Thursday, July 10, 2014

Kereta Panorama Swiss: Luzern-Interlaken Express



Kembali melanjutkan cerita perjalanan saya di Luzern, Swiss. Setelah terjebak hujan deras, saya memutuskan untuk meninggalkan kota ini lebih cepat. Siang itu, saya akan melanjutkan perjalanan menuju Interlaken. Kebetulan, rute kereta api Luzern-Interlaken ini merupakan salah satu rute panorama yang populer. Yups, saya katakan populer karena rute ini menghubungkan dua kota yang menjadi salah satu tujuan utama turis, yakni Luzern dan Interlaken. Luzern juga bisa dijadikan base bagi mereka yang akan mendaki Mt. Pilatus dan Mt. Titlis. Sementara Interlaken dijadikan base bagi para pendaki Jungfraujoch.

Kereta Panorama menuju Engelberg (Mt. Titlis)



Selain menghubungkan dua kota penting, jalur yang dilalui juga menyajikan pemandangan indah. Ada sekurangnya empat danau yang dilalui dan pemandangan pegunungan bersalju di kejauhan. Semuanya dapat dinikmati oleh para penumpang karena kereta yang digunakan memang didedikasikan untuk menikmati pemandangan. Luzern-Interlaken Express. Gerbong kereta ini memiliki jendela yang lebar pada bagian dindingnya, dan masih ditambah lagi jendela kecil pada bagian atapnya. Kereta ini juga memiliki gerigi pada bagian rodanya karena di beberapa bagian, jalurnya menanjak. Pilihan jadwal keberangkatan kereta juga lumayan banyak, yakni dimulai dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore dengan interval setiap jam sekali. Sementara harga tiketnya mulai dari 15,50CHF atau sekitar 200 ribu Rupiah untuk tiket kelas dua. Bagi pemegang Eurail Pass bisa langsung naik kereta tanpa harus membayar biaya reservasi.

Luzern-Interlaken Express
 
Gerbong Makan Kereta Luzern-Interlaken Express

Gerbong Penumpang Kereta Luzern-Interlaken Express

First Class Kereta Luzern-Interlaken Express

Second Class Kereta Luzern-Interlaken Express
  

Perjalanan dari Luzern menuju Interlaken memakan waktu hampir dua jam. Namun seperti yang saya katakan tadi, karena jalur ini merupakan jalur panorama, waktu dua jam tadi tidak akan terasa. Sepanjang perjalanan, saya berulangkali pindah tempat duduk, dari sisi kiri kereta ke sisi kanan karena pemandangan indah disajikan secara bergantian di kedua sisi jalur yang dilalui. Syukurlah, siang itu kondisi kereta tidak terlalu penuh sehingga saya bisa dengan bebas berpindah tempat duduk tanpa mengganggu kenyamanan penumpang lain.



Tepat pukul 13.05, kereta yang saya tumpangi mulai bergerak meninggalkan Stasiun Luzern. Tak perlu menunggu lama, pemandangan perkotaan berganti menjadi danau. Terletak di sisi kiri jalur kereta, Danau Luzern menjadi danau pertama yang dilewati. Selanjutnya pemandangan berganti menjadi padang rumput dan rumah-rumah di pedesaan Swiss, sebelum berganti lagi menjadi pemandangan danau. Kali ini di sisi kanan jalur kereta. Namanya Danau Sarnen. Di sini kabut tebal mulai turun sehingga membuat langit terasa sangat rendah. Pemandangan yang dilalui juga tak kalah menarik. Karena letaknya yang sudah di area pedesaan, banyak ditemui peternakan sapi selain tentunya rumah-rumah khas pedesaan di Swiss.

Danau Sarnen
Danau Sarnen
Peternakan Sapi Swiss
Pemandangan selepas Danau Sarnen



Selanjutnya kereta yang saya tumpangi kembali melewati danau. Lagi-lagi di sisi kanan jalur kereta. Danau yang dilalui kali ini bernama Danau Lungern. Setelah menyusuri pinggiran danau, jalur kereta yang dilalui mulai menanjak. Terasa sedikit getaran karena mulai digunakannya gerigi yang terletak pada bagian tengah rel. Hujan mulai turun dan beberapa kali saya melihat sisa-sisa salju musim dingin yang belum mencair. Usai melintasi Stasiun Brünig-Hasliberg, jalur kereta kembali menurun dan tak lama kemudian, kereta berhenti di Stasiun Meiringen. Di sini kereta berhenti cukup lama karena masinis harus berganti lokomotif. Tentunya tidak dilakukan bongkar-pasang lokomotif karena lokomotif sudah ada di kedua ujung kereta. Stasiun kereta ini merupakan stasiun ujung dan terletak di persimpangan jalur yang menuju Luzern dan Interlaken. Untuk menuju Interlaken, kereta harus berbalik arah menuju Luzern. Hanya saja, jika menuju Luzern jalurnya berbelok ke kanan, sedangkan jika menuju Interlaken, jalurnya tetap lurus.

Danau Lungern
Hujan mulai turun
Danau Lungern
Jalanan mulai menanjak
Sisa-sisa salju musim dingin

Somewhere around Meiringen Station

Di penghujung perjalanan kereta panorama ini, tersaji pemandangan Danau Briez yang merupakan salah satu danau yang mengapit Kota Interlaken. Sementara danau satunya bernama Danau Thun dan bisa dinikmati jika kita melalui jalur kereta dari Interlaken menuju Kota Bern ataupun Basel.



Akhirnya, perjalanan kereta pun berakhir di Stasiun Interlaken Ost. Cerita perjalanan saya di Interlaken lanjut ke sini.

ARTIKEL TERKAIT:

12 comments:

  1. Mas kereta Luzern Interlaken Express apakah kecepatanya hampir sama dengan Shinkansen di Jepang?

    Wah gak bosan naik kereta di Eropa sana ya, selain nyaman kiri-kanan pemandangannya bagus-bagus. Subhanallah Surga dunia.

    Btw Saya selalu ketinggalan update blog ini. RSS Feed nya rusak jadi tidak muncul update terbaru. Apa gara-gara Mas Indra memakai Domain (dot) com tapi hostingnya masih di Blogspot? Maaf sebelumnya Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kereta yang ini relatif lambat kecpatannya. Mungkin di kisaran 100 km/jam. Lagian kalo cepet kan malah susah nikmatin pemandangannya. Hehehe...

      Suspensinya empuk banget kayak kereta cepat. Getaran tetep ada tapi nggak sampe bikin badan terguncang.

      Iya nih. Salah satu risiko migrasi, jadi nggak nongol di notifikasi temen2 blogger. Kan url-nya ganti. Jadinya sepi komen. Buat ndatengin traffic juga musti mulai dari nol lagi. Hehehe... :D

      Delete
  2. kereeen bangeeet semoga bisa nyusul kesana :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinnn... Semoga bisa menginspirasi yaa... :D

      Delete
  3. view yang dilewating keren banget...n keretanya bagus banget, jauh kayak di indonesia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita juga punya lhoo... Rute Jakarta-Bandung-Yogyakarta keren banget. Interior keretanya (Argo Parahyangan dan Argo Wilis) juga bagus. Jendelanya lebar dan kursinya empuk. Cuman sayangnya, belum kedap suara dan goncangannya sangat terasa :)

      Delete
  4. Nice share, mas Indra!
    Cita-cita saya banget nih naik kereta melintasi Swiss. Semoga kesampaian one day :)

    ReplyDelete
  5. Indra, bener gak sih info ini. Aku pernah trip bareng orang Swiss pas ke Tanjung Bira, dia bilang klo air sungai di Swiss itu steril buat diminum. Bener gak sih? Klo lihat foto2mu sih emang sama kayak gambar2 kartu pos yang dia bawa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, nggak jelas juga Mas. Emang bening dan menyegarkan sih tampilannya. Tapi ngapain iseng minum air sungai? Lha wong dari kran air aja bisa :D

      Delete
  6. wishh... keren keren keren...,, mudah-mudahan bisa ke sana jugaaaaa :) amin

    ReplyDelete