Thursday, September 4, 2014

Lihat Kincir Angin di Kinderdijk



Selain festival bunga tulip Keukenhof, Belanda juga terkenal akan kincir anginnya. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang kincir angin di Zaanse Schans. Tempat ini memang merupakan salah satu favorit turis karena letaknya yang dekat dengan Amsterdam. Kunjungan ke Amsterdam rasanya kurang lengkap jika tidak mampir ke Zaanse Schans. Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kincir angin lagi selain Zaanse Schans. Namanya Kinderdijk. Tidak seperti Zaanse Schans, Kinderdijk terletak agak jauh dari Amsterdam, yakni sedikit di luar kota Rotterdam. Untuk menuju Kinderdijk pun belum ada transportasi langsung. Dari Amsterdam, kita harus naik kereta dulu ke Rotterdam. Kemudian naik metro menuju Stasiun Rotterdam Zuidplein. Dan lanjut naik bus nomor 90 tujan Alblasserdam, turun di Kinderdijk. Tapi saya tidak sempat menaiki transportasi ini karena kebetulan waktu itu pergi bersama keluarga.



Apa yang membuat kincir angin di Kinderdijk menjadi spesial dan layak dikunjungi? Jawabannya karena kincir angin di tempat ini masih asli dan sudah ada sejak abad ke-18. Itulah sebabnya Kinderdijk masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Untuk memasuki area kincir angin, kita akan dikenai biaya 6,50 Euro. Jam operasional Kinderdijk dimulai sejak pagi hingga pukul 16.00 atau 17.30 tergantung musim. Tapi jika kita datang setelah berakhirnya jam operasional, ternyata masih tetap diizinkan dan juga gratis.


Kinderdijk


Waktu itu, kami tiba di Kinderdijk ketika hari mulai senja. Jam operasional Kinderdijk tentu sudah terlewati. Jadi kami bisa memasuki area kincir angin secara gratis. Tapi jangan berprasangka buruk dulu yah... Gratis ini legal kok karena tertulis di situs resmi Kinderdijk. Kalimatnya begini bunyinya, “The price of your visit helps support the maintenance costs of the Kinderdijk World Heritage site. The public foot and cycle path is open all year and free to enter. During closing times you can always walk along the windmills and see them from up close.”. Dari kalimat itu, saya artikan bahwa jalanan di area kincir angin buka sepanjang tahun dan gratis.



Suasana sore itu di Kinderdijk tidak terlalu ramai. Hanya tampak beberapa turis yang berjalan kaki ataupun bersepeda menyusuri jalan sempit menuju kincir angin. Jalanan ini diapit dua buah kolam air memanjang seperti kanal. Dan di kejauhan sana, tampak belasan kincir angin berdiri dengan anggun pada kedua sisi kanal. Usianya sudah cukup tua karena didirikan antara tahun 1738 hingga 1740. Kincir angin ini dibangun sebagai bagian dari sistem manajemen air di Kinderdijk. Kanal-kanal memanjang tadi ternyata merupakan polder yang digunakan sebagai tempat penampungan air. Negeri Belanda memang sangat piawai dalam menerapkan sistem manajemen air di seluruh pelosok negeri.

Bersepeda di Kinderdijk

Kincir Angin di Kinderdijk


Dalam hal melawan banjir, tampaknya Indonesia memang harus mempelajari sistem manajemen air di Belanda. Hal tersebut telah dilakukan oleh para insinyur dan pemangku kepentingan di negeri ini. Salah satunya tentu saja di kampung halaman saya di Semarang. Kota ini juga memiliki polder yang terletak di depan Stasiun Semarang Tawang, juga dua buah kanal besar, yakni Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat. Baik polder maupun kedua kanal tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun banjir tetap menjadi langganan setiap kali hujan turun. Kebetulan tempat tinggal saya berada di dataran rendah, tak jauh dari pantai. Namun kini saya bisa bernafas lega. Pembangunan sistem manajemen banjir di Semarang sudah mulai berjalan dengan baik. Kanal-kanal yang mampat telah dikeruk dan diperdalam. Pompa-pompa air pun telah beroperasi dengan baik. Polder dan tempat resapan air telah difungsikan sebagaimana mestinya. Kini banjir sudah jarang sekali mampir ke rumah. Mudah-mudahan sistem yang sudah dibangun ini dapat dikembangkan dengan lebih baik lagi agar banjir tidak pernah ada di Semarang, dan juga kota-kota lainnya.



Kembali ke Kinderdijk, ada satu hal yang membuat saya menyukai tempat ini, yakni suasananya. Berada di Kinderdijk, melihat kumpulan kincir angin, dan air yang tenang di dalam polder, juga kawanan bebek yang berenang di atasnya, membuat suasana hati saya teduh. Rasanya bagaikan terlepas dari segala beban hidup. Tempat ini cocok untuk me-refresh diri. Di kala pikiran stress dan jenuh akan rutinitas sehari-hari, Kinderdijk bagaikan oase di padang pasir. Mungkin mirip dengan warga ibu kota yang senang menghabiskan akhir pekan di kawasan puncak ataupun Bandung. Bedanya, kawasan puncak dan Bandung itu sama-sama crowded dan macet. Sungguh kasihan warga ibu kota ini. Iya betul. Saya mengasihani diri sendiri juga karena tinggal di Jakarta. Hehehe...

Keluarga bebek yang sedang berenang di dalam polder
Mereka lalu menyeberangi jalan menuju polder sebelahnya



Tak terasa, mungkin sudah lebih dari satu jam kami berada di Kinderdijk. Matahari semakin enggan menampakkan sinarnya. Hari mulai gelap dan udara dingin terasa menusuk tulang. Sudah waktunya kami mengucapkan salam perpisahan pada kincir-kincir angin tua yang menjadi ikon Belanda ini. Kami pun memutar arah dan berjalan kembali menuju pintu keluar. Turis-turis lain juga banyak melakukan hal yang sama. Pemandangan Kinderdijk memang bukan untuk dinikmati pada malam hari. Selain kurang penerangan, juga suasana kawasan di sekitarnya sangat sepi. Selama perjalanan pulang kami tidak sekalipun berpapasan dengan bus. Suasana baru mulai ramai ketika kami memasuki Rotterdam.

Kinderdijk
Matahari tertutup awan di Kinderdijk


Dengan mengunjungi Kinderdijk ini, berarti saya sudah mengunjungi kedua tempat dimana kincir angin berada, yakni Zaanse Schans dan Kinderdijk. Dan kalau saya boleh berpendapat, jika ada kesempatan, saya menyarankan untuk mengunjungi Kinderdijk karena selain bisa mempelajari sistem manajemen air di Belanda, pemandangan yang disajikan pun sangat alami dan menyejukkan mata.

ARTIKEL TERKAIT:

20 comments:

  1. Mas Indra..Kincir angin tu berpusing tak atau statik begitu je

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak JM, beberapa kincir angin masih berpusing. Tapi fungsi utamanya sudah digantikan dengan diesel pump :D

      Delete
  2. Maknanya kincir angin itu masih berfungsi dengan baik walaupun sudah berusia ratusan tahun... hebat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas Mie. Hanya saja sekarang sudah ada diesel pump untuk menggantikan fungsi utama kincir angin di Kinderdijk :)

      Delete
  3. Indra, foto2mu gak dikasih watermark ya? Ntar klo 'dicuri' orang piye? hari gini kan orang pengen mudahnya aja meski udah ditulis desclaimer segala

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih Mas. Nggak cuma foto, artikelnya juga pernah dicolong orang. Makannya ini tak protect nggak bisa di-copy. Fotonya mulai tak cicil dikit2 Mas. Hehehe... Matur nuwun yoo... :D

      Delete
  4. Wah kuncir angin dan bebek ... So awesome... Belanda.. Mesti pandai berbahasa Belanda...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak perlu Mas. Hampir semua warga Belanda bisa berbahasa Inggeris. Belanda merupakan satu dari sedikit negara di Eropah dimana faktor Bahasa tidak jadi masalah :D

      Delete
  5. Salam kenal. Saya telah masuk anda dalam bloglist. Semoga hubungan maya ini berterusan dunia akhirat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mas. Terima kasih sudah menambahkan blog ini di "My blog list" :D

      Delete
  6. Belanda selalu diidentikkan dengan kincir angin, senengnya bisa ke sana langsung ^^
    Oh iya, kenapa objek ini hanya bika sore saja ( 16.00 - 17.30 )? Penasaran kenapa ada peraturan agak nggak biasa di mata orang Indonesia hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat maksud saya kok buka sampai sore saja? biasanya beberapa objek di Indonesia ada yang dibuka untuk umum dengan pencahayaan yang cukup seperti jam Gadang di Padang ^^

      Delete
    2. Mungkin karena letaknya di kota kecil Mas. Kalo malem bener2 kayak kota mati.

      Delete
    3. Kalimat tentang jam operasionalnya agak rancu ya Mas? Udah saya ganti. Hehehe... :D

      Delete
    4. Hehe iya, sekelibat baca kukira buka dari 1630 sampai 1700, setelah posting komentar baru sadar kalo salah baca *tutup muka* >.<

      Delete
  7. Bikin satu kincir angin seperti itu di Bogor..keren kali ya Mas Indra...heeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada lhoo Mas. Tepatnya di Holland Bakery Parung. Hehehe... :D

      Delete
  8. wahhhhh,,, enak banget bisa kesana,, ane masih dalam kota aja...
    kerenlah pokoknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mas. Keindahan Sumatera Utara memang banyak banget yang bisa dieksplor ya Mas? :D

      Delete