Wednesday, April 16, 2014

Bukan Waktu yang Tepat untuk Melaut

Banyak orang kalo pergi ke Hongkong, pasti ke Macau. Demikian juga sebaliknya. Ini karena kedua negara SAR (Special Administrative Region) ini letaknya berdekatan. Dan kabar baiknya, bagi pemegang paspor RI, kedua negara ini memberlakukan bebas visa. Biasanya kalo ke Hongkong dan Macau, mampir juga ke Shenzen. Kita bisa masuk Shenzen Economic Zone dengan Visa on Arrival (VOA). Meskipun ya agak angin-anginan. Kadang suka ditutup. Saya pernah kebagian apesnya waktu VOA ditutup. Udah keluar Hongkong, tapi ditolak masuk ke Shenzen. Terpaksa balik lagi ke Hongkong dan diwawancara dulu sama petugas imigrasi Hongkong sebelum diizinin masuk ke Hongkong.

Ngomongin tentang Hongkong dan Macau, kedua negara ini memiliki arus pergerakan manusia yang sangat tinggi. Dari Hongkong menuju Macau (dan sebaliknya), yang paling enak sih naik helicopter. Cepat dan nggak pake ngantre. Tapi harganya ya tahu sendiri doonng... Nah, yang paling murah meriah itu naik ferry. Ada banyak ferry yang menghubungkan antara Hongkong dan Macau. Jadwal keberangkatannya bisa beberapa kali dalam satu jam. Dan jadwal operasionalnya pun 24 jam. Pelabuhannya juga ada banyak. Dan yang mau saya ceritain di sini adalah rute ferry dari Macau menuju Hongkong International Airport (HKIA). Untuk rute ini emang operasionalnya nggak 24 jam dan intensitasnya nggak terlalu banyak. Jadi musti pandai-pandai menyesuaikan dengan waktu keberangkatan pesawat.

Hongkong-Macau Ferry


Rute yang saya lalui ini bener-bener efisien. Setelah membeli tiket, penumpang melakukan check in di kounter khusus dengan melampirkan juga tiket pesawat. Kalo bawa bagasi, bisa sekalian juga di-check in-in. Bagasi ini akan di-handle sampe ke pesawat. Jadi sesampainya di HKIA, penumpang nggak perlu ngurus bagasi. Kemudian, penumpang bisa mulai ngantre imigrasi. Waktu itu saya agak cemas. Soalnya cuaca lagi nggak bagus. Katanya karena hujan deras dan angin kencang. Helicopter udah nggak diizinin terbang. Tapi ferry masih boleh jalan. Dan tibalah saatnya untuk boarding.

Sekadar info aja, ferry yang digunakan untuk melayani rute Hongkong dan Macau itu ukurannya lumayan besar. Ruang penumpang terdiri dari dua aisle dan lebih lebar daripada pesawat wide body. Ruang kargo terletak di bagian depan ferry dan disimpan menjadi satu dalam kontainer kecil seperti yang biasa kita jumpai untuk kargo pesawat wide body.


Interior Super Class Hongkong-Macau Ferry
Interior Economy Class Hongkong-Macau Ferry

Pada saat itu, kondisi lautan di dermaga ferry tampak biasa saja. Tapi di kejauhan, saya ngelihat langit begitu gelap. Saya cuman bisa berdoa, semoga ombaknya nggak ganas. Tapi saya boleh sedikit bernafas lega karena udah berkali-kali naik ferry dari Batam menuju Singapore dan Johor Bahru. Pada rute itu, seburuk-buruknya cuaca pun ombaknya nggak tinggi-tinggi amat. Meskipun agak bergoyang-goyang, tapi nggak sampe bikin mabuk laut. Ya mudah-mudahan, pada perjalanan kali ini pun keadaannya sama. Apalagi kan ini ferry-nya besar banget. Bismillahirrahmanirrahim, ferry pun berangkat.

Perlahan-lahan, daratan Macau mulai menghilang dari pandangan. Awan gelap menggantung di langit. Hujan mulai turun. Dari hanya gerimis, kemudian berubah menjadi deras. Ombak pun berubah menjadi ganas. Perjalanan ferry yang tadinya terasa smooth, kini tidak lagi. Ferry terombang-ambing dengan dahsyat. Rasanya seperti naik kora-kora di Dufan, tapi ini lebih serem lagi karena intensitas “ayunannya” lebih sering. Semua penumpang tampak memegang erat pegangan kursi. Banyak di antara mereka yang muntah. Saya mencoba untuk tidur, tapi nggak bisa. Tahu kan, rasanya naik kora-kora, atau jet coaster? Ya mirip kayak gitu lah rasanya. Perut serasa kayak diaduk-aduk. Bedanya, ini bukan cuman 3-5 menit kayak naik wahana itu. Tapi satu jam lebih. Kebayang kan gimana rasanya? Saya cuman bisa berdoa, semoga perjalanan ini lekas sampai tujuan.

Akhirnya saya bisa bernafas lega ketika lautan berangsur-angsur menjadi tenang. Daratan mulai tampak. Dan tak lama kemudian, ferry merapat di dermaga HKIA. Alhamdulillah...

Begitu turun dari ferry, semua penumpang diarahkan menuju ruangan check in khusus penumpang ferry. Kita musti check in lagi karena waktu di Macau tadi, belum dikasih boarding pass pesawat. Karena pesawat saya tujuan Singapore, seperti biasa, saya ditanya tiket balik ke Indonesia. Untungnya saya nyimpen tiket ferry dari Singapore menuju Batam. Jadi nggak sampe berdebat panjang lebar dengan petugas check in. Setelah check in, penumpang diarahkan ke kounter pengembalian airport tax. Inilah berita baiknya! Kalo kita beli tiket pesawat kan udah termasuk airport tax. Sementara kalo kita naik ferry dari Macau, itu juga ada tax-nya. Jadi karena perjalanan ferry dan pesawat itu terkoneksi, penumpang cukup bayar tax satu kali aja, yaitu pas beli tiket ferry. Nah, airport tax HKIA yang udah terlanjur dibayar itu bisa di-reimburse. Lumayan kan, dapet rejeki nomplok di akhir perjalanan? Saya langsung foya-foya deh di Starbucks. Hehehe... :D

So menurut saya, naik ferry langsung ke airport itu ada untung ruginya. Untungnya, kita bisa lebih efisien waktu, efisien halaman paspor (karena di HKIA, paspor kita nggak dicap lagi), juga dapet pengembalian airport tax. Nah, nggak enaknya, kalo pas cuaca buruk gini, kita nggak bisa nunggu sampe cuaca membaik. Dan lagi, kalo sampe perjalanan ferry juga dibatalkan, siap-siap aja ketinggalan pesawat. Saran saya kalo mau naik ferry, sebaiknya udah ngecek prakiraan cuaca.

Eitss!!! Belum selesai. Ada sedikit cerita lagi. Di dalam pesawat menuju Singapore, duduk di sebelah saya adalah seorang bapak setengah baya. Dan kabar buruknya adalah, maaf sebelumnya, bapak itu bau banget. Saya dapet paket bau combo. Bau badan dan bau mulut. Bapak itu, diem aja udah kecium baunya. Apalagi kalo sesekali dia ngomong ke pramugari dan menguap. Tambah parah lagi. Apesnya lagi, saat itu kursi pesawat penuh. Jadi saya nggak bisa minta pindah tempat duduk. Tapi saya nggak kehilangan akal, untung saya bawa wewangian. Saya olesin aja di hidung saya. Ya lumayanlah buat pertolongan pertama pada keapesan ini. Hehehe...

Kejadian ini sejujurnya cukup menampar saya. Kalo lagi traveling, apalagi kalo perjalanan berpindah kota atau negara, atau kalo lagi ngemper tidur nggak di penginapan, saya juga jarang mandi. Lha mau mandi dimana coba? Mungkin, bisa jadi, saya juga bau kayak bapak di sebelah saya itu. So buat para traveler yang sering tidur di jalan, jangan lupa secara rutin memakai dua benda ini pada saat traveling, sikat gigi dan deodorant. Kalo bawa parfum akan lebih bagus lagi. Dan kalo bisa mengusahakan untuk mandi, akan lebih sempurna. Hahaha... Sekian dulu tips dari saya.

ARTIKEL TERKAIT:

5 comments:

  1. ferrynya sekilas mirip kayak feri dari batam ke spore

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia Mas. Pacific Ferry, Sindo dan Batam Fast punya ferry yang model begini :D

      Delete
  2. Bau orang lain mah memang suka kecium ngak enak sama kita. tapi kalau bau diri sendiri memang ngak kecium karena sudah biasa..hehe. Harusnya mas Indra lihat Bapak tadi kalau dia sama-sama ngolesin wewangian ke hidungnya, berarti mas Indra juga bau..hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Untungnya Bapak itu nggak ngolesin wewangian tuh :D

      Delete
  3. Halo.. Mas kalau boleh mohon infonya, Pesawat ku dr hkia ke jkt jam 12.30, enaknya pake ferry jm brp yah? Aku cek jadwalnya ada jam 7.15 setelah itu jam 9.30.. Kira2 3 jam sebelum terbang cukup ga yah waktunya? Estimasi ferry 1 jam dan nyampe di hkia 2 jam sebelum terbang.. (Termasuk utk ngurus tax refund dan balikin kartu octopus dan belanjain uang refund-nya)
    Makasih banyak yah

    ReplyDelete