Friday, October 17, 2014

Road Trip to Berlin



Semoga belum bosan dengan Eropa yaa... Kebetulan memang perjalanan terjauh dan terlama di luar negeri yang saya lakukan baru di Eropa saja. Lama perjalanan saya di Eropa jika dijumlahkan mencapai dua bulan dengan kunjungan ke sepuluh negara. Jadi lumayan banyak cerita yang bisa saya bagi. Kali ini saya ingin berbagi tentang road trip dari Amsterdam menuju Berlin. Pada saat itu saya hanya duduk sebagai penumpang. Mobil dikendarai oleh abang saya. Sebenarnya saya merasa nggak enak juga disetirin. Tapi apa boleh buat? Saya belum punya SIM atau driving licence Internasional, kemudian saya belum terbiasa dengan lalu lintas lajur kanan, dan juga belum terbiasa dengan kemudi mobil asal Eropa beserta setirnya yang terletak di sebelah kiri. Namun sejujurnya, berkendara di Eropa sangat nyaman. Jarang sekali ada traffic, klakson, dan kendaraan-kendaraan yang seenaknya berpindah jalur. Selain itu, panduan GPS juga sangat lengkap dan detail. Jadi tidak perlu khawatir tersesat.

Hari masih gelap ketika bus Eurolines yang saya tumpangi dari Paris tiba di Amsterdam. Setelahnya, saya sempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil pribadi menuju Berlin. Tujuan utama kami menuju Berlin sebenarnya adalah untuk menonton pertunjukan Dewi Sri. Karena pergi berempat, tampaknya opsi road trip adalah yang terhemat. Apalagi kepastian berangkat kami tentukan pada saat-saat terakhir. Tiket pesawat ataupun kereta tentunya sudah melambung tinggi.
Road Trip to Germany


Road trip ternyata merupakan pilihan yang tepat. Perjalanan selama enam jam menuju Berlin sama sekali tidak terasa. Pemandangannya sangat indah, terutama selepas perbatasan Belanda dan Jerman. Hamparan perbukitan hijau menemani sepanjang perjalanan dengan sesekali berganti pemandangan perkotaan.

Netherlands-Germany Border
Somewhere in Germany
Sungai cantik. Sayangnya nggak bisa nepi.
Berlin masih jauh


Mobil pun bisa dipacu hingga kecepatan tak terbatas kecuali di tempat-tempat tertentu dimana ada pembatasan kecepatan. Saat itu mobil sempat dipacu hingga kecepatan 180 km/h. Sebuah kecepatan yang sangat tinggi dan hampir mustahil dilakukan di jalan bebas hambatan Indonesia. Selain dikarenakan adanya pembatasan (had) kecepatan, lalu lintas di Indonesia relatif padat bahkan di jalan bebas hambatan sekalipun. Lucunya, dengan kecepatan setinggi itu, masih saja ada mobil yang mendahului kami. Mobil-mobil tersebut tentunya berkapasitas silinder lebih besar dengan merk-merk ternama seperti Audi, Mercedez Benz, BMW, dan Volkswagen. Inilah negerinya produsen mobil ternama dunia. Namun karena kecepatan yang sangat tinggi itulah, sedikitnya ada tiga lakalantas sepanjang perjalanan yang kami temui.
Traffic karena ada car accident
Salah satu mobil buatan Jerman

Selanjutnya, kami sempat berputar sejenak di Kota Postdam untuk menikmati semilir angin sore sebelum menuju Berlin. Perjalanan hari itu pun kami akhiri di Haus der Kulturender Welt, Berlin. Dan cerita selanjutnya lanjut ke sini, “Ketika Nasionalisme Terbangun Kembali di Negeri Orang”.

Ini foto-foto Postdam

Suasana Kota Postdam
Suasana Kota Postdam
Pemandangan khas musim gugur di Postdam
Postdam University
Kincir angin di Schloss Sanssouci, Postdam
Salah satu bagian Schloss Sanssouci, Postdam

Dan tiba juga kami di Berlin.

Victory Column, Berlin

ARTIKEL TERKAIT:

14 comments:

  1. klasikal sungguh universiti...dan cantik sungguh pemandangan tapi sunyi sepi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang universiti Postdam terletak tak jauh dari Schloss Sanssouci yang tak terlalu ramai. Tapi di pusat kotanya cukup ramai.

      Delete
  2. Kayaknya emang nyetir di negara maju sih lebih menyenangkan..kita pernah nyetir di NZ, US, bahkan Malaysia itu enak ga kena macet..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, di Malaysia gw pernah kena macet. Tapi enaknya, nggak ada suara klakson. Sekali waktu ada yang nglakson, langsung sopir mobil yang ngerasa diklakson turun mobil dan menggebrak kap mesin mobil yang nglakson. Kejadiannya persis di samping bus yang gw naikin. Kayaknya di Malaysia ada tradisi kalo klakson hanya boleh dipake dalam kondisi berbahaya aja.

      Delete
  3. siapakah Dewi Sri.? penyanyi dari Indonesia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewi Sri ini tokoh yang dipercaya sebagai Dewi Kemakmuran dalam mithology pada zaman Kerajaan Hindu ratusan tahun yang lalu. Mungkin pengaruhnya berasal dari India. Saya tak tahu pasti.

      Delete
  4. Kalau di Malaysia Dewi Sri itu dipanggil Sita Dewi.

    ReplyDelete
  5. Yuroppp..gue akan menyisakan perjalanan ini nanti bersama istri

    sudi mampir om ke www.globepin.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiik... Ati2 lho, bikin ketagihan. Hahaha... :D

      Delete
  6. 180 km/jam ? waduh kencang banget tuh mas Indra... kalau naik avanza lewat 120 km/jam saja dah terasa bergetar mobilnya..hehe.

    pemandangan musim gugur di sana persis kayak lukisan..indah banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas. Kalo naik Avanza, mobilnya udah berasa mau terbang aja ya? Hehehe... :D

      Delete
  7. cantiknya tempat ni...dah masuk dalam itie sbg preparation..semoga my dream will come true utk jelajah negara eropah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jom ke Eropah. Ada Kak Siti Aisya Ibrahim juga di Germany :D

      Delete