Thursday, January 23, 2014

Ketika Panggilan Itu Tiba

Saya niat menulis ini semata-mata hanya ingin berbagi tentang awal mula saya terpanggil menunaikan ibadah umroh. Siapa tahu cerita saya turut menggugah pembaca sekalian untuk berangkat ke tanah suci. Ritme kegiatan turut saya sampaikan agar menjadi gambaran bagi teman-teman sekalian dan sama sekali tidak bermaksud riya'.


Cerita Sebelum Berangkat
Tentu ada banyak cerita di balik munculnya keinginan atau panggilan untuk menunaikan ibadah Haji atau Umroh ke tanah suci. Demikian halnya dengan saya yang Alhamdulillah baru saja pulang dari tanah suci. Panggilan untuk saya ternyata datang di tempat yang jauh dari Indonesia. Tepatnya di Istanbul, Turki, ketika saya bersama istri mengunjungi Topkapi Palace. Loh, kok bisa? Lha ini ada cerita tersendiri. Kami hampir aja nggak sempet mengunjungi istana ini loh... Karena nggak sempet riset, kami berencana mengunjungi Topkapi Palace pada hari Selasa, atau hari terakhir sebelum kami meninggalkan Istanbul. Tapi ternyata istana ini tutup. Sempat mengikhlaskan batalnya kunjungan ke istana ini, kami malah ketinggalan pesawat dan diharuskan meng-extend kunjungan kami di Istanbul. Dan kami pun jadi bisa mengunjungi istana.

Di Istana Topkapi, kami masuk ke dalam gedung yang berisi peninggalan Nabi Muhammad SAW. Peninggalannya antara lain rambut, gigi, janggut dan tapak kaki Beliau. Ada juga pedang Beliau dan para sahabat. Yang semuanya membuat saya terharu dan merasa rindu kepada Beliau. Saat itu juga saya menaruh keinginan di dalam hati, “Saya harus segera pergi ke tanah suci!”. 

Labbaik Allahumma labbaik


Pulang dari Eropa, keinginan untuk berangkat ke tanah suci sedikit meredup karena saya disibukkan dengan kepindahan saya dari Batam menuju Jakarta. Tapi awal Desember 2013 lalu, saya kembali teringat dengan keinginan itu. Pemicunya adalah adanya pameran biro Haji dan Umroh di Jakarta Convention Center (JCC). Saya bersemangat datang dan saat itu juga saya mendaftar. Saya mendaftar sendiri. Istri saya nggak ikut. Selain karena istri saya udah menunaikan ibadah Umroh, dana yang kami miliki saat itu baru cukup untuk memberangkatkan satu orang. Kebetulan ada biro yang memberikan tarif 1600 USD untuk perjalanan Umroh selama 9 hari dengan keberangkatan tanggal 2 Januari 2014. Dan tanggal 2 Januari lalu saya pun berangkat ke Jeddah dengan menumpang OrbitPacifica Airways.

Pesawat yang saya gunakan saat itu adalah tipe Airbus A340-300 dengan konfigurasi tempat duduk kelas ekonomi 2-4-2. Uniknya pesawat ini, meskipun hanya single deck, engines-nya ada 4 buah dan landing gear-nya ada 3 set. 2 set masing-masing terdiri dari 4 roda mengapit 1 set yang hanya terdiri dari 2 roda (atau 4 roda pada seri yang lebih tinggi). Usia pesawat ini meskipun udah belasan tahun, kenyamanannya masih terjaga. Sayangnya, ya namanya pesawat tua, entertainment di dalam pesawat bisa dibilang nggak ada. Ada sih monitor di masing-masing tempat duduk, tapi sebagian nggak bisa dipake. Saya ini kok tergolong apes, pulang pergi nggak kebagian kursi yang monitornya nyala (Hey!!! Mau ibadah apa mau jalan-jalan!!!!).

Belasan jam terbang cuman bisa ngaca doank pake monitor ini

Meskipun berjam-jam bengong di pesawat, saya masih bisa menikmati makanan yang disajikan. Rasanya enak dan cocok dengan lidah saya. Dan karena pesawat ini transit di Kuala Lumpur dan OrbitPacifica, makanan yang disajikan sebanyak 4 kali. 1 kali waktu penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur, 2 kali waktu penerbangan Kuala Lumpur-OrbitPacifica, dan 1 kali waktu penerbangan OrbitPacifica-Jeddah.

Nasi Ayam

Omelette

Selama penerbangan, hidung saya tak henti-hentinya mencium aroma minyak kayu putih ataupun minyak tawon. Dan toilet pun jorok. Basah dan tisu bertebaran dimana-mana. Sebuah pemandangan yang lazim apabila terbang dengan airlines timur tengah yang mengangkut jamaah dari desa. Padahal asal saya juga dari desa. Wkwkwk... Tapi saya nggak boeh menggerutu, kan niatnya mau ibadah. Hehehe...

Penerbangan dari Jakarta menuju Jeddah dengan rute yang saya tempuh memakan waktu sekitar 11,5 jam di luar waktu transit. Cukup lama memang. Seandainya saya naik Garuda Indonesia atau Saudi Arabian Airlines, tentu bisa jauh lebih cepat dan pesawat yang digunakan adalah Boeing 777-300ER terbaru. Loh, kok ngedumel lagi??? Payah!! Hahaha...

Cerita di Madinah
Alhamdulillah saya udah di Madinah. Hotel yang saya tempati bernama Al Majeed Suites Hotel. Letaknya persis di depan pintu Masjid Nabawi. Hari pertama, saya langsung memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi. Dimulai dari pukul setengah 3 pagi, saya sudah berada di masjid untuk menunaikan ibadah Sholat Tahajud hingga Subuh. Waktu tersebut sepanjang yang saya alami, adalah waktu yang paling tepat apabila ingin sholat dan berdoa di Raudah. Raudah atau taman surga ini terletak di antara mimbar dan rumah nabi. Tempat ini adalah salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Sepanjang waktu, bagi yang laki-laki tentu bisa sholat di situ, tapi biasanya susah khusyuk saking ramainya. Sementara bagi yang perempuan akan lebih susah lagi karena Raudah hanya dibuka pada waktu tertentu saja.

Al Majeed Suites

Di samping Raudah, ada makam Nabi Muhammad SAW, Khalifah Abu Bakar As Sidiq, dan Khalifah Umar bin Khatab. Subhanallah, hampir setiap usai sholat saya bisa mengucap salam kepada Beliau. Rasa rindu saya mencapai puncaknya. Di luar pelataran Masjid Nabawi, ada Makam Baqi. Di situ terdapat makam Khalifah Usman bin Affan, Aisyah, serta para istri dan sahabat nabi. Makam ini dibuka selepas Subuh dan Ashar.

Usai sholat Subuh, saya kembali ke hotel untuk sarapan dan tidur. Kemudian saya bangun pukul 9 pagi dan kembali ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Dhuha dan Dhuhur. Setelahnya saya kembali pulang ke hotel untuk makan siang. Waktu Ashar, saya kembali ke masjid, kemudian pulang lagi untuk mandi. Dan menjelang waktu Maghrib hingga Isya, saya kembali ke masjid. Makan malam saya lakukan selepas Isya’. Kurang lebih begitulah ritme saya selama di Madinah.

Cerita di Mekkah
Hati saya bergetar ketika pertama kalinya melihat Ka’bah. Baitullah. Tempat dimana milyaran umat muslim di seluruh dunia mengarahkan qiblatnya ke sini ketika sholat. Usai menunaikan ibadah umroh, saya pun mengatur ritme beribadah saya sama seperti ketika di Madinah. Kalau di Masjid Nabawi ada Raudah, di Mekkah ada Multazam dan Hijr Ismail yang menjadi tempat mustajab untuk berdoa. Di Ka’bah juga ada Hajar Aswad. Sekali lagi, pukul setengah 3 pagi menjadi waktu emas bagi saya. Saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk mencium Hajar Aswad tanpa harus sikut-sikutan, dan tanpa calo. Saya hanya berhenti pada jarak 2 meter dari Hajar Aswad sembari berdzikir dan menyebut nama-Nya. Perlahan-lahan, arus manusia mengarahkan badan saya tepat ke depan Hajar Aswad. Pada saat itu, di samping kanan dan kiri saya nggak ada seorang pun. Hanya saya aja. Orang-orang lain semuanya berada di belakang saya. Saya pun leluasa mencium Hajar Aswad. Alhamdulillah.

Di Hijr Ismail, saya berkesempatan sholat dan berdoa di sana pada waktu Dhuha dan Subuh. Sementara di Multazam, hampir setiap waktu saya bisa sholat dan berdoa di sana. Ada pengalaman mengesankan ketika saya sholat Subuh yang terakhir sebelum meninggalkan Mekkah. Karena sebelum azan Subuh saya sedang tawaf mengelilingi Ka’bah, saya berkesempatan sholat di saf nomor 5. Tapi kali ini bukan sekadar nomor 5 biasa. Ini saf nomor 5 terdepan di dunia.  Jadi sesaat sebelum azan Subuh berkumandang, para polisi mengatur jamaah agar berbaris membentuk saf sholat. Selama saya di Mekkah, itulah saf terdepan yang pernah saya alami.


Sedih rasanya ketika menyadari bahwa saya harus meninggalkan tanah suci. Tapi saya juga kangen dengan istri dan keluarga. Mudah-mudahan saya bisa segera kembali lagi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah Haji dan Umroh. Dan semoga saat itu saya nggak sendiri, melainkan bersama istri dan keluarga.

ARTIKEL TERKAIT:

18 comments:

  1. itu Ka'Bah yang baru di renovasi? sekarang boleh tawaf sampe di atas nya gitu? waaaah kereeennn...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hasil renovasi Mil. Jadi berhubung bangunan Masjidil Haram bagian sebelah kiri foto lagi dibongkar untuk diperluas, dibuatlah jembatan dua lantai itu buat menampung jamaah yang tawaf, karena sebagian tempatnya ditutup untuk perluasan masjid. Ntar kalo udah jadi, katanya jembatan ini dibongkar lagi.

      Delete
  2. Saya juga tergetar baca catatan ibadah umroh ini mas :)
    Terima kasih sharingnya. Jadi makin kepingin lihat Kabah nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mas. Semoga lekas berangkat yaa... :)

      Delete
  3. aku terharu bacanya bro...salut untukmu..

    ReplyDelete
  4. masyaAllah jadi kangen lagi sama tanah suci, semoga di tahun tahun kedepan bisa naik haji.... aamiin

    ReplyDelete
  5. belum kesampaian pengen umroh. mudah-mudahan suatu saat nanti aku bisa umroh juga sama istri... amin

    ReplyDelete
  6. datang melawat dari malaysia...indah sekali pengalaman di tanah suci

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Kak, sudah jauh-jauh melawat dari Malaysia :)

      Delete
  7. subhanallah yah mas pas membaca cerita ini. terharu iya, pengen iya..ini saya lg hunting tiket mau umroh sekeluarga.. haduuh, pengen..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Mau umroh mandiri ya Mbak?

      Delete
    2. iyah mau pergi sendiri aja.. rata2 sepupu pada pergi mandiri... biar bisa ramean dan lebih irit.. hehe

      Delete
    3. Wah, jadi kepengen bisa umroh mandiri juga :D

      Delete
  8. kok murah mas 1600 usd di januari 2014??
    di juni 2014 penerbangan ekonomis(busines air) jkt-bkk-jed, hotel almajedi medinah, hotel yajid mekah saya byr 1913 all in start semarang..
    boleh tau biro apa kr ada rencana awal jan 2015 pingin ngulon lagi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini pas promo pameran haji umroh di JCC Mas/Mbak. Start-nya juga dari Jakarta. Nama bironya Al-Aqsa. Kalo di Semarang yang di Pand's Collection Jl. Pandanaran. Tapi untuk tarif ini, saya kurang merekomendasikan karena maskapainya kurang bagus. Berangkatnya menjelang tengah malam dan masih harus ke Jeddah dulu. Jadi waktu di Saudinya sebentar banget. Biro yang sama juga menyediakan penerbangan Saudi Airlines. Tapi harganya di atas 2.000 USD. Mungkin bisa baca posting-an yang ini,

      Pernak-pernik Perjalanan Umroh

      Delete