Wednesday, May 14, 2014

KLM and Schipol Airport Experience



Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan terbang dengan maskapai KLM dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Tujuan akhir saya adalah Singapore. Sebenernya ada sih penerbangan langsung KLM dari Amsterdam menuju Singapore. Tapi saya transit dulu di Kuala Lumpur karena tiket yang saya beli adalah tiket Malaysia Airlines. KLM dan Malaysia Airlines memang memiliki kerja sama code share untuk rute Kuala Lumpur-Amsterdam vv. Saya memilih beli tiket Malaysia Airlines karena pada saat itu, cuman maskapai ini yang ngasih tarif termurah. Dan saya memilih penerbangan pulang yang dioperasikan oleh KLM karena saya belum pernah naik KLM. Hehehe...

Boeing 777-300ER KLM at Schipol Airport

Penerbangan pergi pulang via Amsterdam kali ini adalah yang kedua kalinya. Pada kesempatan pertama dulu, saya berangkat dengan Boeing 777-200 Singapore Airlines, dan pulang dengan Boeing 747-400 Malaysia Airlines. Pada kesempatan kedua ini, Boeing 747-400 Malaysia Airlines tampaknya udah dipensiunkan. Jadi penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam menggunakan Boeing 777-200ER. Nah, penerbangan kembalinya yang dioperasikan oleh KLM, menggunakan Boeing 777-300ER. Sementara penerbangan jarak pendek menuju Singapore menggunakan Boeing 737-800.



Kali ini saya kepengen sedikit berbagi tentang pelayanan maskapai KLM. Saya terbang dari Amsterdam saat itu dengan suasana hati yang sedikit kurang baik karena beberapa minggu sebelumnya, saya ditolak check in oleh maskapai lain di negara lain karena terlambat. Ya, saya emang salah karena nggak datang lebih awal. Tapi bukan cuman itu masalahnya. Waktu itu, saya terbang dari bandara yang menjadi hub maskapai tersebut. Contohnya ya kayak Amsterdam Schipol bagi KLM, KLIA bagi MAS, Changi Airport bagi SQ, dll. Tentunya bukan salah satu dari maskapai tersebut. Tapi maskapai lain.



Yang bikin saya terlambat adalah antrean penumpang berlapis-lapis yang luar biasa banyak. Untuk memasuki check in hall, penumpang musti antre pengecekan barang bawaan. Kemudian lanjut ngantre buat check in. Nah, antrean yang ini nih yang parah banget. Penumpang kelas ekonomi cuman disediakan dua row buat check in. Dan nggak ada antrean prioritas bagi penumpang dengan keberangkatan segera. Kios self check in cuman sedikit dan harus antre juga. Begitu tiba di meja check in, saya ditolak dan diminta mengurus re-schedule. Di sinilah masalahnya. Karena tiket saya promo, saya nggak diizinin re-schedule. Tiket saya hangus. F*ck!!!



Tapi syukurlah, selepas kejadian tak menyenangkan itu, saya benar-benar menikmati perjalanan. Dan setidaknya kejadian itu memberikan pelajaran bagi saya, untuk datang jauh lebih awal di bandara, jika terbang dari bandara hub suatu maskapai.



Kembali ke pelayanan KLM. Kita tahu, Bandara Schipol adalah bandara hub maskapai KLM Royal Dutch Airlines. Maskapai ini melayani penerbangan menuju lima benua, mulai dari Eropa, Afrika, Asia, Amerika, hingga Amerika Selatan. Tentunya kebayang doonng betapa sibuknya pergerakan pesawat KLM dan penumpangnya di bandara ini. Belum lagi kalo ditambah dengan maskapai-maskapai lainnya. Bandara Schipol memang tercatat sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia.



Sebagai hub maskapai KLM, di Bandara Schipol tersedia banyak banget kios self check in. Penumpang bisa langsung menuju kios ini tanpa harus melalui antrean panjang. Nggak ada pemeriksaan x-ray di pintu masuk seperti kebanyakan bandara di Indonesia. Jadi penumpang bisa langsung menuju kios self check in itu. Untuk prosedurnya pun cukup simple. Tinggal ketik kode booking, pilih tempat duduk, dan cetak boarding pass.

Kios Self Check in banyak tersedia di Bandara Schipol



Selanjutnya kalo penumpang bawa bagasi, tinggal menuju self service baggage drop. Prosedurnya juga gampang. Pertama, taruh tas di atas belt. Secara otomatis akan muncul berat barang bawaan kita. Kemudian, scan barcode yang ada pada boarding pass. Kalo punya lebih dari satu boarding pass (karena ada penerbangan lanjutan), cukup scan boarding pass yang pertama aja. Setelah itu akan muncul detail penerbangan pada layar monitor. Kalo udah bener, kita konfirmasi dengan menekan virtual button pada layar tersebut. Kemudian akan muncul beberapa pertanyaan terkait security. Lalu, kita cetak baggage tag-nya. Baggage tag ini kita buka pelindungnya, kemudian dipasang di pegangan tas.


Self service baggage drop at Schipol Airport
Self service baggage drop at Schipol Airport


Jangan lupa untuk melepas baggage tag lama yaa! Soalnya penanganan bagasi di Bandara Schipol udah menggunakan sistem. Baggage tag akan dipindai oleh mesin untuk kemudian dilakukan penyortiran secara otomatis. Kalo tag yang lama masih ada, bisa-bisa bagasi kita nyasar ke tempat lain. Setelah baggage tag terpasang, kita tekan lagi tombol konfirmasi pada layar. Selanjutnya bagasi akan terdorong ke dalam. Dan mesin akan mencetak satu baggage tag lagi untuk kita. Tag yang ini kita pake untuk mengambil bagasi di bandara tujuan. Selesai deh. Selanjutnya kita bisa langsung immigration clearance dan menuju ruang tunggu. Proses mulai dari self check in sampe masukin bagasi ini cepet banget. Tapi kalo kita bingung, banyak ground staff yang stand by untuk membantu. Salut untuk teknologi yang digunakan.



Sampai di ruang tunggu, ternyata banyak banget penumpang asal Indonesia dan Malaysia. Pesawat yang akan saya tumpangi memang memiliki tujuan akhir Jakarta setelah transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur. Dan kebetulan, mayoritas penumpangnya saat itu berasal dari kedua negara tersebut. Memasuki kabin Boeing 777-300ER KLM, saya melihat konfigurasi tempat duduk kelas bisnis adalah 2-3-2. Sementara kelas ekonominya 3-4-3. Whaat!!! Dalam satu deret ada 10 tempat duduk? Yupz, mungkin inilah satu-satunya kekurangan maskapai ini. Soalnya dari seluruh Boeing 777 yang pernah saya naiki, semuanya mengonfigurasikan 9 tempat duduk dalam satu baris. Singapore Airlines, Thai Airways, dan Cathay Pacific, konfigurasinya 3-3-3. Sementara Malaysia Airlines 2-5-2. Sementara konfigurasi 3-4-3 selama ini baru pernah saya temui pada Boeing 747-400 dan Airbus A380.


Code share with Malaysia Airlines
Konfigurasi kelas bisnis 2-3-2 pada Boeing 777-300ER KLM
Business Class KLM Boeing 777-300ER
Konfigurasi kelas ekonomi 3-4-3 pada Boeing 777-300ER KLM
Tersedia kelas Economy Comfort pada bagian depan
Economy Class KLM Boeing 777-300ER

Tapi tenang dulu! Setelah saya duduk, ternyata tempat duduknya nggak sempit2 amat kok. Masih cukup wajar lah. Asal jangan dibandingin dengan kelas bisnis aja tapi. Hehehe... Makanan yang disajikan juga enak banget. Saya memilih macaroni cheese untuk penyajian pertama. Sementara untuk penyajian kedua, hanya tersedia ommelette yang juga enak. Selama penerbangan, saya nggak sempet menikmati hiburan yang ada di pesawat. Soalnya, pesawat berangkat dari Amsterdam sekitar jam 9 malam. Saya ngantuk banget karena paginya memulai aktivitas sejak jam 3 pagi. Sementara malam sebelumnya baru istirahat selepas tengah malam. Nggak sempet tidur. Penerbangan selama 10 jam dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur jadi nggak terasa lama. Hehehe...

Jangan khawatir bosan selama penerbangan
Macaroni cheese
Ommelette
Inflight magazine
Safety instruction



Akhirnya, pesawat mendarat di KLIA menjelang sore hari. Saya pun segera menuju gate penerbangan lanjutan saya menuju Singapore. Dan saya baru kali ini merasakan gangguan pola tidur. Karena saya bangun tidur di Benua Asia pada siang hari, malamnya saya jadi nggak ngantuk. Baru ngantuk selepas subuh. Saya baru bener-bener menyesuaikan waktu tidur ini sekitar seminggu kemudian. So saran saya kalo naik penerbangan malam dari Eropa (barat) menuju Asia (timur), usahakan sebisa mungkin nggak tidur selama penerbangan. Soalnya kalo tidur, nanti kejadian kayak saya deh. Overall, saya puas banget dengan penerbangan bersama KLM Royal Dutch Airlines.

KLM and Air France at KLIA

ARTIKEL TERKAIT:

12 comments:

  1. Salam perkenalan..
    Terima kasi kerna sudi singgah blog saya. :)

    ReplyDelete
  2. wah makannya lumayan banyak macam tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia menunya lumayan lengkap. Tapi porsinya kecil. Hehehe... :D

      Delete
  3. Replies
    1. Terima kasih sudah berkenan mampir :)

      Delete
  4. Info yang sangat bermanfaat. BTW Self Check in sama Self Service Baggage sarana yang sangat keren banget. Kapan Indonesia seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kios self check in, di Indonesia ada Air Asia. Dulu Garuda juga punya. Tapi sejak boarding pass-nya berubah dimensi jadi lebih panjang, kios self check in-nya nggak ada lagi. Harus check in di kounter. Mungkin alatnya lagi dimodifikasi kali ya?

      Delete
  5. Bro..tuh ceritanya brgkt dari schipol jam 9 mlm..perjalanan 10 jam ga berasa..tp kok nyampe klia jelang sore.kl cm 10 jam harusnya nyampe pagi yaa :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gini ceritanya, kan berangkat dari Amsterdam jam 9 malam. Perjalanan selama 10 jam, jadi nyampe di KLIA jam 7 pagi waktu Amsterdam. Nah, di musim itu, perbedaan waktu antara Belanda dan Malaysia adalah 7 jam. Jadi di KLIA saat itu jam 2 siang :D

      Delete
  6. wah sangat membantu mas Indra (y) have a better trip ;)

    ReplyDelete