Saturday, November 1, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)

Ini tentang cerita perjalanan saya dan istri yang rencananya saat itu akan terbang dari Istanbul menuju Amsterdam untuk selanjutnya menuju Budapest. Sesuai peraturan hotel, kami check out pukul 11 pagi. Penerbangan kami memang masih sekitar 4 jam lagi. Tapi kami tidak mau mengambil risiko. Lebih baik datang lebih awal daripada ketinggalan pesawat kan? Amit-amit deh! Untuk menuju Bandara Internasional Ataturk, kami memilih untuk naik transportasi umum saja. Tentunya dengan alasan supaya lebih hemat. Dari hotel, kami perlu berjalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju halte tram. Ya sebenarnya bisa lebih cepat dari itu. Tapi tas seberat 20 kilogram yang kami bawa sungguh memperlambat kami. Beberapa meter sebelum halte tram, kami juga sempat mampir ke toko souvenir. Jadilah kami tiba di halte pukul 11.40.


Tak lama menunggu, tram pun datang. Kami segera meloncat ke dalamnya. Perjalanan menuju bandara ini memerlukan waktu sekitar satu jam. Ini termasuk transit satu kali untuk berganti moda transportasi dari tram ke metro. Kami pun tiba di bandara pukul setengah satu lewat. Alhamdulillah, kami masih bisa sampai di bandara tepat pada waktunya. Penerbangan kami masih dua setengah jam lagi. Waktu yang lebih dari cukup untuk sekadar check in. Keluar stasiun metro, kami segera menuju terminal keberangkatan internasional. Dan kami berdua sama-sama terkejut.

Bandara Istanbul Ataturk



Bandara Ataturk menerapkan kebijakan yang sedikit berbeda dengan mayoritas bandara internasional di kota-kota besar. Ini terkait dengan screening barang bawaan penumpang yang dilakukan sebelum memasuki area untuk check in. Kebijakan ini sama persis dengan hampir seluruh bandara di Indonesia, juga Bandara Ninoy Aquino di Manila, Filipina, dan Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Vietnam. Tapi ada satu hal yang membedakan. Prosedur screening melalui mesin x-ray dan metal detector ini, tingkat keketatannya sama persis dengan screening sebelum memasuki pesawat terbang. Semua alat elektronik harus dipisahkan, jaket harus dilepas, arloji, cincin, seluruh isi saku baju dan celana, semuanya harus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam tray tersendiri.

Demi alasan keamanan, pemeriksaan ini tentunya baik untuk dilakukan. Tapi yang membuat kami sebal, jumlah petugas yang melayani tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Ini bisa dilihat dari mesin x-ray dan metal detector yang dioperasikan hanya ada satu pada masing-masing pintu masuk. Ditambah lagi, pada jam-jam tersebut tampaknya merupakan peak hour bandara sehingga penumpangnya sangat banyak. Bayangkan, antrean hanya untuk masuk ke area check in penumpang itu mencapai puluhan orang. Sementara masing-masing orang harus melakukan prosedur di atas seperti melepas jaket, memisahkan alat elektronik, dan sebagainya. Kebayang kan, betapa panjang dan lamanya antrean?

Panjangnya antrean screening barang sebelum check in

Selesai antrean memasuki area check in, mata kami dibuat terbelalak lagi. Antrean check in-nya jauh lebih panjang. Kalau tadi antreannya mungkin hanya puluhan orang, kali ini mencapai ratusan orang. Yang membuat saya heran, kounter check in maskapai tersebut hanya dibuka empat row. Ini untuk seluruh penerbangan internasional maskapai yang menjadikan bandara Istanbul Ataturk sebagai hub airport. Masing-masing row ini terdiri dari sekitar 10 sampai 15 kounter. Dan lucunya, hanya dua dari empat row yang digunakan untuk check in penumpang kelas ekonomi. Satu row khusus didedikasikan untuk penumpang kelas bisnis. Dan satu row lagi khusus untuk baggage drop. Dan kami pun mulai panik.

Meskipun panik, kami mencoba untuk berpikir dengan kepala dingin. Awalnya kami mengantre di salah satu row untuk check in. Tapi melihat panjangnya antrean, kami memutuskan untuk berbagi tugas. Istri saya minta tetap mengantre. Sementara saya mencoba mencari celah atau shortcut untuk check in. Dengan panjangnya antrean, hampir mustahil bagi kami untuk check in tepat pada waktunya.

Pertama, saya mendatangi salah satu petugas di kounter check in, saya bertanya kepadanya apakah saya bisa memperoleh jalur khusus untuk check in mengingat penerbangan saya kurang dari dua jam lagi. Oleh petugas tersebut, saya ditolak mentah-mentah. Katanya, saya tetap harus mengikuti antrean yang ada. Selanjutnya, saya coba mengantre di mesin self check in yang sepanjang mata memandang, hanya terdapat sekitar tiga mesin. Itu pun harus antre meskipun tidak sebanyak antrean di kounter. Begitu tiba giliran, ternyata sistem menolak check in saya karena waktu penerbangan sudah kurang dari satu jam.

Tak patah arang, saya kembali bertanya kepada petugas dari maskapai tersebut. Petugas berbeda dari yang saya tanyai sebelumnya. Berbeda dengan petugas pertama, kali ini saya diarahkan untuk bertemu dengan supervisor. Untuk bertemu dengan supervisor ini pun saya harus antre. Dan begitu tiba giliran, serta-merta saya ditolak untuk check in. Saya diminta menghubungi kounter penjualan tiket untuk menggeser waktu penerbangan.

Saya pun berlari menuju kounter penjualan tiket. Ini juga harus mengantre. Dan begitu tiba giliran saya, ternyata penerbangan saya tidak bisa digeser karena kelasnya promo. Petugas tersebut menyarankan saya kembali menemui supervisor. Siapa tahu ada kebijakan dari maskapai.

Saya kembali berlari menuju meja supervisor yang seperti biasa harus antre. Kali ini saya sudah bersama istri. Kami menceritakan kronologis proses antrean yang harus kami alami bertubi-tubi. Kami benar-benar berusaha meyakinkan bahwa ini bukan salah kami yang datang terlambat. Ini karena antrean check in yang luar biasa panjang. Supervisor tersebut berusaha membantu mencarikan seat kosong pada penerbangan berikutnya. Tapi sayangnya, semua penerbangan hari itu penuh, sementara dia tidak mempunyai kewenangan untuk memindahkan penumpang ke penerbangan esok hari. Kami pun diminta kembali ke kounter penjualan tiket.

ARTIKEL TERKAIT:

8 comments:

  1. Indra, kamu ada mesin cetak wang kah? jalan2 terus ini...jealous ok!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ada perkebunan wang. Hahaha... Sebenarnya saya sudah tak seberapa sering traveling. Hanya kerana entri blog tidak berurutan, jadi seolah traveling tiada henti. Jika ditengok, negaranya hanya itu-itu saja :D

      Delete
  2. banyak banget ya turis nya disana sampe antrian dimana2 begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget Mil. Maskapainya juga punya slogan "Kami terbang ke lebih banyak kota dibanding yang lainnya". Tapi bandara hubnya payah.

      Delete
  3. duuh pasti capek bgt ya. kesini antri, kesana antri, mau cek in udah ga bisa lagi >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang pasti ilang mood. Habis itu seharian cuman di hotel aja :D

      Delete
  4. ishh..mmg kelam kabut lah kan kalau datang lambat utk check...so apa kesudahan nya...nampaknya perlu tggu next entri part 2 lah ni ye

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesudahannya kami tak boleh naik pesawat. Tiket hangus. Terpaksa ubah itinerary dan beli tiket baru :(

      Delete