Tuesday, June 17, 2014

Berburu Masjid di Eropa (2)



Kali ini saya ingin melanjutkan posting-an sebelumnya yang saya tulis tahun 2012 lalu berjudul “Berburu Masjid di Eropa (1)”. Kalau dulu saya berbagi tentang masjid yang saya kunjungi di Portugal dan Spanyol, kali ini saya ingin sedikit berbagi tentang masjid di Italia dan Prancis. Lebih tepatnya di Kota Paris dan Roma. Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan untuk mengunjungi kedua kota tersebut bersama istri.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya bukanlah umat muslim, ternyata pemerintah kedua negara tersebut memberikan fasilitas beribadah yang sangat baik kepada seluruh umat beragama. Termasuk di dalamnya adalah tempat ibadah bagi umat muslim. Bandara Orly di Paris dan Bandara Fiumicino di Roma, keduanya menyediakan prayer room. Bahkan di Orly, Paris, disediakan musholla yang khusus hanya digunakan untuk umat muslim yang akan menunaikan ibadah sholat. Kalau tadi ngomongin fasilitas di bandara, gimana dengan di kota? Tenang, saya akan mengupasnya satu per satu.

Grande Mosquee de Paris
Mari kita terbang ke Paris. Saya pertama kali mengetahui perihal masjid besar di Paris ini ketika membaca buku “99 Cahaya di Langit Eropa” karya Mbak Hanum Rais. Dan bersama istri kali ini, adalah kunjungan saya yang kedua kalinya. Subhanallah, saya nggak nyangka bisa kembali sholat di masjid ini lagi. Untuk menuju masjid, kami naik metro menuju Stasiun Place Monge. Dari situ kami hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter utuk menuju masjid.


Grande Mosquee de Paris



Bangunan masjid ini sekilas mirip dengan masjid-masjid yang saya jumpai di Maroko. Ternyata proses pembangunan masjid ini memang nggak bisa terlepas dari Maroko yang dulunya merupakan koloni Prancis. Masjid ini memang tidak mempunyai pelataran luas. Tapi di dalam masjid ada sebuah taman kecil dan juga semacam hall yang cukup luas. Di bagian tengah hall tampak sebuah air mancur kecil yang menjadi ciri khas banyak bangunan di Maroko. Kemudian kolom-kolom penyangga di koridornya juga beratap melengkung. Selanjutnya, dinding bagian dalam masjid terbuat dari porselen berwarna biru. Juga minaretnya yang berbentuk balok dan berwarna coklat muda. Semuanya mirip dengan banyak bangunan masjid dan istana di Maroko. Memasuki masjid ini membuat saya bernostalgia dengan negara yang terletak di sebelah utara Benua Afrika itu.



Meskipun nggak terlalu besar, masjid di Paris ini memiliki jamaah yang cukup banyak. Pada saat tiba waktu Sholat Ashar, hampir separuh ruangan sholat utama terisi safnya. Saya perhatikan, sebagian besar jamaahnya didominasi oleh orang Maroko dan Arab. Sementara sebagian kecil, tampak wajah-wajah Melayu seperti kami.

 
Ruang Sholat Utama
Koridor Masjid
Hall Masjid
Taman di dalam Pelataran Masjid
Minaret Masjid

La Moschea di Roma
Mari kembali terbang. Kali ini menuju Roma. Inilah masjid terbesar di kota ini. Kami mengunjungi masjid menjelang waktu sholat ashar. Untuk menuju ke sana, pertama kami harus naik metro Line A menuju Stasiun Flaminio. Dari stasiun metro yang terletak di bawah tanah, kami harus keluar terlebih dahulu ke permukaan dan pindah ke stasiun kereta suburban. Selanjutnya, kami naik kereta suburban itu dan turun di Stasiun Campi Sportivi. Mengenai tiket, kereta suburban ini masih terkoneksi dengan tiket metro. Selama masa berlakunya masih valid, kita bisa mem-validasi tiket dengan menggunakan tiket metro.

Sampai di Stasiun Campi Sportivi, kami harus naik jembatan untuk menyeberangi rel terlebih dahulu sebelum menuju jalan raya. Selanjutnya, kami belok kiri dan menyusuri jalan itu sampe ketemu sebuah bangunan megah. Dan sampailah kami di Masjid Agung Roma.

Dari pengalaman saya mengunjungi beberapa masjid di negara-negara Eropa, tampaknya masjid di Roma inilah yang terbesar. Namun seorang teman pernah bercerita bahwa masih ada lagi masjid yang lebih besar di Eropa. Letaknya di Kazan, Rusia. Tapi sayangnya, kami belum pernah ke sana. Ya mudah-mudahan someday kami bisa ke sana juga deh... Amiinn...

Memasuki pelataran masjid, kami terpesona dengan keindahan arsitektur bangunan masjid. Ya jujur saja, sebenarnya kami sama sekali nggak ada background arsitek. Namun sebagai orang awam di dunia arsitektur, menurut kami bangunan masjid ini cukup unik dan menarik. Bangunan utama masjid beratapkan kubah besar, lengkap dengan bulan sabit pada bagian puncaknya. Kemudian pada salah satu sisinya terdapat koridor yang tiang penyangganya sangat banyak dan berbentuk melengkung pada bagian atasnya. Bentuk penyangga seperti ini juga menyerupai minaret masjidnya. Pada salah satu dinding sebelum kami menaiki tangga menuju koridor, kami melihat beberapa plakat yang terbuat dari marmer. Pada salah satu plakat, tertulis negara Indonesia bergabung di dalam dua puluh tiga negara muslim yang turut berpartisipasi dalam pembangunan masjid ini.

Tak lama kemudian, adzan ashar pun berkumandang. Sang muadzin sebenarnya tidak menggunakan pengeras suara. Namun karena pantulan gelombang suara ke dinding masjid atau gaung, suara adzan terdengar nyaring dari pelataran masjid. Kami pun segera mengambil air wudhu dan sholat berjamaah. Sayangnya, yang sholat Ashar berjamaah saat itu hanya empat orang, termasuk kami berdua. Sungguh teramat sayang, masjid sebesar ini jamaahnya sangat sedikit.

La Moschea Roma

Koridor Masjid
Negara-negara donatur
Interior salah satu ruangan masjid

Keesokan harinya, kami bertemu dengan orang Bangladesh yang bisa berbahasa Indonesia. Rupanya dia pernah bekerja di Malaysia dan pekerjaannya itu mengharuskan dia mengunjungi Indonesia berkali-kali. Kepadanya, kami bertanya perihal sepinya Masjid di Roma. Ternyata, faktor lokasilah yang membuat masjid ini sepi. Masjid Roma memang terletak di pinggiran kota. Dia bersama teman-temannya sesama muslim Bangladesh ternyata lebih memilih untuk sholat di sebuah ruko atau flat yang difungsikan sebagai masjid. Alasannya tentu saja karena lokasinya yang berada di tengah kota. Sementara Masjid Agung Roma, biasanya ramai dikunjungi umat muslim Roma pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, atau ketika ada acara tertentu.

Akhirnya, saya cukupkan sampai di sini dulu liputan tentang masjidnya. Nanti kalau ada kesempatan mengunjungi negara lain di Eropa, saya akan kembali berbagi cerita tentang masjid. Traveling boleh jalan terus, tapi ibadah nggak boleh dilupain doonk...

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment