Wednesday, June 11, 2014

Semalam di Luzern


Siang itu saya masih berada di dalam kereta menuju Luzern. Yups, setelah singgah sejenak di Geneve, Luzern memang menjadi kota tujuan saya berikutnya. Sepanjang perjalanan, mata saya yang tadinya terasa berat karena terserang kantuk, kini jadi terasa lebih segar karena menikmati pemandangan hamparan hijau rerumputan. Pemandangan yang sebenarnya tergolong hanya pemandangan “biasa” di Swiss. Ini karena rute Geneve-Luzern hanyalah rute antar kota biasa. Bukan rute panorama. Namun demikian, pemandangan padang rumput yang sesekali diselingi dengan perkotaan, tetaplah sayang untuk dilewatkan begitu saja.



Tak sampai 3 jam perjalanan, kereta yang saya tumpangi tiba di Stasiun Luzern. Hari sudah tampak mulai petang. Saya pun bergegas menuju halte untuk menaiki bus menuju hostel. Berbicara soal bus, ada lagi yang menarik perhatian saya. Salah satu hal yang saya sukai ketika melakukan perjalanan memang memperhatikan hal-hal yang bersifat unik. Salah satunya ya soal moda transportasi bus ini. Masih soal bus listrik yang mirip dengan Bom Bom Car seperti yang saya lihat di Geneve. Di Luzern, saya banyak melihat bus-bus listrik itu berjenis bus gandeng. Sepanjang yang saya lihat, ada dua macam model. Pertama, dua bus dengan dimensi yang kurang lebih sama digandeng jadi satu. Kedua, mirip dengan bus gandeng Transjakarta, tapi lebih panjang karena terdiri dari tiga gerbong.


Bus listrik gandeng di Luzern


Bus listrik gandeng di Luzern

Di Luzern, saya menginap di Lion Lodge Luzern. Seperti namanya, hostel ini terletak di jalan utama, tak jauh dari monumen singa yang menjadi salah satu ikon Luzern. Letak hostel ini juga sebenarnya masih bisa dijangkau dengan jalan kaki dari stasiun kereta. Namun karena saya masih buta tentang Luzern dan belum memegang peta, saya tetap memilih naik bus untuk menuju hostel ini. Kemudian mengenai tarif, jika melihat lokasi hostel yang sangat strategis, biasanya diikuti dengan tarif menginap yang lumayan mahal. Jika dirupiahkan, pada saat itu saya harus merogoh kocek sekitar 300 ribuan untuk menginap semalam di kamar dorm 6 tempat tidur. Untuk ukuran hostel yang tidak menyediakan sarapan gratis, tentu tarif tersebut tergolong mahal. Namun jika melihat lokasi dan negaranya (Ini Swiss lhoo...), tarif tersebut tergolong masih masuk akal.

Lion Lodge Luzern
Kira-kira siapa ya yang menulis "Selamat Datang"?
6 beds mixed dorm


Keesokan harinya, saya memulai perjalanan sudah agak siang. Ini karena cuaca yang tidak mendukung. Faktor ini juga yang membuat saya harus melakukan perubahan itinerary. Tadinya saya berencana seharian akan mengunjungi Mt. Titlis. Namun terpaksa saya batalkan. Jadilah hari itu saya hanya akan mengeksplorasi Kota Luzern saja. Itu pun saya masih harus harap-harap cemas karena hujan turun sedari pagi. Jadi, ada apa saja sih di Luzern? Mari kita lihat!



Tempat pertama yang saya kunjungi tentu saja yang berada di dekat hostel, the Lion Monument atau Löwendenkmal. Monumen yang menjadi ikon kota ini memang letaknya sedikit tersembunyi. Maksudnya tidak persis di pinggir jalan utama. Namun petunjuk arah menuju tempat ini mudah ditemukan dimana-mana. Jadi para turis tidak akan kesulitan mengakses tempat ini. Lion Monument bentuknya tidak seperti monumen pada umumnya karena dipahat pada tebing batu. Seperti namanya, monumen yang didedikasikan kepada para pejuang Swiss ini berbentuk seekor singa yang tewas karena perutnya tertancap tombak/panah. Sang singa tampak seperti sedang tertidur di tempat yang nyaman, yakni di bagian dasar tebing batu serta dikelilingi oleh danau kecil dan pepohonan. Di antara banyak monumen yang ada di seluruh dunia, ada beberapa yang bukan hanya sekadar simbol, namun memiliki makna mendalam. The Lion Monument salah satunya.


Pintu masuk the Lion Monument
The Lion Monument di kejauhan
Sang singa tampak seperti tertidur


Dari monumen, saya kembali melanjutkan perjalanan. Berbekal peta, saya berjalan kaki menuju tempat-tempat menarik lainnya. Luzern memang sangat bersahabat dengan turis karena banyak tempat menarik yang bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, saya mengamati bangunan-bangunan yang saya lewati, hampir seluruhnya bergaya klasik khas kota-kota di Eropa. Beberapa bagian juga jalannya masih berupa cobblestone. Saya sungguh menikmati pemandangan ini. Sebenarnya di kampung halaman saya di Semarang juga ada kota tua. Namun banyak bangunan yang kurang terawat dan terkesan agak seram. Belum lagi kalau malam hari tiba, banyak “kupu-kupu” bertebaran. Ah, sudahlah. Memang dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk merestorasi dan merawat bangunan-bangunan kuno. Mungkin belum jadi prioritas pembangunan kota ini karena saya perhatikan, pemerintah kota masih berupaya keras menyelesaikan masalah rob.


Salah satu sudut Kota Luzern


Kembali ke Luzern, dari bangunan-bangunan tua yang sedari tadi saya susuri, ada satu bagian yang menjadi semacam pusat perbelanjaan. Namun jangan dibayangkan bertebarannya mall-mall megah. Bentuk bangunannya kurang lebih sama dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Yang membedakan hanyalah fungsinya karena bangunan-bangunan di sini dijadikan toko atau kios. Eits! Jangan under estimate dulu. Meskipun hanya sekelas toko atau kios, barang-barang yang dijual adalah barang berkelas. Di antaranya adalah beraneka merk jam tangan Swiss. Toko yang menjual jam tangan ini juga cukup unik. Jam yang dijual di setiap toko tidak segala merk ada, melainkan dijual per merk. Ada toko jam Cartier, Omega, dan lain sebagainya.


Shopping area di Luzern
Salah satu toko jam tangan


Tak jauh dari pusat perbelanjaan, saya sampai di sebuah jembatan kayu yang juga menjadi ikon Kota Luzern, Chapel Bridge atau Kapellbrücke. Jembatan kayu yang didirikan tahun 1333 ini menghubungkan right bank dengan left bank Sungai Reuss. Dinamakan chapel karena jembatan ini juga menjadi akses menuju St. Peters Chapel yang berada di dekatnya. Sebelum memasuki jembatan, atau tepatnya di pinggir Sungai Reuss, saya melihat semacam street market yang menjual beraneka makanan  dan juga bunga. Yups, di sana tersedia beraneka macam jenis dan warna bunga. Bunga-bunga itu tampak mewarnai suasana Kota Luzern saat itu yang cenderung kelabu karena tertutup awan gelap.


Chapel Bridge
Street market di dekat Chapel Bridge
Tersedia bunga beraneka warna


Memasuki jembatan, saya melihat lukisan-lukisan yang terletak pada bagian langit-langit jembatan. Ternyata lukisan ini pun sudah berusia cukup tua karena dilukis pada abad ke-17. Pada bagian tengah jembatan, terdapat sebuah bangunan berbentuk seperti pensil yang terbuat dari batu. Namanya water tower. Saya tadinya mengira, bangunan ini digunakan untuk menyimpan air. Ternyata bukan. Bangunan ini dinamakan demikian karena didirikan di tengah sungai. Fungsinya sendiri pada zamannya digunakan sebagai penjara dan ruang penyiksaan. Di dekat water tower, masih di atas jembatan, tersedia toko yang menjual berbagai souvenir khas Luzern maupun Swiss. Usai menyeberangi jembatan, saya masih sempat menyusuri right maupun left bank Sungai Reuss dan menyeberangi jembatan Rathaussteg yang berada di samping Chapel Bridge dan usianya pun cukup tua karena dibangun pada tahun 1899. Sungai Reuss memang memiliki banyak jembatan. Di tempat saya berdiri saat itu, tak kurang ada sekitar tiga jembatan yang berdekatan.

Bagian ujung Chapel Bridge
Lukisan di langit-langit Chapel Bridge
Chapel Bridge
Chapel Bridge
Toko Souvenir di Chapel Bridge

Chapel Bridge
Town Hall
Rathaussteg dan Jesuit Church
 

Waktu masih menunjukkan pukul 12 siang ketika rintik hujan mulai turun. Sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di kota tua yang berada di sekitaran Sungai Reuss. Namun karena tidak membawa payung, saya bergegas menuju stasiun kereta untuk berteduh. Stasiun kereta Luzern terletak di seberang Chapel Bridge. Saya hanya perlu menyeberang jalan untuk menuju ke sana. Pada saat saya menyeberang, di kejauhan saya melihat sebuah gereja yang juga menjadi salah satu tempat menarik di Luzern. Namanya Hof Church. Mungkin nanti saya akan ke sana kalau hujan mulai reda. Kebetulan sedari tadi saya juga belum sempat mengeksplorasi daerah tersebut.

 
Stasiun Kereta Luzern
Hof Church

Tak terasa sudah dua jam saya menunggu di stasiun. Hujan gerimis kini berubah menjadi deras dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Tampaknya saya harus mengakhiri perjalanan saya di kota ini. Syukurlah tadi pagi sebelum meninggalkan hostel, saya sudah check out dan tidak menitipkan tas di hotel. Jadi di stasiun saya bisa langsung melompat ke dalam kereta tanpa perlu kembali ke hostel. Luzern-Interlaken Express. Kereta inilah yang akan menemani saya menikmati salah satu one of the best railway panaroma.

ARTIKEL TERKAIT:

4 comments:

  1. Bis nya lucu, kayak truk gandeng. Hahahaha....Tapi sensasi kayaknya jadi penasaran kalau belok bagaimana ya?

    Soal tulisan Welcome dalam berbagai versi bahasa. yang Indonesia kalau boleh nebak pasti yang nulis Mas Indra. Orang pertama yang mengunjungi Luzern.

    Sayang ya mas tidak bisa meng explore seluruh kota, bagus-bagus bangunannya. Dan Hof Church akhirnya gak jadi di explor juga. Tapi semua sudah terangkum dengan bagus. Saya suka narasinya. Nice share.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal itu juga saya bingung. Mungkin tiangnya fleksibel bisa ngikutin pergerakan bus kali ya? Kebetulan belum pernah merhatin waktu busnya belok soalnya.

      Yang tulisan Selamat Datang itu bukan saya kok yang nulis. Mana tahu ada pembaca blog ini yang nulis. Hehehe...

      Thanks yaa... :)

      Delete
  2. Seru-seru pengalaman keliling Swiss-nya. Suka caramu bercerita, kawan. :) Oh iya, tiap lihat gambar Chapel Bridge selalu ingat dengan salah satu adegan di film Harry Potter :)

    ReplyDelete
  3. halo mas indra ...salam kenal..mas untuk transportasi dari staziun luzern ke lion lodge luzern apakah jarahnya bisa ditempuh dng jalan kaki, atau klo naik bus biayanya berapa mas?krn sy berencana akan ke milan melalui luzern.tetapi di tanggal keberangkatan ke milan masa berlaku swiss pass saya berakhir. terima kasih-Novi-

    ReplyDelete