Friday, May 23, 2014

Rendezvous in Paris

Namanya Defi Lim. Dia ini temen satu almamater waktu saya masih kuliah. Sebenarnya waktu kuliah dulu saya nggak terlalu mengenal dia. Ya wajar aja sih, soalnya temen seangkatan saya kan ada 700-an orang. Jadi ya agak sulit mengenal satu per satu. Palingan saya cuman kenal wajah aja. Nah, setelah sama-sama udah bekerja, saya dan Defi dipertemukan di dunia maya. Hal apa yang mempertemukan kami? Hanya satu jawabannya. Kami sama-sama suka traveling.

Tahun 2010 lalu, saya pertama kalinya ketemu langsung sama Defi. Uniknya, kami nggak ketemu di Indonesia, tapi di Kuala Lumpur, Malaysia. Waktu itu secara tak sengaja, jadwal traveling kami beririsan di Kuala Lumpur. Saat itulah saya ketemu sama Defi. Waktu itu saya traveling bersama tiga orang travelmates saya yang posturnya tinggi2, Ali, Hanto, dan Suhartoyo. Sementara Defi traveling bersama kedua adiknya, Fendi dan Vina. Setelahnya, kami sama sekali nggak ketemu mengingat saya berdomisili di Batam sementara Defi di Jakarta.

Kiri ke kanan:Hanto, Ali, Saya, Suhartoyo, Defi, Vina, Fendi
 
Nah, beberapa bulan lalu ketika saya melakukan perjalanan ke Eropa bersama istri, saya ketemu lagi dengan Defi. Itu pun nggak sengaja. Awalnya, ketika sedang berada di Roma, saya check in melalui aplikasi Foursquare di ponsel saya. Eh, tanpa disangka-sangka, si Defi komen, “Beberapa jam lagi gue nyampe Roma”. “Whaatt??!!! Lo lagi di Roma juga? Kok bisa? Ketemuan yuk!”, saya masih setengah nggak percaya si Defi juga ada di Roma. Tapi dia nggak balas komen saya. Mungkin nggak dapet sinyal wifi, atau batere ponselnya habis.

Keesokan harinya, baru deh Defi ngebales komen saya. “Gue udah di Roma nih!”. Saya pun segera ngajakin ketemuan. Singkat cerita, kami pun janjian ketemu di restoran cepat saji di Vatican. Tapi ternyata, ketemuan sama Defi ini susahnya minta ampun. Soalnya ponselnya nggak bisa dihubungi sementara dia nggak bisa mengakses internet untuk berkoordinasi lebih lanjut. Ini jadi masalah besar loh... Soalnya terjadi salah persepsi di antara kami.

Saya beranggapan, tempat ketemuan adalah restoran cepat saji di dekat gerbang Vatican. Setelah saya menyusuri dinding pembatas dari Basilica San Pietro sampai museum, ternyata restoran dimaksud itu nggak ada. Restoran terdekat itu posisinya nggak jauh dari stasiun metro. Sementara jarak dari stasiun metro menuju Vatican terpaut beberapa ratus meter. Saya pun bergegas kembali ke stasiun metro. Agak susah emang menemukan restoran ini meskipun petunjuknya ada dimana-mana. Soalnya fisik bangunannya sama dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Cuman ada stiker logo restoran di kaca depan. Jadi saya musti berada di depan bangunan itu dulu baru nyadar kalo itu restoran yang dimaksud. Dan begitu ketemu, Defi udah nggak ada. Wajar aja sih... Soalnya itu udah hampir 3 jam sejak terakhir kali Defi ngontak saya via Facebook. Pada saat itu dia udah siap berangkat. Sementara saya baru bangun tidur. Hehehe... Sori banget ya Ce'...

Esoknya, saya kembali menerima pesan dari Defi bahwa dia udah terbang ke Paris. Sementara saya saat itu masih di Roma. Yaahh... Gagal deh ketemu Defi. Tapi saya tetep ngasih tahu itinerary saya sampai dengan pulang ke Indonesia. Siapa tahu masih ada rute yang irisan dengannya.

Lagi-lagi keesokan harinya, Defi ngasih kabar kalau ternyata ada rute kita yang irisan. Dari Roma, saya sempat bergeser ke Venice terlebih dahulu sebelum ke Paris, kemudian menuju Amsterdam. Nah, rute Paris menuju Amsterdam inilah yang irisan dengan Defi. Lebih kebetulan lagi, kami sama-sama naik bus Eurolines.

Akhirnya, tiba juga hari dimana  saya akan menuju Amsterdam. Memasuki terminal bus Eurolines, mata saya menangkap dua orang gadis yang sedang narsis berfoto di depan logo Eurolines. Saya familiar dengan mereka. Dan benar saja. Itu Defi dan adiknya, Vina. Waaahhh... Senengnyaa bisa ketemu mereka di sini. Defi ternyata pergi bertiga dengan Vina dan maminya

Malam itu, ternyata kami dan Defi harus naik bus yang berbeda meskipun tujuannya sama-sama ke Amsterdam. Kami baru bertemu kembali dengannya di Amsterdam keesokan harinya. Dan dengan berat hati, kami harus berpisah karena saya lanjut berangkat lagi ke Berlin. Sampai jumpa lagi Defi. Setelah pertemuan pertama di benua Asia, kemudian pertemuan kedua di benua Eropa, semoga kita bisa bertemu kembali di benua Amerika.

Kiri ke Kanan : Saya, Mami Lusi, Defi, Vina, Syani

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment