Monday, April 14, 2014

About Me and My Backpack in Brussels


Brussels. Kota yang strategis dan sangat sayang untuk dilewatkan bagi traveler yang melakukan perjalanan dari Paris menuju Amsterdam, atau sebaliknya. Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk melakukan kunjungan singkat ke kota ini. Saat itu, saya sedang dalam perjalanan dari Paris menuju Amsterdam. Cara termurah melalui rute Paris-Brussels-Amsterdam adalah dengan menggunakan bus. Kereta sama sekali bukan pilihan karena jalur ini hanya dilayani oleh kereta cepat TGV dan Thalys. Namun bagi pemegang Eurail Pass, harga tiket kereta jadi lumayan terjangkau. Baik TGV maupun Thalys, keduanya cukup dengan membayar biaya reservasi saja.

Kereta TGV hanya melayani rute Paris-Brussels saja. Sementara kereta Thalys melayani rute Paris-Brussels-Amsterdam. Nah, di Eropa ini kita musti memastikan kalo gerbong yang kita naiki udah bener. Karena bisa aja dalam satu rangkaian kereta, tujuan akhirnya beda-beda. Misalnya aja nih ya, kereta Thalys berangkat dari Amsterdam menuju Brussels dengan 8 gerbong. Sampai di Brussels,  gerbong 1-4 melepaskan diri dari rangkaian, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Paris. Sementara gerbong 5-8 kembali ke Amsterdam.

Dalam perjalanan ini, saya sengaja menggunakan dua jenis kereta yang berbeda. Dari Paris menuju Brussels saya menggunakan kereta TGV kelas 2. Sementara dari Brussels menuju Amsterdam saya mencoba naik Thalys kelas 1. Hah??!!! First Class? Nggak salah beli tiket tuh? Hehehe... Iya bener. Saya dapet tiket promo cuman 30 Euro untuk perjalanan selama sekitar 2,5 jam menuju Amsterdam.


TGV


TGV
Interior Kelas 2 TGV
Kanan: Thalys
Thalys

Interior Kelas 1 Thalys

Kelas 1 Thalys dapet snack

Tiba di Stasiun Bruxellels Midi, saya langsung mencari tempat penitipan bagasi. Letaknya ada di lantai dasar stasiun. Sementara platform kereta ada di lantai atas. Di lantai dasar ini, fasilitasnya lumayan lengkap. Selain tempat penitipan bagasi, ada kantor penjualan tiket kereta, restoran, juga ada ruang tunggu penumpang yang dilengkapi dengan penghangat. Nah, di ruang tunggu penumpang ini sesekali dilakukan pengecekan tiket. Jadi yang boleh menghangatkan badan di dalam cuman calon penumpang aja. Bagi yang kedapatan nggak punya tiket, diminta meninggalkan ruang tunggu.

Kembali ke tempat penitipan bagasi, saya menghadapi dilema. Ongkos nitipin bagasi ini sebenarnya lumayan murah. Besarannya bervariasi tergantung dimensi bagasi. Tapi yang paling besar kayaknya nggak sampe 10 Euro. Dilemanya adalah, karena setelah mendarat di Paris, saya langsung menuju Brussels, saya jadi belum punya uang pecahan kecil. Sementara penitipan bagasi ini menggunakan koin. Saya nanya sama penjaganya, disuruh nukerin uang di kafe yang ada deket situ. Definisi nukerin ini maksudnya kita musti beli sesuatu agar dapat kembalian. Bukan nukerin uang mentah-mentah.

Karena saya baru aja datang dari Indonesia, semangat menghemat seirit-iritnya itu sedang membuncah. Pokoknya sebisa mungkin saya nggak ngeluarin uang buat hal-hal yang nggak mendesak. Soalnya takut kehabisan duit sementara perjalanan masih lama. Jadi setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk tidak jadi menitipkan backpack. Padahal backpack saya beratnya 13 kg. Ini masih ditambah dengan daypack yang beratnya 5 kg. Apakah ini sebuah keputusan yang tolol? Hehehe... Nampaknya begitu :D


Me and My Backpack in Brussels

So, saya pun memulai perjalanan “numpang lewat” di Brussels. Apa yang jadi tujuan utama saya? Karena waktu transit saya cuman 3 jam, saya nggak mau muluk-muluk mengunjungi banyak tempat. Target saya cuman Grand Place (Bukan Grand Palace lhoo...) dan Patung Manekin Pis.

Keluar stasiun, hawa dingin menyergap saya. Suhu saat itu lumayan membuat makhluk pesisir pantai tropis ini menggigil. Bahkan sesekali nafas saya mengeluarkan asap kayak di film-film. Keren deh... Hahaha... Di depan stasiun saat itu lagi ada pasar tumpah yang menjual pakaian yang harganya murah. Saat itu Hari Sabtu. Tapi suasananya nggak begitu ramai. Untuk menuju Grand Place dari Stasiun Bruxelles Midi itu gampang banget. Kita tinggal ngikutin petunjuk arah aja. Nggak banyak belok. Jaraknya sekitar 20 menit berjalan kaki.


Brussels Flea Market

Grand Place, kita sering ketuker nyebutinnya dengan Grand Palace. Saya juga tadinya ngira tulisan “place” itu salah ketik. Mustinya kan “palace”. Tapi ternyata tulisan itu nggak salah ketik. Soalnya itu pake Bahasa Prancis, bukan Bahasa Inggris. Kalo saya terjemahin bebas pake google translate, Grand Place artinya square atau alun-alun besar. Kata “place” ini bisa disetarakan dengan “square” dalam Bahasa Inggris. Grand Place juga dalam Bahasa Belanda sering disebut Grote Markt. Kali ini kalo saya terjemahin bebas, artinya pasar besar. Entah apa definisi sebenarnya, tapi yang pasti, Grand Place adalah sebuah alun-alun yang dikelilingi bangunan tua yang menawan.


Grand Place

Tiba di Grand Place, bangunan yang pertama kali saya lihat adalah Maison du Roi. Ini kalo saya terjemahin bebas, artinya rumah raja. Padahal menurut sejarahnya, nggak ada raja yang pernah tinggal di situ. Dalam Bahasa Belanda, disebut juga broodhuis atau rumah roti. Apapun makna namanya, bangunan ini kini menjadi museum. Salah satu koleksi uniknya adalah kostum patung Manekin Pis. Di seberang Maison du Roi, berdiri megah Brussels Town Hall. Yang menarik dari bangunan ini adalah adanya menara setinggi 96 meter. Menara ini membuat saya agak kerepotan waktu mau ngambil foto. Soalnya terhalang sama bangunan di seberangnya. Jadi saya musti masuk lorong di samping Maison du Roi dulu untuk mengambil gambar.


Maison du Roi
Brussels Town Hall
Suasana Grand Place saat itu sangat ramai. Meskipun cuaca cukup dingin, cafe-cafe outdoor yang ada di sana tidak kehilangan pelanggan. Tetep aja tuh ramai dikunjungi. Dan menu apa coba yang paling laris? Tak lain tak bukan adalah coklat panas. Percaya deh, rasanya nikmaaaatttt banget. Hehehe... Selain cafe, di Grand Place juga banyak terdapat toko souvenir. Yang jadi primadona kayaknya replika, kartu pos, magnet kulkas, dan gantungan kunci bangunan-bangunan di Grand Place dan Manekin Pis.


Hot Chocolate

Dari Grand Place, kita bisa langsung ke tempat Manekin Pis berada. Letaknya nggak begitu jauh. Sebelum ke sini, saya sebenernya udah tahu kalo patung anak kecil lagi p*pis itu kecil banget. Bahkan ada yang bilang, “Ngapain sih buang-buang waktu ngeliatin patung kecil doank?”. Tapi masalahnya, patung ini udah jadi semacam ikon Kota Brussels. Udah nyampe Brussels masak nggak ngeliat patungnya sih? Dan setelah sampai di tempatnya, emang bener sih, patungnya kecil banget, terletak di persimpangan jalan kecil, dan ramai turis.


Manekin Pis
Manekin Pis (Kecil banget, kan?)

Setelah mengunjungi kedua tempat itu, ternyata masih ada sisa waktu sebelum saya harus kembali ke stasiun. Saya memanfaatkannya untuk berjalan memutar dan melewati Cathedral of St. Michael and St. Gudula dan Parc Royal. Letak keduanya juga masih terjangkau dengan berjalan kaki dari Grand Place. Sekilas, bangunan katedral mirip dengan Notre Dame di Paris. Sementara Parc Royal, karena saat itu masih awal musim semi, pepohonannya banyak yang masih gundul. Di Parc Royal ini, dari kejauhan kita bisa melihat Saint Mary’s Royal Church.


Cathedral of St. Michael and St. Gudula
Parc Royal
Saint Mary’s Royal Church (dari kejauhan)
Saint Mary’s Royal Church
Akhirnya tiba juga saat untuk kembali ke stasiun. Meskipun kunjungan ke Brussels ini singkat banget, ditambah beban berat di pundak, tapi percaya deh... Saya puas banget mengunjungi Brussels.

ARTIKEL TERKAIT:

2 comments:

  1. Suasananya Eropa banget ya.... cuma Brussels flea market saja yang suasananya kayak di asia. Biasa lihat bule yang bawa backpack gede2, pas lihat Mas Indra yang pakai backpack gede, agak aneh juga ya... untung di Eropa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya di Eropa pun masih tergolong aneh kalo ada yang jalan2 di kota, tapi bawa backpack gede. Hehehe... :D

      Delete