Friday, October 18, 2013

3 Flights in 3 Different Countries within 6 Hours

Ceritanya berawal dari Amsterdam. Saya keluar dari apartemen kakak sekitar pukul setengah empat dini hari dengan memakai baju hangat dan jaket tebal. Suhu saat itu memang hanya 11 derajat Celcius. Dalam hati, saya menyalahkan diri sendiri karena dengan cerobohnya memilih penerbangan pagi tanpa memperhitungkan faktor cuaca. Ya, pagi itu saya memang akan menuju Bandara Schipol. Pesawat yang akan membawa saya menuju Copenhagen akan take off pukul 7 pagi. Copenhagen bukan tujuan akhir karena saya hanya akan transit selama beberapa menit sebelum terbang kembali menuju Geneva. Swiss, ke sanalah saya akan pergi.

Karena hari masih pagi dan tram belum beroperasi, saya hanya bisa mengandalkan night bus yang beroperasi menggantikan jalur tram. Sayangnya, interval night bus ini tidak sesering tram. Di tempat saya saat itu, intervalnya satu jam sekali. Untungnya saya tidak harus menunggu lama karena malam sebelumnya, saya udah ngecek jadwal bus ini di halte. Satu hal, sebaiknya kita udah standby di halte beberapa menit sebelum jadwal. Ini karena busnya nggak berhenti di setiap halte. Dia cuman berhenti kalo ada penumpang yang nyetop aja. Nah, karena nggak selalu berhenti itu, kadang-kadang dia dateng lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Kayak bus yang saya tumpangi malam itu. Suasana di dalam bus pagi itu cukup ramai. Sebagian besar penumpangnya adalah orang-orang yang akan bekerja. Sebagian besar di antara mereka adalah imigran.  Saya salut dengan mereka. Sementara saya masih malas-malasan untuk bangun, mereka malah udah on fire dan bersiap kerja. Hidup di negeri orang itu penuh perjuangan, kawan...

Saya naik bus sampai di Stasiun Leylaan aja. Dari situ, saya naik kereta pertama menuju Bandara Schipol pukul 5 pagi. Saya sempet kaget juga sebenernya waktu ngeliat info keberangkatan kereta. Jam 5 pagi itu terlalu mepet. Saya niatnya mau naik kereta yang jam 4 pagi. Kereta menuju Schipol kan 24 jam. Tapi rupanya, kereta yang saya maksud itu nggak berhenti di Stasiun Amsterdam Leylaan. Ya udah deh... Mau gimana lagi. Kalo saya buru-buru ke Amsterdam Central juga bakalan makan waktu lagi. Toh, waktu tempuh menuju Schipol juga nggak nyampe 15 menit. Sampe di Schipol, saya langsung menuju kounter check in Scandinavian Airlines. Kelar check in, saya kudu ngantre x-ray dan body scanner. Di Departure 1, antrean ini untuk seluruh penerbangan. Bukan per gate. Jadinya antrean lumayan panjang. Tapi syukurlah, saya nggak telat nyampe ke ruang tunggu keberangkatan. Malahan saya masih sempet buka internet dulu.

I really hate a morning flight


Nggak lama menunggu, panggilan boarding tiba. Saya buru-buru naik supaya bisa cepet tidur di pesawat. Antrean boarding nggak begitu lama. Soalnya pesawatnya kecil, yakni tipe Boeing 717.  Konfigurasi tempat duduknya 2-3 dengan seat pitch yang lumayan longgar untuk kaki saya. Overall cukup nyaman sih. Hanya sayangnya, makanannya kudu bayar kayak maskapai low cost. Padahal ini maskapai full board loh... Bahkan termasuk anggota Star Alliance.


Boeing 717 Scandinavian Airlines at Schipol (Operated by Blue1)
Seat Pitch lumayan longgar


Makanannya musti bayar kayak Low Cost Carrier


15 menit sudah berlalu ketika Pilot mengumumkan bahwa ada kerusakan pada towing vehicle sehingga pesawat belum bisa di-push back. Tapi katanya, teknisi sedang memperbaikinya dalam 15 menit.

15 menit kembali berlalu dan Pilot mengumumkan kalau perbaikan belum bisa selesai dan akan digunakan towing vehicle pengganti.

10 menit kemudian, barulah pesawat benar-benar push back, taxi, dan take off.

Mendarat di Copenhagen Kastrup Airport, saya masih tenang-tenang aja. Kan saya pake penerbangan connecting. Jadi nggak perlu takut ketinggalan pesawat. Kalo dulu saya naik Sriwijaya Air dari Batam ke Semarang transit di Jakarta, pas di Cengkareng pesawatnya bahkan diparkir sebelahan. Saya tinggal turun tangga pesawat yang satu dan naik ke pesawat berikutnya. Ini di luar prosedur karena penerbangan pertama delay. Jadi saya bisa dapet shortcut. Saya pikir, barangkali di Copenhagen juga seperti itu.


Scandinavian Airlines at Copenhagen Kastrup Airport


Sekeluarnya dari pesawat, mata saya terbelalak ketika melihat monitor informasi penerbangan. Penerbangan lanjutan menuju Geneva ada di gate yang sangat jauh dan posisi saat itu udah boarding. Maka saya langsung lari sekuat tenaga menuju gate penerbangan lanjutan saya. Sesampainya di gate dimaksud, keadaannya udah kosong. Pesawatnya udah berangkat. Dan saya ketinggalan pesawat.

Tapi syukurlah, ini penerbangan connecting. Jadi saya hanya perlu melapor ke bagian transfer pesawat untuk dicarikan penerbangan berikutnya menuju Geneva. Dan berhubung penerbangan Scandinavian Airlines menuju Geneva hanya satu kali sehari, saya ditransfer ke penerbangan Swiss Air menuju Geneva dengan transit di Zurich. Asyiiiikkk!!!! Setelah memastikan bahwa bagasi saya ditransfer ke penerbangan Swiss Air, saya kembali berlari menuju gate. Soalnya, lagi-lagi posisinya udah boarding.

Pelayanan Swiss Air tampak sekelas lebih tinggi daripada Scandinavian Airlines. Selain menggunakan pesawat Airbus A321, setiap penumpang memperoleh makanan berupa roti, coklat, dan minuman. Kelebihan lainnya, adalah pelayanan bagi penumpang transit. Pesawat yang saya tumpangi mengalami delay karena padatnya bandara Zurich. Pesawat sempat holding hingga tiga kali sebelum memperoleh clearance untuk landing. Saat holding itulah saya juga disuguhi pemandangan pegunungan bersalju. Itu pertama kalinya saya ngelihat salju langsung euy! Ditambah lagi pemandangan cakep pedesaan di Swiss, membuat saya langsung kepengen tinggal di Swiss. Hehehe... Dan begitu mendarat, penerbangan lanjutan saya menuju Geneva juga udah boarding. Bagusnya, saya ditungguin. Bahkan dinaikin mobil khusus menuju pintu pesawat berikutnya. Dua jempol deh buat Swiss Air.


Makanan di penerbangan Swiss Air Copenagen-Zurich


Ada satu pesawat lagi yang juga holding. Terbang sejajar tapi beda altitude.



Salju di puncak pegunungan Swiss



Pemandangan indah sebelum mendarat



Airbus A321 Swiss Air at Zurich Airport



Saya dianter naik mobil kecil itu langsung ke pintu pesawat


Pesawat Swiss Air dari Zurich menuju Geneva yang saya tumpangi ternyata pesawat kecil. Tipenya Avro RJ100 dengan konfigurasi tempat duduk 2-3. Meskipun hanya penerbangan jarak pendek, Swiss Air tetap memberikan meal berupa coklat dan minuman. Kali ini tanpa roti. Setelah satu jam terbang, pesawat yang saya tumpangi pun mendarat di Bandara Geneva. Saya langsung menuju belt untuk mengambil bagasi.


Penerbangan jarak dekat Swiss Air tetep dapet beginian



Avro RJ100 Swiss Air at Geneva Airport


Satu jam berlalu. Belt bagasi udah berhenti muter. Dan bagasi saya nggak ada. Duh!!!

Lanjut ke sini...

ARTIKEL TERKAIT:

6 comments:

  1. Kereeennnn.... mantap perjalanannya Ndra....

    Sepertinya lagi rajin nulis nih.. Will there be a book titled "My backpack and koper honeymoon trip?"

    Keep writing.... Biar kami bisa baca baca pengalaman mu di Eropa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenkyu Bro... Si Dilla juga nyaranin gw nulis buku lagi. Kita lihat nanti. Mudah-mudahan gw bisa tekun nulis naskah buat buku lagi.

      Delete
  2. Sungguh hebat perjalanan nya.. :D
    pusing2 di eropah bagai pusing dalam bandar sahaja hehehee...
    selalu lah update ya.. mau tahu kecerian pengembaraan kamu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Saya juga nak tahu lebih banyak pengembaraan kamu di Afika:D

      Delete
  3. Indraaaaaaa, keren bener deh. Berapa kali ke Eropa sih sebenernya? Gile bener deh pokoknya, Salut. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Mumpung isih ng Batam. Saiki wis agak susah ke luar negeri karena udah pindah ke Jakarta. Waktunya lebih memprioritaskan tujuan domestik :D

      Delete