Monday, November 3, 2014

Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 2)

Ini lanjutan posting-an sebelumnya, "Antrean Bandara Istanbul Ataturk (Part 1)"Di kounter penjualan tiket, sekali lagi kami ditolak. Beginilah nasib tiket promo. Sekali ketinggalan ya tiketnya hangus (Next time perlu pertimbangan matang sebelum memutuskan beli tiket promo). Sementara tiket untuk esok hari harganya luar biasa mahalnya. Kami yang belum ikhlas kehilangan tiket karena merasa ini bukan salah kami, kembali menemui supervisor. Kami banding-bandingkan maskapainya dengan maskapai KLM dan maskapai low cost seperti Easyjet. Di Bandara Schipol, KLM menyediakan banyak kios self check in dan kounter automatic baggage drop. Sementara Easyjet, dengan kasus yang sama persis, masih memberikan kesempatan bagi penumpangnya untuk check in. Padahal harga tiketnya promo dan sama-sama unrefundable. Easyjet masih memberikan toleransi kepada penumpang apabila antrean pada saat itu sangat panjang. Mereka memberikan line khusus untuk penumpang dengan penerbangan segera. Saya juga cerita tentang staf di kounter check in yang tidak mengarahkan saya ke supervisor sedari awal.

Di luar dugaan, supervisor tetap menyalahkan kami. Katanya, "Kalau kalian mulai mengantre sebelum jam 12 siang, antreannya tidak sepanjang ini". Lah, mana kami tahu kalau lewat jam 12, di bandara ini antreannya bakalan panjang? Dia sama sekali tidak mau membantu kami. Intinya, tiket tetap hangus. Di kemudian hari, saya sempat mengirim email yang berisi komplain tentang kejadian ini, dan hanya ditanggapi secara diplomatis dengan penjelasan peraturan mereka.

Antrean check in, mengular bentuk huruf "S" hingga ke ujung sana.


Ketika segala macam cara telah ditempuh dan tidak membuahkan hasil, kami harus mengikhlaskannya. Kami hanya bisa melihat dari monitor info penerbangan dimana pesawat yang seharusnya kami tumpangi statusnya berangsur-angsur berubah. Dimulai dari “gate open”, “boarding”, “final call”, hingga “departed”.

Yang namanya penyesalan, datangnya selalu belakangan. Seandainya saja kami datang ke bandara 4 jam sebelum jadwal keberangkatan. Seandainya saja saya langsung menemui supervisor begitu mendapati antrean panjang yang tak mungkin kami lalui. Seandainya saja kami langsung mengantre di mesin self check in. Seandainya saja kami sudah melakukan web check in. Tentunya kami tidak akan ketinggalan pesawat.

Ternyata benar, memang kami yang salah. Dua setengah jam itu terlalu riskan untuk check in di bandara yang belum kami kenal. Belum lagi kalau bandaranya menerapkan kebijakan screening barang bawaan sebelum memasuki area check in. Kami menganggap ini adalah cobaan dari yang di Atas. Kami pun yakin, di balik coban ini pasti akan ada hikmahnya. Dan hikmahnya sudah begitu tampak di depan mata. Yeay! Kami masih di Istanbul. Kota cantik ini memang belum benar-benar mengizinkan kami pergi. Hahaha...

Sebelum kembali ke kota, kami masih harus memikirkan tentang rencana perjalanan. Saat itu ada tiga pilihan. Itinerary jelas harus kami ubah. Pilihan pertama adalah kembali ke Amsterdam. Harga tiketnya memang mahal, tapi setidaknya kami tidak perlu mengeluarkan biaya penginapan selama di Amsterdam. Ini karena saudara kami tinggal di Amsterdam. Tapi pilihan ini langsung kami coret karena itu artinya menyerah dan menyerah tidak ada di dalam kamus kami.

Pilihan kedua, saat itu sebenarnya ada penerbangan ke Budapest, kota tujuan yang memang akan kami tuju. Harga tiketnya kurang lebih sama dengan harga tiket ke Amsterdam. Pilihan ini sempat membuat kami tergoda karena itinerary tidak perlu kami ubah. Tapi sayangnya, penerbangannya ya hari itu juga dan hanya tersisa dua jam sebelum jadwal keberangkatannya. Melihat antrean check in yang masih sangat panjang, kami pun trauma. Kami tidak mau jatuh di lubang yang sama. Di bandara ini, waktu 2 jam untuk check in sebelum jadwal keberangkatan itu tampaknya terlalu singkat.

Syukurlah masih ada pilihan ketiga. Jika kami mau menunggu dua hari lagi, ada penerbangan ke Roma dengan harga tiket yang cukup murah. Lebih murah daripada harga tiket ke Amsterdam maupun Budapest. Meskipun harus mengucapkan selamat tinggal kepada Budapest, kami malah bersyukur karena bisa lebih lama di Istanbul. Wahai Budapest, jangan pernah bosan menunggu kami yaa! Suatu hari nanti kami akan ke sana.

Setelah urusan tiket beres, kami pun kembali ke penginapan. Dan resepsionis pun bingung mendapati kami kembali ke hotel. Dengan malu-malu, kami pun menceritakan kejadian yang baru saja kami alami. Hehehe...


Kejadian ini memang baru pertama kalinya kami rasakan. Tapi mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi lagi. Walau bagaimanapun, kejadian ini sudah menyadarkan kami akan pentingnya datang lebih awal jika berpergian dengan pesawat. Terutama untuk penerbangan internasional, usahakan datang lebih awal 3 jam sebelum jadwal keberangkatan. Di bandara tertentu yang merupakan home base airport bagi maskapai yang kita naiki, mungkin sebaiknya datang 4 jam sebelum jadwal keberangkatan. Karena kita tidak akan pernah tahu hambatan-hambatan yang akan terjadi. Terutama untuk bandara yang belum pernah atau jarang kita datangi. Kita tidak tahu kan, Bandara “X” ramai atau sepi? Kalaupun ramai, pelayanannya cepat atau lambat? Berkaca dari pengalaman kami, lebih baik datang lebih awal daripada  terlambat kan? Satu hal lagi, jika memungkinkan, sebaiknya memanfaatkan fasilitas web check in atau self check in.

Sudah check in? Jangan senang dulu. Masih ada antrean imigrasi. Dua hari kemudian saat kami akan terbang ke Roma, antrean imigrasi luar biasa panjang. Saking panjangnya sampai meluber ke area check in. Soal check in, kami nggak telat lagi doong! Empat jam sebelum jadwal keberangkatan kami sudah check in menggunakan kios self check in. Ngomong-ngomong soal antrean imigrasi, kebijakannya ternyata lebih longgar. Bagi penumpang dengan penerbangan segera, bisa langsung lapor kepada petugas yang berjaga. Nanti dia yang memutuskan. Kalau menurutnya sangat segera, penumpang bisa clear imigrasi melalui jalur diplomat. Tapi kalau menurutnya masih bisa antre ya apa boleh buat. Terus saja mengantre. Hehehe... Selanjutnya antrean x-ray selepas imigrasi tidak terlalu panjang karena mesin yang dioperasikan cukup banyak.

Antrean imigrasi. Di depan sana masih mengular huruf "S".

Di Indonesia sendiri, tepatnya di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, separah-parahnya antrean pada penerbangan pagi sepertinya tidak separah di Istanbul. Untuk memasuki check in hall, tersedia empat pintu yang masing-masing memiliki beberapa mesin x-ray. Pemeriksaan dilakukan lebih kepada dangerous good tas besar yang kemungkinan akan dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. Sementara pemeriksaan mendalam baru dilakukan selepas imigrasi atau sebelum memasuki ruang tunggu. Meja check in penerbangan Garuda Indonesia memang untuk semua penerbangan. Tapi, untuk penerbangan segera masih bisa dilayani di kounter khusus. Kita tinggal lapor saja pada staf Garuda yang berjaga di sekitar antrean check in.  

Pengalaman kami ini mudah-mudahan jangan sampai terjadi juga pada teman-teman yah...

ARTIKEL TERKAIT:

12 comments:

  1. Replies
    1. Soal Q sebenarnya tak ape asalkan ada kebijakan tentang penerbangan segera. Jangan penumpang sepenuhnya dipersalahkan :D

      Delete
  2. waduh...dasyat banget antriannya... kalau harus datang 4 jam sebelum keberangkatan..memang mateng duluan lah..mas Indra..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak di semua bandara sih Mas. Tapi bandara yang satu ini udah parah banget over capacity-nya :D

      Delete
  3. Antrian imigrasi arrivalnya waktu itu juga dahsyat banget Mas.
    Emang Turkish Airlines itu buanyak banget flightnya, jadi arrivalnya juga suka berdekatan.
    Baru sekali saya antri imigrasi sampe 40 menit saking ramenya bagian foreign passports. Padahal bagian localsnya sepi banget, tapi tetep aja nggak diizinin buat antri disana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sebut merk. Hehehe... Iya tuh. Dia punya semacam moto, "Kami terbang ke lebih banyak destinasi dibandingkan lainnya". Tapi pelayanan ground staff-nya masih keteteran.

      Oiya Mas. Saya nggak sempet sharing tentang kedatangannya. Saya waktu itu mendarat subuh dan banyak pesawat juga yang mendarat. Antrean imigrasinya juga panjang banget. Belum lagi kalo harus apply Visa on Arrival. Bisa dua kali kena antre. Tapi ya karena nggak dikejar waktu, jadi nggak terlalu bermasalah.

      Delete
  4. Aduh ini mirip banget sama cerita kita ketinggalan pesawat ke Myanmar kemarin sampe harus 2 malam di KLIA 2, cuma bedanya kita gegara imigrasinya lelet bingits....untungnya tiket kita diganti cuma2 sama airlinenya padahal tiket promo juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mustinya begitu pelayanannya. Emang sih kita salah datengnya nggak awal2 banget. Tapi ada tanggung jawab petugas darat di dalamnya. Air Asia yang low cost aja mau tanggung jawab ngasih tiket ganti. Ini yang full service flag carrier malah lepas tangan.

      Delete
  5. Servis yang kurang efisyen boleh menyumbang kejadian seperti ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Bolehlah tak efisyen kerana mungkin sedang develop airport. Tetapi semestinya ada shortcut untuk penerbangan segera. Kitorang baru sekali terbang dari Istanbul Ataturk dan selama ini di airport mana pun yang sudah kami singgahi, tak pernah sampai tertinggal pesawat.

      Delete
  6. ish..cuak dan pelbagai perasaan wujud dalam situasi begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kami jadi lebih lama di Istanbul. Di balik semuanya masih ada hikmahnya :D

      Delete