Tuesday, October 22, 2013

Ngicipin Airbus A380 Malaysia Airlines

Traveling emang hobi saya. Tapi saya juga suka naik pesawat. Dan berpergian dengan pesawat ini hampir selalu jadi bagian dalam setiap perjalanan saya ke luar negeri. Jadi setiap traveling itu saya bisa sekalian menjalankan dua hobi saya. Berkunjung ke tempat baru, juga ngicipin naik pesawat baru. Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya lagi jatuh cinta banget sama pesawat Airbus A380. Inget nggak waktu saya ke Bangkok tahun lalu? Itu saya bela-belain ke sana cuman buat ngicipin naik A380 milik Thai Airways. Ya sambil ngicipin naik pesawatnya, saya dapet bonus jalan-jalan di Bangkok. Kebetulan juga waktu itu saya belum pernah ke Bangkok.

Waktu ke Bangkok, saya begitu terpesona dengan pesawat raksasa pabrikan Airbus itu. Tapi waktu itu saya masih belum puas karena penerbangannya hanya jarak pendek, yakni untuk rute Singapore-Bangkok aja. Dan setelah menunggu beberapa bulan, ternyata kesempatan itu dateng juga. Malaysia Airlines baru saja meluncurkan Airbus A380-nya yang ketiga dan keempat untuk melayani rute Kuala Lumpur-Paris vv. Adapun pesawat pertama dan kedua udah terlebih dulu diluncurkan untuk melayani rute Kuala Lumpur-London vv. Nah, kebetulannya lagi, saya juga dapet tiket promo. Maka langsung saya hajar deh tiketnya. Hehehe...

Airbus A380 Malaysia Airlines at KLIA


Hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba. Malam itu saya udah berada di ruang tunggu Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Bagi yang udah pernah ke KLIA, tahu kan bangunan terminal satelit yang terpisah dari bangunan utama? Bentuknya kan seperti simbol “+” tuh... Nah, di bagian ujung terminal itulah apron A380. Di sana udah tersedia ruang tunggu dua lantai lengkap dengan tiga buah garbaratanya. Jadi proses menaikkan dan menurunkan penumpang pesawat jumbo ini bisa lebih cepat. Saya waktu itu kebagian tempat duduk di dek bawah. Emang saya sengaja milih tempat duduk di bawah. Soalnya pas naik A380 sebelumnya, saya udah nyobain duduk di atas. Jadi saya nyari pengalaman yang berbeda. Dalam hal konfigurasi tempat duduk ekonomi, Malaysia Airlines sama kayak Thai Airways. Untuk dek atas konfigurasinya 2-4-2 sementara dek bawah konfigurasinya 3-4-3. Yang membedakan di bagian belakang dek atas, kalo Thai Airways masih ada beberapa row tempat duduk di belakang pintu darurat. Kalo Malaysia Airlines nggak ada. Jadi tempat duduk paling belakang ya sebelum pintu darurat. Belakangnya lagi toilet dan galley tanpa ada jendela.

Economy Class A380 Malaysia Airlines (Lower Deck)

Seat Pitch lega jadi andalan Malaysia Airlines

Duduk di dek bawah ini ternyata lebih nyaman. Setidaknya menurut saya. Soalnya, dinding pesawatnya bisa dipakai untuk bersandar. Berbeda dengan dek atas yang dindingnya terlalu miring sehingga tempat duduknya tidak berhimpitan dengan dinding. Interior A380 milik Malaysia Airlines ini tidak jauh berbeda dengan Thai Airways. Masing-masing kursi juga dilengkapi layar monitor touchscreen yang cukup lebar. Layar monitor ini juga menampilkan pemandangan dari kamera yang terletak di bagian atas vertical stabilizer pesawat. Pemandangan dari kamera itu bisa kita lihat pada saat taxi, takeoff, dan landing.

Monitornya lebar dan dinding bisa dipake buat nyandar

Mengenai servis selama penerbangan, Malaysia Airlines saya nilai cukup memuaskan. Makanan besar disajikan dua kali dengan masing-masing diberikan pilihan dua macam menu. Di luar itu, penumpang juga mendapat satu kotak snack. Masih ada lagi, minuman disajikan berkali-kali. Dalam periode tertentu, selalu ada cabin crew yang berjalan di lorong menawarkan minuman. Saya sebagai penumpang merasa dimanjakan banget.

1st meal, Chicken Potato

2nd meal, Nasi Lemak

Soal entertainment selama penerbangan sih menurut saya lumayan lengkap. Tapi berhubung penerbangan ke Paris berangkatnya tengah malam, sementara pagi sebelumnya saya masih kerja sampe sore, saya lebih banyak tidur di pesawat. Selain karena ngantuk dan kecapekan, saya berencana langsung jalan-jalan sesampainya di Paris nanti. Satu hal lagi yang jadi kelebihan Malaysia  Airlines, di bagian belakang pesawat, deket sama tangga menuju upper deck, disediakan bilik sholat. Lengkap dengan sajadah dan mukena. Qiblat bisa ditanyakan ke awak kabin, atau ngeliat sendiri di monitor. Pada menu data penerbangan, ada arah ke Mekkah. Jadi qta bisa tetep melaksanakan rukun sholat seperti biasa.

Tangga menuju upper deck. Di sebelah kirinya ada bilik sholat.

Penerbangan ke Paris ini memakan waktu sekitar 13 jam dengan kecepatan rata-rata pesawat sekitar 900 km/jam. Tapi pada saat penerbangan kembali ke Kuala Lumpur, kecepatan pesawat sempet tembus 1000km/jam euy...

Tembus 1000 km/jam euy!


Akhirnya, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris. Di sana udah terlebih dahulu mendarat A380 milik Singapore Airlines dan Thai Airways. Bagi penggemar A380, Paris mungkin bisa jadi pilihan karena banyaknya maskapai yang mengoperasikan A380. Selain Malaysia Airlines, Singapore Airlines, dan Thai Airways, juga ada Emirates.

Foto-foto lainnya

Lagi descend. Langit Eropa tertutup awan.

Final approach

Pemandangan desa kecil sebelum mendarat

Lagi nunggu clearance buat taxi ke apron.
Bentang sayapnya jauh lebih lebar daripada taxiway.

A380 Malaysia Airlines at CDG Airport

A380 Thai Airways at CDG Airport

ARTIKEL TERKAIT:

8 comments:

  1. ngidam banget nih naik big momma A380

    ReplyDelete
    Replies
    1. A380 rute terdekatnya Singapore-Hongkong by Singapore Airlines :D

      Delete
  2. MAS juga operate KUL-HK on A380

    ReplyDelete
  3. Kapan GARUDA INDONESIA ADA A380 AIRBUS NYA.. ?
    MALAYSIA AJA UDAH ADA, INDONESIA KAPAN...... ! ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Garuda Indonesia kayaknya belum ada rencana beli A380. Mungkin pertimbangan bisnisnya dianggap belum terlalu menguntungkan dengan adanya armada A380 di dalamnya.

      Delete
  4. A380 yg rutenya dari dan ke indonesia ada gak mas? Apa harus via SIN dan Malay?

    ReplyDelete