Tuesday, April 22, 2014

Menjemput Salju di Jungfraujoch

Sebagai makhluk yang tinggal di negara tropis, pengalaman pertama bertemu dengan salju tentu akan sangat menyenangkan. Ini juga yang saya alami ketika berada di Swiss. Saya pertama kali melihat salju ketika pesawat Swiss Air yang saya tumpangi akan mendarat di Zurich. Beberapa saat sebelum mendarat, saya yang sengaja memilih untuk duduk di dekat jendela, melihat pegunungan yang puncaknya berwarna putih. Itulah pertemuan pertama saya dengan salju setelah sebelumnya hanya bisa melihatnya melalui media elektronik.

Dua hari kemudian, saya sudah berada di Interlaken. Kalo sebelumnya saya cuman bisa lihat salju di kejauhan, kali ini saya kepengen ngelihat dari dekat. Swiss bersama Austria, Jerman, Prancis, Italia, Slovenia dan Liechstenstein memang dilalui Pegunungan Alpen yang memiliki banyak puncak berselimut salju abadi. Untuk mencapainya, kita nggak perlu susah payah mendaki karena sudah disediakan kereta bergerigi ataupun kereta gantung. Dari Interlaken, titik tertinggi yang bisa dicapai dengan kereta adalah Jungfraujoch.

Untuk menaiki kereta menuju Jungfraujoch, saya harus merogoh kocek cukup dalam. Inilah tiket kereta termahal yang pernah saya beli. Harganya kalau di-rupiah-kan mungkin sekitar satu setengah juta. Itupun udah termasuk diskon karena saya pemegang Eurail Global Pass. Kalo nggak pake Eurail Pass, harganya bisa mencapai dua jutaan. Tapi jangan berkecil hati dulu. Kalo kita mempertimbangkan teknologi yang disediakan sehingga kita bisa mencapai ketinggian di atas 3000 meter tanpa melakukan pendakian, ditambah lagi panorama spektakuler sepanjang perjalanan, harga segitu menurut saya cukup pantas.


Percayalah, ini bukan download dari internet (Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg).


 
Sejujurnya, saya pergi pada waktu yang kurang tepat. Saat itu sedang awal musim semi dimana hujan masih sering turun. Sehari sebelumnya, ketika saya masih berada di Lucerne, saya gagal naik Mount Titlis ataupun Engelberg karena hujan turun hampir seharian. Sekarang di Stasiun Interlaken Ost, petugas loket pun juga mengingatkan bahwa cuaca sedang kurang baik. Tapi mengingat sebelumnya saya udah gagal ngelihat salju, dan saat itu adalah hari terakhir saya di Swiss, saya tetep nekat beli tiketnya. Yang penting kereta yang saya tumpangi tetap dinyatakan aman untuk berangkat. Meskipun pagi itu ramalan cuaca kurang bagus, yang berminat naik ke atas tetep aja banyak. Di peron stasiun udah banyak yang nunggu kereta datang. Tak lama menunggu, kereta pun datang.

Untuk menuju Jungfraujoch, para penumpang harus berganti kereta sebanyak dua kali. Dari Stasiun Interlaken Ost, ada dua jalur yang bisa kita pilih, yakni Lauterbrunnen atau Grindelwald. Rangkaian keretanya masih terangkai jadi satu di Stasiun Interlaken Ost. Tapi setelah kereta berjalan beberapa kilometer, rangkaian akan dipisah. Yang satu menuju Lauterbrunnen, sementara satu lagi menuju Grindelwald. Lah, gimana caranya ngebedain rangkaian keretanya? Gampang. Di underpass menuju platform kereta, ada papan petunjuk yang menginformasikan tujuan kereta. Selain itu, di body kereta juga ada tulisannya. Dari Lauterbrunnen atau Grindelwald, penumpang akan berganti kereta menuju Kleine Scheidegg. Dari Kleine Scheidegg, penumpang kembali harus berganti kereta menuju Jungfraujoch. Waktu perjalanan dari Interlaken Ost menuju Jungfraujoch adalah sekitar 2 jam.


Stasiun Interlaken Ost
Lorong Stasiun Interlaken Ost

Saya sendiri, saat itu memilih rute menuju Lauterbrunnen. Sementara Grindelwald akan saya lalui pada perjalanan turun nanti. Pada perjalanan menuju Lauterbrunnen, kita akan disuguhi pemandangan hamparan hijau rerumputan yang sesekali diselingi oleh sungai, air terjun dan rumah penduduk. Pemandangan indah ini hampir selalu saya temui di setiap perjalanan antar kota di Swiss.

Tiba di Lauterbrunnen, kereta yang akan mengantar saya menuju Kleine Scheidegg ternyata lebih kecil. Kalo sebelumnya konfigurasi tempat duduk keretanya 2-2, sekarang cuman 2-1. Di Lauterbrunnen, ketinggiannya 795 meter. Kita bisa jalan-jalan sebentar. Tapi ya cuman di sekitaran kereta aja karena jadwal berangkat kereta menuju Kleine Scheidegg nggak terpaut jauh dengan jadwal kedatangan kereta dari Interlaken Ost. Selanjutnya, dalam perjalanan menuju Kleine Scheidegg, jalur mulai terasa sangat menanjak dan salju mulai turun. Pemandangan hamparan rerumputan berwarna hijau, perlahan-lahan berubah jadi putih. Wooww!!! Seneng banget rasanya bisa ngelihat salju dimana-mana. Sepanjang mata memandang, semuanya tertutup salju. Tiba di Stasiun Kleine Scheidegg, saya langsung naik kereta berikutnya menuju Jungfraujoch. Nggak sabar rasanya kepengen main salju.


Kereta jurusan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Pemandangan di perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Mulai ada salju dan agak berkabut di perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Tadaa!!! Kabut mulai hilang!
Perjalanan Lauterbrunnen-Kleine Scheidegg
Berpapasan dengan kereta dari arah Kleine Scheidegg
 
Stasiun Kleine Scheidegg terletak pada ketinggian 2061 meter. Kalo tadi di Interlaken suhunya masih 6 derajat Celcius, di Kleine Scheidegg udah turun jadi 0 derajat Celcius. Dari sini, kereta akan mendaki ke ketinggian 3454 meter, Jungfraujoch. Dalam perjalanan menuju Jungfraujoch, kereta akan berhenti sebanyak dua kali, yakni di Eigerwand dan Eismeer. Di situ para penumpang bisa turun buat ngelihat pemandangan pegunungan. Salah satunya adalah Mount Eiger. Tapi sayangnya, kita cuman bisa ngelihat pemandangan dari balik jendela kaca. Soalnya posisi kedua stasiun itu berada di terowongan. Dan setelah hampir satu jam mendaki dari Kleine Scheidegg, kereta pun tiba di stasiun pemberhentian akhir, Jungfraujoch.

Kereta jurusan Kleine Scheidegg-Jungfraujoch
Pemandangan dari Eigerwand
Pemandangan dari Eigerwand
Jungfraujoch, top of Europe?

Stasiun Jungfraujoch terkoneksi dengan Sphinx Observatory. Di bangunan ini ada toko souvenir, restoran, cinema yang menayangkan pemandangan spektakuler pegunungan, juga terowongan yang terbuat dari es. Bangunan ini juga memiliki teras. Kita bisa berfoto narsis dengan background pegunungan berselimut salju. Kalo belum puas, ada juga akses menuju luar bangunan. Kita bisa bener-bener nginjekin kaki di salju. Wohohoho... Akhirnyaaa!!! Setelah sekian lama, saya bisa menyentuh salju. Bentuknya ternyata kayak es serut. Tinggal ditambahin sirup plus susu. Hmmm... Yummyy... Hahaha... :D


Enyaak,,, aye bisa megang salju!!!
Observation Terrace Sphinx

Di sana, yang katrok ternyata bukan cuman saya. Banyak turis dari India, Jepang dan Korea, juga bermain salju. Saya mungkin yang paling katrok. Dengan polosnya saya bolak-balik ngelepas sarung tangan dan megang salju. Sebuah tindakan yang agak tolol karena sampai seminggu kemudian, telapak tangan saya jadi mati rasa. Kalo dari segi kostum, saat itu dengan suhu mencapai minus 12 derajat Celcius, saya udah mempersiapkan diri. Saya pake longjohn, kaos, sweater tebal, dan masih dilapis jaket kulit. Tapi saya melupakan satu hal, yaitu penutup telinga. Awal-awal di alam terbuka sih, saya enjoy aja. Tapi nggak lama kemudian, hujan salju mulai turun. Lama-lama jadi deres. Nah, inilah bedanya hujan air sama hujan salju. Kalo hujan air, palingan cuman bikin badan jadi basah. Tapi kalo hujan salju yang turun dengan deras, muka rasanya kayak dilemparin pasir. Ditambah lagi, telinga rasanya jadi sakit. Saat itu saya cuman pake kupluk. Tapi tetep aja masih tembus. Alhasil, saya jadi bolak-balik masuk ke gedung deh buat recovery kuping. Kalo udah nggak terasa sakit, saya keluar lagi mainan salju. Hehehe...


Iya, itu aku :p
Cuaca semakin memburuk

Setelah puas bermain, perut saya mulai terasa lapar. Ada satu kesalahan saya selain nggak bawa penutup telinga, saya nggak kepikiran buat bawa bekal makanan. Di Jungfraujoch emang ada restoran, tapi tentu saja harganya selangit. Waduuhh,,, apes banget saya. Setelah menimbang-nimbang, pilihan saya jatuh ke restoran India. Namanya Restoran Bollywood. Di situ saya memilih menu kari.

Habis makan, kenyang, terus, saya pulang deh... Totally, saya hanya menghabiskan sekitar 3 jam di atas. Sebenernya saya pengen lebih lama lagi. Tapi cuaca tak kunjung membaik. Saya pun memutuskan untuk turun. Meskipun cuman sebentar dan terhalang cuaca buruk, perjalanan ini berkesan banget karena saya pertama kalinya melihat dan menyentuh salju. Next time, saya kepengen balik lagi tapi pas summer. Biar bisa menikmati pemandangan juga di puncak. Tiba di Stasiun Kleine Scheidegg, salju masih turun. Tapi nggak sederas di Jungfraujoch tadi. Dari situ, saya naik kereta menuju Grindelwald, sebelum kembali ke Interlaken. Meskipun rutenya berbeda, pada perjalanan pulang ini pemandangan yang dilalui tetep aja nggak kalah indah dengan pada saat berangkat tadi.

Salju tipis di Kleine Scheidegg
Mixed (Perjalanan Kleine Scheidegg-Grindelwald)
Awesome! (Perjalanan Kleine Scheidegg-Grindelwald)
Jendela kereta yang lebar memudahkan penumpang menikmati pemandangan
Stasiun Grindelwald (1034 meter)
Stasiun Grindelwald
Pemandangan di perjalanan Grindelwald-Interlaken Ost
Saya nggak bohong, pemandangan ini nongol begitu aja dari balik jendela kereta (Grindelwald-Interlaken Ost)

Sedikit tips dari saya kalo mau ke Jungfraujoch. Pertama, perhatikan cuaca. Kedua, kalo cuaca nggak bagus, jangan lupa bawa penutup telinga. Ketiga, jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman. Keempat, salju itu ternyata menyilaukan mata, jadi jangan lupa bawa kacamata item. Kelima, karena salju itu putih, kalo foto jangan sampe kelihatan gigi. Sekian... :D

ARTIKEL TERKAIT:

25 comments:

  1. Keindahan yang terlalu mempersona.. dapat main salju lagi.. seronok menaiki kereta api tu .. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya, dalam perjalanan turun ke Interlaken, saya berjumpa dengan student Malaysia yang sedang kuliah di Bern. Semasa perjalanan, hanya kami berdua yang cakap Malay :)

      Delete
  2. Subhanallah , indah sekali especially pic no.5..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Ada air terjun tapi tak nampak atasnya tertutup kabut :)

      Delete
  3. Subhanalloh..Indahnya ngak kebanyang... dinginnya juga ngak kebayang. Saya suka bayangin kalau di Bogor turun salju, pasti saya sibuk ambil salju untuk dikasih air gula.. bikin kayak es serut. btw di Swiss sana ngak ada tukang es Serut kah Mas Indra ?..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada kayaknya. Mas Gunadi tertarik buka lapak es serut di sana? Hahaha... :D

      Delete
  4. keren ndra !.
    ane pernah sempet mimisan dikit ,dan dagu kerasa beku.Mau motret juga harus cepet2 masukin sarung tangan lagi bbrrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buset, ternyata bisa sampe mimisan juga yah? Gw kemarin sempet kaget juga waktu ngelihat ceceran darah di salju. Lumayan banyak. Udah sempet parno juga. Barangkali ada yang mimisan parah kali ya?

      Delete
  5. baguuss... pengen megang salju juga. tapi kog dari deket kayak es serut ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip juga sama es yang ada di freezer Mil :p

      Delete
  6. Indra foto fotonya bikin mupeng...... nabung nabung nabung biar bisa ke Eropa. Ntar kalo gua ada takdir ke Eropa, gua nanya itinerary Indra yah :)

    ReplyDelete
  7. KEREN....Foto yang pertama mengingatkan saya pada film Bollywood yg syuting di eropa. Hahahaha....

    Mas Indra hebat sudah keliling Eropa. Soal yang pegang salju saya pikir konyol juga ya mas Indra, sudah tau dingin eh malah di pegang. Ibarat bunga es di freezer di pegang pasti dingin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Film Bollywood jadul yang ada saljunya yang saya masih inget ada Mohabbatein. Kalo yang baru ada Jab Tak Hai Jaan. Psstt!!! Diem2 saya suka film Bollywood loh... Hahaha... :D

      Delete
    2. Bukan. "Dilwale Dulhania Le Jayenge" itu syutingnya full di Switzerland tepatnya di Saanen saat nyanyi "Ho Gaya Hai Tujhko"

      Hahahaha.....Aku masih ingat. Karena suka banget. Maaf Komennya jd OOT.

      Delete
    3. Waduh, waktu itu ane nontonnya masih Doraemon. Belum kenal film cinta2an Bollywood. Wkwkwk... :p

      Delete
    4. Hahahahaha...Itu film tahun 1995 berarti Mas Indra Masih SMP ya? Makanya Nonton Doraemon. Maaf.

      Delete
  8. subhanAllah... keren bingit euy!
    btw, ada byk penginapan di Jungfraujoch kah?
    klo nginep dsna semalem recommended gak nih?
    thanks!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow! Dapet kunjungan dari Belanda euy! Hehehe... Di sepanjang jalan naik ke Jungfraujoch banyak hotel/rumah yang memang disewakan kok. Tentunya recommended asalkan ada partner supaya bisa sharing cost. Kalo saya dulu nginepnya di hostel di Interlaken.

      Delete
  9. rasanya kepingin juga kesana, kayaknya pemandangan disana adem banget..

    ReplyDelete
  10. Haii Mas Indra.. Bagus banget blognya sangat informatif. Foto2nya juga. Mas kalau beleh tau tur eropa 10 hari ini saat bulan apa ya?

    Untuk salju di swissnya apakah bulan maret/april masih hujan?

    Terima kasih infonya mas


    Terima kasih..

    ReplyDelete
  11. Hallo, menarik sekali ceirtanya. Btw boleh kasih saran...kalau rute zurich - jungfrau - zurich selama 3 hari dan menginap di grindelwald apakah sebaiknya membeli swiss pass atau beli point to point saja ya? kurang lebih di rutenya sama dengan mas indra :)

    ReplyDelete