Saturday, November 22, 2014

Itinerary 18 Hari di Eropa



Setelah sebelumnya tentang “Itinerary 10 Hari di Eropa” dan “Itinerary 15 Hari di Eropa”, kali ini saya ingin berbagi tentang Itinerary selama 18 Hari di Eropa. Perjalanan selama ini mungkin jarang dilakukan oleh pekerja kantoran di Indonesia. Soalnya 18 hari itu kalau ditambah hari keberangkatan dan tiba di Indonesia itu 20 hari atau hampir 3 minggu. Saya sendiri bisa melakukan perjalanan ini setelah bekerja selama beberapa tahun sehingga memperoleh hak cuti tanpa dibayar. Jumlahnya maksimal dua bulan. Tapi cuman saya ambil sebulan aja. Kalo diambil dua bulan, bisa-bisa rumah saya didatengin debt collector karena nggak bisa bayar utang. Hehehe...

Kota terlama yang saya kunjungi adalah Roma (5 hari), Istanbul (4 hari), juga Amsterdam dan sekitarnya (4 hari). Di kota Paris yang merupakan salah satu kota tujuan favorit malah cuman numpang lewat. Demikian halnya kota Venice. Saya belum menjadikannya prioritas. Perubahan itinerary pada akhir perjalanan (menuju Berlin) membuat saya harus memotong jumlah hari di Paris. Saya memaksakan diri ke Berlin karena ingin menonton pertunjukan wayang dari salah satu dhalang muda terbaik Indonesia.

Sunset in Istanbul

Rute perjalanan: Amsterdam-Rotterdam-Delft-Amsterdam-Istanbul-Capadoccia-Istanbul-Roma-Venice-Paris-Amsterdam-Berlin-Amsterdam-Eindhoven-Amsterdam

Friday, November 21, 2014

Itinerary 15 Hari di Eropa



Melanjutkan posting-an sebelumnya, “Itinerary 10 Hari di Eropa”, kali ini saya tuliskan itinerary perjalanan selama 15 hari atau dua minggu di Eropa. Jumlah hari ini rasanya paling cocok bagi para pekerja di Indonesia. Tidak terlalu sebentar, tapi juga tidak terlalu lama. Memang sih akan menghabiskan jatah cuti tahunan. Tapi siapa juga yang mau ke Eropa setiap bulan? Saya mau sih... Asal ada yang mbayarin atau ngasih bibit pohon duit. Hehehe... Perjalanan ke Eropa bagi orang Indonesia adalah sebuah perjalanan besar. Jadi perlu perencanaan keuangan secara matang. Jujur aja, saya beli tiket pesawat aja bayarnya nyicil selama setahun. Pssttt... Jangan bilang siapa-siapa yah! Tapi bodo amat! Yang penting saya bisa ke Eropa. Yuk, kita lihat itinerary saya!
 
Cais da Ribeira, Porto
Rute perjalanan: Amsterdam-Eindhoven-Porto-Pinhao-Porto-Lisbon-Barcelona-Madrid-Marrakesh-Fez-Casablanca-Amsterdam

Ringkasan perjalanan:
Hari ke-0

Thursday, November 20, 2014

Itinerary 10 Hari ke Eropa



Kita tahu kalau Benua Eropa itu luas dan terdiri dari beberapa puluh negara. Hal ini sering mengakibatkan kebingungan dalam menyusun itinerary. Nah, kali ini saya ingin berbagi itinerary saya ke Eropa dengan titik awal serta akhir perjalanan di Kota Paris dan lama perjalanan 10 hari. Masih ingat Slow vs Fast Traveler? Dalam hal perpindahan kota/negara ini memang tergolong fast. Saya sering banget pindah kota/negara. Tapi ritme perjalanan saya di satu kota tergolong santai dan nggak maksa harus ke semua tempat. Perjalanan ke Eropa selama 10 hari rasanya cocok bagi yang ingin ke Eropa tapi cutinya terbatas. Dengan memanfaatkan dua kali weekend dan satu hari libur nasional, kita hanya perlu mengambil cuti selama lima hari saja.


Pegunungan bersalju di Swiss

Rute perjalanan: Paris-Brussels-Amsterdam-Praha-Amsterdam-Geneve-Luzern-Interlaken-Paris

Ringkasan perjalanan:
Hari ke-0
Singapore-Kuala Lumpur-Paris by Airbus A380 Malaysia Airlines

Wednesday, November 12, 2014

Fast Traveler vs Slow Traveler



Dalam hal gaya traveling setidaknya ada dua tipe traveler, yakni fast traveler dan slow traveler. Saya sendiri penganut keduanya. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai kedua tipe traveler tersebut.

Fast Traveler
Sesuai namanya, “fast” berarti cepat. Traveler tipe ini lebih mengutamakan kuantitas. Tidak terlalu lama di suatu kota atau negara sebelum berlanjut ke tempat lainnya. Menurut pengalaman pribadi, ada beberapa alasan kenapa saya memilih tipe ini.

Pertama karena alasan keterbatasan cuti. Orang Indonesia memang termasuk golongan fakir cuti. Dalam satu tahun hanya diberikan jatah cuti tahunan sejumlah 12 hari. Lumayan sih, bisa jadi tiga minggu kalau ditambah weekend dan hari libur nasional. Eits! Tunggu dulu! 12 hari itu masih belum dipotong dengan cuti paksa. Apa itu cuti paksa? Istilah resminya cuti bersama. Intinya kita dipaksa libur oleh pemerintah. Dan lucunya, cuti ini mengurangi jatah cuti tahunan. Biasanya cuti paksa melekat pada Hari Raya Idul Fitri dan Natal. Terkadang juga dipaksa libur kalau ada hari libur nasional yang bertepatan dengan hari Selasa atau Kamis. Jadi hari Senin atau Jumat libur. Jumlahnya dalam setahun antara 4-5 hari. Jadi cuti tahunan orang Indonesia sebenarnya hanya 7-8 hari saja.

Seperti naik Formula 1. Cepat tapi tak sempat menikmati pemandangan.

Sunday, November 9, 2014

Kereta Api Indonesia Dulu dan Sekarang


Saya sedikit tergelitik menulis posting-an ini setelah mendengar suara miring tentang mantan Direktur Utama PT.Kereta Api Indonesia (PT.KAI) yang kini diangkat menjadi Menteri Perhubungan RI, Pak Ignasius Jonan. Saya tidak mengenal Beliau secara pribadi dan belum membaca biografinya. Saya juga tidak tahu bagaimana Beliau memimpin PT.KAI. Namun saya hanya ingin berbagi pengalaman mengenai perubahan radikal di tubuh PT.KAI sejak Beliau menjabat sebagai Direktur Utama. Tentunya dari sudut pandang penumpang. Bukan dari sudut pandang pegawai PT.KAI ataupun pihak-pihak yang merasa dirugikan. Jadi posting-an ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu. Harapan saya hanya satu. Kereta api Indonesia menjadi semakin baik lagi.

Sebagai mahasiswa di Jakarta dengan uang saku pas-pasan, dulu saya sangat mengandalkan transportasi kereta api untuk pulang kampung ke Semarang. Kereta api menjadi satu-satunya moda transportasi termurah. Bayangkan, pada kurun waktu tahun 2005-2009 saya kuliah, tiket kereta api kelas ekonomi dari Jakarta menuju Semarang hanya Rp28.000. Jadi pulang pergi hanya Rp56.000. Murah banget kan? Namun sayangnya, harga tiket yang murah itu berbanding lurus dengan pelayanannya. Nah, ini perbedaan yang saya rasakan sebagai penumpang kereta api, dulu dan sekarang.

Stasiun Kereta Api Bandung

Thursday, November 6, 2014

Hotel Van Gogh Amsterdam (Review)



Hotel Van Gogh. Jika sedang mencari penginapan di Amsterdam, hotel yang satu ini mungkin bisa dipertimbangkan. Letaknya sedikit di luar centrum sehingga jauh dari hingar-bingar. Lokasinya cukup strategis dekat dengan Rijks Museum. Selain terkenal akan koleksinya, museum ini juga menjadi landmark Amsterdam dengan logo raksasa “Iamsterdam” di depannya. Aksesnya cukup mudah karena dilalui jalur tram nomor 2 dan 5. Halte tram terdekatnya adalah Van Baerlestraat yang hanya berjarak satu halte dari Hobbemastraat, halte dimana Rijks Museum berada.

Jenis kamar yang tersedia di Hotel Van Gogh terdiri dari dua jenis, yakni kamar private dan juga kamar dorm. Yups, para backpackers juga menjadi target pemasaran hotel ini. Kamar dorm yang tersedia ada tiga jenis, yaitu mixed dorm 6 beds, female dorm 6 beds, dan mixed dorm 8 beds. Tarif per malamnya mulai dari 18 Euro tanpa sarapan pagi. Semua kamar memiliki kamar mandi private yang cukup mewah sebagaimana layaknya hotel. Hotel ini juga memiliki lift. Jadi tidak perlu khawatir jika kebagian kamar di lantai paling atas.

Untuk memesan kamar dorm bisa melalui situs www.hostelbookers.com ataupun www.hostelworld.com. Yang perlu diingat, nama hotel ini berubah jadi Hostel Van Gogh. Saya sendiri sempat ragu-ragu saat memasuki lobi hotel karena plang namanya tertulis “Hotel” sementara pada lembar reservasi saya tertulis “Hostel”. Tapi rupanya sama saja. Sementara itu, jika ingin memesan kamar private bisa melalui situs www.booking.com dengan tarif mulai dari 89 Euro. Secara keseluruhan, saya menyukai hotel ini karena tarifnya cukup murah, kamarnya mewah, dan jaraknya tidak terlalu jauh di luar centrum.

Hotel Van Gogh

Monday, November 3, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 2)

Ini lanjutan posting-an sebelumnya, "Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)"Di kounter penjualan tiket, sekali lagi kami ditolak. Beginilah nasib tiket promo. Sekali ketinggalan ya tiketnya hangus (Next time perlu pertimbangan matang sebelum memutuskan beli tiket promo). Sementara tiket untuk esok hari harganya luar biasa mahalnya. Kami yang belum ikhlas kehilangan tiket karena merasa ini bukan salah kami, kembali menemui supervisor. Kami banding-bandingkan maskapainya dengan maskapai KLM dan maskapai low cost seperti Easyjet. Di Bandara Schipol, KLM menyediakan banyak kios self check in dan kounter automatic baggage drop. Sementara Easyjet, dengan kasus yang sama persis, masih memberikan kesempatan bagi penumpangnya untuk check in. Padahal harga tiketnya promo dan sama-sama unrefundable. Easyjet masih memberikan toleransi kepada penumpang apabila antrean pada saat itu sangat panjang. Mereka memberikan line khusus untuk penumpang dengan penerbangan segera. Saya juga cerita tentang staf di kounter check in yang tidak mengarahkan saya ke supervisor sedari awal.

Di luar dugaan, supervisor tetap menyalahkan kami. Katanya, "Kalau kalian mulai mengantre sebelum jam 12 siang, antreannya tidak sepanjang ini". Lah, mana kami tahu kalau lewat jam 12, di bandara ini antreannya bakalan panjang? Dia sama sekali tidak mau membantu kami. Intinya, tiket tetap hangus. Di kemudian hari, saya sempat mengirim email yang berisi komplain tentang kejadian ini, dan hanya ditanggapi secara diplomatis dengan penjelasan peraturan mereka.

Antrean check in, mengular bentuk huruf "S" hingga ke ujung sana.

Saturday, November 1, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)

Ini tentang cerita perjalanan saya dan istri yang rencananya saat itu akan terbang dari Istanbul menuju Amsterdam untuk selanjutnya menuju Budapest. Sesuai peraturan hotel, kami check out pukul 11 pagi. Penerbangan kami memang masih sekitar 4 jam lagi. Tapi kami tidak mau mengambil risiko. Lebih baik datang lebih awal daripada ketinggalan pesawat kan? Amit-amit deh! Untuk menuju Bandara Internasional Ataturk, kami memilih untuk naik transportasi umum saja. Tentunya dengan alasan supaya lebih hemat. Dari hotel, kami perlu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju halte tram. Ya sebenarnya bisa lebih cepat dari itu. Tapi tas seberat 20 kilogram yang kami bawa sungguh memperlambat kami. Beberapa meter sebelum halte tram, kami juga sempat mampir ke toko souvenir. Jadilah kami tiba di halte pukul 11.40.


Tak lama menunggu, tram pun datang. Kami segera meloncat ke dalamnya. Perjalanan menuju bandara ini memerlukan waktu sekitar satu jam. Ini termasuk transit satu kali untuk berganti moda transportasi dari tram ke metro. Kami pun tiba di bandara pukul setengah satu lewat. Alhamdulillah, kami masih bisa sampai di bandara tepat pada waktunya. Penerbangan kami masih dua setengah jam lagi. Waktu yang lebih dari cukup untuk sekadar check in. Keluar stasiun metro, kami segera menuju terminal keberangkatan internasional. Dan kami berdua sama-sama terkejut.

Bandara Istanbul Ataturk