Thursday, June 19, 2014

Terbang ke Semarang dengan Silk Air


Tahun lalu, saya untuk pertama kalinya berkesempatan terbang dengan maskapai Silk Air menuju kampung halaman saya di Semarang. Sejak pertengahan tahun lalu, maskapai ini memang membuka rute penerbangan langsung menuju Semarang. Rute Semarang-Singapura sendiri sebelumnya sudah dilayani oleh maskapai LCC Air Asia. Namun untuk maskapai full service, untuk saat ini hanya ada Silk Air. Jika kita sedikit mundur ke belakang, rute ini sepengetahuan saya pernah dilayani juga oleh Garuda Indonesia dan Batavia Air.



Rute Semarang-Singapura sebenarnya cukup seksi. Air Asia biasanya melayani para pahlawan devisa yang berasal dari kawasan pantura Jawa Tengah. Juga melayani para traveler yang berburu tiket murah. Salah satunya ya saya sendiri. Saya pernah juga soalnya naik Air Asia menuju Singapura maupun Kuala Lumpur, langsung dari Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Sementara Silk Air membidik pasar kalangan menengah ke atas yang ingin berlibur, berbisnis, maupun berobat ke Singapura ataupun negara lainnya karena penerbangan Silk Air juga terkoneksi dengan penerbangan Singapore Airlines. Trus, kenapa saya naik Silk Air? Pertama karena saya dapat tiket yang setara dengan penerbangan connecting dari Batam menuju Semarang. Pada saat itu memang Lion Air belum membuka rute direct Batam-Semarang. Kalau sekarang sih enak karena sudah ada penerbangan langsung. Kedua, karena saya belum pernah naik Silk Air. Jadi kepengen ngicipin. Kayaknya alasan kedua lebih dominan deh... Hehehe...

Airbus A320 Silk Air Terminal 2 Changi Airport


Penerbangan dengan kode MI 102 ini ternyata code share dengan Garuda Indonesia GA9150. Saat itu, pesawat berlepas dari Terminal 2 Bandara Changi Singapura pukul 10.25 LT. Tapi barusan saya cek di web Singapore Airlines, waktu keberangkatannya diajukan jadi pukul 07.55 LT dan mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang pukul 09.00 WIB. Sementara penerbangan kembali ke Singapura berlepas pukul 09.45 WIB dan tiba di Singapura pukul 13.00 LT. Penerbangannya pun tidak setiap hari. Hanya hari Senin dan Jumat. Padahal dulu pada saat rute ini diluncurkan, dalam seminggu ada tiga kali penerbangan, yakni hari Senin, Rabu, dan Jumat.


MI 102 Singapura-Semarang
Code share with SQ 5102
Code share with GA 9150

Memasuki kabin Airbus A320 Silk Air, saya disambut pramugari yang multi ras. Ada India, China, dan seorang lagi bertampang Melayu. Kemudian mengenai kursi pesawat, menurut saya cukup menyejukkan mata karena berwarna coklat muda. Sekilas, mirip dengan kursi A330-300 Singapore Airlines yang pernah saya naiki. Bedanya, kursi Silk Air kali ini tidak dilengkapi dengan sarana entertainment. Padahal penerbangan dari Singapura menuju Semarang cukup lama karena mengambil masa dua jam.

 
Tempat duduk kelas ekonomi Silk Air
Tempat duduk kelas ekonomi Silk Air

Suasana kabin saat itu cukup lengang. Mungkin hanya terisi sekitar 60 persen saja. Kabin bagian belakang saya kuasai sendiri karena sebagian besar penumpang duduk di bagian depan. Pada saat tiba waktunya makan, saya dilayani oleh pramugari yang beretnis Melayu. Ternyata oh ternyata, dia Arek Suroboyo. Tapi dia agak jaim. Saya ajak ngomong Suroboyoan, dia jawabnya pakai Bahasa Indonesia. Udah SOP (Standard Operating Procedure) ya Mbak? Hehehe... Menu siang itu nasi kuning dengan lauk daging sapi. Lumayan nendang rasanya. Saya jadi penumpang kelas ekonomi yang pertama kali dilayani karena pada saat pesan tiket di internet, saya memesan Moslem Meal.


Nasi Kuning
Safety Information
Inflight Magazine
Katalog belanja


Setelah lebih kurang dua jam di udara, pesawat Silk Air yang saya tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Saya turun melalui kabin bagian belakang karena memang posisi tempat duduk saya ada di bagian belakang. Kebetulan, Mbak pramugari asal Surabaya tadi juga ada di belakang. Saya pun berpamitan kepadanya, “Aku tak mudhun sik yo Mbak” (Saya turun dulu ya Mbak). Ealah, dia masih jaim dengan hanya menjawab, “Thank you”. Gubrakk!! Kayaknya beneran yah... Mungkin ada SOP di Silk Air yang melarang awak kabinnya berbicara bahasa daerah yah? Atau jangan-jangan Mbak itu nggak bisa ngomong Jawa aktif kali ya? Soalnya waktu saya ajak ngomong Jawa, dia ngerti maksudnya, tapi ngebales pakai Bahasa Indonesia. Hehehe... Ya sudahlah.


Sesaat sebelum mendarat di Semarang


Terbang kali ini memberikan pengalaman baru kepada saya. Selain karena saya baru pertama kali naik Silk Air, ini juga pertama kalinya saya ketemu awak kabin asal Indonesia yang bekerja di maskapai luar negeri. Sebenarnya emang banyak putra-putri Indonesia yang bekerja di airlines luar. Tapi yang kebetulan sedang bertugas ketika saya terbang ya baru mbak asal Surabaya itu.



Akhirnya, “Sugeng rawuh ing Semarang”. Selamat datang di Semarang. 

Airbus A320 Silk Air at Semarang Ahmad Yani Airport
Airbus A320 Silk Air at Semarang Ahmad Yani Airport
Airbus A320 Silk Air at Semarang Ahmad Yani Airport

ARTIKEL TERKAIT:

7 comments:

  1. Dapat info tentang pesawat hanya di blog ini. Bermacam-macam jenis pesawat sudah di bahas di sini tapi saya tidak hafal. Pengalaman yang sangat luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Mas, ini kebetulan aja dua hobi bisa diselaraskan. Pesawat sama jalan-jalan. Hehehe... :D

      Delete
  2. Pakai silk air enak ya mas? Soalnya kebetulan akhir januari saya mau ke Singapura dari Lombok :)

    Visit my travelogue http://blohisme.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo standarnya sih kayak Garuda. Cuman jeleknya, kalo penerbangan di bawah satu jam sama sekali nggak dapet snack. Cuman minum doang. Sementara Garuda, terbang 30 menit aja masih dapet snack. Kalo dari Lombok sekitar 3 jam kali ya?

      Delete
    2. Iya..dari LOP ke SIN 2 jam 45 menit sih :D

      Delete
  3. Kenapa Memilih Singapura Jadi Home base. Kenapa Gak Hang Nadim?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Singapura dan Kuala Lumpur merupakan hub airport ASEAN dan dunia yang terdekat dari Batam :D

      Delete