Thursday, May 8, 2014

Kayak Gini Nih Tugas Customs Immigration Quarantine

Sebagai traveler yang pernah berpergian lintas negara, tentu kita sudah terbiasa dengan prosedur keimigrasian dan kepabeanan. Yupz, Customs, Immigration dan juga Quarantine (CIQ) memang tiga otoritas terdepan yang menjaga perbatasan suatu negara. Di Indonesia, ketiga otoritas tersebut berada di bawah kementerian yang berbeda. Customs atau Direktorat Jenderal Bea dan Cukai berada di bawah Kementerian Keuangan, Immigration atau Direktorat Jenderal Imigrasi berada di bawah Kementerian Hukum dan HAM, sedangkan Quarantine atau Karantina berada di bawah Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Kesehatan. Kok Karantina banyak amat? Soalnya, Karantina itu ada Karantina Pertanian, Hewan, Ikan, dan Kesehatan.

Nah, kalo yang saya perhatiin belakangan ini, masih ada beberapa traveler Indonesia yang belum begitu paham tugas dan fungsi CIQ di perbatasan. Bawaannya kepengen marah-marah kalo sedikit terhambat di perbatasan. Kali ini saya kepengen sedikit berbagi pengalaman. Karena saya seorang traveler, tentunya pengalaman ini dari sudut pandang traveler yah... Kalo ada salah ya mohon dimaafkan. Hehehe...

Begitu tiba di Indonesia, baik itu melalui bandara, pelabuhan, maupun perbatasan darat, yang pertama kali kita temui adalah petugas imigrasi. Petugasnya pake seragam warna biru muda. Mereka ini tugasnya berkaitan dengan lalu lintas orang. Jadi orangnya yang diperiksa. Apakah dia masuk ke Indonesia secara legal atau tidak. Kalaupun legal, apakah orang ini memiliki risiko tinggi atau tidak. Proses ini dinamakan immigration clearance. Legalitas seseorang memasuki sebuah negara, termasuk Indonesia, dilihat dari sebuah dokumen bernama paspor. Beberapa negara juga memerlukan visa selain paspor tadi. Tapi sebagian besar negara di dunia sudah bisa masuk Indonesia dengan menggunakan Visa on Arrival meskipun hal ini tidak berlaku secara reciprocal. Huh!!!

Immigration Clearance


Bedanya Visa on Arrival (VOA) dan visa in advanced (sebut aja visa) itu cuman lokasi permohonan dan jangka waktunya. VOA bisa didapatkan di perbatasan-perbatasan yang udah ditunjuk. Sementara visa, harus di-apply di Kedutaan Besar RI di negara asal, sebelum berangkat ke Indonesia. VOA lebih praktis, tapi ijin tinggal yang diberikan cuman 30 hari, atau bahkan 14 hari kalo di Batam. Mana cukup untuk menjelajah Indonesia dalam 30 hari? Buat mengeksplor seluruh Pulau Jawa aja nggak cukup. Sementara visa, bisa dikasih ijin tinggal sampe 90 hari (CMIIW). Bagi negara-negara Asia Tenggara selain Timor Leste, nggak usah pusing mikirin visa, soalnya pemegang paspor negara-negara tersebut bebas visa untuk masuk ke Indonesia. Sama kayak kita yang bebas visa ke negara-negara tersebut.

Selain legalitas, petugas imigrasi juga melakukan profiling kepada para penumpang/pelintas batas. Bisa jadi kaaan, di antara mereka ada yang buronan internasional, atau berencana jadi imigran gelap di Indonesia. Itulah sebabnya, kita kalo ke negara lain juga bakalan diwawancara dulu sama petugas imigrasi. Termasuk saya. Entah sudah berapa kali saya didongengin sama petugas imigrasi. Hehehe... Tapi saya paham sepenuhnya, kalo itu emang tugas mereka. Jadi biasanya saya manggut-manggut aja. Asal jangan dideportasi deh...

Setelah melalui immigration clearance, kita akan diarahkan menuju mesin x-ray. Di sinilah terjadi yang namanya customs clearance. Kalo tadi di imigrasi yang diperiksa orangnya, kali ini yang diperiksa adalah barang bawaan orangnya. Barang bawaan ini ya termasuk yang menempel di badan, atau bahkan di dalam badan. Bingung kan? Hehehe... Sabar dulu. Ntar saya jelasin. Petugas customs atau bea cukai, seragamnya berwarna biru tua. Mereka adanya di terminal kedatangan internasional. Lah, kalo petugas yang jagain x-ray di keberangkatan siapa dong? Kalo di bandara, mereka adalah petugas aviation security. Pemeriksaan barang yang mereka lakukan lebih ke arah keamanan dan keselamatan penerbangan. Kebetulan model seragamnya mirip-mirip juga. Ada yang berwarna biru muda, ada yang abu-abu. Tapi kali ini saya nggak akan ngebahas tugas mereka.

Customs Clearance

Kembali ke customs clearance, para penumpang yang baru tiba dari luar negeri akan diminta memasukkan barang bawaannya ke dalam mesin x-ray. Oleh petugas bea cukai, barang-barang itu akan diperiksa dengan bantuan mesin x-ray tersebut. Beberapa barang yang mencurigakan, akan dilakukan pemeriksaan yang lebih detail, yakni dengan membuka isi tas. Sementara barang-barang yang membutuhkan ijin karantina seperti produk hewan, tumbuhan dan turunannya, akan diperiksa lebih mendalam oleh karantina. O iya, kalo karantina kesehatan, itu yang diperiksa adalah kesehatan kita. Di bandara internasional suka lihat alat pemindai suhu tubuh kan? Letaknya begitu masuk bangunan terminal sebelum pemeriksaan imigrasi. Nah, itu merupakan domain karantina kesehatan.

Barang apa yang mencurigakan? Ya tentu saja barang-barang yang peredarannya di Indonesia dilarang dan atau dibatasi. Mau tahu contohnya? Ya seperti yang sering kita lihat beritanya di TV, obat-obatan terlarang. Dengan letak geografis yang berada di antara Benua Asia dan Australia, serta jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, Indonesia jadi pasar yang sangat bagus untuk peredaran barang haram ini. Nah, bea cukai punya tugas mulia untuk melindungi negara tercinta ini dari masuknya obat-obatan itu.

Jaman sekarang, kurir dan pengedar narkotika itu makin canggih. Dari yang hanya naruh barang tersebut begitu aja di dalem tas, bikin kantong khusus di dalam tas, dimasukin ke kantong milo/deterjen trus bungkusnya bisa tersegel rapi, ditaruh di badan, bahkan sampe ditelan. Kalo yang ditaruh di badan, masih bisa diperiksa. Tapi kalo udah ditelan, ya tetep harus dikeluarin. Dan musti ditungguin. Yucks!!!

Selain obat-obatan terlarang, yang biasanya dicek langsung isi tasnya adalah juragan elektronik. Hahaha... Bukan elektronik doank sih... Kan ada tuh, peraturan tentang batas maksimum barang bawaan penumpang. Yang cuman 250 USD itu loh... Heran deh... Peraturan ini udah dibuat lama banget (tahun 1996) dan jumlahnya nggak berubah juga sampe sekarang. Padahal harga sebungkus indomie udah meningkat seribu persen. Tapi sebenernya, yang jadi concern bea cukai tuh dari kewajaran jumlahnya. Kalo kita bawa laptop satu biji, bekas, dan buat dipake sendiri, masak iya disuruh bayar pajak? Lain cerita kalo kita bawa laptop 5 biji masih di dalam kardus semua. Pasti deh, dibongkar isi tasnya dan disuruh bayar pajak. Hehehe...  Selain dari kewajaran jumlah, biasanya yang juga dinilai adalah harganya. Kalo kelewat mahal, ya jelas aja disuruh bayar pajak. Contohnya jam tangan, tas, dll. Soalnya barang-barang itu harga per bijinya ada yang sampe puluhan, bahkan ratusan juta.

Buat temen-temen yang emang perlu bawa laptop baru (ini contoh aja ni yaa pake laptop), waktu transaksi di luar negeri, jangan lupa disimpen struknya. Struk ini akan jadi dasar penghitungan bea masuk dan pajak-pajak lainnya. Tapi saran saya, jangan sekali-kali ngecil-ngecilin nilai di struk. Soalnya petugas bea cukai juga dibekali ilmu tentang barang. Mereka ada sekolah tersendiri tentang itu. Nggak bawa duit cash? Tenang aja, di SHIA sekarang udah bisa bayar pake mesin EDC. Mudah-mudahan di perbatasan lain bisa segera menyusul. Habis bayar, jangan lupa minta bukti bayarnya yaa... Namanya adalah SSPCP. Apaan tuh? Itu dokumen negara untuk pembayaran setoran pabean, cukai dan pajak lainnya. Nah, dokumen ini penting banget sebagai bukti kalo kita udah jadi warga negara yang baik dan taat pajak. Jadi jangan sampe lupa minta yah! Atau kalo rela, segelnya bisa dibuka dulu. Boks dipisahin sama laptopnya. Jadi bisa dianggap sebagai barang pribadi bukan baru. Dan secara peraturan, boleh tidak membayar pajak karena merupakan barang pribadi penumpang atau tidak untuk dikomersialkan.

Gimana temen-temen? Coretan di atas, sedikit banyak udah cukup membuka wawasan kita kan tentang CIQ? Jadi temen-temen jangan keburu sebel dulu kalo melewati pemeriksaan CIQ. Di-escort petugas imigrasi ke dalam ruangan, dibongkar isi tasnya sama bea cukai, dll, semuanya dijalanin aja. Karena mereka memiliki tugas mulia menjaga perbatasan NKRI.

Tapi saya ada sedikit masukan nih buat CIQ Indonesia, khususnya di sektor customs bandara. Masukan ini saya dapet dari pengalaman saya berinteraksi dengan CIQ negara-negara lain. Kalo di negara lain, pemeriksaan x-ray secara mendalam dilakukan sebelum barang masuk belt bagasi di kedatangan. Tas yang dicurigai, mungkin akan dicatat spesifikasi tasnya dan juga barang yang dicurigai, selanjutnya informasi ini disampaikan kepada petugas yang berada di x-ray sebelum pintu keluar, atau petugas berpakaian preman yang berjaga di sekitar belt. Jadi tasnya nggak ditandai pake cara tradisional dengan cara dicoret pake kapur. Kalo dicoret mah tinggal dilap pake tissue basah, ilang deh... Metode seperti ini tentunya bisa meringankan beban petugas x-ray deket pintu keluar. Selain itu bisa mempercepat waktu pelayanan juga. Di negara lain, bahkan pemeriksaan x-ray di deket pintu keluar cuman buat penumpang dengan bagasi besar atau random check. Mereka lebih memaksimalkan fungsi intelijen untuk memberantas peredaran barang terlarang. Jadi penumpang senang karena pelayanan lebih cepet, tapi tetep tanpa mengendurkan pengawasan customs.

Ada satu lagi sih... Tentang CD atau Customs Declaration. Saya baru tahu ada yang namanya dokumen CD ini di Indonesia. Di negara lain, declaration dilakukan dengan cara melapor langsung kepada petugas yang berjaga di jalur merah. Paper less. Di Indonesia, imigrasi juga udah mulai paper less. Bagi WNI, nggak ada lagi ngisi-ngisi kartu imigrasi. Paspor tinggal di-scan, dan tercatatlah semua informasi yang tadinya harus ditulis pada kartu imigrasi. Gimana dengan bea cukai? Kalo di bandara, sepengetahuan saya masih harus ngisi CD. Walaupun jelas-jelas saya nggak pernah jalur merah.


Yups, sekian dulu. Mudah-mudahan CIQ Indonesia makin maju dan sejajar dengan CIQ Internasional. MERDEKA!!!

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment