Friday, April 25, 2014

Dikerjain Penjual Turkish Ice Cream

Hai hai!!! Sedikit intermezzo nih... Masih inget posting-an saya tentang Turkish Ice Cream? Nah, ini videonya. Check it out! :D


video

Wednesday, April 23, 2014

Tips Jalan-jalan Hemat



Backpacker dan traveler sejenis dilarang baca ini. Hehehe... Beberapa teman masih tidak percaya, “Kok bisa sih sering berpergian ke luar negeri?”. Biasanya saya menjawab diplomatis, “Jaman sekarang, nggak harus punya banyak duit buat jalan-jalan ke luar negeri”. Selanjutnya saya menerangkan kalo saya berdomisili di Pulau Batam dimana perjalanan ke Singapore dan Malaysia jauuuuhhh lebih murah daripada perjalanan pulang kampung ke tanah Jawa. Nah, kedua negara ini merupakan homebase dua maskapai yang sering ngasih tiket super murah, Tiger Airways dan Air Asia. Maskapai-maskapai berjenis Low Cost Carier inilah yang sudah sangat berjasa mewujudkan mimpi saya keliling dunia.

Di atas nanti pegangan yang kenceng, ya Bang!
 
Posting-an pendek kali ini berisi tentang jawaban-jawaban atas pertanyaan di atas. Ya bisa dibilang tips buat temen-temen yang kepengen jalan-jalan ke luar negeri. Tapi di sini saya nggak akan ngomongin tentang nasionalisme yah... Nanti bakalan panjang debatnya. Hehehe...

Tuesday, April 22, 2014

Menjemput Salju di Jungfraujoch

Sebagai makhluk yang tinggal di negara tropis, pengalaman pertama bertemu dengan salju tentu akan sangat menyenangkan. Ini juga yang saya alami ketika berada di Swiss. Saya pertama kali melihat salju ketika pesawat Swiss Air yang saya tumpangi akan mendarat di Zurich. Beberapa saat sebelum mendarat, saya yang sengaja memilih untuk duduk di dekat jendela, melihat pegunungan yang puncaknya berwarna putih. Itulah pertemuan pertama saya dengan salju setelah sebelumnya hanya bisa melihatnya melalui media elektronik.

Dua hari kemudian, saya sudah berada di Interlaken. Kalo sebelumnya saya cuman bisa lihat salju di kejauhan, kali ini saya kepengen ngelihat dari dekat. Swiss bersama Austria, Jerman, Prancis, Italia, Slovenia dan Liechstenstein memang dilalui Pegunungan Alpen yang memiliki banyak puncak berselimut salju abadi. Untuk mencapainya, kita nggak perlu susah payah mendaki karena sudah disediakan kereta bergerigi ataupun kereta gantung. Dari Interlaken, titik tertinggi yang bisa dicapai dengan kereta adalah Jungfraujoch.

Untuk menaiki kereta menuju Jungfraujoch, saya harus merogoh kocek cukup dalam. Inilah tiket kereta termahal yang pernah saya beli. Harganya kalau di-rupiah-kan mungkin sekitar satu setengah juta. Itupun udah termasuk diskon karena saya pemegang Eurail Global Pass. Kalo nggak pake Eurail Pass, harganya bisa mencapai dua jutaan. Tapi jangan berkecil hati dulu. Kalo kita mempertimbangkan teknologi yang disediakan sehingga kita bisa mencapai ketinggian di atas 3000 meter tanpa melakukan pendakian, ditambah lagi panorama spektakuler sepanjang perjalanan, harga segitu menurut saya cukup pantas.


Percayalah, ini bukan download dari internet (Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg).


Wednesday, April 16, 2014

Bukan Waktu yang Tepat untuk Melaut

Banyak orang kalo pergi ke Hongkong, pasti ke Macau. Demikian juga sebaliknya. Ini karena kedua negara SAR (Special Administrative Region) ini letaknya berdekatan. Dan kabar baiknya, bagi pemegang paspor RI, kedua negara ini memberlakukan bebas visa. Biasanya kalo ke Hongkong dan Macau, mampir juga ke Shenzen. Kita bisa masuk Shenzen Economic Zone dengan Visa on Arrival (VOA). Meskipun ya agak angin-anginan. Kadang suka ditutup. Saya pernah kebagian apesnya waktu VOA ditutup. Udah keluar Hongkong, tapi ditolak masuk ke Shenzen. Terpaksa balik lagi ke Hongkong dan diwawancara dulu sama petugas imigrasi Hongkong sebelum diizinin masuk ke Hongkong.

Ngomongin tentang Hongkong dan Macau, kedua negara ini memiliki arus pergerakan manusia yang sangat tinggi. Dari Hongkong menuju Macau (dan sebaliknya), yang paling enak sih naik helicopter. Cepat dan nggak pake ngantre. Tapi harganya ya tahu sendiri doonng... Nah, yang paling murah meriah itu naik ferry. Ada banyak ferry yang menghubungkan antara Hongkong dan Macau. Jadwal keberangkatannya bisa beberapa kali dalam satu jam. Dan jadwal operasionalnya pun 24 jam. Pelabuhannya juga ada banyak. Dan yang mau saya ceritain di sini adalah rute ferry dari Macau menuju Hongkong International Airport (HKIA). Untuk rute ini emang operasionalnya nggak 24 jam dan intensitasnya nggak terlalu banyak. Jadi musti pandai-pandai menyesuaikan dengan waktu keberangkatan pesawat.

Hongkong-Macau Ferry

Monday, April 14, 2014

About Me and My Backpack in Brussels


Brussels. Kota yang strategis dan sangat sayang untuk dilewatkan bagi traveler yang melakukan perjalanan dari Paris menuju Amsterdam, atau sebaliknya. Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk melakukan kunjungan singkat ke kota ini. Saat itu, saya sedang dalam perjalanan dari Paris menuju Amsterdam. Cara termurah melalui rute Paris-Brussels-Amsterdam adalah dengan menggunakan bus. Kereta sama sekali bukan pilihan karena jalur ini hanya dilayani oleh kereta cepat TGV dan Thalys. Namun bagi pemegang Eurail Pass, harga tiket kereta jadi lumayan terjangkau. Baik TGV maupun Thalys, keduanya cukup dengan membayar biaya reservasi saja.

Kereta TGV hanya melayani rute Paris-Brussels saja. Sementara kereta Thalys melayani rute Paris-Brussels-Amsterdam. Nah, di Eropa ini kita musti memastikan kalo gerbong yang kita naiki udah bener. Karena bisa aja dalam satu rangkaian kereta, tujuan akhirnya beda-beda. Misalnya aja nih ya, kereta Thalys berangkat dari Amsterdam menuju Brussels dengan 8 gerbong. Sampai di Brussels,  gerbong 1-4 melepaskan diri dari rangkaian, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Paris. Sementara gerbong 5-8 kembali ke Amsterdam.

Dalam perjalanan ini, saya sengaja menggunakan dua jenis kereta yang berbeda. Dari Paris menuju Brussels saya menggunakan kereta TGV kelas 2. Sementara dari Brussels menuju Amsterdam saya mencoba naik Thalys kelas 1. Hah??!!! First Class? Nggak salah beli tiket tuh? Hehehe... Iya bener. Saya dapet tiket promo cuman 30 Euro untuk perjalanan selama sekitar 2,5 jam menuju Amsterdam.


TGV

Saturday, April 5, 2014

My Turkish Food Experience

Setiap kali backpacking, biasanya saya nggak terlalu menaruh perhatian yang begitu besar pada soal makanan. Mungkin saya sedikit aneh. Kebanyakan orang kalo yang namanya traveling pasti kepengen ngicipin makanan khas setempat kan? Nah, kebetulan saya nggak terlalu suka kayak gitu. Bagi saya, yang terpenting adalah makan sehemat-hematnya, Yang penting kenyang. Kenapa? Pertama, tentu saja supaya bisa hemat. Kedua, dari negara-negara yang udah saya datangi, sebagian besar di antaranya membuat saya kesulitan menemukan makanan halal. Halal 100 persen lho yaa... Bukan hanya sekadar no pork and no lard.

Tapi kebiasaan saya ini berubah 180 derajat ketika tiba di Turki. Di negara yang mayoritas penduduknya umat muslim ini, makanan halal bertebaran dimana-mana. Dan kabar gembiranya, 100 persen halal. Saya bebas pilih yang mana saja.  Tinggal disesuaikan dengan isi kantong aja. Hehehe.. Favorit saya, tentu saja Kebab. Di Indonesia aja makanan ini udah beredar luas. Kebab juga sering jadi alternatif makanan saya di negara lain, terutama negara dimana makanan halal sulit ditemukan. Di negara-negara tersebut, pilihan makanan halalnya kalo nggak dari restoran Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Arab dan tentu saja Turki. Jadi Kebab ini udah jadi semacam makanan favorit saya.

Di Turki, Kebab ternyata ada bermacam-macam jenisnya. Dan yang jadi favorit saya adalah Doner Durum dan Pilav Ustu. Doner Durum mungkin nggak terlalu asing di telinga kita. Soalnya warung Kebab yang banyak beredar di Indonesia hampir pasti menjual Kebab ini. Tahu kan, daging sapi panggang dan sayuran yang dibungkus dengan gulungan roti tortilla? Nah, itulah Doner Durum. Di Turki, bentuk Doner Durum ini sama dengan di Indonesia. Yang membedakan adalah ukuran dan rasanya.

Doner Durum Raksasa