Saturday, May 3, 2014

Ketika Nasionalisme Terbangun Kembali di Negeri Orang


Sedikit cerita tentang perjalanan di Berlin, Jerman. Kami sekeluarga sengaja datang ke Jerman untuk menyaksikan penampilan dalang Sri Joko Raharjo. Awalnya, saya belum begitu tahu, siapa sih Sri Joko Raharjo ini? Di Indonesia, para dalang yang terkenal kan didominasi oleh dalang yang berusia senior. Tapi di luar dugaan, dalang Sri Joko Raharjo ini ternyata masih muda. Tapi udah malang-melintang di dunia internasional. Baru-baru ini, dia juga mewakili Indonesia dalam sebuah acara pertukaran budaya di Amerika Serikat. Gue mesti bilang WOW nih!!!

Pada undangan yang diterima, Sang Dalang akan pentas di Haus der Kulturender Welt. Sesampainya di sana, saya kaget bukan main. Ternyata Haus der Kulturender Welt itu besar banget dan malam itu didedikasikan khusus untuk acara yang berjudul Mythos und Mystik Indonesiens “Dewi Sri”. 

Dewi Sri Mythos und Mystik Indonesiens


Setelah memasuki gedung, tempat duduk di deretan depan ternyata udah penuh. Tapi nggak masalah. Soalnya tempat duduk penontonnya kayak di teater yang berundak-undak. Jadi duduk dimanapun, pandangan mata ke arah panggung tetap tak terhalang. Melihat ke sekeliling ruangan, ternyata para penonton ini didominasi oleh masyarakat setempat. Banyak di antara mereka, bahkan mengenakan pakaian batik. Bangga rasanya jadi orang Indonesia. Tak lama setelah kami duduk, acara pun dimulai.

MC membawakan acara dengan Bahasa Inggris dan Jerman. Sesekali, dia juga bicara Bahasa Indonesia. Acara pertama adalah sambutan dari Bapak Duta Besar LBPP Indonesia di Jerman, Bapak Eddy Pratomo. Beliau menyampaikan sambutan dalam Bahasa Inggris, kemudian sekaligus membuka acara.  Setelah sambutan Beliau, acara utama langsung ditampilkan.


Duta Besar LBPP RI di Jerman saat itu
Pada sesi pertama, para penampilnya terdiri dari dua kelompok. Pertama adalah satu set pemain gamelan, lengkap dengan penyanyi sinden. Mas Sri Joko Raharjo jadi salah satu pemainnya. Dia memainkan alat musik Gender. Yang kedua adalah satu set pemain angklung, lengkap dengan penyanyinya. Kedua kelompok ini bergantian membawakan lagu-lagu daerah. Ada lagu Jawa dan Sunda yang memang sudah menjadi semacam pasangan serasi dari alat-alat musik tradisional tersebut. Kemudian, ada pula lagu Papua yang dibawakan. Setiap selesai sebuah lagu, sontak seluruh penonton bertepuk tangan. Di antara mereka, tentu saja warga negara non Indonesia. Bulu kuduk saya sampai berdiri saking bangganya. Di negeri orang, ternyata kebudayaan kita diapresiasi tinggi. Sekali lagi, saya bangga bukan main. Rasa nasionalisme saya membuncah.


Gamelan dan tembang Jawa
Pada salah satu sesi, performance kedua kelompok tadi juga diselingi dengan tarian. Penarinya masih anak-anak. Ada yang seusia SD dan ada juga yang SMP. Mereka membawakan tarian tradisional Indonesia dengan sangat luwes. Nah, yang istimewa adalah, hampir semua penarinya berambut pirang dan bermata biru. Mereka bukan orang Indonesia. Duh, gue mesti bilang WOOWWW lagi nih...


Anak2 ini, yang Indonesian cuman yang no.2 dari kanan
Sesi berikutnya, kami lebih kaget lagi. Pada saat performance alat musik gamelan, pemain dan sindennya udah ganti orang. Bukan lagi Bapak-bapak dan ibu-ibu dari Jawa. Tapi bule! Oh maann!!! Bagaimana bisa mereka membawakan alat musik tradisional khas Indonesia? Sementara saya yakin, orang Jawa tulen aja belum tentu semua bisa memainkannya. Kalo saya pribadi boleh sombong dikit laah... Waktu masih SD saya ikutan kegiatan ekstra kurikuler gamelan dimana spesialisasi saya waktu itu jadi pemain Demung dan Bonang. Waduh, malah jadi OOT. Hehehe...

Ok, Kembali ke topik. Saya nggak inget, ada berapa lagu dan tarian yang mereka tampilkan ketika MC kembali naik ke atas panggung. MC mengatakan bahwa kita akan istirahat sejenak dan para tamu dipersilakan mencicipi snack yang telah disediakan. Mendengar kata-kata MC tadi, cacing-cacing di perut pun bersorak kegirangan. Langsung deh, para penonton berhamburan menuju meja tempat snack disajikan.

Tahu nggak, snack apa yang tersedia?  Onde-onde. Wow, ini pertama kalinya saya makan onde-onde di negeri orang. Dan saya perhatikan, para tamu tampak begitu antusias dengan makanan ini. Antrean buat mengambil snack ini lumayan pajang loh... Mungkin mereka takjub dengan cara pembuatan onde-onde. Dikiranya, mijen itu dilekatkan satu per satu pake pinset ke adonan onde-onde sebelum dimasak. Hahaha... Bercanda diink...

Setelah istirahat, para penonton pun kembali ke ruangan. Dan setting-an panggung sedikit berubah. Di tengahnya ada sebuah layar besar. Wah, berarti habis ini acaranya pertunjukan wayang nih... Dan benar saja, Sang Dalang Sri Joko Raharjo pun dipanggil oleh MC untuk memperkenalkan para tokoh wayang yang akan dimainkannya. Sesuai dengan judul, Sri Joko Raharjo akan membawakan cerita wayang berjudul Dewi Sri. Setelah memperkenalkan para tokoh wayang dan sedikit sinopsisnya, Mas Joko langsung menuju belakang layar. Dan pertunjukan pun dimulai.


Dalang Sri Joko Raharjo
Pada pertunjukan wayang kali ini, ada perbedaan dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Di sini, adegannya di-mixed antara wayang kulit dengan orang beneran. Dewi Sri yang menjadi tokoh utamanya juga diperankan oleh seseorang. Begitu juga dengan para penjahat. Kebolehan dan keluwesan Dewi Sri asli menari di balik layar dengan sorotan lighting yang cantik ini sangat memukau penonton. Demikian juga dengan versi wayang kulitnya. Sempurna! Para Dalang terlihat begitu ahli memainkan para tokoh wayang. Kok “para dalang”? Iya bener. Ternyata Mas Sri Joko Raharjo juga dibantu oleh dua dalang lainnya. Mas Joko juga menunjukkan kebolehannya nembang (menyanyi lagu Jawa) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari pagelaran wayang kulit.


Siluet Dewi Sri
Dewi Sri ini dapet sambutan luar biasa dari penonton
Ceritanya dari wayang, nyambung ke orang beneran

Nah, kalo ceritanya dalam Bahasa Jawa, gimana donk para tamu yang sebagian besar orang asing ini bisa menikmati? Sabar dulu. Saya belum cerita tentang penyanyi satunya kan? Ada seorang wanita berambut pirang yang menjadi pengisi suara Dewi Sri dalam Bahasa Inggris. Musiknya musik Jawa yang lambat, tapi bahasanya pake Bahasa Inggris. Suppeerrrr sekali!!!

Tak terasa, pertunjukan wayang Dewi Sri sudah mencapai puncak ketika Dewi Sri berhasil mengalahkan para lawan. Satu per satu, mereka yang ada di balik layar pun diperkenalkan. Diawali oleh Mas Sri Joko Raharjo sebagai dalang utama. Dan ada dua orang dalang lagi yang membantu. Percaya nggak percaya, mereka rupanya bukan orang Indonesia. Bule. Asli. Kemudian diperkenalkan juga pemeran para lawan. Tentunya yang versi sungguhan yaa... Bukan yang wayang kulit. Nah, ternyata mereka juga orang asing. Ada juga pemain pencak silat. Dan lagi-lagi mereka ini mas-mas bule ganteng loh... Kemudian, juga diperkenalkan pemeran Dewi Sri. Serentak, para penonton tampak begitu antusias. Mereka terpesona dengan kecantikan Dewi Sri yang khas Indonesia banget. Ada juga penyanyi sinden yang saya sebutin tadi. Dan terakhir adalah para pemain gamelan yang juga bukan orang Indonesia.


Mas2 ini nampilin atraksi pencak silat
Setelah perkenalan, para penampil menerima penghargaan dari Bapak Duta Besar dan kemudian berfoto bersama. Dan tibalah saat paling menyedihkan, acara pun berakhir.

Dengan menonton acara ini, saya sungguh takjub dengan masyarakat di luar negeri yang begitu mengagumi kebudayaan Indonesia. Sementara saya sendiri, jujur aja, baru sekali ini nonton pertunjukan wayang kulit. Sepulangnya dari acara, saya pun bertekad untuk lebih mencintai dan melestarikan kebudayaan Indonesia. MERDEKAA!!!

Innalillahi wa inna illaihi raji'un. Pada 8 Juni 2014,  Sang Dalang Sri Joko Raharjo, Mbak Wulan (istri) dan Satya (anak bungsu) telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur. Semoga amal ibadah Beliau, istri dan anaknya diterima di sisi-Nya. Amin.


Dubes LBPP menyerahkan bunga buat Sang Dalang
Foto Bersama

ARTIKEL TERKAIT:

6 comments:

  1. Hebat...Pertunjukan Wayang Kulit di pentaskan di Jerman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas. Bulu kuduk saya sampai berdiri saking bangganya :)

      Delete
  2. Sy pernah dpt undangan Dr sebuah foundation dijakarta untuk fashion show di 5 negara di USA Dan 3 negara di eropa tahun lalu. Sy rencana mpagelarkan kebaya Dan batik ampiek asal kaltim. Saying proposal sy ke pemkot Bontang ditolak mentah-mentah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayang sekali. Padahal event itu jadi salah satu kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia, termasuk juga kebaya dan batik khas Indonesia :)

      Delete
  3. Tentu Mas Indra bangga dengan kebudayaan asli Indonesia dipamerkan di Jerman. Pasti merinding bulu romamu. Bule bule itu barang kali terlalu minat dengan seni budaya Indonesia.
    Apakah sebabnya Dewi Sri itu dapat sambutan hangat dari penonton? Adakah kerana kehandalannya menari atau kerana kecantikannya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang di antara semua penampil, yang paling menarik antusias penonton itu ketika Dewi Sri sedang menari. Entahlah. Mungkin kerana kecantikan dan tariannya.

      Delete