia nggak bahagia, tentunya saya juga nggak bahagia. Nah, kalo sama-sama nggak bahagia, apa enak traveling-nya? Apalagi ini judulnya honeymoon loh... Hehehe...

Sunday, November 3, 2013

Europe Honeymoon Series-Sebuah Keputusan Besar

Bismillahirrahmanirrahim. Berhubung banyak request, saya mulai deh nulis tentang liburan honeymoon saya dan istri. Bakalan panjang banget dan bersambung terus nih... Tapi biar nggak bosen, bakalan saya selipin dengan cerita lainnya di antara banyak posting-an tentang honeymoon ini. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan istri saya yah... Namanya Sinta. Ok, tanpa banyak prolog, mari kami mulai ceritanya. Selamat menikmati....

Perkenalkan, saya dan istri.


Sebuah keputusan besar? Hmm... Beberapa bulan sebelum menikah, saya dan Sinta sempet ngerasa bimbang sebelum bener-bener memutuskan buat honeymoon ke Eropa. Pertimbangannya apa lagi kalo bukan soal uang. Walau gimanapun, namanya traveling ke Eropa nggak mungkin lebih murah daripada traveling ke negara tetangga ataupun domestik. Nggak usah terlalu jauh tentang biaya hidup di sana deh, coba aja lihat tiket pesawatnya. Harga tiket promo standar ke Eropa tuh ada di kisaran 7-8 juta Rupiah. Dengan tiket segitu, saya bisa honeymoon mewah ke Yogyakarta atau Bali. Baru tiket doank loh... Belum lagi biaya hidup selama di sana.

Pertimbangan kedua, kami akan menikah pada Bulan Agustus yang berarti puncak musim panas di Eropa. Atau bisa didefinisikan, mahal-mahalnya tiket dan akomodasi selama di Eropa. Dan ada satu pertimbangan lagi dari saya pribadi yang agak egois. Saya kan udah pernah ke Eropa. Pengen sih ke sono lagi. Tapi apa nggak sayang sama duitnya? Buat nikahan itu udah makan ongkos gede loh... Mendingan ke Bali Lombok aja. Emang sih, Sinta belum pernah ke Eropa, tapi dia udah pernah tinggal di Australia. Sementara saya malah belum pernah ke sana. Cukup adilkan kalo kami nggak usah ke Eropa? *langsung ditoyor Sinta*

Saturday, November 2, 2013

Lihat Bunga Tulip di Keukenhof Belanda

Tentang Belanda lagi yaa... Dikit aja tapi. Kalo berkunjung ke negeri kincir angin ini pada pertengahan bulan Maret sampe Mei, kita bisa sekalian lihat bunga tulip. Bunga ini juga menjadi sesuatu yang khas Belanda banget meskipun aslinya bukan dari negara ini. Pada bulan-bulan tersebut, bunga tulip yang lagi mekar, bakalan banyak kita jumpai di taman-taman kota. Nah, kalo kepengen ngeliat bunga tulip yang jumlahnya sangat banyak, kita bisa dateng ke Keukenhof yang terletak di Kota Lisse, nggak jauh dari Amsterdam.

Saya waktu itu dateng ke Keukenhof sekitar akhir Bulan Maret. Untuk menuju ke Keukenhof, saya naik kereta dulu menuju Bandara Schipol. Keluar bangunan terminal, saya langsung menuju halte yang terletak di seberang. Tapi saya nggak lihat bus tujuan Keukenhof. Setelah tanya sana sini, ternyata halte bus menuju Keukenhof itu terpisah dari halte bus-bus tujuan lain. Keluar bangunan terminal, saya musti belok kanan dan nyusurin bangunan terminal sampe ujung. Nah, di ujung itulah haltenya. Sebenernya di situ juga udah ada pintu masuk bangunan terminal. Jadi kalo posisi masih di dalem terminal, nggak perlu keluar dulu untuk mencapai halte ini.

Sampai di halte, saya langsung beli tiket di kios. Tiket yang saya beli jenisnya tiket combi. Maksudnya, tiket ini udah termasuk tiket bus pulang pergi dan tiket masuk Keukenhof. Pagi itu, antrean buat naik bus lumayan panjang. Saya harus menunggu hingga bus ketiga sampai dapet giliran naik bus. Karena antrean cukup panjang, pagi itu jadwal keberangkatan bus nggak pake interval. Pokoknya begitu ada bus datang, langsung deh diberangkatin lagi. Perjalanan menuju Keukenhof ini memakan waktu sekitar setengah jam.

Keukenhof

Sleep at Singapore Changi Airport

Pertama kalinya nulis di blog ini, judulnya ”One Day Trip to Singapore”. Walaupun gaya bahasanya masih acak-acakan (namanya juga newbie), artikel ini lumayan ramai traffic-nya karena bisa jadi panduan praktis buat yang baru pertama kali ke Singapore. Tapi sayangnya, ada satu bagian yang kayaknya musti saya edit. Bukan tentang tarif bus atau sejenisnya, tapi tentang tidur di Bandara Changi. Soal tarif, kurs dan sejenisnya, emang hukumnya wajib buat di-update sendiri karena seiring berjalannya waktu, kemungkinan besar akan ada perubahan harga.

Saya pertama kalinya tidur di Bandara Changi tahun 2010 ketika pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat selepas tengah malam. Ya seperti kita semua tahu, tidur di airside area (area sebelum kita clear imigrasi) di Bandara Changi dan banyak bandara internasional lainnya, tentunya sangat nyaman. Banyak sofa atau bahkan kursi yang memang didesain untuk tidur. Lain halnya dengan di luar dimana tempat untuk tidurnya hanya berupa bangku panjang yang kalo kita tidurin, paginya bikin badan pegel-pegel. Saya pun dalam beberapa kesempatan kalo mendaratnya tengah malem ya nginep dulu di dalem dan baru immigration clearance keesokan harinya selepas subuh. Sampai dengan akhir 2012 sih aman-aman aja. Nggak pernah ada masalah. Jadi ya saya pikir, itu emang dibolehin.
 
Ilustrasi tidur di Changi Airport. Diperankan oleh model.

Tuesday, October 29, 2013

Kincir Angin Belanda di Zaanse Schans

Pertama kali ke Belanda dua tahun lalu, saya bisa dibilang belum ke Belanda. Waktu itu saya cuman menjadikan negara ini sebagai tempat transit sebelum lanjut ke Portugal, Spanyol dan Maroko. Soalnya perjalanan saya waktu itu kan dalam rangka kerja. Walopun kerjaan yang dimaksud itu ya jalan-jalan juga. Hehehe... Nah, pada kunjungan yang kedua, saya meluangkan waktu lebih lama di Belanda, khususnya di Amsterdam dan sekitarnya. Saya jadi bisa lebih leluasa mengeksplor negara ini. Dan bicara soal Belanda, selain bunga tulip, kayaknya sulit untuk dipisahin sama yang namanya kincir angin. Nah, dimana kita bisa nemuin kincir angin? Ada Kinderdijk dan Zaanse Schans. Tapi kali ini saya kepengen nulis tentang Zaanse Schans dulu. Soalnya tempat ini paling mudah di jangkau dari Amsterdam. Di tempat ini kita bisa ngelihat beberapa kincir angin yang masih beroperasi. Ya meskipun operasionalnya ini dalam rangka turisme. Tapi percaya deh, tempat ini sangat layak untuk dikunjungi. Tentang Kinderdijk, mungkin di posting-an berikutnya yaa...

Gimana cara menuju Zaanse Schans? Ada kejadian lucu waktu saya mau ke sana. Sebelumnya, saya emang udah googling tentang gimana caranya ke Zaanse Schans. Tapi waktu itu saya cukup yakin dengan ingatan saya. Jadinya nggak saya catet. Nah, begitu saya nyampe stasiun Amsterdam Central, bisa ditebak, saya lupa. Bukan hanya lupa nama stasiun yang akan saya tuju. Tapi juga lupa nama tempatnya. Waktu di bagian informasi, saya cuman bisa nanya, “Would you tell me how to get Zaan,,, Zaann,,,, rrrr, Windmill?”. Untungnya staf informasi langsung ngerti maksud tujuan saya dan berkata, “You have to take a train to Koog Zandijk at platform 11B”. Ok, saya pun langsung bergegas ke platform 11B. Nggak perlu beli tiket karena saya punya Eurail Global Pass. Untuk perjalanan dengan kereta lokal, sebagian besar nggak perlu beli tiket alias gratis. Sementara untuk kereta jarak jauh, kereta cepat, dan beberapa kereta tertentu, saya hanya perlu membayar biaya reservasi.
   
Harap diingat nama stasiunnya, Koog Zandijk.

Tuesday, October 22, 2013

Ngicipin Airbus A380 Malaysia Airlines

Traveling emang hobi saya. Tapi saya juga suka naik pesawat. Dan berpergian dengan pesawat ini hampir selalu jadi bagian dalam setiap perjalanan saya ke luar negeri. Jadi setiap traveling itu saya bisa sekalian menjalankan dua hobi saya. Berkunjung ke tempat baru, juga ngicipin naik pesawat baru. Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya lagi jatuh cinta banget sama pesawat Airbus A380. Inget nggak waktu saya ke Bangkok tahun lalu? Itu saya bela-belain ke sana cuman buat ngicipin naik A380 milik Thai Airways. Ya sambil ngicipin naik pesawatnya, saya dapet bonus jalan-jalan di Bangkok. Kebetulan juga waktu itu saya belum pernah ke Bangkok.

Waktu ke Bangkok, saya begitu terpesona dengan pesawat raksasa pabrikan Airbus itu. Tapi waktu itu saya masih belum puas karena penerbangannya hanya jarak pendek, yakni untuk rute Singapore-Bangkok aja. Dan setelah menunggu beberapa bulan, ternyata kesempatan itu dateng juga. Malaysia Airlines baru saja meluncurkan Airbus A380-nya yang ketiga dan keempat untuk melayani rute Kuala Lumpur-Paris vv. Adapun pesawat pertama dan kedua udah terlebih dulu diluncurkan untuk melayani rute Kuala Lumpur-London vv. Nah, kebetulannya lagi, saya juga dapet tiket promo. Maka langsung saya hajar deh tiketnya. Hehehe...

Airbus A380 Malaysia Airlines at KLIA

Monday, October 21, 2013

Yang harus Dilakukan Kalau Bagasi Hilang

Melanjutkan posting-an sebelumnya, apa yang harus dilakukan ketika mendapati bagasi kita hilang? Hanya ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, tetep tenang dan kedua, segera hubungi bagian Lost and Found. Selanjutnya biarkan mereka yang menangani. Kenapa saya bilang musti tetap tenang? Karena yang namanya kehilangan bagasi, apalagi di negeri orang, biasanya menimbulkan rasa panik. Emang sih, kehilangan bagasi itu sesuatu nggak enak. Apalagi kalo di dalem bagasi ada perhiasan senilai milyaran. Tapi percaya deh, kita bakalan tetep bisa menikmati perjalanan meskipun tanpa bagasi.

Begitu mendapati bagasi saya nggak ada, saya langsung menuju bagian Lost and Found Bandara Geneva. Saya melaporkan ciri-ciri tas dan tentunya nomor tag bagasi yang ditempel di boarding pass. Staf yang melayani saya saat itu mengatakan bahwa belum ada laporan bagasi tertinggal dari bandara di Copenhagen maupun Zurich. Saya masih mempunyai harapan. Bisa jadi bagasi saya naik penerbangan berikutnya dari Zurich yang baru aja mendarat. Saya pun kembali nongkrongin conveyor belt penerbangan Swiss Air dari Zurich. Tapi sayangnya, bagasi saya juga nggak ketemu. Berarti kemungkinannya, bagasi saya ketinggalan di Copenhagen, bukan Zurich.

Oleh staf tadi, saya diminta mengisi formulir laporan kehilangan. Saya juga diminta menuliskan itinerary, tempat menginap, dan juga nomor teleponnya. Hal ini karena di Swiss saya cuman  3 hari dan berpindah-pindah kota. Jadi begitu mereka menemukan bagasi saya, mereka tinggal menghubungi penginapan dimana saya menginap pada saat itu dan mengirim bagasi sesegera mungkin.

Friday, October 18, 2013

3 Flights in 3 Different Countries within 6 Hours

Ceritanya berawal dari Amsterdam. Saya keluar dari apartemen kakak sekitar pukul setengah empat dini hari dengan memakai baju hangat dan jaket tebal. Suhu saat itu memang hanya 11 derajat Celcius. Dalam hati, saya menyalahkan diri sendiri karena dengan cerobohnya memilih penerbangan pagi tanpa memperhitungkan faktor cuaca. Ya, pagi itu saya memang akan menuju Bandara Schipol. Pesawat yang akan membawa saya menuju Copenhagen akan take off pukul 7 pagi. Copenhagen bukan tujuan akhir karena saya hanya akan transit selama beberapa menit sebelum terbang kembali menuju Geneva. Swiss, ke sanalah saya akan pergi.

Karena hari masih pagi dan tram belum beroperasi, saya hanya bisa mengandalkan night bus yang beroperasi menggantikan jalur tram. Sayangnya, interval night bus ini tidak sesering tram. Di tempat saya saat itu, intervalnya satu jam sekali. Untungnya saya tidak harus menunggu lama karena malam sebelumnya, saya udah ngecek jadwal bus ini di halte. Satu hal, sebaiknya kita udah standby di halte beberapa menit sebelum jadwal. Ini karena busnya nggak berhenti di setiap halte. Dia cuman berhenti kalo ada penumpang yang nyetop aja. Nah, karena nggak selalu berhenti itu, kadang-kadang dia dateng lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Kayak bus yang saya tumpangi malam itu. Suasana di dalam bus pagi itu cukup ramai. Sebagian besar penumpangnya adalah orang-orang yang akan bekerja. Sebagian besar di antara mereka adalah imigran.  Saya salut dengan mereka. Sementara saya masih malas-malasan untuk bangun, mereka malah udah on fire dan bersiap kerja. Hidup di negeri orang itu penuh perjuangan, kawan...

Saya naik bus sampai di Stasiun Leylaan aja. Dari situ, saya naik kereta pertama menuju Bandara Schipol pukul 5 pagi. Saya sempet kaget juga sebenernya waktu ngeliat info keberangkatan kereta. Jam 5 pagi itu terlalu mepet. Saya niatnya mau naik kereta yang jam 4 pagi. Kereta menuju Schipol kan 24 jam. Tapi rupanya, kereta yang saya maksud itu nggak berhenti di Stasiun Amsterdam Leylaan. Ya udah deh... Mau gimana lagi. Kalo saya buru-buru ke Amsterdam Central juga bakalan makan waktu lagi. Toh, waktu tempuh menuju Schipol juga nggak nyampe 15 menit. Sampe di Schipol, saya langsung menuju kounter check in Scandinavian Airlines. Kelar check in, saya kudu ngantre x-ray dan body scanner. Di Departure 1, antrean ini untuk seluruh penerbangan. Bukan per gate. Jadinya antrean lumayan panjang. Tapi syukurlah, saya nggak telat nyampe ke ruang tunggu keberangkatan. Malahan saya masih sempet buka internet dulu.

I really hate a morning flight

Thursday, October 17, 2013

Backpack vs Koper


Terjadi sebuah pertarungan batin yang luar biasa hebatnya sebelum saya berangkat ke Eropa bulan lalu. Apalagi masalahnya kalau bukan soal jenis tas yang akan dibawa. Biasanya, saya pasti akan membawa backpack. Tapi kali ini saya nggak traveling sendiri, melainkan bersama istri. Ditambah lagi, traveling kali ini akan memakan waktu yang cukup lama, yakni lebih kurang satu bulan.



Sebelumnya, ada dua jenis tas yang saya bawa. Untuk traveling di sekitaran Asean dan Asia Timur dengan jangka waktu antara 1-4 hari, saya cuman membawa satu buah daypack aja. Daypack ini cuman berisi alat mandi, satu atau dua stel pakaian, kamera dan dokumen penting aja. Saya nggak pernah bawa banyak barang karena berdasarkan pengalaman, lebih sering nggak kepake. Urusan packing juga saya paling males. Sering banget saya packing cuma beberapa jam sebelum berangkat. Dan untungnya sejauh ini sih nggak pernah ketinggalan suatu apapun. Tapi ya kalo saya boleh kasih saran, urusan packing ini sebaiknya jangan mepet. Bikin pening kepala karena musti buru-buru takut ketinggalan pesawat. Hehehe...



Berikutnya, kalo saya traveling selama lebih dari seminggu, biasanya saya bawa satu buah daypack dan satu buah backpack ukuran besar. Kebetulan saya punya yang ukuran 55 Liter dan 65 Liter. Backpack ini sebagian besar isinya adalah pakaian. Soalnya, saya paling males nyuci kalo lagi traveling. Apalagi kalo cuman singgah kurang dari 3 hari di sebuah kota. Mendingan saya ganti baju dua hari sekali daripada nyuci dah... Tapi tentunya saya tetep pake parfum doonk... 

Backpack 55 Liter di belakang, daypack di depan

Wednesday, October 16, 2013

Aneka Scam ketika Traveling (2)



Melanjutkan posting-an sebelumnya, kali ini tentang Paris. Kota ini menjadi magnet bagi banyak wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Bukan hanya wisatawan yang belum pernah ke Eropa. Bahkan wisatawan yang udah pernah ke Paris pun masih kepengen ke sono lagi. Paris juga dibilang kota yang romantis. Itu sebabnya, kota ini nggak pernah sepi wisatawan. Dan seperti pepatah “Ada gula ada semut”, ada wisatawan tentunya ada potensi kejahatan.



Kejahatan apa yang paling terkenal di Paris? Yupz, betul sekali. Jawabannya adalah copet. Seperti halnya Barcelona dan Roma, kota Paris juga terkenal akan keganasan copetnya. Alhamdulillah pada kunjungan-kunjungan saya ke ketiga kota itu sebelumnya, saya nggak pernah ketemu ataupun melihat sama yang namanya copet. Malahan waktu saya denger temen saya kecopetan, saya masih nggak nyangka, “Masak iya sih di kota-kota secantik itu ada copetnya? Saya aja nggak pernah lihat. Mungkin kamunya aja kali yang teledor lupa naruh dompet dimana.” Kira-kira begitulah pemikiran saya waktu itu.
 
Menara Eiffel, Paris

Friday, October 11, 2013

Aneka Scam ketika Traveling (1)


Posting-an kali ini tentang pengalaman saya melihat dan mengalami scam atau mungkin hanya sekadar kejadian tidak menyenangkan ketika traveling. Saya bagi jadi dua kali posting sih biar nggak terlalu panjang. Saya nulis ini sama sekali nggak bermaksud menakut-nakuti orang buat traveling ke suatu kota atau negara. Karena percayalah, scam itu bisa terjadi dimana aja. Bahkan di depan rumah kita sekalipun. Niat saya cuman sharing aja supaya kejadian-kejadian yang saya alami bisa dihindari dan nggak dialamin oleh traveler lain. Itu aja.

Masih inget waktu saya kena scam di Manila? Gara-gara kejadian itu, saya jadi semakin ekstra waspada setiap kali traveling. Apalagi kalo traveling ke luar negeri. Saya berusaha sebisa mungkin tidak terlihat mencolok sebagai turis. Contohnya dengan tidak membuka peta di tempat umum. Kenapa? Kalo kita ngebuka peta di tempat umum, apalagi tampang kelihatan bingung, itu bisa diasumsikan bahwa kita sedang tersesat. Hal ini dapat membuat orang di sekitar mendekat dan bertanya, “Can I help you?”.

Nah, di balik pertanyaan yang ramah ini bisa terdapat dua makna. Makna pertama, orang tersebut melihat kita kebingungan, berusaha menolong dan akan merasa senang jika kita bisa keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi. Ya kalo kita lagi tersesat, orang tersebut akan dengan senang hati menunjukkan jalan. Menyenangkan bukan? Tapi sayangnya, ada makna yang kedua, yakni orang tersebut akan menunjukkan jalan dan bahkan mengantarkan kita sampai ke tempat tujuan. Dan setelah sampai, orang tersebut meminta bayaran atas bantuan yang telah dia berikan dengan cara-cara yang bisa dibilang premanisme. Kejadian ini pernah saya alami ketika saya traveling ke Marrakesh, Maroko, jauh sebelum saya traveling ke Manila.
 
Suasana Jma el Fna di Marrakesh

Monday, September 30, 2013

Waktu Seolah Berhenti di Interlaken

Menjelang sore, kereta Luzern-Interlaken Express yang saya tumpangi tiba di Stasiun Interlaken Ost. Saya bergegas keluar kereta dan mendapati kenyataan bahwa suhu di kota ini hanya 6 derajat Celcius. Padahal di Luzern tadi suhu masih sekitar 11-13 derajat Celcius. Lumayan mengagetkan bagi saya. Seumur-umur, ini suhu terendah yang pernah saya rasain. Nafas saya bahkan sampai mengeluarkan uap. Dengan setengah berlari, saya pun segera menuju hostel. Selain supaya bisa istirahat, juga untuk menghangatkan badan.

Interlaken. Saya jatuh cinta dengan kota ini pada pandangan pertama. Kota ini nampak lengang. Warganya terlihat lebih slow, tipikal masyarakat pedesaan. Waktu jadi seolah berhenti di kota ini. Saya juga langsung ngerasa betah dan berandai-andai bisa tinggal di kota ini. Pemandangannya keren banget. Kemanapun mata memandang, hampir pasti akan terlihat gunung. Yups, kota ini emang diapit oleh pegunungan. Sore itu, kabut turun dengan pekatnya sehingga seolah langit runtuh. Skyfall. Jadi keinget filmnya James Bond. Hehehe...

Skyfall in Interlaken

Wednesday, July 17, 2013

Kejadian Tak Terduga di Kabin TGV Lyria

Usai mengunjungi Geneve, Luzern, dan Interlaken, kini saya berada di Stasiun Basel. Pagi itu saya akan menuju Paris dengan menumpang kereta TGV Lyria. Saya berjalan menuju platform kereta saya dengan rasa percaya diri yang tinggi. Langkah kaki saya terasa ringan. Tahu kenapa? Soalnya saya naik 1st Claaasss!!!!!  Nggak tahu kenapa, saya ngerasa keren gitu. Tingkat ketampanan saya nampaknya meningkat beberapa kali lipat. Apalagi waktu ngelihat penumpang-penumpang lain yang memasuki gerbong 2nd Class. Hah?!!! 2nd Class??? Apaan tuh!!! *belagu*

Gotcha!!! Ketemu juga gerbong saya. Ada tulisannya 1st di deket pintu. Juga ada pramugara yang sekilas mirip banget sama Amitabh Bachan. Saya menunjukkan tiket saya kepadanya. Dia menyapa saya ramah, “Welcome. Your seat is on upper deck!”. Saya pun segera menaiki gerbong dengan perasaan berbunga-bunga. Gerbong 1st Class gitu loh... Hehehe... *masih belagu tingkat tinggi*
 
First Class euy!!!


Tuesday, May 28, 2013

Kota Cantik itu Bernama Praha

Pagi itu saya terbangun karena suara gaduh duo Singaporean yang akan check out dan melanjutkan perjalanan menuju Zagreb, Croatia. Dan dimanakah saya berada? Betul sekali! Saya lagi di Praha nih... Sebuah kota yang menjadi salah satu tujuan utama turis di Eropa Timur. Dan kebetulan saya sekamar dengan dua orang Singapore. Andaikan saya nggak melongok keluar jendela, pastilah saya menyangka sedang berada tak jauh dari Batam. But thanks untuk mereka yang secara tak sengaja udah membangunkan saya. Kalo nggak, bisa-bisa saya baru bangun menjelang siang mengingat malam sebelumnya saya baru sampai di hostel menjelang midnight.

Mosaic House, di sinilah tempat saya menginap. Dan dari sini pula saya memulai perjalanan menikmati kota tua ini. Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dengan suhu 16 derajat Celcius. Masih lumayan dingin sih... Tapi syukurlah hari itu matahari bersinar cerah seolah menyapa, “Please, enjoy Praha!”. Maka dengan berbekal peta gratisan dari hostel, saya menuju Vltava River yang merupakan sungai terpanjang di Czech Republic. Di kejauhan sana, berdiri dengan anggun sebuah kastil. Ke sanalah kaki ini akan membawa saya. Masih jauh banget. Tapi saya juga masih punya banyak waktu mengelilingi Praha. Jadi saya enggan terburu-buru. I have to enjoy every detail of this city.

I was here

Thursday, May 16, 2013

Terbang Bersama Bombardier CRJ 1000 Garuda Indonesia


Kalo biasanya saya ngomongin jalan-jalan, kali ini khusus ngomongin tentang pengalaman naik Garuda Indonesia. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ngicipin armada baru maskapai kebanggaan kita, Garuda Indonesia. Sejujurnya ini trip yang rada maksa. Jadi sebenernya tujuan saya tuh dari Semarang ke Batam. Biasanya saya naik pesawat yang transit di Jakarta. Nah, berhubung Garuda baru aja nge-launch rute barunya, yakni Semarang-Surabaya, plus ditambah pake armada baru Bombardier CRJ 1000 NextGen, dan masih ditambah lagi dengan adanya promo menarik, ya saya ambil rute agak memutar. Semarang-Surabaya by Garuda Indonesia, dan Surabaya-Batam by adiknya, Citilink.

Penerbangan dari Semarang menuju Surabaya menggunakan GA 369 yang berlepas dari Semarang pukul 12.40 dan tiba di Surabaya pukul 13.30. Sementara penerbangan dari Surabaya menuju Semarang menggunakan GA 368 yang berlepas dari Surabaya pukul 07.15 dan tiba di Semarang pukul 08.05.



Rasa antusias selalu ada sewaktu saya bakalan nyobain pesawat baru. Sengaja saya dateng lebih awal ke Terminal Bus Ahmad, eh, Bandara Ahmad Yani Semarang. Saya yang sebenernya udah city check in tetep musti ke meja check in buat naruh bagasi. Sebenernya saya nggak bawa bagasi. Tapi peraturan barang bawaan kabin CRJ 1000 ini beda dengan pesawat-pesawat yang biasa kita tumpangi, baik Boeing maupun Airbus. Dimensinya lebih kecil. Waktu itu sebenernya tas saya masih muat. Tapi saya bawa helm full face. Secara saya ninggal motor di Bandara Hang Nadim Batam. Sementara parkiran di sono terbuka dan nggak ada penitipan helm, jadilah waktu pulang ke Semarang kemarin saya bawa helm. Hehehe...

Kiri : Boeing 737-800 ; Kanan : Bombardier CRJ 1000


Monday, May 13, 2013

Welcome Back My World - Phnom Penh 2012


Tahun 2012 mungkin adalah masa-masa suram saya sebagai traveler. Gimana nggak? Setelah berjaya dengan merealisasikan sebuah mimpi besar menginjakkan kaki di Benua Eropa akhir tahun 2011, praktis saya nggak kemana-mana lagi. Project buku cukup menyita konsentrasi saya. Kalopun ada perjalanan, itu terjadi di awal tahun ketika saya liburan seminggu ke Pulau Dewata. Selebihnya? Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk pulang ke Semarang. Sempat beberapa kali ke Singapore dan Malaysia sih... Tapi bagi orang Batam, perjalanan ke kedua negara itu sama aja kayak perjalanan dari Jakarta ke Puncak. So, ketika nemu tiket seharga 50 MYR untuk penerbangan ke Cambodia, saya nggak tunda-tunda lagi. Bungkuuuusss!!!

Ngomongin soal tiket, idealnya sih kita menentukan tujuannya dulu berdasarkan keinginan, menentukan waktunya, baru mencari tiket semurah mungkin. Tapi nampaknya kali ini, atau lebih tepatnya seringkali, saya diperbudak oleh tiket. Ketemu tiket dengan tujuan dan waktu yang udah fixed, sehingga keinginan pun harus dikalahkan. Kalo ngomongin Cambodia, kota apa yang jadi primadona? Tentunya Siem Reap doonk... Saya pun kepengen ke sana. Tapi apa daya, tiket promo yang tersedia hanyalah tujuan Phnom Penh. Dengan waktu yang terbatas, saya nggak mau memaksakan diri ke Siem Reap. Ya udah gpp, yang penting jalan-jalan. Dan perjalanan ini tetap akan terasa spesial karena inilah perjalanan “kembali” saya. Kembali ke dunia traveling yang sempat hampir setahun saya tinggalkan.
 
Phnom Penh International Airport

Thursday, May 9, 2013

Kena Scam di Manila


Sekitar pukul empat pagi, pesawat Cebu Pacific yang saya naiki mendarat mulus di Bandara Ninoy Aquino, Manila. Ini pertama kalinya saya naik Cebu Pacific. Dan Philipina menjadi  negara ke-8 di Asean yang (akhirnya) bisa saya kunjungi. Meskipun, yah, lagi-lagi nggak bisa lama-lama. Bodo amat orang mau bilang apa. Asalkan tiketnya super murah, waktunya cocok, dan nggak perlu ambil cuti, saya hajar aja tiketnya. Kalo duit banyak dan cuti saya tak terbatas, tentu saya mau stay lebih lama di sebuah kota atau negara. Bener nggak? Hehehe...
 
Ready to depart to Manila

Meskipun masih pagi buta, antrean imigrasi udah panjang banget. Soalnya di waktu yang hampir bersamaan banyak pesawat yang baru aja landing. Nggak kurang dari 30 menit saya ngantre. Sementara pas clearance sendiri nggak sampe semenit. Wkwkwk... Hal pertama yang saya cari saat itu adalah area sepi yang bisa saya pake buat sholat. Tapi pas saya ke toilet di terminal keberangkatan yang berada di lantai atas, saya malah nemu Musholla. Syukur deh... Habis sholat Subuh, saya tidur2an di sekitar area check in sembari menunggu terang.

Sunday, February 3, 2013

Sabaidee Laos



Akhir tahun kemarin saya ke Laos lhooo... *sombong dikit ah* Hehehe... Ini adalah buah kesabaran saya menunggu beberapa bulan untuk keberangkatan yang belum pasti. Biasaaaa,,, promo tiket murah Air Asia. Jadi ceritanya, saya dapet tiket seharga 188MYR untuk penerbangan pulang pergi Kuala Lumpur-Vientiane. Pssssttt... Sebenernya harga tiketnya cuman 148MYR aja. Tapi berhubung saya keburu-buru beli tiketnya (takut terdepak ke “waiting room”), saya kepencet bagasi 20Kg seharga 40MYR. Duh!!! Tapi yah, tetep aja murah kan ya, untuk penerbangan selama 2jam 45 menit?

Trip saya ke Vientiane ini cuman sehari. Atau totalnya 2hari kalo dihitung sejak keberangkatan dan kedatangan dari Batam. Kenapa cuma sehari? Pertama, karena tiket yang saya beli itu setengah gambling. Saya belum pasti bisa berangkat. Masih inget kan cerita saya tentang Lebaran tahun lalu? Yupz, ijin untuk bisa cuti itu hanya Tuhan dan atasan yang tahu. Jadi kalo saya beli tiket untuk beberapa hari atau bahkan minggu, probabilitas untuk bisa berangkatnya itu semakin kecil. Maka saya ambil yang pati-pasti aja deh... 1 hari saja. Alasan kedua, berhubung cuti saya terbatas, mau saya tabung aja buat backpacking ke tempat jauh. Entah kapan dan kemana. Hehehe... :D

Saya nyampe di LCCT tengah malam. Langsung deh, nyari tempat buat tidur. Ketemu yang agak sepi di depan lounge deket pintu masuk. Saya ngemper di lantai. Tapi cuman bertahan sejam aja. Dingin euy!!! Akhirnya saya pindah ke pintu keluar terminal kedatangan domestik. Rame sih,,,, tapi minimal nggak kedinginan. Jam 4 pagi saya udah kebangun. Flight saya masih jam 7.15, tapi saya kepengen ngelarin urusan imigrasi sama security check dulu. Biar di dalem bisa ngelanjutin tidur lagi.


AK 1412 heading to VTE