Tuesday, October 29, 2013

Kincir Angin Belanda di Zaanse Schans

Pertama kali ke Belanda dua tahun lalu, saya bisa dibilang belum ke Belanda. Waktu itu saya cuman menjadikan negara ini sebagai tempat transit sebelum lanjut ke Portugal, Spanyol dan Maroko. Soalnya perjalanan saya waktu itu kan dalam rangka kerja. Walopun kerjaan yang dimaksud itu ya jalan-jalan juga. Hehehe... Nah, pada kunjungan yang kedua, saya meluangkan waktu lebih lama di Belanda, khususnya di Amsterdam dan sekitarnya. Saya jadi bisa lebih leluasa mengeksplor negara ini. Dan bicara soal Belanda, selain bunga tulip, kayaknya sulit untuk dipisahin sama yang namanya kincir angin. Nah, dimana kita bisa nemuin kincir angin? Ada Kinderdijk dan Zaanse Schans. Tapi kali ini saya kepengen nulis tentang Zaanse Schans dulu. Soalnya tempat ini paling mudah di jangkau dari Amsterdam. Di tempat ini kita bisa ngelihat beberapa kincir angin yang masih beroperasi. Ya meskipun operasionalnya ini dalam rangka turisme. Tapi percaya deh, tempat ini sangat layak untuk dikunjungi. Tentang Kinderdijk, mungkin di posting-an berikutnya yaa...

Gimana cara menuju Zaanse Schans? Ada kejadian lucu waktu saya mau ke sana. Sebelumnya, saya emang udah googling tentang gimana caranya ke Zaanse Schans. Tapi waktu itu saya cukup yakin dengan ingatan saya. Jadinya nggak saya catet. Nah, begitu saya nyampe stasiun Amsterdam Central, bisa ditebak, saya lupa. Bukan hanya lupa nama stasiun yang akan saya tuju. Tapi juga lupa nama tempatnya. Waktu di bagian informasi, saya cuman bisa nanya, “Would you tell me how to get Zaan,,, Zaann,,,, rrrr, Windmill?”. Untungnya staf informasi langsung ngerti maksud tujuan saya dan berkata, “You have to take a train to Koog Zandijk at platform 11B”. Ok, saya pun langsung bergegas ke platform 11B. Nggak perlu beli tiket karena saya punya Eurail Global Pass. Untuk perjalanan dengan kereta lokal, sebagian besar nggak perlu beli tiket alias gratis. Sementara untuk kereta jarak jauh, kereta cepat, dan beberapa kereta tertentu, saya hanya perlu membayar biaya reservasi.
   
Harap diingat nama stasiunnya, Koog Zandijk.


Nyampe di platform dimaksud, keretanya belum ada. Saya kembali bertanya ke petugas buat mastiin, “Excuse me Meneer, is this the correct platform for a train to Khkhkh,,, Khhhk, rrr, Windmill?”. Mampus, lagi-lagi saya lupa. Tapi lagi-lagi si petugas ngerti maksud saya, “Yes, the train to Koog Zandijk will arrive in a few minutes”. Saya, “Khhhh, Kkkkhhk,,,,”. Saya masih kesulitan mengerti dan melafalkan nama stasiunnya. “You may take all train from this platform, and go down after four station”, tampaknya petugas tersebut mengerti kebingungan saya. Hehehe... Tips dari saya, terutama buat yang baru pertama kali dan belum familiar dengan kosakata Belanda, sebaiknya catat nama stasiun stasiunnya, Koog Zandijk(Baca:Kogghh Zandayk).

Tak lama, kereta jenis Sprinter pun dateng. Kereta ini akan membawa saya ke Koog Zandijk. Untuk diketahui aja, di Belanda ada tiga jenis kereta lokal. Yang paling cepet itu kereta Fyra. Kereta ini hanya berjalan pada rute tertentu dan nggak berhenti di sembarang stasiun. Yang kedua, kereta intercity. Kereta yang ini paling banyak ditemui di Belanda. Warnanya kuning dan double deck. Kereta ini melayani hampir seluruh kota di Belanda. Tapi nggak berhenti di setiap stasiun. Nah, ada lagi kereta Sprinter. Kalo kereta ini berhenti di setiap stasiun. Dan kereta jenis ini yang saya naiki.

Meskipun berhenti di setiap stasiun, perjalanan menuju Koog Zandijk nggak terlalu lama. Palingan cuma 15 menit aja. Turun kereta, saya langsung mengikuti petunjuk pintu keluar menuju Zaanse Schans. Keluar dari stasiun, yang pertama kali tampak adalah sebuah vending machine. Kalo biasanya mesin beginian isinya makanan atau minuman, kali ini isinya agak lain, yakni sebuah peta. Saya hanya perlu memutar tuas yang ada di sebelah kanan dan keluarlah petanya. Gratis!!! Berbekal peta itu, saya melanjutkan perjalanan menuju Zaanse Schans.


Peta Zaanse Schans Gratis

Jalan kaki menuju Zaanse Schans ternyata lumayan jauh juga. Setidaknya saya butuh sekitar 20 menit dengan berjalan cepat. Saya harus ngelewatin pabrik coklat (atau roti ya?), sebuah kincir angin, dan jembatan. Nah, di jembatan inilah saya bisa dapetin lanskap seluruh kincir angin yang ada di Zaanse Schans, lengkap dengan rumah-rumah tua khas Belanda. kalo lagi beruntung, kita bisa ngeliat prosesi  jembatan diangkat untuk memberikan jalan bagi kapal besar yang lewat di bawahnya.


Pemandangan Zaanse Schans dari jembatan
Setelah nyeberangin jembatan, sampailah saya di pintu masuk Zaanse Schans. Dari situ, ada dua pilihan untuk mengelilingi area ini. Pertama dengan berjalan kaki, kedua dengan menyewa sepeda. Karena saya punya banyak waktu, tentunya saya pilih jalan kaki doonk... Selain biar hemat, juga sekalian olahraga.

Selamat datang di Zaanse Schans
Nggak jauh dari pintu masuk ada kanal ini
Di Zaanse Schans, sebaiknya meluangkan waktu minimal 3 jam. Karena komplek kincir angin ini begitu luas. Kita juga bisa masuk ke masing-masing kincir angin dan melihat cara kerjanya. Masing-masing kincir angin tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Di lantai atas, kita juga bisa berfoto dengan background sungai dan kincir angin lainnya. Sebuah foto andalan yang khas Belanda banget. Tapi jangan lupa untuk menyiapkan sekitar 2 Euro untuk memasuki kincir angin tersebut. Masuk Zaanse Schans emang gratis, bayarnya cuman kalo masuk ke dalam kincir anginnya aja. Saya sendiri nggak masuk ke seluruh kincir angin. Cuman masuk ke dua kincir angin aja. Bisa tekor kalo masukin semuanya satu-satu. Hahaha....


Windmill in Zaanse Schans
Belum ke Belanda kalo belum foto dengan background kincir angin
Bagian dalem kincir angin
Bagian dalem kincir angin
Pemandangan dari atas salah satu kincir angin
Di kincir angin yang paling ujung, ada dermaga kecil dan sebuah perahu. Kita bisa naik perahu itu ke sisi seberang. Ongkosnya cuman 1 Euro kalo nggak salah. Dan perahu ini tetep berangkat meskipun hanya satu penumpang aja. Waktu itu, yang jadi nahkoda adalah kakek-kakek. Nyampe di seberang, kita bisa nikmatin pemandangan sungai dengan background kincir angin di seberang sana. Juga ada rumah-rumah khas Belanda yang menjadi daya tarik tempat ini. Suasananya waktu itu nggak terlalu ramai turis. Padahal di seberang sungai sana, saya kesulitan buat berfoto tanpa ada background turis lain. Mungkin karena rumah-rumah model begitu juga ada di sana, di tempat kincir angin berada, meskipun jumlahnya nggak banyak. Entahlah...


Pemandangan rumah-rumah tua di seberang
Opa-opa ini siap mengantar ke seberang
Pemandangan Kincir Angin difoto dari seberang
Rumah-rumah kayu nggak jauh dari pintu masuk Zaanse Schans
Kambingnya kayaknya seneng banget bisa tinggal di Belanda :p
Perjalanan menyusuri kincir angin dan rumah-rumah tua ini berbentuk lingkaran. Kalo nggak banyak waktu, cukup jalan menyusuri dua atau tiga kincir angin, kemudian kembali ke titik awal sebelum kembali ke stasiun. Tapi kalo waktu senggang, bisa menyusuri kincir angin sampe habis, nyeberang sungai, dan menyusuri rumah-rumah tua sebelum kembali ke stasiun. Akhirnya, saya kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke tempat menarik lainnya.

ARTIKEL TERKAIT:

7 comments:

  1. Keren banget tulisannya :) Jadi inget pernah dikirimin postcard dari Zan... Zaaab.... ngg windmill ini hehehe. Semoga kelak bisa berkesempatan liat langsung. Amiiiiiinnn

    ReplyDelete
  2. waaah.. itu kincir angin belanda yang terkenal. keren banget bisa liat langsung ya? kapan gueeeee????? huhuhuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sekaligus ngejawab komen lu waktu gw pertama kali ke Belanda dulu Mil. Gw dulu belum sempet ngeliat windmill.

      Delete
  3. Salam kenal Indra :)

    Sedang mencari info hal perjalanan ke sini langsung ke blog ini..tq for the info!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Terima kasih dah berkenan mampir ke sini :)

      Delete
  4. Salam kenal Indra,

    Mau tanya sedikit ya.. Apa yang bikin kamu beli Eurail Global Pass dibandingkan beli lepasan gitu? Dan Eurail Pass ini mengcover kereta-kereta apa saja selain Thalys?

    ReplyDelete