Wednesday, August 6, 2014

Melihat Asia dan Eropa di Selat Bosphorus



Ada satu kegiatan yang sebaiknya tidak dilewatkan ketika kita mengunjungi Istanbul, yakni menyusuri Selat Bosphorus dengan kapal. Istilah populernya “Bosphorus Cruise”. Seperti yang kita tahu, selat ini menghubungkan Benua Asia dan Eropa. Kota Istanbul memang terletak di kedua benua tersebut. Dan menyusuri selat tersebut akan menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Operator yang menawarkan cruise ini sendiri ada beberapa. Tarifnya bervariasi antara 10-20 Lira untuk tur mandiri. Maksudnya operator hanya menyediakan jasa angkutan kapal. Sementara kalau sewa boat eksklusif dengan tour guide, tentunya lebih mahal lagi. Lama perjalanan juga bervariasi. Ada yang hanya 1,5 jam tanpa mampir, ada juga yang 5,5 jam dengan mampir ke beberapa tempat.

Untuk membeli tiket, sebenarnya cukup banyak penjualnya dan tersebar di tempat-tempat turistik Istanbul, terutama di Sultanahmet. Namun tarifnya cukup mahal. Saya memilih untuk datang langsung ke dermaga Eminonu dan melihat serta membandingkan tarifnya terlebih dahulu. Dan pilihan saya jatuh pada “Bosphorus Tour” yang dioperasikan oleh Turyol. Harganya cukup murah, yakni 12 Lira atau sekitar 60 ribu Rupiah untuk perjalanan selama 1,5 jam. Interval keberangkatan kapal cukup sering, yakni hampir setiap jam sejak pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam. Saya sendiri memilih perjalanan sore hari agar bisa mendapatkan landscape matahari terbenam dari atas kapal. Pilihan waktu untuk mendapatkan sunset tentunya berbeda-beda bergantung pada musim. Saat itu saya berpergian pada awal musim gugur (Bulan September) dan waktu keberangkatan yang cocok adalah pukul 16.30.


Jembatan Bosphorus di kala senja


Berbicara mengenai pemilihan waktu, sebenarnya harus ada yang dikorbankan sewaktu saya memutuskan untuk naik kapal pada jam tersebut. Pemandangan yang dilalui di sisi kanan dan kiri kapal sama bagusnya dan sangat menarik untuk diabadikan. Namun untuk keberangkatan sore hari dimana matahari sudah agak condong ke barat, ada beberapa spot yang kurang bagus untuk pengambilan foto. Tapi tenang saja. Sebagian besar obyek menarik tetap dapat diabadikan dengan baik karena sorot matahari tertutup oleh perbukitan.

Kapal yang digunakan untuk menyusuri Selat Bosphorus berjenis double deck. Dek atas tentu menjadi favorit meskipun tanpa dinding ataupun jendela yang membatasi pandangan ke arah luar. Ini sekaligus sebagai pertanda untuk tidak lupa memakai jaket tebal jika berpergian pada suhu yang agak rendah. Saat itu awal Bulan September, suhu masih cukup hangat. Hanya angin bertiup kencang. Saya pun hanya mengenakan pakaian biasa tanpa jaket. Dan malamnya saya terserang flu. Saya nggak kuat kena angin. Hehehe...


Salah Satu Kapal yang menyusuri Selat Bosphorus

Duduk di dek atas bagian belakang rasanya paling menyenangkan. Kita bisa memperoleh pemandangan bagian belakang dan juga samping kapal. Walaupun sebenarnya kita juga bisa duduk dimanapun karena para penumpang kapal senantiasa berpindah sisi setiap kapal melewati tempat menarik. Saya amati penumpang kapal saat itu didominasi oleh turis lokal. Tampaknya Bosphorus Tour ini juga populer di kalangan penduduk lokal. Selanjutnya, di dermaga Eminonu tempat kapal akan berlepas, tampak puluhan burung camar berterbangan, juga berenang di permukaan laut. Masyarakat setempat juga tampak berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga. Tampaknya area ini merupakan area favorit warga untuk berkumpul. Di sisi lain, tepatnya di atas Galata Bridge, tampak segerombolan orang yang sedang memancing. Pandangan mata saya alihkan ke air laut dan memang terdapat banyak ikan di sana. Sesuai jadwal, kapal pun berlepas dari dermaga Eminonu menuju dermaga yang ada di seberangnya. Beberapa penumpang tampak naik kapal. Selanjutnya, kapal bergerak melewati kolong Galata Bridge, menyusuri Golden Horn sebelum berlayar di Selat Bosphorus.

Pemandangan lepas di dek atas
Burung Camar
Penduduk setempat tampak memadati dermaga
Memancing dari atas Galata Bridge
Banyak ikan kecil
Galata Bridge

Perlahan-lahan, kapal mulai meninggalkan Golden Horn. Pemandangan di bagian belakang kapal tampak sangat indah. Topkapi Palace, Hagia Sofia, dan Masjid Sultanahmet dapat tertangkap dalam satu capture. Selanjutnya di sisi kiri kapal, kita bisa melihat Masjid Dolmabache, sebuah masjid mungil yang dibangun pada tahun 1853. Tak lama setelahnya, kapal melewati Istana Dolmabache yang sangat luas itu. Pada posisi saat ini tampaknya cukup sulit untuk mengambil gambar istana keseluruhan karena letaknya terlalu dekat. Jadi hanya bisa mengambil gambar potongan-potongan bagian istana saja. Dan seperti yang sudah saya sampaikan tadi, pada saat itu posisi cahaya matahari tepat berada di belakang istana. Jadinya saya gagal mengambil gambar istana ini. Waktu yang tepat untuk mengambil gambar Istana Dolmabache tampaknya di pagi hari.

Istana Topkapi, Hagia Sofia, dan Masjid Sultanahmet

Tak lama setelah melewati Istana Dolmabache, pemandangan yang disajikan adalah Istana Çırağan dan Masjid Ortaköy. Jika kebetulan mampir ke Masjid Ortaköy, jangan lupa mengambil gambar masjid ini dengan background Jembatan Bosphorus. Yups, masjid Ortaköy memang terletak persis di samping jembatan yang menghubungkan Benua Asia dengan Eropa ini. Lain waktu, jangan lupa pula menyusuri jembatan sepanjang 1,5 kilometer ini. Meskipun tidak bisa berhenti di atas jembatan, pemandangan yang dilalui tentu tetap indah. Saya sendiri dua kali melintasi jembatan ini. Hanya sayangnya, pada kedua kesempatan tersebut saya tertidur pulas. Sial!!!


Bagian bawah Jembatan Bosphorus

Jembatan Bosphorus

Selanjutnya, kapal masih menyusuri sisi Eropa menuju jembatan kedua, yakni Jembatan Fatih Sultan Mehmet (F.S.M.). Sebelum melintasi kolong jembatan, di sebelah kiri terdapat Rumelihisari. Bangunan ini merupakan sebuah benteng yang dibangun Sultan Mehmet II pada tahun 1452 sebelum penyerangan Konstantinopel. Mendekati jembatan, kapal berputar balik dan kali ini menyusuri sisi Asia.

Rumeli Fortress
Jembatan Fatih Sultan Mehmet
Jembatan Fatih Sultan Mehmet
Jembatan Fatih Sultan Mehmet di kejauhan
 
Sisi Asia juga tidak kalah menarik. Tak lama setelah kapal kembali menyusuri kolong Jembatan F.S.M., terdapat Istana Küçüksu. Kemudian adapula Kuleli Askeri Lisesi yang menurut saya merupakan bangunan terindah di sisi Asia karena ukurannya yang cukup besar. Selanjutnya terdapat Istana Beylerbeyi yang terletak tepat di samping Jembatan Bosphorus.

Kuleli Askeri Lisesi
  
Usai menyusuri Jembatan Bosphorus, sebenarnya ada Maiden’s Tower di sisi kiri kapal. Sayangnya, saya secara tak sengaja melewatkannya karena terpesona dengan pemandangan sunset di sisi kanan kapal. Matahari memang sudah semakin condong ke barat. Cantik sekali. Pemandangan matahari terbenam tampaknya memang selalu menarik. Kapal terus berjalan mengiringi tenggelamnya Sang Surya hingga tiba waktunya kapal kembali bersandar di dermaga Eminonu. Sudah saatnya mengakhiri perjalanan. Meskipun hanya 1,5 jam, pengalaman menyusuri Selat Bosphorus tetaplah menjadi pengalaman yang sangat mengesankan.

Beautiful sunset

ARTIKEL TERKAIT:

5 comments:

  1. Indah banget kota Istanbul ini Mas Indra. duh kapan bisa ke sana ...
    Btw. postingan Mas Indra kok ngak muncul di Blogger saya ya. padahal saya follower. kenapa ya ? Entry terakhir yang muncul judulnya "Menjemput Salju di Jungfroujoch" tiga bulan yang lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punten, soalnya saya habis pindah domain Mas. Nggak pakai blogspot lagi. Konsekuensinya nggak muncul di sidebar temen2 blogger karena tautan di "My Blog List" masih menggunakan blogspot.com :)

      Delete
  2. Fotonya cakep-cakep mas. Turki memang indah, semoga suatu saat bisa nyusul nginjekin kaki ke sana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya lebih cakep lagi Mbak Yusmei. Mudah2an bisa segera ke sana yaa... :D

      Delete
  3. baca tulisan ini jadi inget waktu kesana. anginnya, suasananya, bangunannya yang eksotis.. smoga bisa kesana lagi..

    ReplyDelete