Monday, May 13, 2013

Welcome Back My World - Phnom Penh 2012


Tahun 2012 mungkin adalah masa-masa suram saya sebagai traveler. Gimana nggak? Setelah berjaya dengan merealisasikan sebuah mimpi besar menginjakkan kaki di Benua Eropa akhir tahun 2011, praktis saya nggak kemana-mana lagi. Project buku cukup menyita konsentrasi saya. Kalopun ada perjalanan, itu terjadi di awal tahun ketika saya liburan seminggu ke Pulau Dewata. Selebihnya? Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk pulang ke Semarang. Sempat beberapa kali ke Singapore dan Malaysia sih... Tapi bagi orang Batam, perjalanan ke kedua negara itu sama aja kayak perjalanan dari Jakarta ke Puncak. So, ketika nemu tiket seharga 50 MYR untuk penerbangan ke Cambodia, saya nggak tunda-tunda lagi. Bungkuuuusss!!!

Ngomongin soal tiket, idealnya sih kita menentukan tujuannya dulu berdasarkan keinginan, menentukan waktunya, baru mencari tiket semurah mungkin. Tapi nampaknya kali ini, atau lebih tepatnya seringkali, saya diperbudak oleh tiket. Ketemu tiket dengan tujuan dan waktu yang udah fixed, sehingga keinginan pun harus dikalahkan. Kalo ngomongin Cambodia, kota apa yang jadi primadona? Tentunya Siem Reap doonk... Saya pun kepengen ke sana. Tapi apa daya, tiket promo yang tersedia hanyalah tujuan Phnom Penh. Dengan waktu yang terbatas, saya nggak mau memaksakan diri ke Siem Reap. Ya udah gpp, yang penting jalan-jalan. Dan perjalanan ini tetap akan terasa spesial karena inilah perjalanan “kembali” saya. Kembali ke dunia traveling yang sempat hampir setahun saya tinggalkan.
 
Phnom Penh International Airport



Cambodia menyambut saya dengan terpaan matahari pagi yang hangat ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Phnom Penh. Untuk ukuran bandara ibu kota negara, bandara ini tergolong kecil. Tapi bangunannya tampak baru dan sudah dilengkapi dengan fasilitas aerobridge. Proses imigrasi saya berjalan lancar dan cepat. Petugas imigrasi sama sekali tidak bertanya apapun. Langsung main stempel gitu aja. Hehehe...

Hari itu, saya sama sekali nggak bawa mata uang lokal. Berdasarkan informasi yang udah saya ketahui sebelumnya, mata uang USD beredar luas di Cambodia. Jadi saya nggak berencana menukarkan mata uang USD yang saya bawa. Begitu keluar area bandara, saya nyari-nyari tuk-tuk. Kebetulan saya langsung nemu di depan pintu keluar bandara. Setelah tawar-menawar, disepakati tarif 15USD untuk muter-muter setengah hari. Dari pagi sampe sore. Pengemudi tuk-tuknya nggak bisa bahasa Inggris. Tapi dia punya selembar karton yang berisi gambar-gambar tempat menarik di Phnom Penh. Saya tinggal menunjuk tempat yang ingin saya kunjungi. Dan sang pengemudi pun langsung mengantarkan saya.

Tuk-tuk yang saya naiki keliling Phnom Penh

Tujuan pertama saya adalah Tuol Sieng. Kenapa saya milih ke sini dulu? Soalnya lokasinya agak jauh. Dengan tuk-tuk, dibutuhkan waktu sekitar setengah jam dari pusat kota Phnom Penh. Tuol Sieng ini adalah bangunan sekolah yang menjadi saksi bisu kekejaman rezim Pol Pot. Tempat ini menjadi ladang pembantaian manusia. Salah satu pembantaian tersadis yang pernah terjadi di muka bumi ini. Kengerian mulai tampak ketika tuk-tuk yang saya tumpangi berhenti di depan gerbang. Ada dua orang yang mengerubungi saya. Yang satu kakinya buntung. Satu lagi matanya hanya satu. Apakah mereka salah satu korban kekejian Pol Pot? Saya tak tahu pasti. Yang pasti mereka terus mengejar saya sembari meminta uang. Saya tak kuasa menghindar. Gimana caranya menghindar kalau mereka menghadang saya? Ok, saya menyerah. Di dompet saya, pecahan terkecil hanya tersisa selembar 5USD. Selebihnya masih pecahan di atas 20USD. Ya sudah, saya berikan uang itu kepada salah satu dari mereka seraya berkata, “for both of you”.

Tapi itu adalah sebuah kesalahan fatal, kawan!!! Sang pria berkaki satu yang saya beri uang langsung pergi, sementara pria bermata satu masih terus mengejar saya. Astaga, kenapa saya begitu ceroboh? Lama nggak traveling ngebuat saya sering melakukan tindakan ceroboh. Bahkan beberapa bulan setelah perjalanan ini pun saya masih melakukan tindakan ceroboh. Masih ingat cerita tentang Manila kan? Hahaha... Pengemis-pengemis itu tentu aja nggak akan mau berbagi. Bukan hanya di Cambodia, di kampung saya di Semarang pun sama saja. Kalau nggak percaya, coba ngasih uang pada salah satu pengemis selepas shalat Jumat di masjid Baiturrahman. Pasti pengemis lain datang menghampiri. Untuk menghadapi hal ini, kuncinya satu saja, “Beri mereka semua uang, atau tidak sama sekali”.

Setelah membeli tiket masuk, saya mengikuti turis-turis lain menuju bangunan sekolah. Perlu diingat, ini bukan sekadar bangunan biasa. Bangunan-bangunan ini dulunya adalah barak sekaligus tempat penyiksaan. Ada sedikitnya 4 bangunan berlantai tiga yang berisi sisa-sisa kekejaman rezim Polpot. Bangunan pertama yang saya datangi berisi ranjang besi yang ternyata dulunya digunakan untuk menyetrum. Di depan bangunan yang terletak paling dekat dengan pintu masuk ini terdapat sebuah papan berisikan peraturan keamanan. Baru membacanya saja saya sudah cukup ngeri.

Salah satu bangunan Tuol Sieng. Difoto dari Lantai 2 bangunan lainnya.

Ranjang Tempat Penyiksaan Setrum

Peraturan Serem


Pada bangunan kedua, tampak isi ruangan di sekat-sekat kecil. Di tempat sempit itulah mereka dulu tinggal. Di depannya tampak dua buah tiang kayu berdiri vertikal dengan sebuah tiang horizontal sehingga berbentuk seperti gawang. Ini juga merupakan salah satu properti penyiksaan. Pada bangunan ketiga dan keempat terdapat sisa-sisa pakaian, alat penyiksaan, lukisan, hingga foto asli para korban yang pastinya membuat bulu kuduk berdiri.


Pastinya ini bukan tiang jemuran

Bak kayu ini diisi air trus korban dicelupin


Ok, cukup sudah. Saya tak mau berlama-lama ada di sini. Saya pun bergegas melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Sembari mencari-cari sopir tuk-tuk yang tadi mengantar, saya mendengar suara seseorang berteriak dari arah belakang. MasyaAllah, ternyata si pria bermata satu itu masih mengingat wajah saya. Dia terus mengejar, bahkan sampai saya naik tuk-tuk. Syukurlah, Sang pengemudi tuk-tuk cepat menyalakan mesin dan segera pergi dari tempat itu. Tujuan saya berikutnya adalah Royal Palace. Meskipun saya tahu, saat itu Royal Palace sedang ditutup selama beberapa bulan. Tapi minimal, saya kan bisa foto-foto dari luar gerbang. Saya juga bisa mengunjungi museum yang ada di belakangnya. Dan terutama, saya kepengen mampir ke Warung Bali yang ada di sampingnya.

Jalanan di Phnom Penh ini nggak terlalu ramai. Seperti negara tetangganya, Vietnam dan Laos, Cambodia juga mengadopsi lajur kanan untuk lalu lintas jalannya. Di sini masih banyak juga yang naik sepeda. Lucunya, beberapa di antara mereka ada yang pake helm. Bukan helm sepeda, tapi helm motor. Sementara pengendara sepeda motornya, masih banyak yang nggak mengenakan helm. Beberapa kali saya lihat, para biksu juga dibonceng sepeda motor. Saya juga sempat ngelewatin Central Market dan Monumen Kemerdekaan yang jadi icon kota ini. Kemudian saya mampir ke Wat Phnom. Saya dikenai donasi sebesar 1USD untuk memasuki wat ini.

Pas di jalan, nemu tuk-tuk unik ini. Puanjaaannggg...


Pengendara motor banyak yang nggak pake helm

Malahan pengendara sepeda pake helm

Central Market

Independence Monument

Wat Phnom terlihat kokoh berdiri di atas bukit. Tapi tenang aja, bukitnya nggak tinggi banget kok. Anak tangga yang harus didaki palingan cuman beberapa puluh aja. Bagian paling menarik dari wat ini tentu saja stupanya yang berwarna putih. Jangan lupakan pula relief ada di dinding bagian luar, serta lukisan-lukisan yang ada di bagian dalam bangunan. Psssttt... Karena ini tempat ibadah, jangan sampai membuat kegaduhan yah... Dan pastikan flash kamera dalam keadaan off.

Wat Phnom berdiri megah di atas bukit

Ada stupa putih di bagian belakangnya

Interior tempat sembahyang

Dari Wat Phnom, saya melanjutkan perjalanan ke Royal Palace, dan seperti yang udah saya duga, saya cuman bisa foto-foto dari luar aja. Saya lanjut ke National Museum yang nggak hanya menampilkan koleksi-koleksi arca, tapi bangunan museumnya pun sangat indah. Tapi sayangnya, kita nggak sembarangan bisa motret koleksinya. Ada yang dilarang sama sekali, ada juga yang diperbolehkan dengan membayar sejumlah donasi.

Royal Palace, Phnom Penh

National Museum

Selanjutnya, waktunya ngisi perut nih... Dan sesuai rencana, saya mampir ke Warung Bali. Warung ini dimiliki oleh Kang Firdaos yang asal Karawang dan udah lama menetap di Cambodia. Sore itu, saya dilayani oleh dua orang stafnya yang orang asli Cambodia. Tapi mereka berdua bisa sedikit-sedikit Bahasa Indonesia.

Tampak luar Warung Bali

Kang Firdaos dan saya yang badannya melar gara2 jarang traveling

Phnom Penh, sejauh yang saya alami, menurut saya cukup aman untuk turis. Tapi seperti biasa, jangan lupa untuk tetap waspada. Dimulai dari menawar tuk-tuk, pastikan harga yang disepakati udah fixed. Trus, ati-ati juga waktu di atas tuk-tuk. Karena bagian kanan kirinya terbuka, beberapa kali terjadi perampasan kamera ataupun tas. Paling aman, letakkan tas di bawah dan dililit ke kaki, dan lilit tali kamera beberapa kali di tangan. Mau lebih aman lagi? Ya nggak usah ngeluarin kamera. Hehehe...

Saya senang dengan kota ini. So many local people and they don’t treat me as a tourist. This city isn’t too touristy.

ARTIKEL TERKAIT:

10 comments:

  1. Waduh saya sih kapok sekapok -kapoknya ke kamboja, Phnom Penh terutama. Ditipu tukang tuktuk, mau diculik supir taksi, belanja dikembaliin kurang, pdhl qta ber 11 kesananya! Duh udah skali aja ke Phnom Penh en Siem Reap deh...5 hari udah berasa lama disana ngga enjoy, hebat euy bisa suka disana :)

    blog Traveling Cow

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuhh,,, serem amat. Mungkin kemarin kunci suksesnya, saya bisa dapet sopir tuk-tuk yang jujur kali ya Mbak? Kalo sampe apes dapet yang kayak di Manila ya mungkin ceritanya bakalan sama. Di interest places yang saya datengin, yang bikin saya nyaman tuh sama sekali nggak dikejar2 pedagang/pengemis kayak di Bangkok(kecuali di Tuol Sieng tentunya). Ya intinya, pergi kemanapun tetep musti waspada. Nggak ada tempat yang bener-bener aman 100persen :)

      Delete
  2. Ndraaaa... lo gemuk amat sekarang #eh #salahfokus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu foto taon lalu Ochaa... Waktu itu berat gw 74kg. Kalo sekarang berat gw cuman 66kg.

      Delete
  3. saya juga gak mau lagi ke Phom Penh. Males aja beli jajanan disuruh bayar harga turis. Dulu sih dapet supir tuk-tuk yang baik dan sabar banget nganterin kemana-mana. Tapi udah gak suka ma suasannya sih :(
    Saigon is much better :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti saya termasuk mujur yah nggak ngerasain ketidaknyamanan itu? Hehehe... Tapi saya tetep harus balik ke sana lagi. Belum ke Siem Reap soalnya :D

      Delete
  4. ternyata di sana ada tuk tuk juga ya kirain cuman di bangkok. Nice post, salam kenal mas ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mbak. Iya di Phnom Penh juga ada tuk-tuk. Tapi modelnya beda dengan di Thailand. Di sini tuk-tuknya sepeda motor yang dimodifikasi. Kalo di Bangkok tuk-tuknya sejenis bajaj :)

      Delete
  5. Waaa.. MYR 50.00 aja ke Cambodia.. amat murah sekali..
    Di sana kena pandai bertawar bersama tuk tuk.. jika tidak nanti bayaran lebih bangat..

    Toul Sieng tu memang menyeram kan.. beribu orang mati di bunuh di situ.. kesihan mereka..

    Warung bali?? di mana ya.. dulu agak susah juga mencari restoran halal di sana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Saya berulang kali dapat tiket murah dari Air Asia. 50MYR sudah all in dengan tax. Warung Bali ada di samping Royal Palace :D

      Delete