Saturday, October 25, 2014

Setelah 5 Tahun Berlalu


Awal Juni tahun 2009 menjadi hari yang tidak pernah saya lupakan. Saat itu oleh kantor, saya ditempatkan di Pulau Batam. Masih teringat jelas betapa saya yang waktu itu masih berusia 20 tahun sangat tidak menyukai keputusan tersebut. Seumur hidup saya waktu itu belum pernah sekalipun keluar Pulau Jawa lebih dari seminggu. Pulau Jawa benar-benar menjadi zona nyaman bagi saya. Namun siapa yang menyangka kalau di kemudian hari, saya sangat bersyukur ditugaskan di Pulau Batam. Dari pulau ini, saya bisa melihat langsung gedung-gedung pencakar langit di seberang lautan. Itulah Singapura. Di seberang sana itu sudah luar negeri. Saya jadi semakin bersemangat menjalani hari-hari saya di Batam. Suatu saat nanti, saya harus nyeberang ke Singapura. Saya pun segera mengurus paspor.

Pada saat itu, saya belum kenal dengan istilah backpacking. Bagi saya, jalan-jalan ke Singapura itu harus ikutan tur yang banyak tersedia di travel agent Pulau Batam. Maka saya pun mencari tahu harga paket tur ke Singapura. Tidak terlalu mahal. Paket all in hanya sekitar satu juta Rupiah. Jauh lebih murah bila dibandingkan dengan paket sejenis yang dipesan dari Jakarta. Hampir saja saya berencana memesan salah satu paket tur ketika mengetahui ada teman sekantor yang baru pulang dari Singapura. Menurutnya, ke Singapura nggak perlu ikut tur. Cukup mudah kok jalan sendiri. Maka saya pun minta diajak ke Singapura. Meskipun ya bayarnya sendiri-sendiri karena kita berdua masih sama-sama anak baru di kantor. Eh, ternyata dia mau. Makasih banyak yaa...

at ION Orchard, Singapore, October 2009. Photo courtesy: Fauzan


Malam sebelum berangkat, saya sama sekali nggak bisa tidur, bingung mau bawa apa saja ke Singapura. Saya juga sibuk membayangkan, nanti kira-kira mau foto dimana aja ya? Dan beneran lhoo, semalaman saya sama sekali nggak bisa tidur karena terlalu bersemangat.

Dan tiba juga saatnya, pagi itu kami naik ferry menuju Singapura. Tak sampai sejam kemudian, ferry pun merapat di dermaga Harbourfront, Singapura. Saya deg-degan banget tuh sewaktu mengantre imigrasi. Ternyata oleh petugas imigrasi, saya hanya diminta menunjukkan KTP atau ID Card. Nggak salah? Iya bener. Petugas imigrasi Singapura tampaknya sudah tahu kalau sering ada perbedaan data antara KTP, paspor, dan kartu identitas lainnya. Jadi selain paspor, penumpang yang paspornya masih perawan dan masuk dari Pulau Batam, diminta menunjukkan KTP dan atau SIM. Kadang-kadang malah diminta nunjukin bawa uang berapa. Dan Chopp!!! Stamp imigrasi pun mendarat manis di paspor saya. Bulan Oktober tahun 2009, saya untuk pertama kalinya pergi ke luar negeri!

Saya beruntung. Teman saya ini punya teman yang bekerja di Singapura. Jadi saya terhindar dari kejadian katrok seperti kebingungan membeli tiket MRT dan juga ngomong sama orang sana. Secara bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Dan terakhir kali tes TOEFL waktu SMA, skor saya cuman 380. Hehehe... Saya pun dapat tumpangan gratis menginap di apartemennya. Usai pengalaman pertama ke luar negeri yang begitu mengesankan, saya memberanikan diri untuk ke Singapura lagi. Kali ini sendirian. Ternyata asyik juga ya jalan-jalan ke luar negeri. Dan biayanya pun nggak mahal. Untuk tiket ferry pulang pergi saat itu sekitar 300 ribu Rupiah. Sementara biaya keliling Singapura dalam sehari tak sampai 500 ribu Rupiah. Jadi one day trip ke Singapura itu di bawah satu juta Rupiah. Jauh lebih hemat jalan sendiri dibandingkan ikut tur.

Puas mengunjungi Singapura, saya mulai berpikir untuk mengunjungi negara tetangganya, yakni Malaysia. Ongkos bus dari Singapura menuju Kuala Lumpur hanya seratus ribuan. Dan saya pun bersama seorang teman pergi ke Kuala Lumpur. Di sana kami sempat naik ke Menara Petronas yang terkenal itu dan juga nonton balapan Formula 1 di Sepang.

Puaskah? Rupanya belum. Setelahnya, saya mulai mengenal istilah backpacker atau pejalan mandiri. Saya bergabung dengan milis dan komunitas backpacker. Di sana saya mulai mengenal maraknya maskapai low cost yang membuat perjalanan ke luar negeri menjadi lebih terjangkau. Berita baiknya, saya tinggal di Pulau Batam dimana bandara home base maskapai LCC sangat dekat. Saya hanya perlu dua jam dari tempat tinggal saya untuk menuju Bandara Changi Singapura. Demikian halnya ke KLIA, meskipun perlu waktu semalam, biayanya terjangkau. Maka perlahan-lahan saya mulai mengunjungi negara-negara lainnya. Tidak hanya berhenti sampai di Singapura dan Malaysia saja. Setelah Singapura dan beberapa kota di Malaysia, saya pun mengunjungi Thailand, Hongkong dan Macau dalam kurun waktu antara tahun 2010-2011. Pada akhir tahun 2010, saya juga memulai aktivitas baru menjadi travel blogger. Saya mencoba berbagi tentang pengalaman traveling melalui tulisan dan foto di blog.

Tahun 2011 menjadi titik balik saya di dunia traveling. Setelah sebelumnya hanya mengunjungi negara-negara Asia, saya melakukan perjalanan lintas benua pertama kalinya, yakni ke Eropa plus Maroko. Bukan itu saja, saya pun diberi kesempatan untuk menulis buku perjalanan dari salah satu penerbit besar di Indonesia, B First-Bentang Pustaka-Mizan Group. Maka jadilah buku Portugal, Spanyol, Maroko terbit pada tahun 2012 lalu.

Kini lima tahun sudah berlalu sejak saya pertama kali ke luar negeri. Puluhan negara telah saya kunjungi. Blog ini juga telah menginjak tahunnya yang keempat. Buku pertama saya terjual lebih dari seribu kopi pada tahun pertama. Memang belum best seller dan cetak ulang. Tapi lebih dari itu, saya bersyukur bisa menghasilkan sebuah karya. Lebih dari seribu kopi juga bukan angka yang sedikit. Dan kini saya sedang menulis untuk buku kedua saya. Traveling sungguh menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan saya. Ingin rasanya bisa sering berpindah tempat dan bertemu orang-orang berbeda dari berbagai kewarganegaraan, suku, ras, dan budaya. Kegiatan ini sungguh menjadi penawar dahaga bagi rutinitas kerja saya yang setiap hari di jam yang sama, duduk di kubikal yang sama, melakukan pekerjaan yang sama, dan bertemu dengan orang-orang yang sama. Tanpa traveling, hidup saya terasa kaku dan sangat membosankan.

Kalau boleh saya simpulkan, selalu ada hikmah di balik suatu cobaan. Dan sesuatu yang kita anggap sebagai cobaan, bisa jadi adalah berkah. Kalau saja 5 tahun lalu memilih resign dan mencari pekerjaan lain, belum tentu saya bisa mengenal dunia.


“Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” Mark Twain

Lanjut ke "Review Perjalanan 5 Tahun" yaa...

ARTIKEL TERKAIT:

16 comments:

  1. Mas Indra hebat euy...
    Buku keduanya boleh dong gratis buat saya..Mas Indra hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... belum Mas. Ini lagi stress dikejar deadline :D

      Delete
  2. Replies
    1. Dulu pernah ke Batam ya Pak? Syukurlah Pulau Batam ni dekat dengan negara dan pulau-pulau lain. Jika tidak, mungkin saya bisa bosan. Jalan ke arah manapun, tak sampai sejam sudah berjumpa laut lagi. Hehehe...

      Delete
  3. Tulisan ini sungguh inspiratif sekali buatku. Jadi semakin semangat untuk mengejar 'utang' menulis buku :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo Mas. Perasaan sampeyan start nulis naskah, bahkan kenal sama editor Bentang sakdurungku deh.. Ayo semangat nulis! Hehehe... :D

      Delete
  4. Tahun 2009 pake celana masih gombrong yaaaa, kalo sekarang pasti dah ketat hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo istilah jawanya "kuru semangka". Hahaha... :D

      Delete
  5. Sangat menginspirasi mas.
    Teringat ketika perjalanan backapaker sendirian, rasanya seperti itu.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih yaa... Sampai sekarang saya paling nyaman traveling sendiri atau maksimal berdua. Lebih dari itu, sering berbeda pendapat :D

      Delete
  6. Menarik.saya juga kali pertama chop passport september 2009..gara2 kna.pergi conference di bangkok.takut masa tu.tapi mula dari tu, terus langkah lebih jauhh...dan jauhh...tak berhenti hingga buat passport baru awal tahun hari tu...

    By the way, salam kenal ya mas indra... :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mbak DJ. Sudah 5 tahun juga ya? Bermula dari Bangkok, kini sudah menjelajah 3 benua. Ada plan ke America tak? Hehehe.. :D

      Delete
    2. Ada juga keinginan nak ke america tapi masih jauhhh lagi perancangannya..hehe nak xplore europe, asia dan africa dulu...hehe

      Delete
  7. itu namanya rezeki baru berumur 25 tahun tetapi sudah berpuluh negara sudah di jejaki..ija another five year..x mustahil...all place around the world sudah di tawan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur Alhamdulillah. Another five year semoga bisa lebih baik lagi :D

      Delete