Wednesday, December 31, 2014

Selamat Tahun Baru 2015

Tak terasa kita sudah tiba di penghujung tahun 2014. Tahun ini mungkin bisa dikatakan sebagai tahun terbaik saya sebagai blogger. Jumlah entri saya dalam setahun mencapai 56 atau dua kali lebih banyak daripada entri tahun-tahun sebelumnya. Banyak teman yang menduga bahwa tahun ini saya traveling tiada henti. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Sepanjang tahun 2014 ini, saya hanya satu kali traveling yang syukur alhamdulillah dapat dikatakan sebagai penyempurna, yakni beribadah umroh ke tanah suci. Sudah puluhan negara saya lalui dengan biaya yang kalau dijumlahkan mungkin bisa digunakan untuk umroh berkali-kali atau bahkan berangkat haji. Namun selama itu pula saya seperti terlena dan melupakan perjalanan wajib bagi umat muslim yang mampu. Dan baru pada tahun 2014 ini saya tersadar dan meneguhkan hati untuk sedikit menyisihkan waktu dan biaya untuk pergi beribadah ke tanah suci. Pada pertengahan tahun, saya sempat pula berkunjung ke Kalimantan. Namun itu hanya perjalanan bisnis singkat dan dapat dikatakan tak ada waktu untuk traveling. Selebihnya, saya hanya melakukan perjalanan mingguan antara Jakarta dan Semarang.

Ada beberapa hal yang membuat saya jadi jarang traveling. Namun yang utama adalah karena kesibukan kerja dan kuliah. Setiap hari kerja, sebanyak dua pertiga hari saya habiskan di luar rumah. Sementara pada akhir pekan, saya memanfaatkannya untuk pulang kampung ke Semarang. Memang, sebagai seorang travel addict saya merasa ada yang kurang jika tidak berpergian ke suatu kota/negara yang belum pernah dikunjungi. Tapi dengan jarang traveling, saya jadi produktif menulis blog. Tahun-tahun sebelumnya memang saya sering traveling, tapi jarang nulis. Dan pengalaman perjalanan yang belum sempat saya tulis itulah yang saya ingat dan tuliskan sebagai entri blog tahun 2014 ini. Mudah-mudahan tahun 2015 nanti saya bisa produktif juga seperti tahun ini. Dan sepertinya saya perlu liburan  :D

HAPPY NEW YEAR teman-temaannn.... :D

Friday, December 19, 2014

Berapa Biaya Perjalanan ke Eropa?

Setelah sebelumnya saya menulis tentang itinerary ke Eropa, kali ini saya ingin menjawab pertanyaan yang sering sekali diajukan kepada saya. Berapa biaya perjalanan ke Eropa? Mari kita bedah satu per satu.

Tiket Pesawat
Inilah pos pengeluaran terbesar dari perjalanan ke Eropa. Dan jadi lebih besar lagi karena kurs Rupiah saat ini sedang lemah. Harga tiket pesawat ke Eropa rata-rata sekitar USD800 s.d 1.200 atau antara Rp 10juta s.d 14juta. Namun bukan berarti tidak pernah lebih murah dari itu. Kalau tiket dari Jakarta mahal, coba cari tiket dari Singapura ataupun Kuala Lumpur. Ini karena tiket menuju kedua kota tersebut dari beberapa kota di Indonesia relatif murah dan dari kedua kota tersebut relatif sering ada tiket promo ke Eropa. Saya sendiri pernah memperoleh tiket seharga SGD900-1.000 untuk penerbangan dari Singapura. Jadi kesimpulannya, rajin-rajinlah mencari alternatif kota keberangkatan. Jangan hanya terpaku dengan Jakarta saja.

Dimana mencarinya? Untuk mempermudah, bisa menggunakan situs pencarian seperti www.skyscanner.co.id dan sejenisnya. Situs tersebut akan membantu mengkompilasikan situs-situs maskapai dan agen perjalanan sehingga memudahkan kita. Jika sudah ketemu tarif, rute dan jadwal yang cocok, kita akan diarahkan menuju masing-masing situs maskapai atau agen perjalanan yang dipilih. Namun terkadang harga yang tertera di situs ini belum ter-update.

Biaya Terbesar: Tiket Pesawat ke Eropa

Friday, December 12, 2014

Garuda Indonesia Kini Maskapai Bintang Lima



Di penghujung tahun 2014 ini maskapai Garuda Indonesia memberikan kado yang indah bagi rakyat Indonesia. Pada hari Kamis 11 Desember 2014, Skytrax mengumumkan bahwa Garuda Indonesia masuk ke dalam maskapai penerbangan bintang lima. Skytrax merupakan lembaga pemeringkat bandara dan maskapai penerbangan global yang berbasis di Inggris. Garuda Indonesia sendiri sebelumnya telah berulang kali menerima penghargaan dari Skytrax. Di antaranya 4 Star Airline SKYTRAX 2010”, “World’s Most Improved Airline 2010”, “Best Regional Airline in Asia 2012”,  "The World's Best Regional Airline 2012", "The Top Five Economy Class Airline 2012", "Best Economy Class Airline Seat 2013", "World's Best Economy Class 2013", “The World's Best Airline Cabin Crew 2014”, dan yang terbaru adalah 5 Star Airline SKYTRAX 2014. Kini Garuda Indonesia sejajar dengan maskapai-maskapai kelas dunia yang sebelumnya telah meraih penghargaan ini seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific Airways, Qatar Airways, Asiana Airlines, Hainan Airlines, All Nippon Airways, dan Malaysia Airlines.

Congratulation Garuda Indonesia, The Airline of Indonesia.

www.garuda-indonesia.com

www.airlinequality.com

Saturday, November 22, 2014

Itinerary 18 Hari di Eropa



Setelah sebelumnya tentang “Itinerary 10 Hari di Eropa” dan “Itinerary 15 Hari di Eropa”, kali ini saya ingin berbagi tentang Itinerary selama 18 Hari di Eropa. Perjalanan selama ini mungkin jarang dilakukan oleh pekerja kantoran di Indonesia. Soalnya 18 hari itu kalau ditambah hari keberangkatan dan tiba di Indonesia itu 20 hari atau hampir 3 minggu. Saya sendiri bisa melakukan perjalanan ini setelah bekerja selama beberapa tahun sehingga memperoleh hak cuti tanpa dibayar. Jumlahnya maksimal dua bulan. Tapi cuman saya ambil sebulan aja. Kalo diambil dua bulan, bisa-bisa rumah saya didatengin debt collector karena nggak bisa bayar utang. Hehehe...

Kota terlama yang saya kunjungi adalah Roma (5 hari), Istanbul (4 hari), juga Amsterdam dan sekitarnya (4 hari). Di kota Paris yang merupakan salah satu kota tujuan favorit malah cuman numpang lewat. Demikian halnya kota Venice. Saya belum menjadikannya prioritas. Perubahan itinerary pada akhir perjalanan (menuju Berlin) membuat saya harus memotong jumlah hari di Paris. Saya memaksakan diri ke Berlin karena ingin menonton pertunjukan wayang dari salah satu dhalang muda terbaik Indonesia.

Sunset in Istanbul

Rute perjalanan: Amsterdam-Rotterdam-Delft-Amsterdam-Istanbul-Capadoccia-Istanbul-Roma-Venice-Paris-Amsterdam-Berlin-Amsterdam-Eindhoven-Amsterdam

Friday, November 21, 2014

Itinerary 15 Hari di Eropa



Melanjutkan posting-an sebelumnya, “Itinerary 10 Hari di Eropa”, kali ini saya tuliskan itinerary perjalanan selama 15 hari atau dua minggu di Eropa. Jumlah hari ini rasanya paling cocok bagi para pekerja di Indonesia. Tidak terlalu sebentar, tapi juga tidak terlalu lama. Memang sih akan menghabiskan jatah cuti tahunan. Tapi siapa juga yang mau ke Eropa setiap bulan? Saya mau sih... Asal ada yang mbayarin atau ngasih bibit pohon duit. Hehehe... Perjalanan ke Eropa bagi orang Indonesia adalah sebuah perjalanan besar. Jadi perlu perencanaan keuangan secara matang. Jujur aja, saya beli tiket pesawat aja bayarnya nyicil selama setahun. Pssttt... Jangan bilang siapa-siapa yah! Tapi bodo amat! Yang penting saya bisa ke Eropa. Yuk, kita lihat itinerary saya!
 
Cais da Ribeira, Porto
Rute perjalanan: Amsterdam-Eindhoven-Porto-Pinhao-Porto-Lisbon-Barcelona-Madrid-Marrakesh-Fez-Casablanca-Amsterdam

Ringkasan perjalanan:
Hari ke-0

Thursday, November 20, 2014

Itinerary 10 Hari ke Eropa



Kita tahu kalau Benua Eropa itu luas dan terdiri dari beberapa puluh negara. Hal ini sering mengakibatkan kebingungan dalam menyusun itinerary. Nah, kali ini saya ingin berbagi itinerary saya ke Eropa dengan titik awal serta akhir perjalanan di Kota Paris dan lama perjalanan 10 hari. Masih ingat Slow vs Fast Traveler? Dalam hal perpindahan kota/negara ini memang tergolong fast. Saya sering banget pindah kota/negara. Tapi ritme perjalanan saya di satu kota tergolong santai dan nggak maksa harus ke semua tempat. Perjalanan ke Eropa selama 10 hari rasanya cocok bagi yang ingin ke Eropa tapi cutinya terbatas. Dengan memanfaatkan dua kali weekend dan satu hari libur nasional, kita hanya perlu mengambil cuti selama lima hari saja.


Pegunungan bersalju di Swiss

Rute perjalanan: Paris-Brussels-Amsterdam-Praha-Amsterdam-Geneve-Luzern-Interlaken-Paris

Ringkasan perjalanan:
Hari ke-0
Singapore-Kuala Lumpur-Paris by Airbus A380 Malaysia Airlines

Wednesday, November 12, 2014

Fast Traveler vs Slow Traveler



Dalam hal gaya traveling setidaknya ada dua tipe traveler, yakni fast traveler dan slow traveler. Saya sendiri penganut keduanya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai kedua tipe traveler tersebut.

Fast Traveler
Sesuai namanya, “fast” berarti cepat. Traveler tipe ini lebih mengutamakan kuantitas. Tidak terlalu lama di suatu kota atau negara sebelum berlanjut ke tempat lainnya. Menurut pengalaman pribadi, ada beberapa alasan kenapa saya memilih tipe ini.

Pertama karena alasan keterbatasan cuti. Orang Indonesia memang termasuk golongan fakir cuti. Dalam satu tahun hanya diberikan jatah cuti tahunan sejumlah 12 hari. Lumayan sih, bisa jadi tiga minggu kalau ditambah weekend dan hari libur nasional. Eits! Tunggu dulu! 12 hari itu masih belum dipotong dengan cuti paksa. Apa itu cuti paksa? Istilah resminya cuti bersama. Intinya kita dipaksa libur oleh pemerintah. Dan lucunya, cuti ini mengurangi jatah cuti tahunan. Biasanya cuti paksa melekat pada Hari Raya Idul Fitri dan Natal. Terkadang juga dipaksa libur kalau ada hari libur nasional yang bertepatan dengan hari Selasa atau Kamis. Jadi hari Senin atau Jumat libur. Jumlahnya dalam setahun antara 4-5 hari. Jadi cuti tahunan orang Indonesia sebenarnya hanya 7-8 hari saja.

Seperti naik Formula 1. Cepat tapi tak sempat menikmati pemandangan.

Sunday, November 9, 2014

Kereta Api Indonesia Dulu dan Sekarang


Saya sedikit tergelitik menulis posting-an ini setelah mendengar suara miring tentang mantan Direktur Utama PT.Kereta Api Indonesia (PT.KAI) yang kini diangkat menjadi Menteri Perhubungan RI, Pak Ignasius Jonan. Saya tidak mengenal Beliau secara pribadi dan belum membaca biografinya. Saya juga tidak tahu bagaimana Beliau memimpin PT.KAI. Namun saya hanya ingin berbagi pengalaman mengenai perubahan radikal di tubuh PT.KAI sejak Beliau menjabat sebagai Direktur Utama. Tentunya dari sudut pandang penumpang. Bukan dari sudut pandang pegawai PT.KAI ataupun pihak-pihak yang merasa dirugikan. Jadi posting-an ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu. Harapan saya hanya satu. Kereta api Indonesia menjadi semakin baik lagi.

Sebagai mahasiswa di Jakarta dengan uang saku pas-pasan, dulu saya sangat mengandalkan transportasi kereta api untuk pulang kampung ke Semarang. Kereta api menjadi satu-satunya moda transportasi termurah. Bayangkan, pada kurun waktu tahun 2005-2009 saya kuliah, tiket kereta api kelas ekonomi dari Jakarta menuju Semarang hanya Rp28.000. Jadi pulang pergi hanya Rp56.000. Murah banget kan? Namun sayangnya, harga tiket yang murah itu berbanding lurus dengan pelayanannya. Nah, ini perbedaan yang saya rasakan sebagai penumpang kereta api, dulu dan sekarang.

Stasiun Kereta Api Bandung

Thursday, November 6, 2014

Hotel Van Gogh Amsterdam (Review)



Hotel Van Gogh. Jika sedang mencari penginapan di Amsterdam, hotel yang satu ini mungkin bisa dipertimbangkan. Letaknya sedikit di luar centrum sehingga jauh dari hingar-bingar. Lokasinya cukup strategis dekat dengan Rijks Museum. Selain terkenal akan koleksinya, museum ini juga menjadi landmark Amsterdam dengan logo raksasa “Iamsterdam” di depannya. Aksesnya cukup mudah karena dilalui jalur tram nomor 2 dan 5. Halte tram terdekatnya adalah Van Baerlestraat yang hanya berjarak satu halte dari Hobbemastraat, halte dimana Rijks Museum berada.

Jenis kamar yang tersedia di Hotel Van Gogh terdiri dari dua jenis, yakni kamar private dan juga kamar dorm. Yups, para backpackers juga menjadi target pemasaran hotel ini. Kamar dorm yang tersedia ada tiga jenis, yaitu mixed dorm 6 beds, female dorm 6 beds, dan mixed dorm 8 beds. Tarif per malamnya mulai dari 18 Euro tanpa sarapan pagi. Semua kamar memiliki kamar mandi private yang cukup mewah sebagaimana layaknya hotel. Hotel ini juga memiliki lift. Jadi tidak perlu khawatir jika kebagian kamar di lantai paling atas.

Untuk memesan kamar dorm bisa melalui situs www.hostelbookers.com ataupun www.hostelworld.com. Yang perlu diingat, nama hotel ini berubah jadi Hostel Van Gogh. Saya sendiri sempat ragu-ragu saat memasuki lobi hotel karena plang namanya tertulis “Hotel” sementara pada lembar reservasi saya tertulis “Hostel”. Tapi rupanya sama saja. Sementara itu, jika ingin memesan kamar private bisa melalui situs www.booking.com dengan tarif mulai dari 89 Euro. Secara keseluruhan, saya menyukai hotel ini karena tarifnya cukup murah, kamarnya mewah, dan jaraknya tidak terlalu jauh di luar centrum.

Hotel Van Gogh

Monday, November 3, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 2)

Ini lanjutan posting-an sebelumnya, "Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)"Di kounter penjualan tiket, sekali lagi kami ditolak. Beginilah nasib tiket promo. Sekali ketinggalan ya tiketnya hangus (Next time perlu pertimbangan matang sebelum memutuskan beli tiket promo). Sementara tiket untuk esok hari harganya luar biasa mahalnya. Kami yang belum ikhlas kehilangan tiket karena merasa ini bukan salah kami, kembali menemui supervisor. Kami banding-bandingkan maskapainya dengan maskapai KLM dan maskapai low cost seperti Easyjet. Di Bandara Schipol, KLM menyediakan banyak kios self check in dan kounter automatic baggage drop. Sementara Easyjet, dengan kasus yang sama persis, masih memberikan kesempatan bagi penumpangnya untuk check in. Padahal harga tiketnya promo dan sama-sama unrefundable. Easyjet masih memberikan toleransi kepada penumpang apabila antrean pada saat itu sangat panjang. Mereka memberikan line khusus untuk penumpang dengan penerbangan segera. Saya juga cerita tentang staf di kounter check in yang tidak mengarahkan saya ke supervisor sedari awal.

Di luar dugaan, supervisor tetap menyalahkan kami. Katanya, "Kalau kalian mulai mengantre sebelum jam 12 siang, antreannya tidak sepanjang ini". Lah, mana kami tahu kalau lewat jam 12, di bandara ini antreannya bakalan panjang? Dia sama sekali tidak mau membantu kami. Intinya, tiket tetap hangus. Di kemudian hari, saya sempat mengirim email yang berisi komplain tentang kejadian ini, dan hanya ditanggapi secara diplomatis dengan penjelasan peraturan mereka.

Antrean check in, mengular bentuk huruf "S" hingga ke ujung sana.

Saturday, November 1, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)

Ini tentang cerita perjalanan saya dan istri yang rencananya saat itu akan terbang dari Istanbul menuju Amsterdam untuk selanjutnya menuju Budapest. Sesuai peraturan hotel, kami check out pukul 11 pagi. Penerbangan kami memang masih sekitar 4 jam lagi. Tapi kami tidak mau mengambil risiko. Lebih baik datang lebih awal daripada ketinggalan pesawat kan? Amit-amit deh! Untuk menuju Bandara Internasional Ataturk, kami memilih untuk naik transportasi umum saja. Tentunya dengan alasan supaya lebih hemat. Dari hotel, kami perlu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju halte tram. Ya sebenarnya bisa lebih cepat dari itu. Tapi tas seberat 20 kilogram yang kami bawa sungguh memperlambat kami. Beberapa meter sebelum halte tram, kami juga sempat mampir ke toko souvenir. Jadilah kami tiba di halte pukul 11.40.


Tak lama menunggu, tram pun datang. Kami segera meloncat ke dalamnya. Perjalanan menuju bandara ini memerlukan waktu sekitar satu jam. Ini termasuk transit satu kali untuk berganti moda transportasi dari tram ke metro. Kami pun tiba di bandara pukul setengah satu lewat. Alhamdulillah, kami masih bisa sampai di bandara tepat pada waktunya. Penerbangan kami masih dua setengah jam lagi. Waktu yang lebih dari cukup untuk sekadar check in. Keluar stasiun metro, kami segera menuju terminal keberangkatan internasional. Dan kami berdua sama-sama terkejut.

Bandara Istanbul Ataturk

Monday, October 27, 2014

Review Perjalanan 5 Tahun

Melanjutkan posting-an sebelumnya “Setelah 5 Tahun Berlalu”, kali ini saya ingin me-review pengalaman perjalanan saya.


My Passport (habis sebelum waktu)

Negara yang paling sering dikunjungi
Singapura menempati urutan pertama dengan lebih dari 50 kali kunjungan. Terdengar “Wow” dan congkak ya? Hehehe... Jangan berprasangka buruk dulu. 90 persen kunjungan ke Singapura hanya sekadar transit karena saya tinggal di Batam. Negara ini menjadi starting point saya sebelum melanjutkan perjalanan ke negara lainnya, atau malah pulang ke Jakarta ataupun Semarang. Menempati urutan kedua adalah Malaysia dengan 16 kali kunjungan. Selain sebagai starting point, kota-kota di Malaysia juga sering saya kunjungi karena kedekatan jarak. Dari Pulau Batam ada ferry langsung ke Johor Bahru. Kalaupun lewat Singapura, Johor Bahru juga mudah dicapai dengan bus.

Maskapai yang paling sering saya naiki
Untuk maskapai domestik, tentu saya paling sering naik Garuda Indonesia dan Lion Air, dua maskapai terbesar di Indonesia. Di luar maskapai lokal Indonesia, saya paling sering naik Air Asia. Meskipun banyak kompetitor, sejauh ini Air Asia masih yang terbaik menurut saya. Selain karena tarif yang terkadang tidak masuk akal, jaringan rutenya pun sangat banyak. Untuk maskapai full service luar negeri, saya paling sering naik Malaysia Airlines. Sudah 9 kali saya terbang dengan Malaysia Airlines dengan 5 tipe pesawat berbeda. Saya naik Malaysia Airlines karena kebetulan pada saat mencari tiket, maskapai ini yang memberikan tarif termurah.

Saturday, October 25, 2014

Setelah 5 Tahun Berlalu


Awal Juni tahun 2009 menjadi hari yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu oleh kantor, saya ditempatkan di Pulau Batam. Masih teringat jelas betapa saya yang waktu itu masih berusia 20 tahun sangat tidak menyukai keputusan tersebut. Seumur hidup saya waktu itu belum pernah sekalipun keluar Pulau Jawa lebih dari seminggu. Pulau Jawa benar-benar menjadi zona nyaman bagi saya. Namun siapa yang menyangka kalau di kemudian hari, saya sangat bersyukur ditugaskan di Pulau Batam. Dari pulau ini, saya bisa melihat langsung gedung-gedung pencakar langit di seberang lautan. Itulah Singapura. Di seberang sana itu sudah luar negeri. Saya jadi semakin bersemangat menjalani hari-hari saya di Batam. Suatu saat nanti, saya harus nyeberang ke Singapura. Saya pun segera mengurus paspor.

Pada saat itu, saya belum kenal dengan istilah backpacking. Bagi saya, jalan-jalan ke Singapura itu harus ikutan tur yang banyak tersedia di travel agent Pulau Batam. Maka saya pun mencari tahu harga paket tur ke Singapura. Tidak terlalu mahal. Paket all in hanya sekitar satu juta Rupiah. Jauh lebih murah bila dibandingkan dengan paket sejenis yang dipesan dari Jakarta. Hampir saja saya berencana memesan salah satu paket tur ketika mengetahui ada teman sekantor yang baru pulang dari Singapura. Menurutnya, ke Singapura nggak perlu ikut tur. Cukup mudah kok jalan sendiri. Maka saya pun minta diajak ke Singapura. Meskipun ya bayarnya sendiri-sendiri karena kita berdua masih sama-sama anak baru di kantor. Eh, ternyata dia mau. Makasih banyak yaa...

at ION Orchard, Singapore, October 2009. Photo courtesy: Fauzan

Thursday, October 23, 2014

Wisata Kota Pontianak

Setelah sebelumya menulis tentang “Kedai Kopi Aming Pontianak”, kali ini saya ingin berbagi tentang wisata kotanya. Pontianak merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Kota ini sekaligus menjadi tempat transit bagi para traveler yang ingin melakukan perjalanan darat menuju Malaysia dan Brunei Darussalam. Ada apa saja di Pontianak? Berikut saya tuliskan beberapa di antaranya.

Tugu Khatulistiwa
Bangunan yang satu ini boleh dibilang merupakan ikon utama Kota Pontianak. Tugu Khatulistiwa didirikan pada tahun 1928 dan disempurnakan pada tahun 1930 dan 1938. Tujuan didirikannya sendiri untuk menentukan titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Tak banyak yang tahu kalau tugu ini hanya setinggi lebih kurang empat meter dan terletak di dalam bagian dasar bangunan tinggi  yang selama ini kita kenal dengan Tugu Khatulistiwa. Ya, tugu yang tinggi besar itu merupakan duplikat dari Tugu Khatulistiwa yang asli dan baru selesai didirikan tahun 1991.
 
Tugu Khatulistiwa Pontianak

Friday, October 17, 2014

Road Trip to Berlin



Semoga belum bosan dengan Eropa yaa... Kebetulan memang perjalanan terjauh dan terlama di luar negeri yang saya lakukan baru di Eropa saja. Lama perjalanan saya di Eropa jika dijumlahkan mencapai dua bulan dengan kunjungan ke sepuluh negara. Jadi lumayan banyak cerita yang bisa saya bagi. Kali ini saya ingin berbagi tentang road trip dari Amsterdam menuju Berlin. Pada saat itu saya hanya duduk sebagai penumpang. Mobil dikendarai oleh abang saya. Sebenarnya saya merasa nggak enak juga disetirin. Tapi apa boleh buat? Saya belum punya SIM atau driving licence Internasional, kemudian saya belum terbiasa dengan lalu lintas lajur kanan, dan juga belum terbiasa dengan kemudi mobil asal Eropa beserta setirnya yang terletak di sebelah kiri. Namun sejujurnya, berkendara di Eropa sangat nyaman. Jarang sekali ada traffic, klakson, dan kendaraan-kendaraan yang seenaknya berpindah jalur. Selain itu, panduan GPS juga sangat lengkap dan detail. Jadi tidak perlu khawatir tersesat.

Hari masih gelap ketika bus Eurolines yang saya tumpangi dari Paris tiba di Amsterdam. Setelahnya, saya sempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil pribadi menuju Berlin. Tujuan utama kami menuju Berlin sebenarnya adalah untuk menonton pertunjukan Dewi Sri. Karena pergi berempat, tampaknya opsi road trip adalah yang terhemat. Apalagi kepastian berangkat kami tentukan pada saat-saat terakhir. Tiket pesawat ataupun kereta tentunya sudah melambung tinggi.
Road Trip to Germany

Thursday, October 16, 2014

Kursi Favorit Kereta Api Ekonomi Indonesia


Selama empat tahun tinggal di Pulau Batam, saya relatif jarang pulang kampung ke Semarang. Ini karena saya harus naik pesawat untuk pulang. Setelah pindah ke Jakarta, saya jadi sering pulang ke Semarang. Selain jaraknya yang relatif dekat, moda transportasinya pun banyak pilihan. Selain pesawat, ada juga kereta api dan bus. Dari ketiga jenis moda transportasi tersebut, saya paling suka naik kereta karena waktu tempuh yang cepat dan tarifnya yang paling murah. Naik pesawat memang hanya 45 menit. Tapi harga tiketnya rata-rata 500 ribuan. Selain itu kita harus sudah tiba di bandara dua jam sebelum jadwal terbang. Dan apabila terbang dari Bandara Soekarno Hatta, itu sangat jauh dari tempat tinggal saya di Jakarta Timur. Dalam kondisi normal saja satu jam perjalanan. Apalagi hari Jumat sore? Tentunya bisa memakan waktu dua jam. Itu pun sulit diprediksi. Dari Bandara Halim yang dekat dengan tempat tinggal saya sebenarnya ada penerbangan maskapai Citilink ke Semarang. Tapi sayangnya tidak ada jadwal keberangkatan malam sehingga saya harus bolos kerja.



Naik bus memang nyaman. Terminal keberangkatannya pun dekat dengan rumah. Saya lumayan sering naik bus malam menuju Semarang. Tarifnya cukup murah, hanya 150 ribu sampai dengan 200 ribuan Rupiah. Ini sudah termasuk makan malam. Tapi sayang, jadwal berangkat dari Jakarta relatif mepet dengan jadwal pulang kantor saya. Kalau jalanan lancar tentu tidak masalah. Tapi siapa yang bisa memprediksi kemacetan di Jakarta?

Nah, kalau naik kereta api, jadwal berangkatnya memberikan saya cukup waktu untuk bersiap-siap dulu sebelum berangkat ke stasiun. Selain itu, stasiun kereta api relatif dekat dengan tempat tinggal saya, baik di Jakarta maupun di Semarang. Waktu tempuhnya juga hanya enam sampai tujuh jam. Waktu tempuh ini relatif pasti selama tidak ada kejadian luar biasa. Dan harga tiketnya sangat murah. Hanya sayangnya, cukup sulit memesan tiket secara go show ataupun menjelang keberangkatan dikarenakan banyaknya peminat. Jadi sebaiknya untuk perjalanan weekend, pesan tiketnya jauh-jauh hari karena tiket sudah bisa dipesan 90 hari sebelum keberangkatan.


Kereta Ekonomi AC

Monday, October 13, 2014

Menikmati Keindahan Sungai Douro Portugal



Tampaknya Portugal belum menjadi prioritas bagi traveler asal Indonesia dan mungkin juga Asia Tenggara. Ya setidaknya selama saya berkunjung ke negara ini, tidak satu pun turis serumpun yang saya jumpai. Turis asal Asia yang saya jumpai berasal dari China. Sempat juga saya bertemu dengan Saudara-saudara asal Pakistan dan Bangladesh. Hanya saja, mereka memang menetap di Portugal. Sementara sebagian besar turis berasal dari Eropa. Entah kenapa negara ini belum begitu populer di Indonesia. Padahal Portugal tak kalah indah dengan negara tetangganya, Spanyol dan juga Prancis. Negara ini juga memilik ikatan yang sangat kuat dengan Indonesia. Ratusan tahun yang lalu, pelaut-pelaut asal Portugal menjadi pelaut Eropa pertama yang datang ke Indonesia. Masih ingat kan, pelajaran sejarah semasa sekolah? Hehehe..

Setelah posting-an terdahulu yang berjudul “Pesona Lisbon di Kala Senja” dan juga "Romantisme Porto", kali ini saya ingin berbagi tentang perjalanan menyusuri Sungai Douro. Perjalanan yang saya lakukan ini menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Sao Bento, Porto, menuju Pinhao. Kereta yang digunakan masih ditenagai mesin diesel. Salah satu dari sedikit jalur kereta api di Eropa yang belum terlektrifikasi.

Stasiun Porto Sao Bento

Wednesday, October 8, 2014

Tips Membawa Bagasi Kabin

Sebagai traveler mandiri, tentunya kita selalu berusaha mencari cara agar biaya perjalanan dapat ditekan seminimal mungkin. Salah satu biaya yang menjadi sasaran untuk dihemat adalah biaya bagasi. Kita tahu bahwa harga tiket sebagian besar maskapai low cost carrier belum termasuk biaya bagasi. Jika ingin menitipkan bagasi ke dalam ruang kargo pesawat, kita akan dikenakan biaya lagi. Dan biaya tersebut terkadang lebih mahal daripada harga tiket pesawat itu sendiri. Cukup ironis bukan?

Dan ternyata cukup banyak traveler yang berusaha menghindari biaya bagasi tersebut dengan cara membawa masuk bagasinya ke dalam kabin. Padahal barang bawaan yang diperkenankan untuk dibawa masuk ke kabin pesawat sangat dibatasi, baik beratnya maupun dimensinya. Namun mereka seakan tak peduli dengan peraturan bagasi kabin tersebut. Malah ada yang merasa bangga karena sukses membawa masuk backpack berukuran besar dan berat ke dalam kabin. Kenapa bagasi kabin dibatasi? Mari kita lihat dari dua sudut pandang, yakni dimensi dan berat.
 

Monday, October 6, 2014

Kedai Kopi Aming Pontianak



Jika sedang berkunjung ke Kota Pontianak, sebaiknya tak melewatkan kegiatan nongkrong di warung kopi. Tampaknya kegiatan minum kopi sudah menjadi tradisi bagi para warga di kota ini. Banyak sekali kedai kopi yang selalu dipadati pengunjung seperti di Jalan Gajahmada dan Tanjungpura. Minum kopi bukan hanya sekadar menikmati cita rasa kopi. Kegiatan ini sekaligus juga merupakan sarana bersosialisasi penduduk setempat dengan latar belakang yang bermacam-macam. Ada yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan hingga para pejabat negara. Dan salah satu kedai kopi yang terkenal di Pontianak adalah “Kedai Kopi Aming”.

Terletak di Jalan H. Abbas 1 nomor 157, Pontianak, kedai kopi ini selalu ramai dipadati pengunjung sejak pukul 6 pagi hingga 11 malam. Saya sendiri berkesempatan mampir pada pagi hari dan juga malam hari. Pada waktu-waktu tersebut, pengunjung kedai kopi Aming sedang mencapai puncaknya. Seluruh kursi terisi penuh sehingga saya harus menunggu beberapa saat sampai ada pengunjung yang keluar. Jalanan sempit di depannya juga membuat kita harus memarkir kendaraan agak jauh. Namun hal ini tak menyurutkan niat para penikmat kopi untuk minum kopi di Kedai Kopi Aming.
 
Kedai Kopi Aming Pontianak