Friday, November 8, 2013

Balada Nuker Uang

Europe Honeymoon Series
Sesampainya kami di Bandara Changi Singapura, kami langsung menuju pemeriksaan imigrasi. Tidak seperti biasanya, hari itu clearance kami agak sedikit terhambat. Di kolom alamat pada kartu imigrasi, kami nulis bahwa kami cuman transit aja sebelum melanjutkan perjalanan ke Amsterdam. Pengalaman saya sebelumnya, hampir pasti selalu langsung dikasih lewat. Baik itu cuman transit menuju Batam, ataupun transit menuju negara lainnya. Tapi hari itu, petugas imigrasinya minta diperlihatkan tiket lanjutan kami menuju Amsterdam.

Kami sedikit kelabakan karena lupa naruh tiketnya dimana. Seingat saya, tiketnya ada di tasnya Sinta. Maka saya minta Sinta buat ngebongkar isi tasnya. Dan tiket itu nggak ditemukan. Wah, gimana nih?! Barangkali saat itu petugas imigrasinya mau menggiring kami ke ruangan pemeriksaan sebelum saya teringat kalo sesaat sebelum berangkat tadi pagi, saya mindahin tiket dari tasnya Sinta ke tas saya. Buru-buru langsung saya buka deh tas saya dan tiket itu masih ada di tempatnya. Huh!!! Dasar pelupa!!! Kelar urusan imigrasi, kami musti mengambil dan menitipkan bagasi. Setelahnya, kami naik MRT menuju Harbourfront.

Nah, di atas MRT menuju Harbourfront ini kami terlibat perdebatan seru. Perdebatan tentang sesuatu yang sangat penting dalam sebuah trip. Apalagi kalo bukan soal duit. Jujur aja, perjalanan kami diawali dengan berbagai ketidakberuntungan. Berawal dengan tiket yang mahal, kemudian berlanjut ke persoalan uang. Apes banget. Karena terlalu sibuk memikirkan urusan pernikahan, kami lupa untuk menukarkan uang. Sebenernya bukan lupa sih, tapi lalai. Kami selalu menunda-nunda waktu untuk nukerin uang kami ke Euro. Begitu ada kesempatan untuk nukerin uang, itu udah sore di hari kerja terakhir sebelum kami berangkat. Money changer-nya udah tutup. Jadilah kami ke Singapura hanya membawa mata uang Rupiah dan USD. Rencananya, akan kami tukar di Singapura saja.
 
Urusan nuker mata uang asing juga bisa jadi ribet

Thursday, November 7, 2013

Terbang dengan A330-200 Garuda Indonesia



Perjalanan ke Singapura ini merupakan titik awal dimulainya honeymoon trip saya dan istri. Singapura menjadi destinasi pertama kami sebelum terbang lagi ke Eropa. Bagi saya dan Syani, istri saya, negara kota ini memang sudah tak asing lagi karena tiga tahun lalu kami pernah bersama-sama mengunjunginya. Namun perjalanan kali ini tetap terasa spesial karena kini kami sudah menikah. Hehehe... Dan juga lebih spesial lagi karena kali ini kami terbang dengan maskapai kebanggaan kita, Garuda Indonesia

Sebelum berangkat, kami baru selesai packing pukul 3 dini hari. Kali ini bukan karena sifat malas saya. Kali ini, kami baru benar-benar bisa mulai packing pukul 12 malam. Dari pagi hingga siang, kami ada acara Ngunduh Mantu di rumah saya. Sementara tamu-tamu masih terus berdatangan sampai petang. Setelahnya, kami masih harus mengambil barang-barangnya Syani di rumahnya, kemudian kembali lagi ke rumah saya. Dan semuanya baru selesai pukul 12 malam. Tanpa sempat beristirahat, kami langsung mulai packing.

Pukul 4 pagi, kami sudah berangkat ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Kami akan naik penerbangan pertama Garuda Indonesia ke Jakarta yang akan berangkat pukul 6 pagi. Di Jakarta, kami akan transit sebentar sebelum melanjutkan penerbangan ke Singapura. Hampir seluruh keluarga mengantar kami, baik dari keluarga saya maupun Syani. Ini karena sekembalinya kami dari Eropa, Syani akan mengikuti saya tinggal di Batam. Jadi ini seperti perpisahan kecil Syani dengan keluarganya. Saya masuk terlebih dahulu untuk check in dan meletakkan bagasi. Ternyata, untuk penerbangan connecting ke rute luar negeri dengan Garuda Indonesia, bagasinya sudah di-tag langsung ke kota tujuan akhir. Jadi di Jakarta kami tidak perlu disibukkan dengan urusan bagasi. Hal yang sama pun berlaku juga untuk penerbangan dari luar negeri yang connecting dengan penerbangan domestik Garuda di Indonesia.

A330-200 Garuda Indonesia at SHIA

Wednesday, November 6, 2013

Europe Honeymoon Series-Visa Visa Visa



Sebagai pemegang paspor Indonesia, kami harus menerima kenyataan bahwa kami perlu visa untuk ke Eropa. Demi selembar stiker itu, kami harus menyerahkan berlembar-lembar dokumen ke kedutaan. Selama dokumen lengkap, sebenernya ngurus visa ini nggak susah. Hanya saja, prosesnya agak ribet dan makan waktu. Mungkin juga makan biaya karena beberapa Kedutaan mensyaratkan kehadiran untuk wawancara. Bagi yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin pengorbanan biaya ini nggak terlalu terasa. Tinggal naik angkot atau busway aja. Tapi bagi saya yang tinggal di luar Jawa, untuk ke Jakarta ini saya harus keluar ongkos lumayan besar.


Ilustrasi Visa Schengen dari Kedutaan Belanda

Untuk sementara, lupakan dululah soal ongkos. Dalam beberapa minggu ke depan, kami  bakal dibuat kerepotan soal urusan visa. Tentang memilih kedutaan, kami sedari awal emang mau apply di Kedutaan Belanda. Wajar aja sih kami pilih Belanda. Pertama karena pesawat kami akan mendarat di Belanda. Negara ini akan jadi negara pertama dan terakhir yang kami kunjungi di Eropa. Kedua, kami punya keluarga yang mengundang kami ke sana. Jadi kami bisa apply visa kunjungan. Ketiga, kalo bagi saya pribadi sebagai frequent traveler, Kedutaan Belanda pada saat itu memberikan fasilitas tidak perlu hadir untuk wawancara. Itu artinya, saya bisa hemat tiket pesawat ke Jakarta. Dokumen saya tinggal nitip ke Sinta aja. Sinta juga tetep perlu ongkos ke Jakarta. Tapi nggak terlalu mahal karena saat itu dia tinggal di Semarang.

Tapi masalahnya, untuk apply visa di Kedutaan Belanda itu kami harus membuat janji via internet. Sementara saat itu, situs web kedutaan sedang diperbaiki. Mengingat waktu yang semakin mendesak, kami harus memikirkan alternatif kedutaan untuk apply visa. Sempat terpikir untuk apply di Kedutaan Hongaria yang juga tetanggaan sama Kedutaan Belanda. Tapi itu berarti, kami harus merevisi ulang itinerary karena kunjungan ke Hongaria hanya sebentar dan pesawat kami pun dari Asia nggak mendarat di Budapest, melainkan di Amsterdam. Akan jadi tanda tanya besar bagi Kedutaan Hongaria kalo kami apply di sana. Sebenernya emang yang paling cocok untuk kami apply tetep Kedutaan Belanda.

Monday, November 4, 2013

Europe Honeymoon Series-Dua Kepala Satu Itinerary



Setelah urusan tiket beres, bukan berarti pekerjaan selesai. Kami masih harus menyusun itinerary. Sekilas terlihat simpel. Tapi nyatanya, bagian ini memerlukan perhatian ekstra. Ini bukan hanya soal milih negara atau kota mana yang akan dikunjungi. Tapi juga soal menyatukan dua kepala. Yang namanya dua orang, tentu memiliki dua keinginan yang beragam. Bisa sama, bisa juga beda. Dan perbedaannya ini biasanya jauh lebih banyak daripada persamaannya. Timbul konflik di antara kami.
 
Urusan nyusun itinerary, termasuk di dalamnya nyari tiket antar kota/negara, bisa jadi ribet.

Saya kepengennya sih ke Yunani, Hongaria, Kroasia dan Slovenia. Prioritas saya lebih ke Eropa timur karena hampir seluruh negara di Eropa barat udah saya kunjungi. Yups, alasan yang cukup masuk akal memang. Negara-negara Eropa kan totalnya mencapai puluhan negara. Mengingat ongkos ke sana yang mahal, tentunya saya memprioritaskan kunjungan ke negara yang belum pernah saya kunjungi. Sementara Sinta kepengen ke Turki, Italia, Swiss dan Prancis. Jreng!!! Negara-negara yang mau kami kunjungi nggak ada satu pun yang irisan. Gimana nih??!!!

Di sini saya mulai merasakan perbedaan mencolok antara traveling sendiri dan dengan orang lain. Waktu saya masih sendiri, urusan itinerary ini hampir selalu sesuai dengan apa yang saya inginkan. Tapi kali ini saya nggak sendiri lagi. Saya harus mulai belajar menerima perbedaan. Saya udah nggak boleh egois nurutin kemauan saya sendiri. Harus ada sinergi dengan partner perjalanan yang juga partner hidup saya. Soalnya kalo saya keukeuh ngikutin kemauan saya, tentu partner saya jadi nggak bahagia. Kalo dia nggak bahagia, tentunya saya juga nggak bahagia. Nah, kalo sama-sama nggak bahagia, apa enak traveling-nya? Apalagi ini judulnya honeymoon loh... Hehehe...

Sunday, November 3, 2013

Europe Honeymoon Series-Sebuah Keputusan Besar

Bismillahirrahmanirrahim. Berhubung banyak request, saya mulai deh nulis tentang liburan honeymoon saya dan istri. Bakalan panjang banget dan bersambung terus nih... Tapi biar nggak bosen, bakalan saya selipin dengan cerita lainnya di antara banyak posting-an tentang honeymoon ini. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan istri saya yah... Namanya Sinta. Ok, tanpa banyak prolog, mari kami mulai ceritanya. Selamat menikmati....

Perkenalkan, saya dan istri.


Sebuah keputusan besar? Hmm... Beberapa bulan sebelum menikah, saya dan Sinta sempet ngerasa bimbang sebelum bener-bener memutuskan buat honeymoon ke Eropa. Pertimbangannya apa lagi kalo bukan soal uang. Walau gimanapun, namanya traveling ke Eropa nggak mungkin lebih murah daripada traveling ke negara tetangga ataupun domestik. Nggak usah terlalu jauh tentang biaya hidup di sana deh, coba aja lihat tiket pesawatnya. Harga tiket promo standar ke Eropa tuh ada di kisaran 7-8 juta Rupiah. Dengan tiket segitu, saya bisa honeymoon mewah ke Yogyakarta atau Bali. Baru tiket doank loh... Belum lagi biaya hidup selama di sana.

Pertimbangan kedua, kami akan menikah pada Bulan Agustus yang berarti puncak musim panas di Eropa. Atau bisa didefinisikan, mahal-mahalnya tiket dan akomodasi selama di Eropa. Dan ada satu pertimbangan lagi dari saya pribadi yang agak egois. Saya kan udah pernah ke Eropa. Pengen sih ke sono lagi. Tapi apa nggak sayang sama duitnya? Buat nikahan itu udah makan ongkos gede loh... Mendingan ke Bali Lombok aja. Emang sih, Sinta belum pernah ke Eropa, tapi dia udah pernah tinggal di Australia. Sementara saya malah belum pernah ke sana. Cukup adilkan kalo kami nggak usah ke Eropa? *langsung ditoyor Sinta*

Saturday, November 2, 2013

Lihat Bunga Tulip di Keukenhof Belanda

Tentang Belanda lagi yaa... Dikit aja tapi. Kalo berkunjung ke negeri kincir angin ini pada pertengahan bulan Maret sampe Mei, kita bisa sekalian lihat bunga tulip. Bunga ini juga menjadi sesuatu yang khas Belanda banget meskipun aslinya bukan dari negara ini. Pada bulan-bulan tersebut, bunga tulip yang lagi mekar, bakalan banyak kita jumpai di taman-taman kota. Nah, kalo kepengen ngeliat bunga tulip yang jumlahnya sangat banyak, kita bisa dateng ke Keukenhof yang terletak di Kota Lisse, nggak jauh dari Amsterdam.

Saya waktu itu dateng ke Keukenhof sekitar akhir Bulan Maret. Untuk menuju ke Keukenhof, saya naik kereta dulu menuju Bandara Schipol. Keluar bangunan terminal, saya langsung menuju halte yang terletak di seberang. Tapi saya nggak lihat bus tujuan Keukenhof. Setelah tanya sana sini, ternyata halte bus menuju Keukenhof itu terpisah dari halte bus-bus tujuan lain. Keluar bangunan terminal, saya musti belok kanan dan nyusurin bangunan terminal sampe ujung. Nah, di ujung itulah haltenya. Sebenernya di situ juga udah ada pintu masuk bangunan terminal. Jadi kalo posisi masih di dalem terminal, nggak perlu keluar dulu untuk mencapai halte ini.

Sampai di halte, saya langsung beli tiket di kios. Tiket yang saya beli jenisnya tiket combi. Maksudnya, tiket ini udah termasuk tiket bus pulang pergi dan tiket masuk Keukenhof. Pagi itu, antrean buat naik bus lumayan panjang. Saya harus menunggu hingga bus ketiga sampai dapet giliran naik bus. Karena antrean cukup panjang, pagi itu jadwal keberangkatan bus nggak pake interval. Pokoknya begitu ada bus datang, langsung deh diberangkatin lagi. Perjalanan menuju Keukenhof ini memakan waktu sekitar setengah jam.

Keukenhof

Sleep at Singapore Changi Airport

Pertama kalinya nulis di blog ini, judulnya ”One Day Trip to Singapore”. Walaupun gaya bahasanya masih acak-acakan (namanya juga newbie), artikel ini lumayan ramai traffic-nya karena bisa jadi panduan praktis buat yang baru pertama kali ke Singapore. Tapi sayangnya, ada satu bagian yang kayaknya musti saya edit. Bukan tentang tarif bus atau sejenisnya, tapi tentang tidur di Bandara Changi. Soal tarif, kurs dan sejenisnya, emang hukumnya wajib buat di-update sendiri karena seiring berjalannya waktu, kemungkinan besar akan ada perubahan harga.

Saya pertama kalinya tidur di Bandara Changi tahun 2010 ketika pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat selepas tengah malam. Ya seperti kita semua tahu, tidur di airside area (area sebelum kita clear imigrasi) di Bandara Changi dan banyak bandara internasional lainnya, tentunya sangat nyaman. Banyak sofa atau bahkan kursi yang memang didesain untuk tidur. Lain halnya dengan di luar dimana tempat untuk tidurnya hanya berupa bangku panjang yang kalo kita tidurin, paginya bikin badan pegel-pegel. Saya pun dalam beberapa kesempatan kalo mendaratnya tengah malem ya nginep dulu di dalem dan baru immigration clearance keesokan harinya selepas subuh. Sampai dengan akhir 2012 sih aman-aman aja. Nggak pernah ada masalah. Jadi ya saya pikir, itu emang dibolehin.
 
Ilustrasi tidur di Changi Airport. Diperankan oleh model.