Sunday, July 27, 2014

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Bulan Ramadhan telah kita lalui. Mudah-mudahan amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT. Pada malam 1 Syawal ini saya dan keluarga ingin memohon maaf atas segala khilaf. Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Bulan Ramadhan. Amin...

Taqabbalallahu minna wa minkum.
Shiyamana wa shiyamakum.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah.

Masjid Nabawi

Tuesday, July 22, 2014

Terbang Lagi dengan Garuda Indonesia Explore Jet



Sebelumnya, saya sama sekali tidak menyangka. Blog yang awalnya hanya saya isi dengan catatan-catatan perjalanan, kini sedikit bercabang dengan dunia penerbangan. Awalnya saya hanya berbagi pengalaman terbang dengan suatu maskapai. Yap, saya memang memiliki ketertarikan dengan dunia penerbangan dan saat ini masih aktif menerbangkan pesawat tipe Boeing 737-800 setiap akhir pekan. Meskipun ya hanya dari balik monitor laptop alias cuman main Flight Simulator aja. Hehehe... Namun ironisnya, empat dari lima artikel terlaris sepanjang masa blog ini malah artikel terkait penerbangan. Dan dua di antaranya, baru saya tulis tahun 2013 lalu atau dapat dikatakan masih baru. Dari artikel terlaris sepanjang masa tadi, saya harus bangga karena yang paling laris adalah artikel tentang maskapai national flag carrier kita, yakni “Terbang Bersama Bombardier CRJ 1000 Garuda Indonesia”.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi lagi pengalaman terbang dengan pesawat Bombardier CRJ 1000 NextGen Garuda Indonesia dengan rute Balikpapan-Tarakan. Kebetulan, rute ini diterbangi Garuda Indonesia satu kali setiap harinya. Penerbangan dari Bandara Sepinggan Balikpapan menggunakan GA 668, berlepas dari Balikpapan pukul 11.05 dan tiba di Bandara Juwata Tarakan pukul 12.05. Sementara penerbangan kembali ke Balikpapan menggunakan GA 669 yang berlepas dari Tarakan pukul 12.45 dan tiba di Balikpapan pukul 13.50. Berbeda dengan penerbangan yang saya naiki tahun lalu, pada penerbangan ini Garuda Indonesia sudah resmi bergabung ke dalam Skyteam Alliance. Logo Skyteam kini terpasang pada bagian luar pesawat, tepatnya di samping kanan pintu, dan di bawah jendela cockpit. Selanjutnya, Garuda Indonesia juga telah meluncurkan sub brand baru, “Explore Jet” untuk penerbangan dengan Bombardier CRJ 1000NextGen dan “Explore” untuk penerbangan dengan ATR 72-600.

Bombardier CRJ 1000 NextGen Garuda Indonesia

Friday, July 18, 2014

Pray for MH 17 Passengers and Crew

Masih belum lekang dari ingatan ketika MH 370 Malaysia Airlines hilang kontak dan belum ditemukan hingga sekarang. Dan kini dunia penerbangan kembali berduka. Penerbangan MH 17 dengan nomor registrasi 9M-MRD dari Amsterdam tidak pernah sampai di Kuala Lumpur. Hati saya bergetar. Saya begitu dekat dengan penerbangan ini karena dua kali ke Amsterdam, saya selalu menggunakan Malaysia Airlines. Yang pertama, saya naik MH 17 dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Pada saat itu, pesawat yang digunakan adalah Boeing 747-400. Sementara penerbangan kedua, saya naik MH 16 dari Kuala Lumpur menuju Amsterdam. Pada saat itu, pesawat yang digunakan adalah Boeing 777-200 dengan nomor registrasi 9M-MRJ. Dan saya ingat betul, dalam dua kali penerbangan saya dari dan menuju Amsterdam, serta satu kali penerbangan menuju Paris, pesawat selalu melintasi Ukraina. Dari Amsterdam, pesawat melalui rute Jerman, Polandia, Ukraina, Rusia, Laut Kaspia, Turkmenistan/Iran, Afghanistan, Pakistan, India bagian utara, Teluk Benggala, Thailand, dan akhirnya mendarat di Kuala Lumpur. Siapapun tentu tidak akan menyangka bahwa rute ini bisa menjadi begitu berbahaya. Melalui tulisan ini, saya mengajak para pembaca sekalian untuk mendoakan para korban. Dan semoga tidak ada lagi peperangan di muka bumi ini. Amiiinn ya Rabb.

MH 16 Malaysia Airlines KUL-AMS at Schipol (2013)

Thursday, July 17, 2014

Menikmati Senja dari Puncak Menara Eiffel



Jika sedang berada di Paris, rasanya sulit untuk tidak berkunjung ke Menara Eiffel. Bangunan setinggi 324 meter dan selesai didirikan pada tahun 1889 ini memang sudah menjadi ikon Kota Paris. Setiap tahunnya, Menara Eiffel dikunjungi oleh lebih dari enam juta turis. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran kunjungan turis ke sebuah obyek wisata. Sebagai perbandingan, jumlah turis yang mengunjungi Indonesia tahun 2013 lalu adalah sekitar delapan juta turis. Bisa dibayangkan kan, betapa Menara Eiffel menjadi magnet bagi Kota Paris dan Prancis? Kunjungan turis ke sebuah obyek wisata mendekati kunjungan ke sebuah negara. Mudah-mudahan pemerintahan yang baru nanti menaruh perhatian besar pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tingkatkan anggarannya agar bisa lebih mempromosikan kekayaan pariwisata Indonesia. Rekrut staf yang memiliki kecintaan dan dedikasi tinggi pada pariwisata Indonesia. Agar mereka bekerja bukan hanya karena digaji setiap bulan. Tapi karena cinta pada pekerjaannya. Meskipun jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia masih sedikit, kita patut memberikan apresiasi kepada mereka karena dalam tujuh tahun terakhir, jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia terus naik setiap tahunnya.



Kembali ke Paris, keinginan saya begitu menggebu-gebu untuk mengunjungi Menara Eiffel sejak duduk di bangku SMA. Waktu itu, perfilman Indonesia sedang bangkit. Banyak film berkualitas. Dan salah satu di antaranya adalah Eiffel I’m in Love. Saya dan kawan-kawan rela mengantre berjam-jam sejak mall belum buka untuk membeli tiket bioskop. Film tersebut benar-benar men-sugesti saya untuk mengunjungi Menara Eiffel suatu hari nanti. Dan sepuluh tahun kemudian, saya benar-benar bisa merealisasikan mimpi masa remaja saya. Saya benar-benar berangkat ke Paris! Pelajarannya, jangan sekali-kali meremehkan mimpi!

Eiffel at night

Thursday, July 10, 2014

Kereta Panorama Swiss: Luzern-Interlaken Express



Kembali melanjutkan cerita perjalanan saya di Luzern, Swiss. Setelah terjebak hujan deras, saya memutuskan untuk meninggalkan kota ini lebih cepat. Siang itu, saya akan melanjutkan perjalanan menuju Interlaken. Kebetulan, rute kereta api Luzern-Interlaken ini merupakan salah satu rute panorama yang populer. Yups, saya katakan populer karena rute ini menghubungkan dua kota yang menjadi salah satu tujuan utama turis, yakni Luzern dan Interlaken. Luzern juga bisa dijadikan base bagi mereka yang akan mendaki Mt. Pilatus dan Mt. Titlis. Sementara Interlaken dijadikan base bagi para pendaki Jungfraujoch.

Kereta Panorama menuju Engelberg (Mt. Titlis)



Selain menghubungkan dua kota penting, jalur yang dilalui juga menyajikan pemandangan indah. Ada sekurangnya empat danau yang dilalui dan pemandangan pegunungan bersalju di kejauhan. Semuanya dapat dinikmati oleh para penumpang karena kereta yang digunakan memang didedikasikan untuk menikmati pemandangan. Luzern-Interlaken Express. Gerbong kereta ini memiliki jendela yang lebar pada bagian dindingnya, dan masih ditambah lagi jendela kecil pada bagian atapnya. Kereta ini juga memiliki gerigi pada bagian rodanya karena di beberapa bagian, jalurnya menanjak. Pilihan jadwal keberangkatan kereta juga lumayan banyak, yakni dimulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore dengan interval setiap jam sekali. Sementara harga tiketnya mulai dari 15,50CHF atau sekitar 200 ribu Rupiah untuk tiket kelas dua. Bagi pemegang Eurail Pass bisa langsung naik kereta tanpa harus membayar biaya reservasi.

Tuesday, July 8, 2014

Langkah Pertama yang Bersejarah



Tampaknya pepatah “Sejuta langkah besar dimulai dari langkah pertama”, benar-benar terjadi dalam kehidupan saya. Perkenalkan, saya seorang pekerja kantoran yang bekerja sejak pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore selama lima hari seminggu. Sebuah rutinitas yang sangat melelahkan dan mengakibatkan saya terserang penyakit bosan akut. Saya memerlukan obat penawar penyakit. Dan syukurlah, saya menemukannya meskipun obat penawar tersebut pada kemudian hari menjadikan saya addicted. Eits!! Jangan berpikiran yang bukan-bukan dulu! Obat yang satu ini sama sekali tidak berbahaya kok. Obat tersebut tak lain tak bukan adalah traveling alias jalan-jalan.

Bagi saya, traveling bagaikan oase di padang pasir. Terbayang dong, kalau kita dipaksa berjalan kaki di padang pasir dengan panas matahari menyengat kulit sejauh puluhan kilometer, kemudian terlihat pepohonan rimbun dengan danau yang penuh air. Rasanya tentu sangat menyegarkan. Seperti itulah rasanya kalau mau traveling. Seharusnya para bos di kantor memahami kebutuhan liburan bawahannya. Dengan traveling, hati dan pikiran kita jadi lebih fresh dan bisa kembali bersemangat dalam menghadapi rutinitas kerja.

Perlahan namun pasti, traveling menjadi bagian kehidupan saya. Saya menjadikan traveling sebagai agenda yang wajib dilakukan secara simultan. Berita baiknya, saya memulai hobi traveling ketika sedang booming jalan-jalan hemat ala backpacker. Ini bukan hanya soal tas yang kita gunakan ketika traveling. Lebih dalam dari itu, ini tentang bagaimana mengatur perjalanan mandiri dengan biaya sehemat mungkin. Dan tahukah Anda yang dihindari para backpacker? Jawabannya tentu saja tiket pesawat yang mahal.

Naik pesawat memang praktis, tapi biasanya mahal

Monday, July 7, 2014

Tips Naik Taksi dari Bandara Ahmad Yani Semarang



Sebagai pengguna setia Bandara Ahmad Yani Semarang, saya ingin sedikit berbagi pengalaman dengan transportasi dari dan menuju bandara. Masih terletak di kawasan perkotaan, Bandara Ahmad Yani ternyata masih memiliki masalah besar dalam hal akses dari dan menuju bandara. Hal ini karena ketiadaan sarana transportasi umum selain taksi. Selain itu, standar pelayanan taksi bandara pun kurang memuaskan kalau tidak bisa dibilang mengecewakan.



Untuk menuju ke bandara, alternatif transportasinya sedikit lebih bervariasi. Pertama kita bisa naik taksi langganan dengan tarif argo yang murah. Di Semarang, taksi yang paling banyak digunakan adalah taksi Kosti. Warna taksinya biru, tapi birunya tidak semuda warna taksi Blue Bird. Sementara mobil yang digunakan sebagian besar adalah Toyota Limo. Alternatif taksi lainnya pun lumayan banyak, di antaranya Blue Bird, Atlas, dan lain sebagainya. Alternatif kedua, bisa menggunakan angkutan kota atau bus. Bagi yang tinggal di Semarang bagian atas, atau Semarang bagian timur, bisa naik bus tujuan Mangkang, Ngaliyan, atau Karang Ayu. Sementara bagi yang tinggal di Semarang barat, naik bus tujuan Simpang Lima atau Johar. Kesemuanya turun di Bundaran Kalibanteng. Selanjutnya bisa naik ojek atau becak masuk menuju Bandara Ahmad Yani. Namun alternatif kedua ini sifatnya gambling karena di pojokan Bundaran Kalibanteng belum tentu ada ojek atau becak yang mangkal. 
Bandara Ahmad Yani Semarang


Thursday, July 3, 2014

Terbang dengan Boeing 777-300ER Cathay Pacific



Kita ngomongin tentang pesawat lagi yah... Seperti biasa, karena saya tinggal di Pulau Batam, bandara yang saya jadikan home base untuk penerbangan lintas negara adalah Bandara Changi Singapura. Kali ini saya terbang dengan maskapai Cathay Pacific menuju Hongkong. Di Bandara Changi, maskapai ini dilayani di Terminal 1. Pada saat itu saya memilih jadwal penerbangan yang berangkat dari Singapura dini hari, yakni pukul 1.20 pagi supaya bisa sampai di Hongkong pagi hari dan bisa langsung jalan-jalan. Untuk penerbangan dini hari seperti itu, yang harus diperhatikan secara detail adalah tanggalnya, baik tanggal terbang maupun tanggal check in. Karena pesawat berangkatnya dini hari, kita harus check in pada malam hari tanggal sebelumnya.

Penerbangan Cathay Pacific menuju Hongkong malam itu dilayani dengan Boeing 777-300 ER dengan konfigurasi tiga kelas, yakni business class, premium economy class, dan economy class. Untuk kelas bisnis, konfigurasi tempat duduknya 1-2-1. Jadi masing-masing penumpang memiliki akses langsung ke lorong. Fasilitasnya ya standar kelas bisnis seperti bisa direbahkan 180 derajat dan layar monitor yang lebih lebar. Namun di pesawat yang saya tumpangi kali ini, arah tempat duduknya ini serong ke kanan atau ke kiri. Jadi nggak menghadap lurus ke depan. Eh, tunggu dulu! Saya nggak naik kelas bisnis kok. Saya cuman numpang lewat doang. Hehehe...

Boeing 777-300ER Cathay Pacific at Changi Airport