Friday, August 8, 2014

Pernak-pernik Perjalanan Umroh



Pada posting-an ini, saya ingin sedikit berbagi pengalaman selama melakukan perjalanan ke tanah suci. Bukan pengalaman tentang ritual kegiatan selama di tanah suci tentunya karena sekilas pernah saya tulis di sini. Kali ini tentang hal-hal kecil yang siapa tahu berguna bagi pembaca sekalian.

Pelataran Masjid Nabawi

Pemilihan pesawat
Dalam memilih biro perjalanan umroh, kita sebaiknya tidak mudah termakan iklan. Kalau ada biro yang menawarkan harga jauh di bawah rata-rata, biasanya ada jebakan betmen-nya. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pesawat yang digunakan. Untuk menuju Saudi Arabia, pesawat yang paling nyaman hanya Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines. Keduanya merupakan maskapai full service dan siap mengantar jemaah menuju Jeddah dengan pesawat Boeing 777-300ER terbaru untuk Garuda Indonesia dan Boeing 777-200ER maupun Boeing 777-300 untuk Saudi Arabian Airlines. Alternatifnya bisa menggunakan Lion Air yang merupakan low cost carrier (LCC). Tapi tenang saja, walaupun hanya sekelas LCC, tetap dapat makanan kok. Masak iya terbang 10 jam nggak dikasih makanan? Hehehe... Ketiga maskapai di atas memiliki kelebihan yang tidak dimiliki maskapai lain, yakni penerbangan langsung dari Indonesia menuju Saudi Arabia.


Selain ketiga maskapai tadi, yang juga patut dipertimbangkan juga adalah maskapai-maskapai asal timur tengah seperti Etihad, Emirates dan Qatar Airways. Kenapa? Karena maskapai-maskapai tersebut memiliki rute langsung dari bandara homebase-nya menuju Madinah. Emirates mengguanakan pesawat wide body Airbus A330-200 untuk rute Dubai-Madinah. Sementara Etihad dan Qatar Airways menggunakan pesawat narrow body Airbus A320 untuk rute Abu Dhabi/Doha menuju Madinah. Enaknya naik pesawat langsung menuju Madinah, kita bisa langsung beribadah di Masjid Nabawi setibanya di Madinah. Sementara jika dari Jeddah, waktu akan hilang setengah hari untuk perjalanan darat Jeddah-Madinah. Kalaupun biro perjalanan memakai salah satu dari ketiga maskapai ini tapi pulang pergi tetap dari Jeddah, sebenarnya nggak masalah. Ini karena rute ketiga pesawat tersebut tidak memutar dan pesawat yang digunakan juga cukup nyaman. Emirates menggunakan Airbus A380, Etihad menggunakan Boeing 777-300ER, dan Qatar Airways menggunakan Airbus A330-300 ataupun Boeing 777-200 LR untuk rute dari bandara homebase menuju Jeddah. Sementara rute dari Jakarta menuju bandara homebase ketiga maskapai tersebut menggunakan Boeing 777-300ER ataupun Airbus A330-200/300. Sebagai informasi tambahan, Saudi Arabian Airlines juga melayani rute penerbangan langsung dari Jakarta menuju Madinah.

Jumlah Hari
Yang perlu dipahami, biasanya jumlah hari yang tercantum pada iklan dihitung sejak hari keberangkatan hingga hari tiba di Indonesia. Seperti saya waktu itu berangkat dari Jakarta jam 11 malam. Itu sudah dihitung satu hari. Kemudian tiba di Jeddah keesokan harinya menjelang sore. Selanjutnya perjalanan darat menuju Madinah sehingga baru tiba di Madinah menjelang tengah malam. Ini juga sudah dihitung satu hari juga. Jadi saya sudah menghabiskan dua hari untuk perjalanan dan baru bisa mulai beribadah pada hari ketiga. Ironisnya, ketika menunaikan ibadah sholat subuh (pada hari ketiga), saya duduk bersebelahan dengan jamaah asal Indonesia yang berangkat dari Jakarta pada waktu yang kurang lebih sama, tapi naik Qatar Airways menuju Madinah. Dia sudah sampai di Madinah pada hari kedua menjelang Dhuhur.

Karena pertimbangan jumlah hari, sebaiknya memilih maskapai yang berangkatnya pagi hingga siang hari agar tiba di Jeddah pada sore atau petang. Ketiga maskapai yang terbang langsung ke Jeddah memenuhi kriteria ini. Selanjutnya bisa langsung menuju Madinah ataupun Mekkah. Atau jika naik maskapai yang berangkatnya tengah malam, sebaiknya memilih tujuan Madinah. Kalaupun maskapainya berangkat tengah malam dan tujuannya Jeddah, sebaiknya memilih biro perjalanan yang tujuan pertamanya Mekkah. Hal ini karena jarak antara Jeddah dengan Mekkah tidak terlalu jauh. Intinya, kalau bisa waktu perjalanan jangan sampai lebih dari satu hari. Daripada satu hari habis di perjalanan, mendingan dipakai untuk beribadah kan? Hehehe...

Jika para pembaca masih berusia muda (di bawah 50 tahun), sebaiknya menyiapkan diri untuk menuntun yang lebih tua. Biasanya sebagian besar jamaah sudah berusia lanjut dan memerlukan bimbingan kita mulai dari naik pesawat hingga selama berada di tanah suci. Dan jangan salah, berbuat baik kepada sesama di tanah suci tentu akan mendapat pahala yang dilipatgandakan, bukan?

Biaya Umroh apakah sudah all in?
Biaya yang dibayarkan pada biro umroh biasanya sudah meng-cover semua pengeluaran mulai dari tiket pesawat, akomodasi, dan makanan, serta air zam-zam. Sementara yang belum termasuk biasanya adalah biaya pembuatan paspor, biaya handling, dan biaya vaksin. Namun demikian, hal ini tetap perlu dipastikan sebelum memutuskan memilih suatu biro. Selama melakukan perjalanan ini, saya tidak mengeluarkan biaya lain. Kebetulan saya sudah mempunyai paspor. Sementara biaya handling dan vaksin sudah termasuk dalam biaya yang ditawarkan.

Tetap bawa uang untuk apa?
Namanya orang Indonesia, kebanyakan merasa kurang afdhol kalau berpergian, pulangnya tidak membawa oleh-oleh. Tapi ini bukan yang utama. Uang bisa kita gunakan untuk menyewa taksi jika kita ingin menunaikan ibadah umroh lebih dari satu atau dua kali. Selain itu, kita juga bisa menyewa taksi menuju tempat-tempat bersejarah yang tidak termasuk dalam agenda perjalanan dari biro umroh. Dan bagi orang tua, difabel, maupun orang sakit yang berpergian sendiri, perlu menyewa kursi roda beserta orang yang mendorong selama melakukan prosesi ibadah umroh. Selain itu bagi yang tidak cocok dengan makanan hotel, tentu bisa membeli makanan di luar. Saya sendiri tidak mengeluarkan biaya apapun. Kebetulan biaya yang saya bayar sudah termasuk umroh kedua. Dan saya juga tidak membeli apapun. Satu-satunya yang saya beli hanya kurma. Itupun saya beli di bandara dengan menggunakan kartu kredit.

Perhatikan musim
Mungkin poin yang satu ini sering terlewat bagi calon jamaah umroh. Saudi Arabia identik dengan gurun pasir yang panas. Tapi jangan salah, suhu musim dingin di negara ini bisa mencapai belasan derajat Celcius. Jadi kalau kebetulan berangkat sekitar bulan November s.d Februari, jangan lupa membawa sweater tebal dan syal.

Lain cerita kalau berpergian ketika musim panas. Suhu bisa sangat tinggi. Jauh lebih panas daripada di Indonesia. Bahkan udara yang kita hirup pun terasa panas. Pada musim ini, jangan lupa membawa masker.  

Pasang pembeda di tas
Biasanya kalau umroh dengan biro, kita akan diberi tas koper yang seragam. Ini memang memudahkan untuk identifikasi pada saat berpindah tempat. Namun akan menyulitkan kita sendiri saat akan mengambilnya. Ada jamaah yang memasang pita pada pegangan tas agar dapat dengan cepat mengidentifikasi tasnya. Namun tampaknya banyak yang berpikiran sama (sama-sama pakai pita) sehingga percuma saja. Saya menyarankan untuk membeli luggage tag sendiri, atau dicomot dari tas koper kita yang lain. Kalau bisa yang warnanya mencolok. Tampaknya ini jauh lebih ampuh dibandingkan memakai pita. Atau tasnya diwarnai saja sekalian. Tas murah ini. Hehehe... Sementara pada perjalanan kembali ke Indonesia, tas koper saya wrapping. Kebetulan nggak ada jamaah lain yang melakukannya. Jadi setibanya di Cengkareng saya bisa langsung menemukan tas.

Pakai Autogate untuk immigration clearance
Jika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, sebaiknya pakai fasilitas autogate untuk clearance imigrasi. Jika belum pernah sebelumnya, bisa mendaftar terlebih dahulu di meja petugas imigrasi, tak jauh dari antrean clearance imigrasi keberangkatan. Kenapa penting? Karena antrean imigrasi di bandara ini, baik berangkat maupun datang, sama-sama panjangnya. Dan setidaknya hingga saat ini, belum banyak penumpang Indonesia yang sadar akan fasilitas ini.

Menghindari sholat fardhu di tempat istimewa
Tempat istimewa yang dimaksud adalah saf terdepan dan tempat mustajab untuk berdoa. Kalau di Masjid Nabawi, tentu saja di Raudhah. Kalau di Masjidil Haram, di Multazam. Eits... Jangan berprasangka buruk dulu yah... Tanpa bermaksud su’udzon kepada sesama muslim, di Madinah dan Mekkah masih banyak saudara kita yang berebutan untuk menggapai harapannya. Di masjid Nabawi, saya pernah datang sejak pukul dua pagi dengan harapan dapat menunaikan ibadah sholat Subuh di Raudhah. Dan saya memang berhasil ada di dalam Raudhah selama beberapa jam sampai akhirnya terusir dengan sendirinya karena banyaknya jamaah yang berebut masuk.

Lain waktu, saya pernah sholat di saf pertama Masjid Nabawi. Dan alhamdulillah bisa khusyuk sampai dengan imam mengucapkan salam. Setelahnya, saya harus segera menyingkir karena jalurnya digunakan oleh para jamaah yang ingin mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Selain itu, jalur tersebut juga digunakan oleh para peziarah makam Baqi. Hal yang sama juga berlaku di saf-saf terdepan Masjidil Haram, terutama yang dekat dengan Hajar Aswad dan Hijr Ismail. Menurut pendapat saya, dalam menggapai sesuatu tidak harus menyakiti orang lain kan? Apalagi kalau yang disakiti saudara sendiri sesama muslim. Dimanapun posisinya, sholat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram sama-sama mulianya.

Dimintai tolong mengembalikan Al Qur’an
Baik di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram, banyak tersedia rak yang berisi Al Qur’an. Banyak jamaah yang mengisi waktu dengan membaca ayat suci Al Qur’an. Dan ketika terdengar suara iqomat, mereka mengembalikan Al Qur’an ke dalam raknya. Kalau yang duduk di dekat rak bisa mengembalikan langsung. Tapi kalau duduk jauh dari rak, mereka minta tolong jamaah di sekitarnya agar sambung-menyambung mengembalikan Al Qur’an ke dalam rak. Ternyata hal ini wajar dilakukan. Mereka terbiasa minta tolong karena kalau dilakukan sendiri, saf yang sudah kita tempati akan diisi oleh jamaah lain di belakangnya. Ini berlaku terutama di saf-saf depan Masjid Nabawi. Saya pernah hanya berjarak dua langkah dari rak dan berniat mengembalikan Al Qur’an sendiri. Tapi begitu satu kaki melangkah, saf saya dipakai orang lain. Terpaksa saya harus keluar masjid melalui pintu samping dan sholat di pelataran masjid karena saf di sekitar sudah penuh. Kalau di Masjidil Haram mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena rak-raknya terletak di dalam bangunan masjid. Sementara area yang paling ramai adalah di sekitaran Ka'bah.

Raudhah dan Hajar Aswad
Setiap jamaah tentu ingin sekali beribadah di Raudhah dan juga mencium Hajar Aswad. Namun seperti yang saya sampaikan tadi, terkadang keinginan itu menjadikan kita melupakan sesama. Saya melihat sendiri orang-orang berdesakan demi berada di Raudhah dan mencium Hajar Aswad. Untuk sholat dan berdoa di Raudhah, saya menyarankan untuk datang antara pukul dua hingga tiga dini hari. Pada saat itu kondisinya tidak terlalu berdesakan. Setidaknya ini berdasarkan pengalaman selama saya di sana. Kita bisa mengamati dulu di pintu masuk Raudhah, begitu ada jamaah yang keluar, bisa kita gantikan. Tidak perlu berdesak-desakan. Namun mohon maaf, ini hanya untuk jamaah laki-laki. Sementara untuk jamaah wanita, sayangnya hanya bisa mengunjungi Raudhah pada jam-jam tertentu yang pastinya selalu ramai.

Untuk mencium Hajar Aswad, seperti yang pernah saya sampaikan pada posting-an terdahulu, Alhamdulillah saya diizinkan oleh Allah SWT untuk menciumnya juga pada dini hari. Itu percobaan kedua saya setelah pada percobaan pertama, yakni sekitar pukul 11 siang, saya belum berhasil. Pada saat itu juga banyak orang Indonesia yang menawarkan bantuan. Belakangan baru saya ketahui kalau mereka juga mengharapkan imbalan. Dengan matahari yang bersinar terik, suasana siang itu benar-benar tidak kondusif. Bagi pengguna kacamata, sebaiknya tidak memakainya jika sedang mengantre untuk mencium Hajar Aswad. Pengalaman saya, kacamata sempat hampir terjatuh karena berdesak-desakan.

Pada percobaan kedua, yakni sekitar pukul dua hingga tiga dini hari, saya kembali mencoba. Dalam hati saya meluruskan niat, ikhlas dan sabar sembari berdzikir kepada Allah SWT. Saya melakukan tawaf dan mendekat kepada Ka’bah, kemudian bergabung dengan kumpulan jamaah di dinding Ka’bah. Ternyata antrean ini tidak bergerak. Saya melepaskan diri dari antrean dan kembali tawaf. Kemudian saya mendekati Hajar Aswad dari arah agak diagonal. Maksudnya tetap menyisir dinding Ka’bah, tapi tidak menempel. Jadi agak melebar keluar. Saya terus berdzikir dan mengikhlaskan diri. Saya tidak mendesak jamaah lain. Hanya berdiam diri sambil maju sedikit demi sedikit jika ada celah. Dan syukur Alhamdulillah, antrean ini mengantarkan saya menuju Hajar Aswad.

Sekian dulu. Yang sedikit ini mudah-mudahan bermanfaat. Amiinn...

ARTIKEL TERKAIT:

1 comment: