Monday, October 13, 2014

Menikmati Keindahan Sungai Douro Portugal



Tampaknya Portugal belum menjadi prioritas bagi traveler asal Indonesia dan mungkin juga Asia Tenggara. Ya setidaknya selama saya berkunjung ke negara ini, tidak satu pun turis serumpun yang saya jumpai. Turis asal Asia yang saya jumpai berasal dari China. Sempat juga saya bertemu dengan Saudara-saudara asal Pakistan dan Bangladesh. Hanya saja, mereka memang menetap di Portugal. Sementara sebagian besar turis berasal dari Eropa. Entah kenapa negara ini belum begitu populer di Indonesia. Padahal Portugal tak kalah indah dengan negara tetangganya, Spanyol dan juga Prancis. Negara ini juga memilik ikatan yang sangat kuat dengan Indonesia. Ratusan tahun yang lalu, pelaut-pelaut asal Portugal menjadi pelaut Eropa pertama yang datang ke Indonesia. Masih ingat kan, pelajaran sejarah semasa sekolah? Hehehe..

Setelah posting-an terdahulu yang berjudul “Pesona Lisbon di Kala Senja” dan juga "Romantisme Porto", kali ini saya ingin berbagi tentang perjalanan menyusuri Sungai Douro. Perjalanan yang saya lakukan ini menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Sao Bento, Porto, menuju Pinhao. Kereta yang digunakan masih ditenagai mesin diesel. Salah satu dari sedikit jalur kereta api di Eropa yang belum terlektrifikasi.

Stasiun Porto Sao Bento


Perjalanan dari Porto menuju Pinhao memakan waktu sekitar dua jam. Tiket kereta bisa dibeli langsung di stasiun. Jangan lupa untuk menyebut Pinhao dengan benar ya! Dalam Bahasa Portugis, Pinhao dibaca “Pinyao”. Saya sempat menyebutkan “Pinhao” dan petugas tidak mengerti maksudnya. Setelah saya tunjukkan tulisannya, mereka baru mengerti dan memberitahu cara membaca yang benar. Di atas kereta api, sebaiknya duduk di sisi kanan karena pemandangan utama, yakni Sungai Douro berada pada sisi kanan jalur kereta.

Interior kereta

Saat itu, suasana kereta tidak terlalu penuh. Saya jadi leluasa memilih tempat duduk yang kacanya bersih. Ini tak lepas dari banyaknya graffiti pada bagian luar kereta. Memang patut disayangkan. Kereta yang melalui jalur cantik ini juga tak lepas dari vandalisme. Tak hanya pada badan kereta, bagian kacanya juga tak lepas dari coretan. Sesuai jadwal, kereta pun bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Sao Bento.

Tak seberapa lama setelah kereta menyusuri kawasan perkotaan Porto, Sungai Douro langsung terlihat. Arus airnya relatif tenang sehingga bagaikan cermin raksasa. Satu hal yang menarik, di seberang sungai tersaji hamparan perkebunan anggur yang memanjakan mata. Portugal memang merupakan salah satu produsen wine terbaik. Bahkan di Porto kita bisa mencicipi wine dari rumah-rumah produsennya. Namun tentu saja saya tidak mencicipinya. Tiba di Stasiun Pinhao, tampak sebagian besar penumpang menuruni kereta. Sementara kereta masih akan melanjutkan perjalanan menuju Pocinho. Jika ada banyak waktu luang, tak ada salahnya naik kereta hingga Pocinho. Jalur Pinhao menuju Pocinho pun masih menyajikan pemandangan indah Sungai Douro.

Pemandangan jalur Porto-Pinhao
Pemandangan jalur Porto-Pinhao
Arus tenang bagaikan cermin
Stasiun Pinhao bukanlah stasiun besar. Stasiun ini hanya memiliki dua jalur rel. Bangunan stasiunnya pun sangat kecil. Untuk menyeberangi rel kereta, juga tidak tersedia terowongan ataupun jembatan penyeberangan. Cukup tengok ke kanan dan kiri saja. Jika tak ada kereta melintas, berarti aman untuk menyeberang. Meskipun kecil, Stasiun Pinhao terletak di pusat keramaian Pinhao. Jadi begitu keluar dari stasiun, kita bisa langsung menyusuri kota ini hanya dengan berjalan kaki.

Bangunan Stasiun Pinhao
Hati-hati saat menyeberangi rel!
Ujung Platform Stasiun Pinhao
Menyusuri jalanan Kota Pinhao, saya langsung mendapat kesan sepi. Tentunya bukan sepi dalam arti menyeramkan, melainkan jauh dari hingar-bingar khas kota besar. Pemandangan Sungai Douro terlihat sangat cantik dari kota ini. Kita bisa melihat sungai dari atas jembatan, tak jauh dari stasiun kereta. Jika masih belum puas, bisa juga turun hingga ke bibir sungai. Berbagai macam angle dapat diabadikan dan semuanya terlihat sangat cantik. Melihat pemandangan Sungai Douro dengan airnya yang mengalir tenang, serta hamparan perkebunan anggur di kejauhan membuat hati saya merasa tenang dan damai. Kota ini memang cocok digunakan sebagai tempat peristirahatan. Itulah sebabnya, tersedia banyak villa di kota ini. Hanya sayangnya, rata-rata tarif yang ditawarkan relatif mahal.

Suasana Kota Pinhao
Sungai Douro dari atas jembatan
Jembatan yang menyeberangi Sungai Douro
Sungai Douro dari atas jembatan
Sungai Douro dari dermaga kapal dengan background jembatan
Lembah Sungai Douro
Terowongan dengan rel kereta di atasnya

Turis-turis yang banyak saya jumpai, sebagian besar adalah pasangan kakek dan nenek. Maklum saja, mereka tentu tak berkeberatan mengeluarkan uang lebih banyak untuk menyewa villa serta menaiki kapal pesiar menyusuri Sungai Douro. Sementara turis seusia saya lebih memilih untuk melakukan perjalanan one day trip saja. Lagipula, saat itu saya pergi sendiri. Mungkin lain cerita kalau suatu hari nanti saya bisa kembali ke kota ini bersama keluarga. Semoga saja.

Turis senior dan coretan graffiti

ARTIKEL TERKAIT:

14 comments:

  1. stasiun kereta nya mirip-mirip disini ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh... Kalo di Semarang mirip2 sama Stasiun Jrakah atau Mangkang :D

      Delete
  2. wahh indra... kota pinhao ni seakan-akan sama dengan bandar yang saya tinggal sekarang di Jerman ni... sini pon ada sungai yang bersih, yang disekelilingnya penuh dengan deretan tanaman wine... jemputlah datang ke sini, insyaallah tourist guide percuma dari pihak kami.... kami tinggal di bingen am rhein, germany... lebih kurang 2 jam perjalanan dari Frankfurt.... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru saja googling. Cantik sekali ya... Saya memang baru sekali ke Jerman. Itu juga hanya di Berlin. Next time jika ada chance ke Europe, semoga bisa berjumpa Siti dan suami di Bingen am Rhein :D

      Delete
  3. ckckckckkkkk bikin envy sejujurnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjalanan ini juga saya lalui setelah berkompetisi Mas. Waktu itu salah satu penerbit buku Indonesia mencari calon penulis untuk berangkat ke Eropa dan menuliskan perjalanannya. Perjuangannya lumayan berat. Hehehe... *lebay*

      Delete
  4. Replies
    1. Iya. Macam di Melaka dan Georgetown yang banyak bangunan lama.

      Delete
  5. Apapun kalau di Eropa terasa indah ya Mas Indra... kapan saya bisa ke sana kayak Mas Indra...hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn... Saya tipe traveler yang menyukai tempat baru. Di Eropa, Asia, bahkan di Indonesia, semuanya punya kecantikannya masing-masing. Udah puluhan pantai di Indonesia saya datengin, tapi barangkali satu persen pun belum ada dari keseluruhan pantai yang ada di Indonesia :D

      Delete
  6. Replies
    1. Iya. Saya suka dengan pemandangan dan suasananya yang sepi :D

      Delete
  7. subhanallah cantik bener langit yg biru itu..kalau di msia ni mmg ngak bisa da ngak ada waktu mau lihat lagit yg cantik tu...asyik berawan putih..mendung sahaja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciptaan Allah memang tiada duanya. Iya. Di Jakarta pun sudah mulai hujan :D

      Delete