Thursday, July 17, 2014

Menikmati Senja dari Puncak Menara Eiffel



Jika sedang berada di Paris, rasanya sulit untuk tidak berkunjung ke Menara Eiffel. Bangunan setinggi 324 meter dan selesai didirikan pada tahun 1889 ini memang sudah menjadi ikon Kota Paris. Setiap tahunnya, Menara Eiffel dikunjungi oleh lebih dari enam juta turis. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran kunjungan turis ke sebuah obyek wisata. Sebagai perbandingan, jumlah turis yang mengunjungi Indonesia tahun 2013 lalu adalah sekitar delapan juta turis. Bisa dibayangkan kan, betapa Menara Eiffel menjadi magnet bagi Kota Paris dan Prancis? Kunjungan turis ke sebuah obyek wisata mendekati kunjungan ke sebuah negara. Mudah-mudahan pemerintahan yang baru nanti menaruh perhatian besar pada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tingkatkan anggarannya agar bisa lebih mempromosikan kekayaan pariwisata Indonesia. Rekrut staf yang memiliki kecintaan dan dedikasi tinggi pada pariwisata Indonesia. Agar mereka bekerja bukan hanya karena digaji setiap bulan. Tapi karena cinta pada pekerjaannya. Meskipun jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia masih sedikit, kita patut memberikan apresiasi kepada mereka karena dalam tujuh tahun terakhir, jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia terus naik setiap tahunnya.



Kembali ke Paris, keinginan saya begitu menggebu-gebu untuk mengunjungi Menara Eiffel sejak duduk di bangku SMA. Waktu itu, perfilman Indonesia sedang bangkit. Banyak film berkualitas. Dan salah satu di antaranya adalah Eiffel I’m in Love. Saya dan kawan-kawan rela mengantre berjam-jam sejak mall belum buka untuk membeli tiket bioskop. Film tersebut benar-benar men-sugesti saya untuk mengunjungi Menara Eiffel suatu hari nanti. Dan sepuluh tahun kemudian, saya benar-benar bisa merealisasikan mimpi masa remaja saya. Saya benar-benar berangkat ke Paris! Pelajarannya, jangan sekali-kali meremehkan mimpi!

Eiffel at night

Menara Eiffel (Champ de Mars)

Dalam pesawat A380 Malaysia Airlines yang terbang menuju Paris, saya duduk bersebelahan dengan pasangan muda asal Prancis yang baru saja liburan ke beberapa negara di ASEAN. Di Indonesia sendiri, mereka menghabiskan waktu satu bulan penuh hanya untuk keliling Jawa dan Bali. Mereka juga sempat singgah sejenak di kampung halaman saya, Semarang, setelah mengunjungi Karimun Jawa. Senang rasanya ketika ada orang asing yang membicarakan tentang keindahan alam Indonesia. Dan ketika tiba giliran saya bertanya, tentang wisata di Paris, mereka kompak menjawab, “Tour Eiffel”.  “Tour” dalam Bahasa Prancis memiliki arti “menara”. Menara Eiffel memang sering juga disebut La Tour Eiffel. Setelah mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris, saya langsung naik kereta TGV ke Brussels. Saya memang sengaja meletakkan Paris pada akhir perjalanan.



Dua minggu kemudian, akhirnya penantian saya membuahkan hasil. Saya benar-benar sudah berada di Paris setelah menempuh perjalanan dengan kereta TGV Lyria dari Kota Basel, Swiss. Tapi saya tidak langsung menuju Menara Eiffel. Terlebih dahulu saya mengunjungi La Grande Mosquee, kemudian berjalan kaki menikmati sudut Kota Paris dengan rute tujuan akhir adalah Menara Eiffel.



Beberapa jam kemudian, akhirnya saya tiba di Menara Eiffel. Di sini sepuluh tahun lalu, Adit menyatakan cintanya kepada Tita. Hahaha... Iya saya tahu, itu hanya fiksi. Tapi saya begitu mengagumi tempat ini. Untuk menikmati keindahan dan tentunya berfoto dengan latar belakang Menara Eiffel, ada dua tempat yang menjadi favorit para turis. Pertama adalah Champ de Mars yang merupakan taman berbentuk persegi panjang di sebelah tenggara Menara Eiffel. Kedua adalah Palais de Chaillot, yang terletak di sebelah barat laut Menara Eiffel. Tentunya masih banyak lagi tempat lainnya. Contohnya di atap Arc de Triomphe, di pinggir Sungai Seine, Pont d'léna atau jembatan yang menyeberangi Sungai Seine, dan bahkan di atas kapal yang menyusuri sungai tersebut. Memang banyak tempat dan cara untuk menikmati keindahan Menara Eiffel.


Menara Eiffel difoto dari Pont d'léna


Saya pribadi memilih untuk menikmati Menara Eiffel dari Champ de Mars. Cukup lama saya duduk santai di rerumputan dan memandangi menara sembari bersyukur, “Akhirnya saya bisa ke sini”. Tapi rasanya ada yang kurang. Menara Eiffel tampaknya kurang cocok jika dinikmati seorang diri. Akan lebih cocok kalau dinikmati berdua bersama pasangan. Ah, seandainya saja saya bisa ke sini lagi bersama pasangan. Saya memendam keinginan itu di dalam hati dan segera beranjak meninggalkan taman menuju menara Eiffel.



Pada bagian dasar menara, tepatnya di bagian kaki-kaki menara, saya melihat antrean yang cukup panjang. Mereka semua sedang mengantre tiket untuk bisa naik ke atap Menara Eiffel. Untuk naik ke atas, ada dua cara. Yang pertama adalah dengan naik tangga. Tiketnya hanya seharga 5 Euro untuk naik hingga lantai dua. Pastikan kondisi fisik sedang prima jika memilih opsi ini. Yang kedua dan yang paling praktis tentunya dengan menggunakan lift. Tiket naik lift sendiri ada dua macam. Jika hanya sampai lantai dua, tiketnya 9 Euro. Namun jika ingin sampai puncak, harganya 15 Euro. Jika masih berusia di bawah 24 tahun, akan ada pengurangan harga tiket sebesar 1,5 Euro. Sementara kalau naik tangga, dapat diskon 1 Euro.


Antrean panjang naik Menara Eiffel


Nah, kenapa saya meletakkan kunjungan ke Menara Eiffel pada akhir perjalanan? Jawabannya, tak lain tak bukan karena saya ingin menikmati senja dari puncak Menara Eiffel. Saya mulai mengantre sekitar pukul 5 sore. Lebih kurang setengah jam saya mengantre. Saat itu matahari masih bersinar cerah. Usai memperoleh tiket, pengunjung harus melalui antrean scan barang bawaan. Kemudian mengantre lagi untuk naik lift menuju lantai dua.



Lift yang akan mengantar kita menuju lantai dua ini berjenis double deck dan bisa menampung puluhan orang sekali jalan. Jalurnya berbentuk diagonal mengikuti bentuk rangka bagian dasar Menara Eiffel. Bagi yang takut ketinggian, sebaiknya menutup telinga dan tidak melihat ke bawah. Ini karena sepanjang perjalanan, terdengar bunyi gesekan besi seperti naik kereta api. Dan dinding lift pun terbuat dari kaca. Jadi yang di dalam dapat dengan bebas melihat ke luar, ataupun ke bawah. Dalam perjalanan menuju lantai 2, lift akan berhenti sebentar di lantai 1 yang berketinggian 57 meter. Di sini terdapat restoran yang tampaknya kelas atas karena tak satupun penumpang lift saat itu turun di lantai ini.


Lift berjalan miring
Pandangan bebas ke luar
Pintu lift juga double deck


Sampai di lantai dua, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Paris dengan detail yang masih cukup jelas. Ini karena lantai dua “hanya” memiliki tinggi 115 meter. Di lantai ini sebenarnya terdiri dari dua lantai dan keduanya bisa digunakan untuk melihat pemandangan. Untuk lantai dua yang bagian bawah, pemandangannya agak sedikit terganggu oleh pagar pengaman. Sementara pada bagian atas, memang tidak ada pagar pengaman, tapi posisinya lebih menjorok ke dalam. Selain menikmati pemandangan Kota Paris, di lantai ini juga terdapat toko souvenir dengan kualitas bagus namun harganya tidak terlalu mahal. Jika masih belum puas, pengunjung bisa mengantre naik lift lagi menuju lantai tiga. Di sini tersedia empat buah lift yang akan membawa pengunjung ke lantai tiga. Sebelum naik, akan ada pemeriksaan tiket lagi. Pada bagian ujung tiket, terdapat tulisan “Somet”. Bagian inilah yang menjadi tiket untuk naik lift menuju lantai tiga. Jadi pastikan tiket dan tentunya barang berharga lainnya, jangan sampai hilang. Soalnya, di Menara Eiffel dan Kota Paris memang terkenal juga akan copetnya.


Pemandangan dari Lantai Dua bagian atas
Pemandangan dari Lantai Dua bagian bawah
Pemandangan Sungai Seine


Lantai tiga Menara Eiffel memiliki ketinggian 276 meter. Di sini selain melihat pemandangan, juga terdapat ruangan kantor Gustave Eiffel, lengkap dengan patung lilinnya. Karena letaknya tinggi dan tidak memiliki dinding penghalang, sebaiknya jangan lupa memakai jaket karena angin yang bertiup lumayan kencang. Apalagi kalau kita berkunjung pada musim dingin, gugur, maupun semi.

 
Patung Gustave Eiffel
Di lantai ini, saya sengaja menghabiskan waktu cukup lama hingga sunset tiba. Kemudian tibalah saat-saat yang paling saya tunggu. Matahari semakin condong ke barat dan berwarna kemerahan. Indah sekali. Menara Eiffel pada malam hari juga dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu yang menawan. Tak salah saya meletakkan Paris pada akhir perjalanan keliling Eropa. Saya menutup rangkaian perjalanan ini dengan indah.

Senja di puncak Menara Eiffel
Palais de Chaillot
Sungai Seine
Champ de Mars
Bagian dasar Menara Eiffel
Eiffel Tower at night
Eiffel at night
Eiffel at night
Dan antrean naik menara masih juga panjang

Berbulan-bulan kemudian, tanpa pernah saya sangka sebelumnya, saya bisa kembali lagi ke Paris. Saya bisa mengunjungi Menara Eiffel lagi. Namun kali ini saya tak sendiri lagi.

Paris, je t'aime
Me and my wife were looking the Eiffel Tower

ARTIKEL TERKAIT:

14 comments:

  1. Replies
    1. Wah, sayang banget Mbak nggak naik. Ngomong2, eyangku waktu usia 70-an tahun masih bisa naik ke lantai dua naik tangga lhoo... Aku malah udah males banget ngelihat tangganya. Udah susah payah naik tangga, masih disuruh bayar 5 Euro. Hehehe... :D

      Delete
  2. Semoga aku bisa ketularan menikmati Sunset di Menara Eiffel. Thanks infonya,Indra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oalah, ternyata Mbak Anne Celine Dash tho? Sama2 yaa... Semoga bisa segera ketularan :)

      Delete
  3. 😊 iyo Indra sampeyan ngenalin diriku toh. Pengin belajar ngeblog juga neh seperti dirimu.

    ReplyDelete
  4. Foto dan ceritanya yang atas2 sih OK banget, begitu poto terakhir, mak #jleb. :'(

    *langsung close tab*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Peace! Ojo nesu Mas :D
      Maksudku kan pengen sharing, "ini lho dulu aku pergi sendiri, eh, besok2nya tanpa disangka, bisa balik lagi tapi nggak sendiri"

      Delete
  5. Waaaahhhh.....Keren. Saya tidak bisa berkomentar banyak. Foto-foto mas Indra sudah banyak bercerita.
    Selamat mas bisa ke sana dua kali, semoga nanti yang ke tiga kalinya atau ke empat kalinya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget saya. Sebuah foto memang bisa bercerita. Tak perlu kata yang menemani.

      Delete
  6. widihh,, asekkk banget ya, bisa keparis,
    kapan bisa sampai disana ya?
    *menghayaldulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Bang ke Paris! Tapi kemanapun, wisata Indonesia tetep nomor satu :D

      Delete
  7. aaak...mimpi bisa ke sini...dan jleb banget pas liat foto yang terahir..haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, nama kita sama ya Bro? Hehehe... Iya nih, banyak yang bilang jleb banget. Jalan sendiri atau sama temen ke Paris aja udah seru banget. Apalagi kalo barengan sama pasangan. Pastinya bakalan lebih seru doonk... :p

      Delete